sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label hari demi hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari demi hari. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 September 2016

Rencana


Setelah bertahun-tahun ini, belajar tentang pengelolaan diri, hawa nafsu (belanja), kebiasaan menumpuk, dan lain-lain.  

Saya sadar, memang proses seru menulis diary waktu remaja itu penting. Ada kemampuan menulis dan kebiasaan bercerita yang jadi bekal untuk kini. Saya juga suka punya banyak macam catatan untuk tiap kategori kerjaan yang saya lakukan. Atas nama seni. Atas nama keperluan. Tapi ada kalanya, label diri sebagai 'anak rapi terorganisasi dan seniman' juga bisa menjebak dalam pemborosan. 

Entah atas dasar apa, saya jadi beli terlalu banyak buku kosong, alat tulis, klip kertas, stiker, dan barang enggak-enggak lainnya.  Ya, tentu saja saya mengapresiasi mereka! Banyak yang desainnya menarik, bahannya bagus, fungsinya lumayan.  Sayangnya, saya terlalu ingin memiliki semuanya. 

Tangan cuma dua, neng. Mana cukup semua mau diraup! 

Dulu memang menarik.  Tapi sekarang, ternyata saya membutuhkan lebih banyak fokus dan ketenangan. Secara fisik dan mental.  Empat macam buku catatan menumpuk semua di meja, sungguh terasa tidak keruan.  Punya jurnal khusus fashion, buku tentang Guyu, buku lagu, agenda, buku harian, buku sketsa, dan lainnya. Memang terorganisasi dan cantik. Namun percayalah, untuk setelan Ningrum versi sekarang, rasanya...rusuh. Bahkan, dengan menanggalkan gengsi sebagai seniman dan tukang gambar, saya menjual beberapa marker yang benar-benar tidak tersentuh berbulan-bulan.  Dulu pun beli atas dasar doyan, sok perlu, sok banyak ide. Hihi.  

Setahun ini, saya ngabisin pensil lho.  Banyaaak sekali pensil. Ada yang kado, ada yang mungut, ada yang beli.  Mentang-mentang tetangga sebelah Braga Music adalah Gramedia (eh, seberang sih, bukan sebelah), saya jadi kebiasaan apa-apa ke Gramed aja beli pensil atau bolpen.  Acuannya satu: biar nggak bosen sama pensil yang itu-itu aja, dan biar ada cadangan di ruang ngajar.  Entah kenapa cadangannya lalu jadi banyak banget. Lalu saya pun belajar berfokus pada satu pensil saja sampai habis.  Mau sepuluh bulan baru habis, kek. Pokoknya satu dulu! Saya bawa ke mana-mana. Pakai di mana-mana. Coret partitur pakai itu. Sketsa pakai itu. Makan...err, nggak bisa pakai pensil sih, harus sendok! 

Nggak cuma pensil, juga bolpen. Saya suka ikut-ikutan ambil gimmick di Braga Music, dan akhirnya ketimbun bolpen yang overlapping penggunaannya. Kalau ingat lagi keserakahan itu, saya jadi malu. Haha! 

Oya. Sebenarnya, pembicaraan ini kejauhan. Saya tadi cuma bahas buku yang kebanyakan itu ya? Oke, jadi, untuk menyederhanakan pemandangan meja dan membuat segalanya praktis, saya mau kembali ke masa anak sekolah...dikurangi buku-buku pelajaran yang seabreg sampe gak tumbuh gara-gara ransel berat itu ya. Apa sih itu? 

Pakai binder! Tapi saya nggak bermaksud jadi planner addict yang malah makin hoarder itu sih. Sori. Tapi...emang jadi beli lebih banyak, kan? Memang selalu ada alasan untuk belanja ya, sist, bun, say, mbak...apapun latar belakangnya, yang penting belanja! XD 

Saya cuma berniat menyimpulkan semua urusan saya di satu lipatan, di satu ringkasan.  Yang saya nggak perlu ambil tiga buku lalu jejerin depan saya dan malah nggak fokus! Lagipula, bisa sekalian agenda, daftar yang harus dilakukan, dan lain-lain. Ah, senang, kan? 

