sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label ceramah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceramah. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 September 2014

Teropong Mengarah pada Sang Tetangga *hup

Saya baru dapet tetangga baru! Iya, rumah kami di lantai dua emang selalu strategis buat mengamati kehidupan di lantai dasar, alias tetangga.

Siapakah mereka? Sepasang suami-istri yang punya anak tiga, laki-laki semua. Tetangga baru ini, ceritanya sih, aktif mengurusi metode pembelajaran dan pendidikan anak gitu. Bahkan meneladani metode pengorangtuaan alias parenting. Dipikir-pikir, harusnya anaknya baik-baik dong. ;)

Eh nggak taunya, yang terjadi malah...kehebohan.  Anak-anaknya memang aktif banget.  Maklumlah anak kecil.  Tapi...kelakuannya khas bocah zaman sekarang: doyan teriak, konsentrasinya pendek, sebel dengan pelajaran, asyik banget kalau udah ketemu gadget, dan anehnya suka tiba-tiba naik ke lantai dua nggak pake basa-basi!

Nah, kalau lihat gelagat-gelakan anak kecil, harusnya mengacu pada orang tuanya, dong? Dan apa yang terjadi? Orang tuanya sih menurut saya baik-baik aja.  Baik mah, baik.  Cuma, rada kurang basa-basi.  Pas pertama dateng aja, mereka nggak pake kenalan-kenalan dulu.  Karena papasan, baru deh, kenalan.  Pasang parabola tivi kabel, nggak izin kemarinnya, tau-tau sudah ada juru instalasi naik ke atas, baru setelah melihat saya lagi bengong, om tetangga dateng dan cuma ngomong, "Ikut pasang ini ya."

Gitu doang.

Lalu, perlakuannya pada anak-anak? Ya gitulah, nasib anak-anak...diomelin orang tua melulu. Kepikiran nggak sih? Anak kecil kan niru orang dewasa.  Lah, kalau tiap hari dipapar teriakan, kritik, dan segalanya, dia pasti niru kan? Tanpa sadar.  :p  Udah paham rumusnya?
Anak-anaknya juga jadi nggak tahu unggah-inggih.  Naik ke atas tanpa izin. Diajak ngomong nggak jelas. 

Seperti banyak kasus murid-murid kecil saya di les piano, sih.  Mereka sering lupa, guru adalah manusia juga, yang perlu dihormati dan didengarkan.  Apalagi, lebih tua.  Tapi guru juga harus menempatkan diri di kacamata bocah--mereka emang jauh lebih labil dan sesukanya--mungkin karena nggak ada yang ngajarin mereka untuk memandang dunia dari sudut pandang orang lain.   

Vice versa.

Idealnya, anak kecil, remaja, dewasa, dan lansia, semua harus bisa belajar bareng-bareng.  Belajar berempati sebesar-besarnya, agar tak perlu lagi ada kekacauan pendidikan.  Dan, tentu, semua harus saling sayang. 

Yuk, kita jadi manusia yang baik dan memahami unggah-inggih atau basa-basi sebagai hal mendasar.  Ini bukan budaya.  Ini bentuk penghormatan pada orang lain. Itu esensi jadi manusia dan hidup sama manusia lain, juga makhluk hidup lain.  Siapa sih, yang nggak seneng diperlakukan dengan penuh sopan? :D




Rabu, 16 Juli 2014

Semau Kita

Pernah mikir, nggak, sih? Dari mana datangnya ketentuan-ketentuan dunia? 
Kenapa cuma perempuan yang boleh pakai gaun? Kenapa kita harus bersepatu kalau sekolah? Kenapa jomblo didiskriminasi? Kenapa anak laki-laki dilarang main boneka? Kenapa dari SMP harus ke SMA, nggak langsung kerja? Terus kenapa juga manusia harus kerja?

Dunia memang demikian, Sob.  Selalu ada pihak-pihak yang lebih berkuasa dan mau bikin aturan yang berlaku buat semua orang.  Lah, ngapain? Entahlah.  Banyak faktor! Mulai dari ingin pengakuan, emang otoriter, dan mungkin merapikan tatanan masyarakat.

Tapi pernah nggak, kalian pingin bebas? Menentukan hak sendiri.  Mengatakan dengan bangga bahwa kalian nggak bekerja, namun bermain berbonus uang! Atau...kalian cuek pakai baju yang kalian paling suka tanpa harus dipelototin orang-orang di jalan? Berambut pink nggak pake diketawain? 

