sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label belanja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belanja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 April 2015

Merasa Membeli Limbah

Pernah nggak sih, pergi ke pasar swalayan yang besar, kemudian sakit kepala? Eh? Karena banyak yang mau dibeli tapi takut dompet jebol?

Dulu mungkin begitu.  Tapi sekarang bukan. 

Entah sejak kapan, saya mulai pusing dengan banyaknya barang yang saya timbun di rumah, juga deretan produk di toko-toko. Semua begitu berjumlah massal, identik, mending kalau desain kemasannya indah-indah--lah ini sih kurang ya menurut saya, belum lagi ditambah desak-desakan manusia yang rakus ingin membawa pulang semuanya. Ditambah pula, badai keresek dan plastik yang terjadi di kasir, dobel-dobel pula!

Pas kecil, pengalaman pergi ke swalayan memang seru.  Banyak benda yang bisa dibaca dan dilihat.  Saya juga masih suka masuk swalayan tentunya, tapi jadi pilih-pilih, yang mana yang nyaman dan barangnya tertata baik.  




gambar pinjam dari sini

Well, tapi bukan itu sih yang mau saya omongin.  Begini lho, 80% produk di swalayan, biasanya berbahan aneh-aneh.  Aneh? Misalnya durian isi roket Neptunus? Yaa. Semacam itu. :p 

Misalnya, ya, minyak kelapa sawit dicampur BHA, BHT, pewarna, bahan berpotensi bikin sakit aneh-aneh, garam, dan mungkin formula rahasia.  Apa namanya? Margarin! 
Atau...gula ditambahi kakao bubuk, pengental, pengawet sintetis, dan tambahan pemanis buatan.  Apakah itu? Susu coklat! 
Mau lagi? Deterjen ditambah amonia dan pengental, pewangi, pengawet, aroma sintetis, ekstrak minyak nabati atau buah / bunga. Tapi katanya bisa membuat kulit, harum, melembapkan.  Apa itu? Sabun cair dan body lotion
Kemudian fluoride, tambah deterjen, 

Apa omongan saya kelewat aneh? Hmm...saya rasa, semuanya bisa dicek dan dipelajari sambil membaca komposisi yang tertera di banyak produk, kok. Silakan berpetualang di pasar swalayan favorit! :D 

Belakangan, sih, lumayan deh.  Banyak perusahaan dan industri yang mulai memikirkan Sang Bumi.  Bahan diganti, alternatif natural bermunculan, kemasan lebih ramah, dan sebagainya.  

Cuma, harganya belum terlalu mudah dijangkau khalayak ramai! Masalahnya itu.  Mungkin buat beberapa kalangan tidak masalah.  Tapi, dominasi masyarakat kan lebih suka mendapatkan barang yang murah, mudah didapat, dan ketersediaannya terjamin.  Secara naluri, ya saya juga gitu.  Mencari kosmetik berbahan aman, minuman kotak yang organik, air kelapa yang tidak dibubuhi pemanis buatan dan penstabil, susu nabati alami, sampo tanpa busa, dan hal-hal ajaib lainnya lumayan sulit.  Toko yang menyediakan masih sedikit.  Untungnya, lokasinya sampai saat ini cukup mudah terjangkau. Oh, dan swalayan banyak memberi iming-iming diskon, beli satu dapat sepuluh, dan segalanya! Membuat kita jadi membawa terlalu banyak barang daripada yang kita butuhkan!

Oh ya, kalau kita membeli secara grosir dan udahnya kadaluarsa dan kita buang begitu saja? Boros banget! Limbah! Dan, siapa yang senang sih melihat deretan barang teronggok di lemari dan debuan?

Bagaimana dengan bahan segar seperti buah, sayur, dan daging? Nah, ini juga masalah baru.  Buah-buah yang disediakan di supermarket tuh banyak yang impor.  Lihat saja apel, pir, jeruk, banyak yang impor--dan lebih populer.  Memang Indonesia nggak punya produk buah? Ya tentu saja punya! Kita negeri tropis yang kaya! Harga juga pasti lebih terjangkau, kualitas lebih segar berhubung belum diimpor secara lintas benua.  Kita kan tidak bisa menjamin buah-buah impor disiram pengawet karena di rak masih cantik begitu. Lagipula, kasihan petani-petani lokal, mereka berjuang tapi nggak kita hargai. 

:D  

Daging dan sayuran sih masih lumayan banyak yang lokal. Cuma, soal daging, saya tidak merasa daging-daging supermarket atau pasar organik terlokal pun sumbernya ramah hewan.  Ya, secara memang industri mematikan hewan judulnya. :P 

Zaman modern ini, manusia memang percaya, harusnya kita semakin modern dan canggih.  Tapi, apa kecanggihan harus bermuara pada hal-hal serba tamak? Bukan! Justru, kita harus mencapai titik balik menyadari kembali baiknya kearifan lokal.  Membeli buah dan sayur di pasar lokal (lebih bagus lagi kalau organik), membuat bahan-bahan pembersih sendiri dari bahan-bahan sederhana (karena, percaya saya deh, ini bisa banget, cuma butuh rajin dikit!), juga mendidik diri supaya membaca komposisi produk dan telaten mencari alternatif jika perlu.  Misal, minyak goreng kelapa sawit diganti minyak kedelai.  Karena, ehm, industri kelapa sawit cukup kejam sama perhutanan. :'( 

Oh iya, di pasar-pasar kecil, kita juga lebih mudah mengatur diri.  Bisa bawa tas sendiri dan menolak kreseknya sambil bilang, "Jangan Bang, nanti sampah...nanti penyu keselek." -> kalau diucapkan tiap hari, lama-lama Abang Sayur pasti berhenti bawa keresek. 