Saya baru mau pakai tahun 2017, sih. Karena masih punya agenda Makire dan buku-buku yang lain ini. 
Saya sudah 3 bulan hidup hanya dengan 1 sepatu bepergian dan 1 sepatu acara formal. Ternyata bisa, saudara-saudara! Terharu! Kenapa centil sih kemarin-kemarin? 

Sekarang, tantangannya akan lebih unik: hidup dengan 1 binder dan 1 buku sketsa dari kertas bekas (bahkan dari makalah bekas zaman SMA saya balik...). Dan juga buku sketsa lain yang masih kosong. Akan saya jadikan buku sketsa betulan. Karena selama ini kecampur nggak jelas. 

Tantangan lain masih ada, sih. Misalnya...dalam ranah kecantikan dan aksesoris, juga hal renik lainnya. Termasuk pangan. Tapi nanti saja ya ceritanya. Nanti ngelanturnya ngawur... 

Buku-buku lain yang masih bisa saya beli cuma buku musik. Yang isinya toge...karena itu akan dibaca terus sampai...sampai gila? He, jangan dong. Sampai mahir! Walau batas 'mahir' nya itu memang nggak jelas, bicara musik sih.

Baiklah. Segitu saja! Di atas itu ada foto Paleo dan agenda Kikki.K baru untuk tahun depan. (habis difoto, masuk kotak lagi, dibungkus lagi, pura-pura lupa, biar berasa hadiah ultah entar di penghujung tahun)

Tidak terlupa, ngiklan dulu: 
Adopsi baju-baju lucu di Huraya Garage Sale, ya! ;) 

Selamat Hari Senin Besok Sudah Selasa Kok Tenang Saja ! 




Selasa, 26 Juli 2016

Kebenda-Bendaan


Hal-hal kecil seperti, 
memegang langit kerlap-kerlip di tangan. 
Juga karena dia cukup memuat segala keperluan dasar bepergian, 
rasa sayang tumbuh. 



Adapun sepiring buah-buahan di Minggu siang yang tenang. 
Lihat mainan angguk-angguk yang sudah berhenti bergoyang, 
walau dia diam saja, 
tampaknya dia sedang mendoakan buah-buahan ini agar bernutrisi dan memberkati. 


Selasa, 12 Juli 2016

Tolong Ingetin Saya Untuk:

1. Tidak makan sambel rawit banyak-banyak lalu minum air langsung karena pasti keterusan nyegrak berdahak gak jelas.

2. Tidak tergoda dengan sepatu-sepatu jenis ini di toko-toko hits:


...karena ujung-ujungnya kelupas menyedihkan dan perlu kesakitan sampai akrab dengan kaki.  Jadi, untuk apa?

3. Menghindari susu sapi, karena ternyata memang tidak akrab. Sejak kecil selalu tidak suka tapi karena sugesti bahwa minuman ini sehat, saya jadi maksain diri.  Padahal jadi kembung dan pusing.  Keju tidak terlalu reaktif untuk saya, tapi saya hindari juga.  Pun yogurt dan es krim.  Jadi, saya akan terus mencari penggantinya, untuk manjain lidah dan selera saja, tanpa mengorbankan perut dan nasib anak sapi.

es krim PT Rasa ini enak tapi yah...bahannya...makanan utama anak sapi.

4. Tak perlu tergoda dengan tas-tas bentuk ajaib, karena tidak terlalu fungsional walau lucunya bukan main.  Oh ya ampun, ada tupai di kebun belakang. Sebentar!

tas unicorn ini lucunya nggak ketulungan, tapi memang kecilnya juga gak tertolong. nggak bisa bawa apa-apa dan udahnya malah ribet sendiri. 