Sebetulnya, kita bisa banget kayak gitu.  Butuh keberanian, sih.  Dan, kita harus percaya diri! Semua kan dimulai dari diri sendiri.  Kalau kita sungkan pas rambut kita lagi warna hijau, misalnya, itu kan karena kita mikirin pendapat orang dan males diketawain.  Jadi, kalau kitanya senang sih, nggak perlu ragu sebetulnya. Selama kita nggak berbuat kriminal dan nyusahin sesama makhluk hidup atau Bumi, ya, jangan gelisah. :D 

Kalau iklan deterjen bilang berani kotor itu baik, mari kita berkata: berani beda juga asyik! 

Senin, 20 Januari 2014

Tenang, Semua Ada Solusinya :)





Hai, Para Alien Bumi yang Baik! Selamat siang! Tadinya saya mau pergi agak lama hari ini, tapi ternyata nggak jadi lama-lama, jadi saya balik ke depan komputer.  Sembari ngerjain pesanan-pesanan pernak-pernik, saya mau cerita-cerita sedikit. 

Yah, sebenarnya sih bukan cerita, seperti biasa ini pikiran saya yang kebanyakan dan harus ditumpahkan demi pencapaian misi-misi! 

Tapi mari kita mulai satu persatu, sekarang topik yang paling umum dulu, yaitu: 

Seperti yang sudah kita tahu, sekarang sudah waktunya selalu pakai reusable bag kalau belanja.  Memang repot.  Tapi tanpa sadar, kalau dibiasakan, nggak kerasa apa-apa kok.  Malah jadi budaya tersendiri, dan menambah rasa tanggung jawab.  Kalau dari kecil anak kita diajarkan bawa tas sendiri (atau, botol minum pribadi, kotak bekal, saputangan, dan semua benda yang menunda limbah), pasti dia sikap tanggung jawabnya besar, ayo dicoba, para orang tua muda! :D 

Nah, sekarang, budaya ini kadang bikin masalah tersendiri bagi kita para alien.  Ya nggak? Kadang, tas kita kurang, jadi, masih butuh keresek.  Atau, kadang ibu di rumah bilang, kereseknya ambil saja buat buang sampah.  Atau karena beli telur, kita butuh satu kantung buat melindunginya secara terpisah, yang ukurannya kecil.  Terus kita kan misahin belanjaan: sayur/buah yang basah, belum ada daging, lalu barang-barang berkemasan, dan sebagainya.   Kalau kita nggak telaten dan masih suka lupa...tenang, namanya jugaproses belajar.  Kalau omongan orang yang malah mendukung untuk nambah kantung plastik, atasi dengan senyum kece di wajah dan ketenangan.  Bilang aja kamu alergi plastik!

Lalu, gimana dengan kantung darurat yang ukurannya lebih kecil? Bikin saja, atau sesekali beli barang di toko yang memberi kita tas tisu ukuran mini.  Kalau saya biasanya ngumpulin tas kalau belanja dari toko Happy-Go-Lucky, karena bisa dipakai lagi.  :D

Tapi, saya baru kepikiran untuk membuat tas kecil sendiri yang bahannya lebih tebal supaya aman untuk telur.  Tas dari bahan tisu aman untuk benda-benda lunak macam baju atau perintilan, tapi kurang melindungi barang pecah belah.  Kalau sudah berhasil buat, saya kasih tutorialnya! :D

Oh iya, ini ada inspirasi dari keluarga yang...ah, pokoknya keren.  Ayo tengok ke sini dan semoga ketularan 4R mereka: refuse, reduce, reuse, recycle.  :D

Saya bercuap segitu dulu saja deh.  Selamat Hari Senin, ya! :)
 
 
 

Sabtu, 18 Januari 2014

Setelah Januari Bergulir Sebanyak Delapan Belas Hari...


...saya sudah cukup rutin makan dua jenis buah setiap hari. 

...saya benar-benar mengurangi asupan daging hewan berkaki empat. 

...saya untuk pertama kalinya merasakan seekor ayam makan dari tangan saya dan rasanya lucu. 

...saya meneruskan naskah-naskah novel yang tertunda.

...saya terobsesi menguasai Toccata karya Debussy, bagian dari Pour Le Piano.

