Senin, 19 September 2016

Rencana


Setelah bertahun-tahun ini, belajar tentang pengelolaan diri, hawa nafsu (belanja), kebiasaan menumpuk, dan lain-lain.  

Saya sadar, memang proses seru menulis diary waktu remaja itu penting. Ada kemampuan menulis dan kebiasaan bercerita yang jadi bekal untuk kini. Saya juga suka punya banyak macam catatan untuk tiap kategori kerjaan yang saya lakukan. Atas nama seni. Atas nama keperluan. Tapi ada kalanya, label diri sebagai 'anak rapi terorganisasi dan seniman' juga bisa menjebak dalam pemborosan. 

Entah atas dasar apa, saya jadi beli terlalu banyak buku kosong, alat tulis, klip kertas, stiker, dan barang enggak-enggak lainnya.  Ya, tentu saja saya mengapresiasi mereka! Banyak yang desainnya menarik, bahannya bagus, fungsinya lumayan.  Sayangnya, saya terlalu ingin memiliki semuanya. 

Tangan cuma dua, neng. Mana cukup semua mau diraup! 

Dulu memang menarik.  Tapi sekarang, ternyata saya membutuhkan lebih banyak fokus dan ketenangan. Secara fisik dan mental.  Empat macam buku catatan menumpuk semua di meja, sungguh terasa tidak keruan.  Punya jurnal khusus fashion, buku tentang Guyu, buku lagu, agenda, buku harian, buku sketsa, dan lainnya. Memang terorganisasi dan cantik. Namun percayalah, untuk setelan Ningrum versi sekarang, rasanya...rusuh. Bahkan, dengan menanggalkan gengsi sebagai seniman dan tukang gambar, saya menjual beberapa marker yang benar-benar tidak tersentuh berbulan-bulan.  Dulu pun beli atas dasar doyan, sok perlu, sok banyak ide. Hihi.  

Setahun ini, saya ngabisin pensil lho.  Banyaaak sekali pensil. Ada yang kado, ada yang mungut, ada yang beli.  Mentang-mentang tetangga sebelah Braga Music adalah Gramedia (eh, seberang sih, bukan sebelah), saya jadi kebiasaan apa-apa ke Gramed aja beli pensil atau bolpen.  Acuannya satu: biar nggak bosen sama pensil yang itu-itu aja, dan biar ada cadangan di ruang ngajar.  Entah kenapa cadangannya lalu jadi banyak banget. Lalu saya pun belajar berfokus pada satu pensil saja sampai habis.  Mau sepuluh bulan baru habis, kek. Pokoknya satu dulu! Saya bawa ke mana-mana. Pakai di mana-mana. Coret partitur pakai itu. Sketsa pakai itu. Makan...err, nggak bisa pakai pensil sih, harus sendok! 

Nggak cuma pensil, juga bolpen. Saya suka ikut-ikutan ambil gimmick di Braga Music, dan akhirnya ketimbun bolpen yang overlapping penggunaannya. Kalau ingat lagi keserakahan itu, saya jadi malu. Haha! 

Oya. Sebenarnya, pembicaraan ini kejauhan. Saya tadi cuma bahas buku yang kebanyakan itu ya? Oke, jadi, untuk menyederhanakan pemandangan meja dan membuat segalanya praktis, saya mau kembali ke masa anak sekolah...dikurangi buku-buku pelajaran yang seabreg sampe gak tumbuh gara-gara ransel berat itu ya. Apa sih itu? 

Pakai binder! Tapi saya nggak bermaksud jadi planner addict yang malah makin hoarder itu sih. Sori. Tapi...emang jadi beli lebih banyak, kan? Memang selalu ada alasan untuk belanja ya, sist, bun, say, mbak...apapun latar belakangnya, yang penting belanja! XD 

Saya cuma berniat menyimpulkan semua urusan saya di satu lipatan, di satu ringkasan.  Yang saya nggak perlu ambil tiga buku lalu jejerin depan saya dan malah nggak fokus! Lagipula, bisa sekalian agenda, daftar yang harus dilakukan, dan lain-lain. Ah, senang, kan? 

Saya baru mau pakai tahun 2017, sih. Karena masih punya agenda Makire dan buku-buku yang lain ini. 
Saya sudah 3 bulan hidup hanya dengan 1 sepatu bepergian dan 1 sepatu acara formal. Ternyata bisa, saudara-saudara! Terharu! Kenapa centil sih kemarin-kemarin? 

Sekarang, tantangannya akan lebih unik: hidup dengan 1 binder dan 1 buku sketsa dari kertas bekas (bahkan dari makalah bekas zaman SMA saya balik...). Dan juga buku sketsa lain yang masih kosong. Akan saya jadikan buku sketsa betulan. Karena selama ini kecampur nggak jelas. 

Tantangan lain masih ada, sih. Misalnya...dalam ranah kecantikan dan aksesoris, juga hal renik lainnya. Termasuk pangan. Tapi nanti saja ya ceritanya. Nanti ngelanturnya ngawur... 

Buku-buku lain yang masih bisa saya beli cuma buku musik. Yang isinya toge...karena itu akan dibaca terus sampai...sampai gila? He, jangan dong. Sampai mahir! Walau batas 'mahir' nya itu memang nggak jelas, bicara musik sih.

Baiklah. Segitu saja! Di atas itu ada foto Paleo dan agenda Kikki.K baru untuk tahun depan. (habis difoto, masuk kotak lagi, dibungkus lagi, pura-pura lupa, biar berasa hadiah ultah entar di penghujung tahun)

Tidak terlupa, ngiklan dulu: 
Adopsi baju-baju lucu di Huraya Garage Sale, ya! ;) 

Selamat Hari Senin Besok Sudah Selasa Kok Tenang Saja ! 




Jumat, 02 September 2016

Makan Tanpa Rasa Bersalah



Sedikit oleh-oleh dari restoran vegan favorit : Fortunate Coffee, Jalan Kebon Sirih, Bandung :)