Nah, kalau di pasar kecil atau pedagang keliling, biasanya jarang disediakan sayur bungkus berlapis styrofoam dodol itu. Soalnya, mana kita tahu, berapa jumlah racun yang sudah terlepas ke dalam buah / sayur /daging yang dikemas berlama-lama di situ? :p

Juga, kita dapat berbicara langsung dengan penjual dan tahu persis kondisi produk yang kita beli.  Sebetulnya itu hak pembeli.  Belakangan kita memang dicuci otak untuk percaya iklan-iklan megakece yang mengutamakan keren, massal, murah, isi dan resiko ditanggung sendiri. Lalu kita beli sepenuh kepercayaan. Ditanya-tanya, jawabannya membual.  XD 

  
gambar pinjam dari sini 


 


Kalau belanja lokal, kita juga membesarkan negara, lho.  Bukan cuma pariwisata atau pendapatan industri dagang yang bisa memperkaya negara.  Tapi rasa bangga warganya, juga ikatan kuat antarmasyarakat.  Berjalan bersama toh, lebih mengasyikkan daripada sendirian mengarungi hebohnya perputaran ekonomi dan politik dunia, kan? 

Oh ya, asyik juga kalau bisa menanam banyak bahan pangan di rumah sendiri. :D Dijamin kita toh tidak akan tega menyemprot pestisida beracun ke tanaman yang sudah tahu akan kita makan, kan? 

Niscaya, Indonesia kembali sejuk dan bahagia seperti ini, walau ini contoh ekstrimnya. :D 

gambar asli buatan saya

Gimana, masih pengen ke swalayan dan rusuh belanja selagi diskon? Dipikir-pikir lagi, deh! Tuh, dipanggil Abang Tukang Sayur di depan! :D 

 
 


 




 











Sabtu, 29 Maret 2014

Mencari Tambatan Hati


Tambatan hati? 
Wah, kenapa, Ningrum? Apakah ini pos edisi Malam Minggu? :p
Memang, sih, lagi Malam Minggu.  Dan saya galau.  Bukan mikirin pacar, tapi suami! Nah lho, kedengerannya serius ya? Bener kok, saya serius. 
Saya sedang mencari...telepon seluler.  
Tumben, saya ngomongin gadget! Iya, karena Blackberry saya soak nih, belakangan.  Ditambah lagi, kebutuhan mobile online saya makin membengkak, karena aktif di berbagai jejaring sosial.  Isi kepala juga saya juga nambah terus, berhubung aspirasi dan inspirasi ngededet-dedet. 

Termasuk sekarang, saya sedang penuh pikiran! Saya pingin sekali-kali memiliki telepon genggam yang betul-betul saya idam-idamkan.  
Kalau zaman dulu, pas SD-SMP, ketika anak-anak baru mengenal (dan punya) hape, saya tergila-gila sama dua macam handphone berikut:

Sony Ericsson T100 yang mini


Nokia 7210 si cantik <3 i="">



Nah, tapi itu, sepuluh tahun yang lalu! (Kok saya menua ya?) HP pertama saya muncul dari langit kelas sembilan kemarin.  Nokia flip yang (pada masa itu) kece.  Saya sayang sama dia, sampe setia selama nyaris delapan tahun! 

Nokia 3115
Selama masa pakai Nokia Buka-Tutup ini, saya sempat juga dihibahin seonggok handphone dari si Abang alias kakak saya.  Lumayan, punya satu nomor GSM, berhubung CDMA agak ribet. Plus, ada kameranya! :D 

Nokia 6300


Sayang, hape imut yang saya kasih silikon merah jambu itu lenyap di kendaraan umum.  Entah jatuh atau dicolong.  Yah, saya pasrahkan saja dia dan kembali bercengkrama dengan Nokia Buka Tutup.  Tapi, beruntungnya, di tahun 2012 tepat sebelum nonton Keane di Jakarta kemarin itu, seorang teman papa memberikan saya hape anyar trendi yang sedang hip, yaitu: 

Blackberry Curve 9220 :)
Seperti kata orang-orang, memang praktis sekali hidup dengan ponsel-pintar alias Vidoran Smart, eh, smartphone.  Namun, Blackberry agak lemah baterainya.  Tapi, seriuslah, menggunakan Blackberry Messenger, Whatsapp, Line, dan lainnya, sungguh membantu jalur komunikasi, terutama kalau butuh cepat dan praktisnya. :D

Apalagi, kameranya itu! Bukan kamera sempurna, tapi sangat sukses menemani hari-hari saya...sampai suatu waktu saya pingin punya Instagram karena saya pebisnis visual (halah) yang obsesinya besar untuk menyelamatkan Bumi dan jerapah dari kekacauan kosmik. 

Saya punya iPod (turunan dari sang kakak) buat kegiatan Instagram-an, tetapi, kameranya, bagi saya, kurang sempurna untuk selera saya, dan kalau motret malam-malam gelap, nggak keruan. :')  Saya suka sekali peranti pemutar lagu dan perekam produksi Pak Steve Jobs ini.  Saya selalu cinta sama AppleBerhubung saya nggak ilmiah, jangan pernah tanya kenapa, ya.  Saya kan kalau kesengsem sesuatu, agak suka-suka.  
Tapi, kalau harus merunut argumen saya, hm, mungkin karena :

Logo apel pada produk Apple sangat ganteng.  Produknya didesain dengan hati.  Steve Jobs menuntut desain yang bagus.  Pembawaan iOS tampilannya sedap dipandang. Praktis.  Cepat.  Compact.  Dan otentik.  Mahal? Iya, emang, tapi siapa yang bisa bilang itu mahal sih, kalau kualitas yang didapat sebanding? 