...saya kembali ke IFI dan les lagi, menemukan kerinduan yang terobati.

...saya punya banyak ide baru.

...saya pergi ke berbagai mal dalam dua minggu dan tidak membeli apa-apa.

...saya sudah bisa memutar peg sendiri, juga peg biola orang lain.

...saya telah mempelajari kord C, F, G, C7, dan A Minor di ukulele saya Pandu Mahalo.

...saya terus bersyukur.

...saya menyederhanakan perawatan kulit dan tata rias saya.

...saya tidak membeli majalah.

...saya punya mesin jahit portable sekarang, dan saya bisa membuat karya dengannya.

...saya senang, dan akan selalu senang. 


Selamat bermalam Minggu! :)

Senin, 16 Desember 2013

Kampanye!

Saya lagi kampanye lho! :) 

Kampanye apa? Ya jelas bukan kampanye mau jadi pemimpin daerah atau pun negara. Tak pula kampanye ketua OSIS atau HIMA, secara saya nggak terlibat dalam kongsi pendidikan mana pun kecuali les-lesan saja.  

Kampanye saya bukan untuk jadi pemimpin, tapi justru sebagai pembelajaran leadership diri sendiri.  Supaya tetap kuat dan semangat mewujudkan cita-cita saya!

Cita-cita apa? 
Itu, merasakan tinggal di Planet Bumi yang lebih asri, bersih, dan bersahaja! :D 
Selama masih jadi penduduk Bumi, harus bertanggung jawab dong.  

Nah, ini ceritanya saya mau bagikan program kampanye saya sebagai penghuni planet yang baik.  Walau belum sempurna dan sedikit demi sedikit perlu revisi, saya akan coba ajak kalian semua wahai pemudi pemuda maupun lansia untuk ikut serta dalam program saya yang lucu! 

Oke, Program Planet #1 yang sedang saya usahakan habis-habisan adalah: 
MENGURANGI PEMAKAIAN KERTAS TISU 

Saya prihatin dengan pemborosan diri sendiri dan orang lain dalam penggunaan si tisu unyu ini.  Sepupu saya pakai tisu biasanya cuma seujungnya dikit, lalu dibuang.  Saya emang kalau buang ingus di tisu, sampai tisunya nyaris jadi bubur kertas.  Namun jika ingus banyak keluar, ya, sama aja kan banyaknya? Sampah sudah terlalu banyak di atas Bumi, yuk, kurangi dikit-dikit sembari ditunda produksi limbahnya.  ;) 

Kertas tisu kan kertas? Apa salahnya? Dia nanti hilang di tanah nggak kayak plastik, kan? Nggak juga.  Kertas tisu bagaimana pun sudah mengandung zat-zat pemutih, ya seperti kertas tulis/gambar kita. Kasihan tanah.  Lagipula, semakin banyak kita pakai dan dukung, makin banyak produksi, tambah bejibun pohon yang ditebang! Lagipula kenapa juga ya kita harus pakai tisu banyak-banyak? Masih ada lap dan saputangan di muka Bumi ini, yang tidak harus dibuang kecuali sudah berubah jadi kebun jamur dan lumut.  

Ngelap ingus pakai saputangan kayak orang-orang tua? Masih zaman? 
Ibarat tren, zaman pun berputar.  Tisu memang hebat, dia bikin semuanya jadi praktis, bersihin apapun, ngelap ingus, keringat, jadi gampang dan tinggal buang.  Tapi, dia dikemas dalam plastik, jadi semakin sering beli tisu sama dengan apa? Jawab sendiri ya. ;) 
Nah, kalau kasusnya ingus dan keringat, sesungguhnya sederhana buanget lho! Dua cairan tersebut bisa kering.  Nanti kalau sudah nggak keruan, baru kita cuci saputangannya. 
Malu kalau bawa-bawa ingus di tas? Kan ingusnya di bagian dalam, lipat saja supaya yang tampak luar saputangan cantiknya.  Dalemnya ingus, siapa yang peduli...

Serius?
Iya, serius! Yuk, kita bawa saputangan aja mulai sekarang. :) 

Untuk kasus-kasus heboh macam minyak tumpah di meja atau lainnya, gimana?
Nah, kalau benar-benar tidak ada alat pengelap lain selain tisu di depan mata, boleh, sedikit aja tapi. Hanya untuk menyerap minyak, seandainya perkaranya tumpah minyak. 