5. Celana jins motif hati kecil-kecil atau polkadot masih lebih berguna, kawan. Karena, seriusan, saya nggak punya jelas jins satu pun sekarang.  Padahal suka nongkrong sembarangan di atas rumput dan paving blok.  Celana dan rok kain bisa sobek kalau diperlakukan seperti itu. Baju harus sesuai gaya hidup, ya.

gambarnya nyolong dari Pinterest


6. Dan sepatu olahraga yang pasti juga baik hati kalau diajak berjalan di trotoar penuh kejutan ala Bandung ini. Gitu. Hihi.

foto minjem dari Pinterest
7. Hidup ini indah dan mengingat betapa 'compact' nya hidup saya diatur oleh Sang Pencipta, saya harus terus bersyukur, dan bersyukur! :)

Terima kasih untuk selalu mengingatkan saya, ya! :)) 

Minggu, 12 Juni 2016

Kesukaan Kita Semua


Entah kenapa, lagi doyan motret makanan dengan posisi rada miring gini. 
Dan di atas sana, ada oplosan pisang dan alpukat yang diblender lembut, dimakan dengan taburan meses. 
Sementara itu jambu batu segar dari Mang Sayur menunggu. 

Di bawah ini restoran kesukaan.  Bukan restoran, lebih seperti kedai--dia sih menyebut diri kafé.  
Namanya Kafé Kembang Jepun.  
Makanannya klasik, unik, dan enak! 
Saya sih selalu makan bubur kacang ijo / ketan item / jali-jali / campur.  
Hari ini, diiringi secangkir bajigur hangat di cangkir kuning yang semriwing manis. 


Dan pulang dari acara musik-musikan, 
nemu tanda kocak ini di depan BTC : 



Rabu, 08 Juni 2016

It's A Hak-Cot Day

Sahabat saya Esther selalu menyebut 'hakcot' ketika apa yang diucapkan orang padanya atau sesuatu yang kita dengar terasa menohok ke hati alias menyinggung.  Atau setidaknya, sangat berkolerasi.
Sebetulnya saya lagi punya program untuk mengatasi ke-kambing-an saya.

Apakah itu ke-kambing-an? 
Sebuah kasus di mana perempuan umur sekitar 20an ini baru sadar bahwa ternyata dia keras kepala dan egois.  Ngamuk internal jika dikritik.  Nggak mau dengerin orang. Merasa caranya sendiri paling benar.

Tuh, ngucapin kayak gini pun bikin saya HAKCOT banget. 
Padahal toh, ketika saya menghadapi manusia yang juga keras keukeuh tanpa bobot, saya pun kesal.

Lalu kenapa tiba-tiba saya menyadari ke-kambing-an sendiri? 
Sebetulnya sudah mulai ada orang-orang yang dengan halus menyadarkan saya.  Sengaja tak sengaja ya.  Sampai akhirnya, salah satu Pembimbing Musik saya yang terang-terangan bilang, "Kamu ini keras kepala sekali, sih!"

Rupanya, keras kepala bukan muncul lewat keinginan memberontak atau sikap cuek saja. 
"Ingat, ketika kamu main musik, kamu menyampaikan sesuatu.  Jangan main untuk diri sendiri doang. Jangan diam di dalam tempurung, karena musik itu milik bersama."
Ketika saya tidak peduli orang lain mendengar apa dari saya, dan saya memutuskan untuk menyamarkan semua ekspresi emosional saya, itu pun bentuk dari ke-kambing-an.

Memang aneh, karena titik masalah ini adalah kesulitan saya bermain dengan volume fortissimo
"Forte-mu masih kayak mezzopiano."
Entah kenapa ini berlaku di antara saya, Narya / piano lain, juga Lai / Devika.  Saya beralibi macam-macam: teknik belum paham, takut terlalu keras, jarinya salah bentuk...ah entahlah, walau saya ingin bisa main fortissimo dengan mencengangkan, tapi keluarnya ya lembek-lembek menye lagi.

Bukan karena karaktermu ? 
Memang saya bukan tipe yang suka menjerit (?) dan mengutarakan isi hati dengan gamblang.  Saya lebih suka hidup hepi-hepi ketawa dan kalau sebal disimpan saja sendiri. Yang ini teman saya yang lain mengingatkan: sebaiknya jangan begitu-begitu amat ketika kesal, karena takutnya jatuh jadi penyakit dalem.  Iyaa, itu juga ada benarnya.  Tapi kebiasaan memendam ini harus dipancing.  Saya terbiasa marah-marah lewat tulisan, lewat musik yang kesannya 'marah-marah', atau gambar.  Namun, apakah emosi itu benar-benar tersembuhkan? Ya, terlupakan sesaat namun tidak benar-benar hilang...nampaknya.