Oke, ini agak menyimpang dari topik Mencari Tambatan Hati kita. :D Jadi, berhubung Blackberry mulai agak tua, dan saya juga ingin bisa Instagram-an di mana-mana, nggak mengandalkan jaringan nirkabel, saya pun menetapkan bahwa saya ngidam ini sekarang: 

iPhone 5 putih 32 GB :D
Sekian dan terima kasih.  Saya pingin banget! Hahaha.  Karena dengan satu hape indah ini, saya bisa mengaktifkan jejaring sosial saya tanpa kepentok kamera sedih, ketidaktersediaan wi-fi, dan tampilan yang lebih nyaman ditonton, dan akses yang mudah, serta...anyway, itu si Apel.  Saya naksir si Apel habis-habisan.  Bahkan gebetan utama saya, julukannya Si Apel.  Bukannya asyik, seandainya saya punya Apel dan mendapatkan si Apel? *lalala

Sudahlah.  Saya mulai ngantuk tampaknya.  :") 

Barusan, saya menulis ini di tengah lampu gelap, karena sedang merayakan Jam Bumi! :D Yap, siapa yang matiin peralatan elektronik tadi pas Earth Hour? Selamat menunaikan Earth Hour tadi! Semoga kita makin sadar untuk hemat energi.  Karena kita sayang Bumi, kan? 

:*

Senin, 20 Januari 2014

Tenang, Semua Ada Solusinya :)





Hai, Para Alien Bumi yang Baik! Selamat siang! Tadinya saya mau pergi agak lama hari ini, tapi ternyata nggak jadi lama-lama, jadi saya balik ke depan komputer.  Sembari ngerjain pesanan-pesanan pernak-pernik, saya mau cerita-cerita sedikit. 

Yah, sebenarnya sih bukan cerita, seperti biasa ini pikiran saya yang kebanyakan dan harus ditumpahkan demi pencapaian misi-misi! 

Tapi mari kita mulai satu persatu, sekarang topik yang paling umum dulu, yaitu: 

Seperti yang sudah kita tahu, sekarang sudah waktunya selalu pakai reusable bag kalau belanja.  Memang repot.  Tapi tanpa sadar, kalau dibiasakan, nggak kerasa apa-apa kok.  Malah jadi budaya tersendiri, dan menambah rasa tanggung jawab.  Kalau dari kecil anak kita diajarkan bawa tas sendiri (atau, botol minum pribadi, kotak bekal, saputangan, dan semua benda yang menunda limbah), pasti dia sikap tanggung jawabnya besar, ayo dicoba, para orang tua muda! :D 

Nah, sekarang, budaya ini kadang bikin masalah tersendiri bagi kita para alien.  Ya nggak? Kadang, tas kita kurang, jadi, masih butuh keresek.  Atau, kadang ibu di rumah bilang, kereseknya ambil saja buat buang sampah.  Atau karena beli telur, kita butuh satu kantung buat melindunginya secara terpisah, yang ukurannya kecil.  Terus kita kan misahin belanjaan: sayur/buah yang basah, belum ada daging, lalu barang-barang berkemasan, dan sebagainya.   Kalau kita nggak telaten dan masih suka lupa...tenang, namanya jugaproses belajar.  Kalau omongan orang yang malah mendukung untuk nambah kantung plastik, atasi dengan senyum kece di wajah dan ketenangan.  Bilang aja kamu alergi plastik!

Lalu, gimana dengan kantung darurat yang ukurannya lebih kecil? Bikin saja, atau sesekali beli barang di toko yang memberi kita tas tisu ukuran mini.  Kalau saya biasanya ngumpulin tas kalau belanja dari toko Happy-Go-Lucky, karena bisa dipakai lagi.  :D

Tapi, saya baru kepikiran untuk membuat tas kecil sendiri yang bahannya lebih tebal supaya aman untuk telur.  Tas dari bahan tisu aman untuk benda-benda lunak macam baju atau perintilan, tapi kurang melindungi barang pecah belah.  Kalau sudah berhasil buat, saya kasih tutorialnya! :D

Oh iya, ini ada inspirasi dari keluarga yang...ah, pokoknya keren.  Ayo tengok ke sini dan semoga ketularan 4R mereka: refuse, reduce, reuse, recycle.  :D

Saya bercuap segitu dulu saja deh.  Selamat Hari Senin, ya! :)
 
 
 

Kamis, 14 Maret 2013

Main Sama Si Nicole

Nicole? Nama orang? Iya sih.  Tapi kali ini bukan ngomongin orang, walaupun saya ada kenalan bocah sesama Capricorn yang namanya Nicole. :D

Nicole yang mau diobrolin sekarang adalah...Nicole's Natural! Kalau rakyat Pramudita sini ada yang ngikutin blog centil saya, Citraramya, mungkin sering baca nama itu.  Silakan ditengok dulu, nih, biar nggak bingung: POS POS FANATIK


Nah, saya kan biasanya bikin tulisan yang urusan sabun menyabun di blog yang beralamat di tumblr itu.  Tapi kali ini topiknya bikin saya pingin membahasnya juga di sini! :D 

Mari kita buka dengan ilustrasi...