Saputangan juga bisa jadi limbah kalau sudah rusak...
Tapi nggak secepat tisu kan usia pakainya! :D  

Ingat, tidak ada program yang langsung sempurna dan berdampak besar, karena ini urusan satu planet! Tapi kita akan mainkan sama-sama. Jadi, yuk, tetap optimis! :) 

Siapa siap ganti sepaket tisu isi sepuluh lembar/lebihnya dengan sehelai saputangan cantik/ganteng? :D 

 

       


Jumat, 29 November 2013

Ini Kerjaan Bersama, Bos!





Menurut kalian, pekerjaan rumah tangga itu kewajiban siapa sih? Perempuan? Ibu? Bapak? Asisten rumah tangga? Kalau buat saya, urusan tetek bengek seperti cuci piring, baju, setrika, sapu rumah, ngepel, nyiram tanaman, belanja sayur, sampai ke pasang lampu, memang merepotkan. Walau begitu, sebetulnya ini kegiatan yang sudah seharusnya dilakukan oleh siapa pun tak terkecuali kaum pria lho!

Tapi, coba pikirkan lagi.  Kita kan menghuni sebuah rumah atau mungkin ruangan apartemen atau rumah susun atau kos.  Otomatis dan alami, kita harus mengurus rumah kita, kan? Bayangkan kalau kita malas dan nggak pernah bersih-bersih.  Alhasil, debuan, kotor, buluk! Kecuali kalian memang suka banget sama yang buluk-buluk, ya nggak apa-apa.  Cuma, dasarnya, kebersihan itu baik.  Apalagi kalau kita di kota, debu jalanan di mana-mana dan kita cenderung menyimpan banyak barang yang berpotensi menampung si debu-debu.  Lain cerita kalau rumah kita gubuk jerami di pedalaman hutan. :)) 

Terus nih, kita pakai baju dan baju tersebut mau nggak mau sedikit terkotori, atau kena noda bahkan.  Kalau dibiarkan terus, dia bakal jadi lapuk, warnanya berubah, dan bau! Makanya ada aktivitas mencuci baju di dunia.  Sejak zaman dulu lho, sebelum deterjen ditemukan (dan ternyata deterjen malah merusak lingkungan air, duh).  
Apa lagi? Makan.  Kita menggunakan peranti makan, toh? Masak juga.  Lalu apa salahnya mencuci benda-benda itu biar bisa dipakai lagi? Kalau tidak dibersihkan, sisa makanan di situ bisa-bisa mengundang bakteri, bahkan, euh, belatung.  
Benda-benda sekali pakai mungkin praktis.  Tapi sama aja.  Selain menuh-menuhin lapisan Bumi, kita sebetulnya cuma memindahkan kewajiban membersihkan ke pengurus limbah doang.  Sama aja dong! :D 

Nyiram tanaman? Ya bayangin aja, kalau nggak dirawat, nanti daun-daun hijau segar nan sehat untuk mata itu, jadi coklat kering dan menyedihkan.  

Masih banyak kok, tugas rumah tangga yang menanti kita.  Sekarang, yang mau saya obrolin adalah pembagiannya.  Di sini, budaya kita agak-agak ngeselin.  Masih banyak laki-laki nggak boleh masuk dapur sama ibunya.  Bahkan kerja rumah tangga juga dilarang.  Alasannya macam-macam, mulai dari kasihan, bukan tugas pria, atau mungkin merasa pekerjaan cowok di bidang ini nggak memuaskan.  

Menurut eke, ini benar-benar salah! Saya juga kalau bersihin ranjang masih suka dikritik Mama kurang rapi.  Apalagi kakak saya yang cowok, dia lebih berantakan lagi, tapi masih ada usaha.  Jadi sebetulnya kami sama-sama tidak profesional (karena biasanya yang sudah profesional memang Mama dan Papa).  Tunggu, Mama dan Papa?  Yep! Papa memang kalau masuk dapur cuma buat makan, ambil cemilan, atau bikin minuman dingin.  Bikin? Iya, Papa saya suka bikin sendiri minuman favoritnya.  Tapi, kadang Papa juga inisiatif beresin ranjangnya kalau Mama lagi nyiapin sarapan, atau, Papa yang belanja sayur ke pedagang lokal yang giring-giring gerobak. 