Dan di pelajaran musiklah saya menemukan banyak, banyak pencerahan. 
Selain karena dunia saya memang 60% musik dan guru saya mulai tidak tahan (kayaknya), ya, selagi bermain musiklah saya mulai belajar.  Salah satu pertanyaan dari Pembimbing Musik yang paling mencurigakan adalah: "Kamu punya temen curhat nggak, sih?"
Saya lalu berpikir keras sembari kesel sendiri, apa hubungan temen curhat dengan ekspresi? Kalau saya memang tidak terbiasa curhat, gimana? Saya kan mau memiliki imej tough dan nggak rewel. 
Tapi setelah direnungkan, kebiasaan curhat para cewek tidak membuat mereka lemah sama sekali! Bahkan cowok pun tidak! Berisik, ya, beberapa bisa terdengar berisik. Tapi bukan masalah berisiknya...melainkan kemampuan merefleksi diri yang lebih baik.

Tapi aku Capricorn.
Dan itulah alasan kenapa kamu harus tahu kapan jadi Capricorn, kapan mesti berlagak Pisces (misalnya).
"Kamu harus coba membuka diri," kata Pembimbing, yang sudah kenal saya sejak SMP. 
Benar juga.  Masalah saya dengan dinamik dalam kalimat-kalimat musik bukanlah masalah teknik semata.  Itu kemauan.  Saya mungkin agak pemalu untuk menunjukkan betapa begimana-begimananya sebuah karya.  Karena sadar ada yang nonton, atau cuma...ya, malu saja! Ogah! Gengsi! Katanya Capricorn memang gengsian, padahal saya sentimental.  Bahkan dalam hal-hal kecil sehari-hari pun saya jarang sekali nampak ekspresif.  Alasannya ya: gengsi.

Gengsi adalah sifat yang destruktif.
Juga menggagalkan banyak hal yang mungkin bisa saya capai kemarin-kemarin. Ah tapi itu nanti bikin menyesal.  Tetap maju jalan saja.  :p
Belakangan saya jadi banyak membahas karya zaman romantik.  Di mana-mana.  Termasuk bersama Pembimbing yang Sadar Banget itu. Dan tentu saja kami sama-sama kewalahan...berkat gengsi saya.  Selama bertahun-tahun ini *ceileh.  Sampai akhirnya saya pun sadar, ekspresi itu harus coba dikemukakan dengan lebih bagus. Lebih matang. Lebih berani. Saya berani memegang rahang anjing--hewan yang dulu siluetnya saja sudah bikin saya ngacir.  Saya telah melewati banyak fase keberanian : berenang, naik sepeda di jalan raya, naik gunung, menyeberang sungai kecil, rawat ke dokter gigi sendirian, naik angkot ke Taman Kopo (yang jauh...jauuhh sekali), dll. 

Target saya berikutnya mungkin berani snorkeling, dan pada dasarnya, saya harus berani ekspresif! Harus! Atau saya akan...entahlah, hanyut dalam kegaringan?

Sebagai hiburan, ini saya kasih foto passionfruit yang tumbuh di kebun.
Keberanian untuk apa yang masih kalian ragukan sekarang ini? Yuk kita gali keberanian pelan-pelan. :)




 


Sabtu, 04 Juni 2016

Habis Gelap Terbitlah Sesame Street


Lampu antik klasik kepunyaan Mama, lupa dikasih sama siapa. Memendarkan cahaya yang begitu elegan seperti zaman Barok. Dari dulu saya takut sekaligus kagum sama lampu ini.  Takut, karena auranya mistik-mistik aneh.  Kagum, karena cantik bentuknya.  Hmm.