Mulanya, saya tak pernah tahu apa-apa tentang merek ini.  Sama sekali.  Saya yang doyan produk serba alami dan harus berprinsip ramah lingkungan pun bergantung pada The Body Shop, L'Occitane, dan kadang menitip atau tukeran produk sama Lynn, teman saya, penulis blog Lovely Cosme yang isinya sejalan dengan prinsip saya. :)

Tapi saya tak pernah puas dengan merek-merek di atas, karena, walaupun mudah dijangkau karena gerainya ada di mana-mana, tetapi tidak semau produk yang mereka klaim 'natural' itu benar-benar seratus persen alami.  Masih ada saja bahan kimia kurang sedap yang terselip di daftar komposisinya.  Dan itu mengecewakan. Maklum, saya orangnya pingin yang maksimal.  :(

Memang, The Body Shop punya program mengembalikan botol, dan itu sangat saya suka.  Namun saya rasa bakal lebih keren lagi kalau programnya diganti dengan 'isi ulang'.   Karena kalau hanya 'mengembalikan', toh kita tetap harus membeli lagi, dan menambah jumlah plastik lagi di rumah... Kalaupun kita diberi reward poin tambahan dan sebagainya, tetap saja ujung-ujungnya nambah barang! Harapan saya yang sudah basi dan hilang asa.   *huf

L'Occitane punya komposisi yang lebih otentik, dan kemasannya lebih bervariasi.  Diadakan juga program membawa kemasan kembali ke toko untuk donasi fondasi perlindungan tunanetra, tapi ternyata harus 5 buah, dari 5 buah itu akan diberikan pada kita sebatang sabun!  Kalau kurang dari 5 buah, nggak diterima.  Mana komitmennya, mana?

Jadi, saya sreg sama merek-merek itu, tapi kurang puas. :)

Kemudian saya juga nemu 100% Pure, yang nampaknya meyakinkan.  Bahan-bahannya memang asli alami semua, kemasannya lucu, harganya setara, dan produknya banyak, dari kosmetik sampai produk perawatan anak-anak, ada! Cuma sayangnya, di beberapa produk, ada bahan yang namanya Japanese Honeysuckle.  Yap. Bahannya sih alami.  Tapi, konon katanya dia bersifat seperti paraben. Pengawet sintetis yang dampak jangka panjangnya kurang oke.  Yang tadinya saya niat beli ini, itu, saya pun mengurungkan niat.  Saya cuma beli kosmetiknya.  Karena bebas si Japanese Honeysuckle dan memang kualitasnya oke! Sayang, belum ada tokonya di sini. :') 


Nah, suatu hari, saya ke PVJ.  Waktu lewat-lewat PVJ minggu-minggu sebelumnya, saya sudah melihat banner bertulisan nicole's natural bath. NOW OPEN. Mulanya saya skeptis. Saya cari di internet tentang ini, dan tetap saja skeptis.  Paling juga klaim alami tapi isinya sama aja! Akhirnya, saat ke PVJ, saya menyempatkan diri nebeng ngendus, tanya harga, dan baca isi produk di nicole's natural

Saya pun masuk ke toko berlanggam putih-putih minimalis dengan dekorasi apik.  Kakak penjaganya ramah.  Tokonya wangi.  Yang paling absurd sekaligus mendebarkan, adalah momen ketika saya mengendus-endus produknya, menanyakan harganya, dan membaca komposisinya serta diberitahu beberapa hal penting tentang merek ini: 

Bahwa sesungguhnya, wanginya enak-enak alami.  Mereka punya rumus nama begini: (efek aromaterapi) (jenis wewangian).   Ditemukan di sana, 6 rumus utama: 
Cooling Mojito + Calming Lavender + Energizing Citrus + Romancing Rose + Balancing Wood + Detoxifying Green Tea.  Dan semuanya unik! 

Dan saya suka sekali bagian ketika Kakak Penjaga berkata: "Produk kita bisa diisi ulang, lho. Harganya jadi berkurang kalau isi ulang." 

ASTAGAMEGA aja itu.  KEREN.  SESUATU.  Inilah yang saya tunggu! Lalu saya menengok dan melihat tabung-tabung berisi bahan untuk isi ulang.  I can actually refill my bottles here! MENAKJUBKAN. 

Keajaiban ketiga, komposisinya memang semua alami dan bahkan sepertinya vegan! Tak ada beeswax, madu, dan sebagainya.  Hanya rempah-rempah dan minyak esensial.  

Produknya beragam. Sabun batang, sabun bentuk selotip, sabun coklat, shower gel, scrub, losion, bahkan teh bunga pun ada! 

Alhasil, saya pun memutuskan mau pedekate sama Nicole's ini.  Saya mulai dengan membeli losion yang Rose dan shower gel dari dunia Citrus, plus teh Wood.  Semuanya diskon 5% karena kebetulan saya bawa botol kosong PET 1 yang tadinya mau dibawa balik ke empunyanya di toko X. 

DAN SAYA SUKA BANGET semua produknya.  Bahkan Mama saya ikutan pakai losionnya (karena saya minta sih), dan untungnya beliau pun bisa menerima keberadaan losion serba alami nonlengket ini.  

Tehnya, sekeluarga suka! Wangi dan bahkan menyisakan rasa manis sedikit. 

Jeli pancurannya? KEREN! Nggak mengandung Sulfat (itu lho, bahan pembusa deterjen dan sabun cair), jadi busanya minimalis, dengan aroma yang menakjubkan. 
 
Kemudian saya mulai beli benda-benda lain dari situ.  Citrus cream scrub, Konjac sponge, organic sweets mereka (macam gula batu ditaburi bunga-bungaan dan kulit buah jeruk), Green Tea shower gel, juga sabun batang Mojito yang kenampakannya seperti kue bolu. Semuanya menyenangkan dan bebas rasa bersalah karena bahan kimia berlebih atau karena botolnya entar cuma bisa teronggok jadi sampah.  Kan bisa diisi ulang! Kalau nggak pun, dikembalikan saja ke tokonya. Atau, sambil beli jenis produk yang sama dengan wangi berbeda, supaya diskon 10%.   :3

Jangan lupa, setiap pembelanjaan 500.000 Rupiah (kalau nggak salah segini), bakal dapet bayi pohon mahoni yang bisa kita pelihara! Asyik ya! :D  Saya mau ah entar, biar dapet temen buat Ganesha Grasidi dan Helianthus Giganteus Generasi II !