Oh, kita kembali ke topik.  Saya pernah marah sama anak-anak cowok saudara saya (termasuk kakak dan si adik sepupu) karena mereka nggak mau bantuin di dapur.  Lho, saya kan udah bantu Mama siapin makan.  Mereka ikut makan dan pakai perkakas makan.  Lalu, apa juga alasan mereka nggak mau cuci piring, ogah buang sampah, dan sebagainya? Apa mereka pikir setelah makan tugas mereka selesai dan boleh manja-manjaan lagi nonton televisi sementara mereka pikir perempuan sih harus kerja? OH, MAAF YA.  Itu nggak berlaku.  Itu terlalu kolonial.  Apalagi kalau mereka seharian cuma ngendon depan komputer nggak ngapa-ngapain! 

Marahinnya sih susah, nunggu mereka berubah juga lama.  Soalnya, budaya 'laki-laki adalah raja' sudah terlalu mengakar.  Sedangkan perempuan pun terlalu kemakan isu kalau dapur dan rumah tangga adalah urusan feminin! Mana ada! Rumah kan ditinggali bersama-sama, jadi semua harus mengurus bersama! 

Saya harap, kita mulai tegas sama cowok-cowok yang masih kolonial itu, supaya nggak dengan teganya bermalas-malasan nonton kita cuci piring, setidaknya kalau kita lagi cuci piring, dia lap meja makan, kek...

Apa hanya soal cuci piring? Masih banyak sih.  Pokoknya menurut saya, jangan biarkan laki-laki menjajah perempuan lagi! Laki-laki dan perempuan itu sederajat, jadi ya kerjaannya sama aja. Toh, sekarang perempuan juga bisa nyetir mobil dan antar jemput, bisa pasang Elpiji sendiri, bahkan ada yang jadi pengurus pipa air mungkin.  

Saya cinta Indonesia, tapi kalau tentang kesamaan hak dan kewajiban laki-laki-perempuan, saya mengimpor pemikiran Barat, hehe.  :) 

Segitulah curhat saya hari ini.  Selamat Hari Jumat! :D

Sabtu, 02 November 2013

Kamu

Dan aku kembali ke jalur menuju kamu.  

Semoga kali ini dengan kebijaksanaan yang lebih baik 

agar tidak menimbulkan badai. 

Senin, 26 Agustus 2013

Tetap Semangat!

Siapa bilang going green itu bisa diterima masyarakat dengan gampang? Hari ini saya pingin protes ah.  Mumpung cuaca cerah (nggak nyambung). 

Oke, saya nggak ngerti kenapa tindakan menjaga lingkungan masih saja dianggap eksklusif.  Lucu kan.  Tinggal di planet yang lagi terancam sakit keras, tapi nggak mau bantumerawat.  Padahal kalau sampai sakit berlanjut, dokter yang bisa dihubungi cuma Sang Khaliknya.  Atau kita tinggalkan dan pindah planet lain.  Tapi, masa kita tega sih menelantarkan planet baik yang selama ini menghidupi kita dan seluruh makhluk hidup lain

Murni, saya jadi agak tergila-gila pada aksi hijau karena saya merasakan ketidaknyamanan di sana-sini.  Jalanan yang kotor itu nggak bagus.  Sungai yang ditumpahi limbah itu buruk.  Minyak tumpah ke laut berbahaya.  Burung camar atau penyu yang tersedak kantung keresek atau betrak-betruk lainnya pun tidak bahagia.  Pohon yang baru ditebang secara kejam padahal sudah susah-susah tumbuh selalu tampak menyedihkan bagi saya.  Asap kendaraan juga bikin sesak nafas dan kelilipan.  Belum lagi debu rokok bikin atmosfer bau dan rawan kanker paru-paru! Hewan-hewan dalam ruang penjagalan, apakah mereka tenteram bahagia mau dipotong secara massal? Apa sih kerennya?

Ya itu saya.  Setidaknya, sudut pandang saya. Mungkin ada yang punya pendapat lain.  

Tapi, asal sadar saja,  planet Bumi cuma ada satu.  Kita sama-sama tinggal di sini.  Dia bisa hancur sewaktu-waktu karena terus kita keruk dan kita racuni.  Ibaratnya terlalu semangat ngupil sampai hidung terluka dan berdarah.  Ya kan? Awalnya baik, lama-lama buruk.