Dan alas tetikus Sesama Street yang ditemukan tak sengaja di laci perabotan.  Mungkin sudah dari zaman SD atau kapan.  Tapi di saat yang bersamaan, tetikus saya rusak dan diganti dengan yang baru--warnanya jadi serba ceria! :D


Senin, 16 Mei 2016

Embrace the Embarassed Feeling

May has reached the middle part.  And since May 1st, I've already got random physical wounds, yet, many splendid pleasant moments.

First thing first, I can swim now.  Properly. No more '10 minutes of water-walk's called swimming' again. LOL. Aye. I swam! But after a bunch of the sport, I spent my brother's wedding in pain through my back waist. HAHA. Sport beginner.

But it didn't stop me.  The next morning, my nephew asked me to join him swimming. I'm quite opportunist about the existence of swimming pool, so. I played with him, and his little sister. My cousins and uncle came through.  It's sunny and fun!  I think I had an intense 2 hours of water sport before, finally, breakfast.

I washed my hair after that. To dry it up, I took a bicycle and roamed around Alam Sutera residence walk.  Well, there's a love and hate relationship between me and bicycle.  But anyway, I'm officially befriend this vehicle now. Ahoy, I survived a short bicycle trip alone on the road (yes, along with cars and motorbikes out there--it's kinda scary!). Though at the last downpeak, I had almost kissed the ground. LOL.

And y'know, my legs are hurt. They got stuck on the wheel-spinner ( what is bosehan in English? ). Haha.

So, okay, two bruises on my legs now. 

Second story: during the week, I met a lot of butterflies.  I don't know, everytime I went out, there must be butterflies around me.  Maybe it's spring, maybe it's spring roll (?).

In one week, I hurt my fingers two times: tengah kiri ketusuk jarum dedelan jahit dan kelingking kanan kebaret kaleng. 

I thought it's the last time for this month.  But it's not. I had a weird jogging session with my bestie, Inejh.  And trust us, it's an amazing debut! Though, the pain follows: tense legs or so-called 'jompo'.  For two days in a row. Meanwhile, once in the same week, I experienced another surprise: I fell down on the short stair on a university. With Lai Maheswari and an umbrella and Paleo altogether.  In front of my orchestra friends...and security guard.  MAN. It's so embarassing I want to laugh hard at it.  Thankfully my hands are fine and there is only a bruise on my right knee.  But now I have two wounds from cycling on my left leg and a wound from falling down on my right knee. Plus one scar on left hand and another scar on right hand!

WHAT IS WRONG WITH ME?

Ah, I don't know what's wrong.  Maybe I was prepared for something big coming through.  Such as : a smile from a crush (yeuh). Or an abundant amount of happiness. 

That's why I have mentioned above : the wounds come with the smile. 

And, last but not least: judul posting ini nggak nyambungYa, nyambung sedikit, karena nyungsep depan umum itu memalukan.


Rabu, 03 Februari 2016

Hm, Susah Definisinya

Saya kira cinta itu cuma semacam, "Eh, ganteng!"

Lalu saya bisa memiliki yang ganteng itu kalau saya berusaha dan memberinya perhatian berlebih.  Atau...membuatnya tertawa.

Lantas saya tumbuh dewasa.  Yaah, agak dewasa, lah.  Sampai sekarang juga masih suka dikira anak SMA.

Saya kira, cinta itu kompromi.  Jika ada yang naksir, beri tanggapan.  Kalau menaksir, beri tanda-tanda dan dekati terus. Tapi toh saya terlalu malu juga untuk melakukan hal seperti itu.

Jadi saya simpulkan, cinta itu untuk orang dewasa saja. 

Ternyata saya tetap berpikir keras lagi.  Cinta itu apa? Dimulai dengan apa? Tatapan yang menggetarkan? Apa cukup? Saling senyum? Apa bisa menjadi indikasi? Jalan bareng? Belum tentu berakhir jatuh cinta.  Apa cinta harus selalu tentang berusaha dekat? Bagaimana kalau kita berdiskusi, cocok, dan di situ lahir sebuah cinta? Serius deh, cinta itu apaan, sih? Kenapa buat saya sulit dan buat orang lain mulus meluncur?