Yang juga berkesan dari toko ini, adalah Mbak Litanya.  Salah satu penjaga toko yang kayaknya profesional.  Hahaha. Soalnya dia inget aja tahun lalu saya belanja sama kakak + sepupu saya, sampai pas kemarin ke situ saya ditanyain.  Yah pokoknya saya doyan deh sama toko ini! Kalau sampai tutup nangis kayaknya.  :'(

Sambil iseng-iseng, yuk kunjungi situsnya, ikutin Twitternya (@nicolesnatural), dan main di Facebooknya.   Di PVJ, tokonya ada di lantai bawah, jejeran Wakaka, sebelahan sama Menu Cookies & Craft, seberangnya MindBlowing.  Ya, pokoknya dicari saja, gampang kok. :D

Oh iya, sekedar curhat, kalau mengendus aroma produk Nicole's itu, lucu lho rasanya! Seperti perpaduan wangi standar sabun-sabunan, tetapi di baliknya terasa kekayaan rempah dan bunga-bungaan yang bikin kita kangen rumput.  :D 



*Ocehan ini asli tulus dari hati lho, bukan karena dibayar atau nggak.  Saya orangnya berdedikasi.  Jadi kalau udah suka sesuatu nggak akan ragu promosi.  Mestinya saya jadi pedagang aja sih. :p

Sekian ngekngokan pagi ini.  Besok pagi bahas yang lain lagi! Oh iya, rencananya saya pingin ngadain giveaway dalam rangka menyambut Hari Bumi, lho! Ditunggu ya.  :)

Sabtu, 08 Oktober 2011

Cintai Produk Lokal!

Bukan, saya bukan mau ngomongin keripik singkong atau beras improt.  Saya kemarin baru nonton Djava String Quartet asal Yogyakarta, di CCF Bandung, dan saya sukaaaa banget! Kebangetan sukanya.  

Terdiri dari 4 pemain alat gesek yang berkemampuan hebat, Djava menampilkan karya Beethoven, Mozart, dan bersama piano--Schumann.  Semuanya bikin saya merinding (physically merinding, maksud saya!).  

Tahun 2009, saya juga nonton Djava.  Cuma karena saya masih amatir, ya, saya merasa biasa saja, walaupun memang penampilan mereka memukau.  

Tapi di tahun 2011, mereka jadi sepuluh kali lebih mengerikan sampai saya senyum-senyum sendiri pas mereka memainkan lagu! Mana pianisnya pun jago gila.  Amit dah.  *pada makan apa sih?*makan senar*

Oh iya, saya nontonnya bareng Esther dan Manda.  Udah gitu saya akhirnya beli juga CD Yes, I Listen to Djava String Quartet seharga 25ribu Rupiah.  

Ah, pokoknya mereka KEREN! 

Kemarin saya nonton Mr.Popper's Penguin, yang dimainkan oleh Jim Carrey si muka elastis.  Ya ampun, jadi pingin pelihara pinguin! Lucu banget! :3  


Ada pos baru di citraramya! :)

Monggo mampir.

Sabtu, 24 September 2011

Me, The Real Babbler

Dari kecil saya kayaknya udah agak cerewet (bukan AGAK lagi sih). Untungnya, kecerewetan saya dapat disalurkan ke buku-buku manis bernama buku harian, yang biasanya diawali dengan Dear Diary, tapi saya mah nggak.  

Pemirsa, coba tengok, berapa banyak beban yang harus saya bawa jika pindah rumah setelah menjadi penulis lepas kendali? Buku harian sebanyak ini! 

Siapakah mereka? Kumpulan buku yang saya coret-coret selama 7 tahun! Yap. Kita mulai dari ujung kiri, walau tak sesuai urutan periodikal.  

1. Buku coklat dengan ring itu, diary saya pas peralihan kelas 8 ke kelas 9.  Masanya labil dan naksir cowok jadi masalah.  Zamannya punya loker di kelas yang isinya buku pelajaran dan punya saya rapi gila sampai diomelin temen karena lelet kalau lagi naruh buku di loker (soalnya loker dia tetanggaan, jadi kan harus nunggu saya).  Itu maskotnya Newton si beruang yang lucuu.  

2. Si merah jambu berbulu meyakinkan, karakter depannya kelinci Wabbit, hadiah ngisi angket majalah Babyboss.  Saya senang bangetlah dapet buku ini.  Soalnya lagi nyari diary polos, eh, kebetulan yang mujizatik (bersifat seperti mujizat, -red.), sebuah paket diantar ke rumah setelah saya pun lupa sudah ngirim angket.  Ditujukan kepada saya dan isinya benda idaman saya.  Mujizat itu nyata, sodarasodari! Ini saya pakai pas kelas 3 SMA sampai beberapa bulan sesudah lulus, tepatnya selama saya merajut cerita di kelas XII IPS 2 yang ributricuhbinrusuh dan waktu lagi jalan-jalan melulu sama Devika sampai ke Jakarta.  Banyak gambar dan tempelan-tempelannya.  Habis kertasnya tebel, jadi nggak tembus-tembus juga kalau dispidolin.  Makanya warna-warni.  Nah, sampul berbulunya itu ada kantung-kantung kecil.  Alhasil saya taruh juga tiket, label baju, bungkus sumpit restoran mahal, sampai bon penting di situ. 