Untuk kalian yang sudah berusaha semaksimal mungkin memberi Bumi dan isinya kesehatan yang lebih baik dengan mengurangi tumpukan limbah tak terurai, memakan makanan bergizi yang bukan berasal dari kekerasan, mengalah, menolak kantong plastik, menghemat energi, mencintai tanaman, dan sebagainya, mari, kita bergandengan tangan dan tetap kuat! Masih banyak pihak yang menertawakan tindakan macam ini.  Ada pihak-pihak tertentu yang sembunyi-sembunyi ingin jadi pahlawan Bumi tapi terlalu malu.  Kita beri mereka keberanian.  Kita bisa kok.  :) 




Selamat menikmati hari yang cerah ini! Jangan lupa bersyukur, dan tetap cinta Bumi kita dan isinya, termasuk sesama manusia dan hewan-hewan serta tumbuhan. 

:)

Senin, 22 Juli 2013

Pos Khusus Buat Para Satwa Tersayang

Saya baru saja duduk di kursi angkot, dan karena tahu perjalanan masih panjang, saya pun membuka Twitter lewat telepon genggam saya yang (katanya) pintar. 

Alangkah kagetnya saya ketika melihat beberapa retweet yang menggunakan hashtag #RIPRaju.  Bukan cuma kaget, begitu sadar apa yang terjadi, tahu-tahu mata saya sudah berkaca-kaca.  

Ya, di angkot yang sedang melintasi Jalan Otten di sore hari, di hadapan banyak penumpang lain, saya berusaha menahan tangis.  Saya pun menengok ke luar jendela, takutnya air mata saya tumpah. 

Siapakah Raju? 

Raju adalah seekor gajah kecil, umurnya baru 1 bulan ketika ditemukan warga di daerah Aceh.  Dia yatim piatu.  Sebelumnya, mereka juga pernah kedatangan seekor gajah balita yang diberi nama Raja.  Raja sudah wafat terlebih dahulu.  

Dengan ketidakmengertian, Raju dirawat dengan diberikan susu sapi dan, yah, bukan perawatan yang tepat dan layak, tetapi setidaknya dia bertahan hidup.  Sayangnya, susu sapi jelas tidak cocok bagi anak gajah! Bayi Raju mengalami diare dan sakit-sakitan.  Untungnya, menjelang akhir Juni, sebuah lembaga berhasil mengadopsi Raju dan membawanya ke tempat yang lebih baik, walau itu pun belum sesempurna yang diharapkan.  Namun diare Raju berangsur-angsur pulih dengan diberikannya susu kedelai, dan nutrisi lain.  Dia diberi kandang yang walau kecil dan reyot, lumayan menghangatkan.  

Saat posisi Raju dirasa cukup aman, dan akan diadakan garage sale untuk dana pembuatan kandang Raju dan buat perawatan lainnya, semua orang dikejutkan dan dibuat ngeri oleh kasus pembunuhan kejam Papa Genk, gajah dewasa yang dirampok gadingnya.  Ah, untuk yang satu ini, saya pun terlalu seram untuk memaparkan kondisi jenazahnya saat ditemukan di hutan. 

Selepas kasus Papa Genk yang mesti diusut lebih jauh, ya itu tadi, sore-sore, Raju menghembuskan nafas terakhirnya.  Penyebabnya belum jelas.  Tapi tangis saya akhirnya berhasil dikucurkan beberapa menit yang lalu, di rumah, sambil galau di Twitter. 

Sejujurnya, saya selalu lebih sedih kalau ada binatang kenapa-napa.  Hewan itu seringkali lebih tidak berdaya.  Mereka memang kuat, apalagi gajah, ikan paus, hiu! Tapi, ketamakan manusia dan kerjasama yang hebat di antara mereka untuk menunjukkan kuasa dan menggalang uang demi menyumpal rasa lapar, membuat hewan-hewan kuat pun terancam hidupnya.  

Gajah direbut gadingnya.  Untuk apa? Uang milyaran!

Ikan hiu diambil siripnya. Lalu? Dia dikembalikan ke laut dalam keadaan cacat.  

Orangutan? Korban perburuan, dipenggal demi kelapa sawit dan uang, bahkan diperlakukan tidak pantas, seperti Pony si orangutan yang, aduh, nasibnya bikin merinding! (coba Google saja soal Pony orangutan)

Harimau? Ditembak dan diambil kulitnya, dijadikan dekorasi. 