Alhasil, saya rasa, pikiran saya terlalu rumit.  Padahal cinta itu hanya perasaan.  Bahkan, cuma istilah untuk sebuah perasaan. 

Dan ketika saya menatap mata seekor kucing, itu pun cinta.  Hanya saja bentuknya berbeda dari 'cinta' yang saya rasakan ketika mata bertemu dengan gebetan.

Yah, apapun.  Selamat menunggu Hari Kasih Sayang tiba! :) 

cuplikan kecil dari The Elephant's Journey karya José Saramago




Rabu, 13 Januari 2016

Kompilasi Kucing Mengeong: Kimkim






Ini Kimkim.  Pertama kali kami ketemu, saya sedang menuju bapak jahit menagih pesanan baju, sedangkan dia lagi jemur di dekat pos satpam.  Mungkin takdir, ya.  Tak berapa lama, tahu-tahu dia dipelihara rumah sebelah dan jadi kucing penjaga blok saya! Dia suka membawa teman dan mengeong malam juga subuh.  Kadang saya kasih makanan kecil, semoga nggak kelaparan lagi. :)


Minggu, 29 November 2015

Sejak Janjian Sama Ayam...

Jadi, saya berhenti makan ayam sejak berteman dengan Si Mbul ini...



Dan rasanya itu sudah berjalan genap setahun.  Soalnya saya inget, motret Si Mbul pakai iPod. Awal 2014.  Dia ayam kurcaci peliharaan tetangga bawah yang random datang pergi sekejap doang.  Dia bertelur di atas pot dan mengerami dengan setia.  Sayang telur-telurnya nggak berhasil lahir. :(

Oh ya, tapi dia suka saya kasih makan beras-beras kering.  Dan cukup senang--kayaknya. Waktu harus berpisah, rasanya sedih.  Cuma berkawan sesaat.

Tapi kedatangan Si Mbul memang telah mengubah jalur hidup saya.  Sebagai calon vegetarian, tahun 2013 saya masih makan daging ayam.  Udah kepikiran sih, pingin mulai stop, tapi entah kenapa saya masih sering kelaparan pingin ayam goreng krispi, ayam bayam Meeting Point, belum ada menu ayam rica-rica di dapur keluarga, plus berbagai olahan ayam lainnya.  Ah, dan... nasi bento ala KFC yang sausnya uenakk banget itu.

Saya berusaha membuat diri lebih nggak tega sama ayam...tapi...ayam kan mukanya galak.

Nah, semua berubah ketika menatap mata Mbul.  Dia begitu...gemuk.  Lucu.  Bisa dipeluk.  Matanya walau judes, sebetulnya dia tak punya salah apa-apa.

Dan...saya pun memutuskan ikatan dengan Kolonel Sanders. Penjual ayam goreng Sabana juga saya jauhi.  Ya kecuali dia terus jual jamur krispi ala bumbu Sabana, saya balik deh entar.  Mulanya memang berat, ngos-ngosan.  Suka rindu.  Masih terkenang-kenang citarasanya...

Tapi, pada akhirnya saya lolos masa ujicoba. Sekarang saya malah nggak lagi kabita meski pun ada orang yang makan ayam goreng bumbu serai di depan saya.  Peduli amat.  Saya makan daun seledri.  Nggak masalah.

Penemuan yang baru-baru ini bikin saya kaget, ternyata, sejak nggak makan daging ayam...

...saya...

...sembuh dari pilek pagi harian.

Entahlah,  Saya nggak terlalu sadar awalnya.  Tapi belakangan memang pilek itu pergi.  Biasanya pagi-pagi saya pasti ingusan dan bete.  Disebut 'hidung Jepang' sama Mama saya. Ngocornya sampai sekitar jam 8-9 setelah jemur matahari.  Tisu habis.  Saputangan benyek.  Kayak alergi udara.  Cuma, sudah berbulan-bulan melintas dan saya memang nggak pernah pilek pagi lagi kecuali emang flu.