3. Masih bernuansa merah muda, tapi yang ini karakternya babi, mereknya Dadifang, made in China, sembilan belas ribu dapet di Gramedia Merdeka.  Belinya spontan, karena kertasnya polos dan kekuningan, yang menandakan pengalaman mencoratcoret yang indah! Itu diary paling anyar yang baru habis awal September barusan.  Isinya agak semrawut.  Soalnya ukurannya nanggung gitu, panjang kurus dan kertasnya copot-copot! *kecewa Tapi tetap warna-warni, karena saya ngoleksi aneka spidol warna, dan banyak gambarnya, walau gagal bikin 'novel grafis' gaya-gaya Curhat Tita gitu. :P 

4. Si putih buku polos berkulit tebal yang ada karet penyegelnya.  Depannya ada gambar cewek pakai baju aneh.  Ini kehebohan pasca-Wabbit.  Udah berniat bikin novel grafis juga, tapi tetap gagal! Jadinya tetap banyak tulisan gambar selingan, atau benar-benar gambar doang tapi tanpa arah dan tujuan.  Hal paling berkesan yang dimuat dalam diary ini adalah: pertama kali masuk kelas CCF, gempa bumi kecil, dan bikin kue kering.  Hehe. 

5. Lagi-lagi buku dengan ring! Yang itu kisah kelas 1 SMA semester dua saya.  Waktu saya udah kelas XC alias semi-IPS (metode semi-semian yang aneeh sekali).  Oleh-oleh Papa dari...er...Jakarta, gitu ya? Lupa.  Gambar depannya kartun gaya Cina atau Korea--kurang paham.  Ini hampir semuanya didominasi huruf doang, jarang digambar dan nulisnya cuma pakai bolpoin item.  Nggak keburu! Anak sekolah sibuk!  

6. Masih ada kaitan dengan buku sebelumnya, ini gambarnya gedung-gedung imut bernuansa pink dan biru muda.  Kelas 10 semester satu, ya, saya pakai yang ini.  Ditulisnya sehari selembar, pakai bolpoin, Bahasa Indonesia, setiap malam sebelum tidur atau sore sesudah mandi. (duh, freak sekalii!).  Tapi isinya lumayan menyenangkan lho.  Kadang-kadang kalau baca lagi saya ketawa juga.  

7. Si Forever Friends beruang gendut depan toko permen/ bunga ini hadiah dari Ella, teman sebangku saya selama 6 bulan di kelas XD.  Saya juga kaget.  Nggak pernah ngasih kado juga ke dia, tiba-tiba dikasih kado pas ulang tahun! Owalah, Ella...makasih ya.  :) Jadi kangen. Udah gitu kita duduk bareng, pula.  Nah, diary yang ini ditulastulis pas saya kelas XI IPS sampai kelas XII awal (rasanya sih).  Pokoknya karena tebal, panjang deh ceritanya, 2008-2009 pun sempat bertukar tempat segala.  Oh iya, belum warna-warni, masih bolpoin doang.  

8. Dan si kuning muda itu adalah buku harian bergembok saya pas kelas 7! Saya inget banget tulisan pertamanya bikin bareng Esther-Tumpul di bus pas mau tur ke Jogjakarta.  Gubrak!  Gambar depannya cewek kribo bergaya ramai yang kurus dan berpose imut.  Isinya masa puber banget.  Suka tiba-tiba bete.  Cuma nulis BETE! doang, dan lain sebagainya.  Nggak terlalu asyik dibaca ulang, sih...

9. Cozy Pets! Saya suka banget gambar dan karakter beruang, kucing, dan anjing kecilnya.  Terus ada gemboknya.  Itu diary saya waktu kelas 8A, yang menurut saya kelasnya enak.  Nggak tahu kenapa bikin nyaman dan aman.  Padahal wali kelasnya salah satu killer.  Tiap hari ganti tempat duduk.  Terus orangnya aneh-aneh.  Namun kelas tersebut begitu berkesan--jangan tanya kenapa.  Oh iya, nih buku diisinya banyak pakai pensil dan agak tak berkonsep.  

10. Dear My Angel, depannya pink, kala tersebut, tren sedang berada di foto-foto unyu dari Korea, kayak Café Pupu (kue-kue, permen, biskuit, dikasih tambahan mata yang imut-imut, senyum...), tapi yang saya depannya gula-gula padat bentuk hati yang ada senyum-senyumnya.  Hangatlah kesannya.  Ini diary, entahlah, ditulisi pada masa super labil, tapi warna-warni dan isinya adaan, lho! Percaya atau tidak. Walau kalau nggak salah, harganya memang agak mahal jadi saya sayang-sayang juga. Peralihan kelas 6 ke kelas 7 ternyata membawa keindahan tersendiri kali ya... Oh, satu lagi yang spesial, aroma buku yang ini paling enak! Enak diendus.  Nyam nyam.  

11. Si hijau itu, OCHAKEN, bukan diary tapi agenda yang isinya: 
Selasa, 21 Agustus 2007 
1. PR Mat hlm. 10
2. Bawa suling!
3. Komik Kobochan buat Si Buyung* (*bukan nama sebenarnya)
4. Ada SM, bawa suling, oy! 
5. Les pianooo! :D

Demikianlah.  Hehehe.  Hebat banget ya, di tengah kesibukan sekolah masih inget bawain komik. Itu memang sudah profesi saya, lagi.  Rental komik gratisan. :P 

12. Sebelah OCHAKEN juga sejenisnya, tapi ada daftar belanjaan segala dan disegmen per bulan.  Maskotnya lucu banget deh, cewek rambut helm pakai kacamata gitu.  Edgy abis.  Itu daftar belanjaannya saya suka banget, apalagi pas pertama kali beli barang The Body Shop, yaitu sampo Olive-nya.  Aih. <3 Oh iya, daftar belanjaannya juga unik karena dikasih dua stempel manual sama saya.  Gambar daun kalau saya belinya tanpa kantong plastik, dan gambar bendera merah putih kalau saya beli barang lokal.  Akhir tahun dihitung...dan...tidak proporsional. :P 

13. Itu agenda bonus CosmoGirl! yang isinya tempelan bon dan sketsa-sketsa bercanda doang.  Hehe. 

14. Nah, yang kecil kurus nyelip sendirian, adalah agenda hadiah Natal-nya SMA Yahya, yang sampul depannya hanya hitam emas menjenuhkan, jadi saya bungkus kain gambar kue-kue saja biar menghibur dan lebih berkarakter.  Masih satu spesies sama OCHAKEN, disegmen perbulan, dan di situlah lahir stempel daun dan bendera di daftar belanjaan saya.  :) Ini buku tugas seriiing banget pindah tangan atau keliling kelas karena dilihatin orang.  Soalnya saya rajin nyatet PR (bikinnya sih nggak terlalu), ulangan, dan jadwal ulum.  Puh.  Masa SMA. 