Rusa? Dipotong dan jadi pajangan dinding. 

Sapi, ayam, babi, bebek, kambing, kelinci, buaya, ular, biawak? Diternakkan secara massal dan suatu hari jika saatnya tiba dibinasakan dengan tidak terhormat untuk memenuhi rasa lapar dan uang.  Kadang kulitnya dimanfaatkan lagi buat berbagai benda. 

Tidak, saya tidak peduli orang mau bilang bahwa itulah kebutuhan dasar manusia.  Hewan karnivora berburu untuk kebutuhannya, memang benar.  Tapi dia berburu tidak setiap hari, kan? Coba kalau manusia.  Binatangnya dikumpulin, sengaja dipaksa berkembang biak, tempatnya juga belum tentu layak, lalu dia dibunuh, kadang tanpa rasa, tanpa lapar kepepet, demi penghasilan saja.  Bisa kita bayangkan, betapa gelisahnya hewan-hewan di ternak ini setiap saat, dalam suasana siap dijagal kapan saja? Saya sih nggak kuat membayangkannya.  

Oke, gini deh.  Rasionalnya, sih, kalau berpikir secara ilmiah, hewan-hewan punya manfaat di alam.  Ya sebagai bagian dari rantai makanan hewan lain, juga untuk melindungi alam sendiri.  Binatang sekecil kupu-kupu saja kan membantu menaburi serbuk sari supaya bunga bisa mekar.  Siapa yang menikmati indahnya bunga-bunga? Kita, manusia, sebagai makhluk pemilik estetika!

Orangutan juga menyebarkan biji-biji sambil akrobatik dari pohon ke pohon, makanya hutan hujan bisa subur marsubur begitu! Lalu hutan ini menjadi penyerapan air, penguat tanah, sumber oksigen.  Siapa yang menikmati hasilnya? Kita, manusia, serta seluruh makhluk hidup lainnya.  

Semua, semua unsur dalam kehidupan, ada fungsi dan tugasnya masing-masing, kayak manusia ada profesinya sendiri-sendiri! :) 

Kalau sudah begini, saya emang mau jadi vegan aja.  Yah, walau suatu hari saya akan pelihara guguk, dan guguk nggak mungkin bisa hidup tanpa makan daging karena sudah wayahnya, tapi setidaknya saya sendiri nggak mau makan atau memakan sesuatu hasil kesakitan, ketakutan, dan teror! 

Saya bukan orang yang pintar bikin alasan.  Soalnya seringkali bikin prinsip berdasarkan dorongan hati saja.  Tapi, ya, saya cinta binatang.  Dan saya mau membela mereka.  Dan ini prinsip, lain lhoo, sama ide impulsif sesaat doang.  

Yuk, kita sayangi binatang-binatang, dan, jangan dibodohi oleh ketamakan ya! 



 


Biarkan gambar bicara :)

Selasa, 02 Juli 2013

Keponya Windi ;)

Halo! Kemarin ini kan saya dapet award nih dari Kak Naomi.  Terus sekarang, salah satu kawan yang saya lemparkan piala bergilir itu, Windi, mempersilakan saya menjawab pertanyaan bergilir dia! Dan sejujurnya pertanyaan dia menarik, saya dengan sukarela saya uraikan di sini. :D 

1. Menurutmu, sehat itu apa?

Sehat itu, selalu bersyukur, selalu bermaksud baik, mengikuti kata hati, dan bersosialisasi dengan tulus. :)

2.   Apa arti Bumi buatmu? Seberapa sehatkah agar Bumi cukup layak untuk kamu huni?



Bumi adalah Ibu dari bunda semua makhluk hidup.  Dia melahirkan, menghidupi, menopang, mendaur ulang dengan sendirinya, sehingga segala sesuatunya tetap berjalan.  
Bumi sudah layak huni dari sananya, sayang, banyak hal dan material baru dan kurangnya komunikasi kita dengan Bumi membuatnya mengalami kerusakan. Kita harus lebih mendengarkan Bumi, dekat dengannya, dan memahami perilakunya.  Saya sayang Bumi, sepenuh hati!
 