Kebiasaan yang beda setahun ini ya cuma nggak makan ayam itu.  Plus rajin mamam buah-buahan.  Nggak perlu buah-buahan yang cantik mejeng di rak swalayan mewah, kok.  Cukup pepaya, pisang, mangga, jambu, air kelapa, kalau rajin ya lemon dan apel.

Semoga saja analisis saya nggak meleset jauh.  Tapi, syukurlah saya terbebas dari rutinitas buang ingus di pagi hari! Terima kasih, Tuhan, terima kasih, Mbul! :)



Jumat, 13 November 2015

Sekilas


Percayalah, keadaan yang terbaik akan memelukmu pada saat yang tepat.  
Hal yang memang sudah kamu percayai, akan datang.  

Hanya saja Sang Pencipta belum menjentikkan jari--kadang.  Karena Ia tahu kapan waktu terbaik.  
Tugas kita kini hanya tersenyum dan mengapresiasi yang ada. 

Senin, 09 November 2015

Supaya Kalian Tahu

Keinginan nomer 3 tercapai.  

Saya punya piano manis di rumah.  Akustik.  Warnanya tidak putih, tapi, hei, dia menyenangkan sekali! Bahagia melihatnya menghiasi ruang keluarga.  

Dan, saya tidak menamakannya Pianika.  Namanya Narya Subasita.  Artinya: Raja Hati Gembira.  

Yoi, dia lelaki, dan kehadirannya membawa ria dalam hidup.  

Selamat datang di rumah, Narya Subasita! Dan kita akan bermain sebanyak-banyaknya dengan hati ceria! :)

Bonus: foto yang nggak nyambung.  Lotus kesayangan yang (waktu itu) mekar dengan epik. 





Kamis, 20 Agustus 2015

Kompilasi Guguk Manis : Jack




Nah inilah saya.  Seperti biasanya sekedar mengeceng anjing tetangga.  Ini namanya Jack.  Semoga dia panjang umur dan bahagia selalu.  Jack tinggal di rumah seberang, bimbel gitu.  Sifatnya manis, menggemaskan.  Kayaknya masih titisan beruang gitu.  :)) 

Salam kenal dari Jack! 

*dan kalau tetangganya baca, mungkin syok
*mungkin akan dituntut hak cipta 
*tapi...


Selasa, 04 Agustus 2015

Jika.


Jika dia masih hidup, pasti gembul dan lincah.  Namanya Melody.  Tapi sudah di surga sana sekarang. Paling senang makan daun magenta, dan melompat-lompat ceria.  Suka jilat dan gigit jari. Kangen deh. 



Jika nanti menata rumah baru, saya ingin membeli furnitur bekas saja dan memodifikasinya dengan keren.  Beli furnitur beken di toko keren mahal dan tidak menguntungkan negara. Sebaiknya beli dan dipermak saja! Pasti tetap keren! :D 

Jika memungkinkan, saya ingin adopsi Macy.  Atau anjing lainnya yang butuh rumah dan keluarga. :)  Suatu hari nanti.  Tapi mudah-mudahan tidak semakin banyak anjing dan kucing yang menderita di jalanan, ya. 



Jika berhasil, nanti saya bisa punya pemajangan baju yang indah, efektif, warna-warni menyenangkan tanpa tampak kumuh! Makanya saya jual baju yang mubazir, saya pakai baju-baju secara berurutan dan dirotasi. 



 Demikianlah saya berandai-andai di siang bolong.  Selamat Hari Selasa! :) 

*gambar diambil dari berbagai sumber, hasil kumpulan Pinterest pribadi saya* 

Senin, 20 Juli 2015

Utak Atik Melulu


Ceritanya itu tabung bekas bungkus botol kosmetik.  Bisa sangat berfungsi, asal dikaryakan dulu. 

Jadilah ngeluarin benang warna favorit yang bingung dipake jadi apa enaknya, sekaligus lem UHU dan gunting.  Kemudian menggulung-gulung! :D 


Tentu saja kegiatan gulung-gulung kemarin nggak menghasilkan bangunan ini.  Kebetulan langit dan warnanya cakep, jadi pengen saya pajang di sini. :p 

Tapi intinya, kerjaan kecil, bisa menjadi lebih epik jika kita tekun.  Dari satu kali gulung hingga ribuan. Dari satu orang diajak mencintai lingkungan hingga tiga milyar.  Dari satu orang diberi senyum sampai lima milyar manusia lain ikut tersenyum. 