15. Notes kecil, masih satu spesies, tapi format percobaan jadi berantakan.  Hehehe. 

16. Waktu SD, White adalah karakter orji favorit anak-anak cewek! Saya ngotot dong, belinya, ngeyel ke Papa sampai dianterin ke Super Indo Buah Batu dan setelah memilih-milih + mengendus aroma kertasnya, saya beli juga satu dengan mata berkaca-kaca penuh terima kasih pada Papa (maaf ya, anak kecil ini ngerepotin, maklum, masih SD).  Mana pulangnya macet.  Aduh, maaf, Papa.  Hahaha! Anakmu telah menjadi korban tren.  Dulu kan semua anak SD punya orji lucu-lucu gituuu, terus tukeran kertas-kertasnya lucu gituuuu.  Inget banget deh, dulu orjinya Inez-Tumpul tuh Sport Sanny atau apa, pokoknya gambar cewek pakai sepatu roda (atau papan luncur?), dan saya seneeeng banget pas punya orji juga, jadi bisa tuker-tukeran dan pamer ini itu.  Duh, anak SD zaman sekarang masih senorak itu nggak ya? Hei, anak-anak SD, sekarang lambang status kalian apa, sih? Eh, sekedar info, di kantung bening orji ini ada: tanda tangan Agnes Monica ASLI, foto Yagira Yuuya yang saya temukan di koran dan bikin jatuh cintrong, dan benda lain yang kurang penting tapi penuh kenangan.  Gitulah. Masa puber.

17. Notes jilidan tak bergizi.  Padahal lucu, sayang yang ngisi masih norak, jadi kacau deh. 

18. Cardcaptor Sakura! Yang disantronin tiap Minggu pagi jam 7 bikin males ke gereja. :P Yap, saya punya buku kenangan dong, seperti anak SD lainnya (lambang.status.sosial)! Tentu saja isinya data diri anak-anak di kelas, yang kalau dibaca lagi bikin ngakak.  

19.  Nah, kembali ke...diary! :) Ini pas kelas 9, mungkin ada jejak-jejak kelas 8 juga.  Lupa.  Dan ini pun nggak habis-habis kaya si Forever Friends.  Nulisnya pakai bolpoin langsing warna merah muda, hijau toska pudar, dan biru.  Sehari selembar, di halaman bagian bawah ada kotak, saya biasanya nulis quotes yang bagus gitu.  Sok iye bangetlah! 

20. Peter Rabbit biru, pas kelas 6 SD... isinya ya, penuh kemarahan (puber, harap maklum).  Apa aja diomelin.  Ngeceng cowok aja malah bikin marah-marah.  Payah banget sih! 

21.  Dan ini dia, si primer alias perdana! :D Peter Rabbit merah! Yap, di sinilah sejarah hidup hormonal saya mulai ditorehkan dengan pensil/ bolpoin/ apa saja.  Depannya rapi lho, tapi ke belakang-belakang bisa tiba-tiba ada sehalaman isinya cuma: BETE!!! SEBEL!!! JIJAYYY!!! + muka orang marah bertaring segala segede gaban.  Saya kenapa sih waktu itu?! 

Dan saya masih melanjutkan tradisi lho! Saya sudah punya 3 buku baru untuk diary.  Semuanya kertas polos! :D 

Satu yang lagi saya pakai, akan saya kasih intip dua halaman saja.  :) Warna depannya merah kertas daur ulang, bikinan Rumah Bagus, empat belas ribu.  Tadinya mau dibikin dream book, tapi belum ada inspirasi, jadi malah dialihfungsikan.  Ternyata enak ditulisin + digambarin. :)







Begitulah! Ngomong-ngomong sekalian saya kenalin juga calon buku harian berikutnya yang didapatkan di Muji seharga 35 ribu (untuk ketebalan dan kualitas yang bahkan melebihi harganya!) bersama spidol-spidol 8000an yang menurut saya ekonomis dan warnanya bagus pula.  :) Monggo...


Baiklah! Pos hari ini sudah begitu banyak.  Mari bertobat.  Selamat menjelang hari Minggu ya!  :D

Rabu, 24 Agustus 2011

Citraramya


sekarang telah dibuka untuk umum! Sebuah halaman di mana ilustrasi produk-produk favorit saya dipamerkan dan dijabarkan.  

Yah, semacam beauty blog wannabe yang tidak terlalu beautiful.  Hahaha! Tapi silakan dicek! Semoga memberi inspirasi dan kesenangan tersendiri! :) 

 


Selasa, 23 Agustus 2011

Ibu Kota!

Hai, hai! Saya sebetulnya telat sekali kalau baru cerita tentang ke Jakarta ini.  Tapi harap maklum, baru sempat ngedit fotonya barusan... :) 

Tanggal 14 Agustus lalu, saya pergi ke Ibu Kota untuk mengadu nasib! Ya bohonglah jelas! Saya dan Papa-Mama mau ngerusuhin kos-kosan si Abang Seno Tukang Bakso di Jalan Kesehatan, Jakarta Selatan.  Berbekal foto-foto (berkualitas tolol karena pakai kamera HP), ini dia...

"Cerita Jakarta"
(baca: nongol di Pondok Indah Mal bersama Kokol dan Ayah Ibu yang Konyol)


 Daycraft Signature Sketchbook (Kinokuniya, 99ribu, kertasnya polos dan KUNING!
+ Faber Castell Mechanical Pencil 
+ Yogen Früz mix juice

  
Green Paradise Salad bikinan Ichiban Sushi (enak!)

 Salmon Donburi, juga dari Ichiban Sushi (uenak tenan!)

C'est tout! :) Memang yang berhasil saya foto cuma itu.  :(( Nanti ada foto lainnya, tapi ada di iPod si Kokol, jadi saya belum punya.  :D Yah, semoga memberi inspirasi (masa iya?)! 

Nah, hal lain yang mau saya bagikan adalah...saya sudah lulus ujian CCF lagi! :D Nilai saya 86 dari 100.  Maka dengan ini saya dapat melanjutkan ke tingkat selanjutnya.  Cihuy! 
Terus apalagi ya? Saya baru potong rambut! Sekarang rata loh, rapi, nggak shaggy lagi. Tapi saya suka.  Gampang diasuhnya.  :D 

Ngomong-ngomong, waktu itu di Griya Setrasari saya dengar lagu Abang Tukang Bakso! Iya, lagu lawas untuk anak-anak téa! Saya baru ngeh bahwa liriknya seenak perut banget! Coba simak: 

Abang tukang bakso
mari-mari sini
aku mau beli

Abang tukang bakso
cepatlah kemari
sudah tak tahan lagi

Tidak ingat liriknya apa...yang jelas bagian paling fenomenal adalah:

Abang tukang bakso 
tiap kali lewat
bikin perut jadi kosong
Jadi anak jangan suka bohong
Kalau bohong 
digigit kambing ompong

Abang tukang bakso
tiap kali lewat
bikin perut jadi kosong
Jadi anak jangan suka bohong
Kalau bohong
digigit nenek gondrong

Saya ngakak di depan rak produk pencuci muka.  Untung Mbaknya nggak ikutan ngakak (ngakakin saya).  :))
 
Ada yang tahu lirik asli dan lengkapnya kah? Saya mau dong.  

Baiklah, sekian untuk hari ini! Ceriakan hati kalian dari dalam hati sendiri! :) 
Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaan Anda! -Ajahn Brahm, penulis "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya"

Senin, 18 Juli 2011

Bararongjur! *

Hai, kawan semua! Saya baru pulang dari...CCF! Yap.  Ujian.  Jam empat sore, meleset dari pemahaman bahwa ujiannya jam satu siang (miskomkah? Salah ketikkah?), tapi, ya sudahlah ya. 

Dan apakah yang terjadi di ujian? 

*membuka tirai panggung pelan-pelan

Voilà! Ujiannya selesai dengan selamat sentosa adil dan makmur dong! :D Bagian Comprehension d'Oral alias mendengar dan menjawab pertanyaan...lumayan! Senang sekali.  Bab kedua, Comprehension d'écrit-nya, nggak terlalu kompleks, yah, agak banyak mikir, tapi...berjalan lancar! Bagian ketiga, terakhir, menulis (lupa judulnya apa) kartu pos dan mengisi formulir identitas, mantap suratap.  Ada elemen-elemen kecil yang bikin nggak yakin, tapi sudahlah.  Setidaknya saya ngerti apa yang saya lakukan, nggak kayak kalau ketemu soal aneh di Ulangan Umum Fisika sampai ngejawabnya 100% mengarang bebas.  :)) 

Dan terakhir adalah...BERCAKAP-CAKAP dan NGOMONG! Nah, yang ini agak jebol-jebol nggak puguh lantaran saya...entahlah, antara gugup, takut salah, dan...ah, entahlah!  Walaupun begitu, saya rasa hasilnya lumayan kok.  Saya memperkenalkan diri dengan baik, membuat pertanyaan-pertanyaan yang nggak garing, dan saya bisa bayar sekilo pisang dan dua kilo ikan seharga 18€30 dengan duit-duitan kertas fotokopian 20€ dan dapet kembalian 1€70.  Bwahaha! Berasa balik ke SD lagi nggak sih? Belajar uang-uangan, tapi yang ini versi Bahasa Perancis? That was weird, anyway.  It sounds weird and felt weird!   

Oh iya, tadi karena salah jadwal, selama jam 1 lebih sampai jam 3 kurang, saya keluyuran ke Gramedia dan BIP.  Di BIP, saya beli soft lens yang memang sudah direncanakan sebelumnya.  Eh, kebetulan lagi ada loyalty program dari Acuvue, jadi kalau beli 2 kotak dapet 1 gratis.  Ya sudah, saya manfaatkan pula itu keuntungan.  Lumayan, ada stok soft lens sampai 9 bulan mendatang (terus siapa yang melahirkan ya?).  Daripada bolak-balik toko kalau kehabisan.  Lagipula jadi hemat sebanyak 165.000 Rupiah untuk jatah satu periode (3 bulan). 

Lalu saya pun...kembali ke CCF dan makan kentang gorengnya yang berharga 9.000 Rupiah ditambah jus buah campur, 12.000 Rupiah.  Seharusnya bertotal 21.000 Rupiah, kan?  Tetapi karena punya Carte Etudiant, saya dapet diskon 10%! Yipii! :) 

Oh iya, saya ada kata-kata mutiara bagus.  

Minum air putih sebanyak-banyaknya.  Niscaya racun akan keluar dan tubuh segar selalu.  Senyum! ;)

Selamat berbahagia, kawan-kawanku. :D 

*Bonjour versi Sunda, menandakan adanya kejamakan pada sasaran sapaan