Selamat menekuni niat baik kalian, teman-teman :) 


Sabtu, 18 Juli 2015

Guk, Guk!

 Pluto, he's gone. 

 I forget her name, but she's no longer in this world.  She's pretty and friendly. 

 Gusgus, chubby baby! Long live and prosper, Gusgus. 

 Paulie-my bestie said she looks similar with Paula Abdul. 

A frenchie in Rumah Guguk.  I really want to set him free! 

Always want to befriended with a dog.  But I don't support breeding.  So I'll adopt somebody one day. Let's be on the animals' side. Support their rights! 

Hidup yang Lebih Akrab dengan Alam

 Bermain di lapangan rumput.  Sangat senang. 


 Sebanyak-banyak mencoba susu almond, Yummylk tetap juara karena memakai botol kaca, 
rasanya bervariasi, dan paling enak! ;) 

Sambal buatan Mama: memakai tomat dari kebun, cengek kebun, 
dan bahan-bahan segar lokal lainnya. :) 

Kamis, 09 Juli 2015

Jeruk Jeruk di Rak, Mana di Antara Kalian yang Adalah Limau?


Sebetulnya, sampai sekarang saya belum bisa benar-benar yakin, 
mana yang lemon, limau, nipis, dan purut.  
Harus lebih banyak belajar soal jeruk-jerukan.  


Dan, es krim Rasa Bakery & Café itu istimewa rasanya.  Walau ini foto lama.  Hihihi. :D 

Apa kabar kalian? 

Saya baru menuntaskan ujian piano Gr.5 versi Yamaha.  Ujiannya sudah.  Hasilnya belum.  
Semoga lulus, deh. 

Rabu kemarin, saya baru ganti senar Lai Maheswari.  Sudah karatan soalnya.  
Sekarang suaranya empuk dan mendalam! Jadi semangat berlatih dan main sama Lai, nih.  

Saya bikin post baru di Citraramya.  Silakan dibaca. :D 

Hmm.  Oh ya.  Saya sedang membiakkan apel dan pir.  Semoga saja bisa tumbuh dan suatu hari tidak perlu beli pir impor.  Hehehe.  


Selasa, 23 Juni 2015

Belakangan Cerah Sekali


Salam hangat dari Paleo dengan donat manis di kepalanya :) 


Apa kabar? Saya baik.  Sedang berpikir tentang membuat blog khusus Guyu.  Tetapi belum jadi.  :))

Ditunggu saja, ya! 

Kamis, 11 Juni 2015

Cita-Cita Luhur Saya



Pemandangan kecil dari meja bermain, tahun lalu <3 i="" nbsp="">

Saya lagi merenung, alhasil iseng bikin daftar lagi deh.  
Tentang apa ya? Hmm, semacam manajerial inventori (sok keren banget bahasanya). Untuk beberapa bagian di rumah saya.  Rumah sekarang atau pun rumah tangga masa depan nanti. *sama siapa*

Kita mulai secara acak saja supaya...seru. Dan tidak sepuluh doang! :D 

17 piring keramik produk lokal 
(berbagai ukuran, 4 besar, 3 kecil-kecil, 10 datar)
  
10 gelas / mug keramik (termasuk yang 'cangkir')

2 tumbler stainless steel & kaca

10 pasang sendok garpu sumpit stainless steel

3 wadah makan stainless steel

2 jepitan makanan kayu & besi

2 centong bambu dan kayu 

2 sutil bambu dan kayu

10 lembar kain untuk bungkus dan lap

2 wajan keramik 

3 panci keramik & besi (pegangannya kayu) berbagai ukuran

4 sedotan bambu dan stainless steel

1 teko keramik 

Segitu dulu! :) 


tahun lalu sepenuh ini, sekarang syukurlah udah agak kosong, pindah ke rak, 
dan mengefektifkan segalanya sebisa mungkin :))