3.   Kalau suatu hari kamu jadi vegetarian, alasan apakah yang paling kuat untuk mendasarinya?




Ya, suatu hari saya mau total, walau sekarang masih bolong-bolong, tapi saya tetap berusaha.  Alasannya, karena saya sayang sama binatang.  Dan asupan nabati selalu terasa lebih segar! :)
 
4.   Suka keripik singkong nggak? Kenapa?




Suka, terutama yang asin-asin pedas! Karena kriuk-kriuk dan bisa menghibur, entah kenapa.  Gimana denganmu, Win? :p
 
5.   Apa jenis sayur dan buah favoritmu?


Masing-masing kategori tiga biji, ya! Sayur: wortel, brokoli, bayam. Buah: apel, pisang, semangka. :9
 
6.   Kalau nggak ada kerjaan, paling suka ngapain? Kenapa?

Buka komputer, berselancar di kancah dunia maya, cuma untuk lihat-lihat ini itu! Atau kadang, jalan-jalan ke mal cuci mata.  Kalau enggak, nonton film. Iya, saya hedon. :))
 
7.   Tebakanmu, saya ini orang yang seperti apa sih?


Melankolis, pemikir, bahkan terlalu banyak, dan lumayan moody? Bener nggak, Win? Dan kamu cerdas!
 
8.   Seberapa menyenangkan kuliah buatmu?


Saya nggak kuliah, jadi nggak tau deh.  Mungkin menyenangkan, mungkin biasa saja, saya selalu senang di mana pun (kecuali di restoran sate kelinci).  :D
 
9.   Apa arti namamu?


Kata Mama, Ningrum itu singkatan hening dan harum.  Sementara nama baptis saya, Katarina, artinya murni.  Jadi saya, murni, hening, dan harum.  Macam air mawar, kali ya? :)
 
10. Apa yang kamu tahu tentang Dee Lestari? Suka tidak? Kenapa?

Dia seorang Capricorn, dan saya suka tulisannya, kecuali seri Supernova. Cerita cinta Dee tetap manis tapi intelektual, dan permainan katanya menyenangkan! Hanya kurang warna pink saja.  

11. Ulang tahun yang akan datang pengen dikado apa sama orang tersayang?

Orang tersayang yang mana dulu nih?  Saya sayang semuanya lho! Hehehe.  
Oke, kalau dari keluarga, saya ingin, ehm, entahlah, kebersamaan saja cukup.  
Kalau dari teman-teman, asalkan tidak mengandung kekerasan dan eco-friendly serta tidak melibatkan banyak sampah plastik, saya terima saja. Juga yang ramah hewan ya! 
Dari gebetan, err, jangan coba pancing untuk tanya ini siapa, saya bahkan tak tahu siapa yang harus digelari gebetan! Tapi, jikalau memang ia mau memberi saya kado, ehm, seekor Yorkshire Terrier bakal menyenangkan.  
Namun buat saya, selaksa pelukan sayang sudah sangat cukup, lho! ;) #kode 

Makasih ya, Windi, buat pertanyaannya! Menyenangkan, lho! Hehehe. :D  

Jumat, 31 Mei 2013

Saya Merasa Dicintai

Petang, langit lembayung, dan jalan raya menghimpit menyesakkan hati.  
Perut berkruyuk, tanda saya lapar.  

Dan, ya, momen itu dilanda pula oleh perasaan sebal.  Oleh karena dunia asmara sedang menunjukkan labirin ajaib lagi.  

Setelah saya pikir semuanya akan berjalan lancar di penghujung tahun, sesudah saya rasa tahun ini akan meluruskan lagi apa yang sudah berbelok, tiba-tiba alur dibengkokkan.

Benar sekali apa kata Ayah.  Juga Ibu.  

Ayah bilang, "Kamu terlalu bingung karena mendapat kiriman pilihan yang begitu banyak."

Sedang Ibu malah berkata, "Kamu itu perempuan, tunjukkan kalau kamu perlu dilindungi."

Tepat sekali apa yang mereka tuturkan.  Sesuai apa yang saya pikirkan tentang pilihan-pilihan saya.  Dan saat ini saya sedang benar-benar tak tahu mesti bertingkah macam apa.  

Bulan-bulan  belakangan mengalun tanpa kejelasan.  Seakan semua sengaja digantung di langit dan saya harus berpikir keras.  

Namun senja ini menghadiahkan saya cinta.  Cinta yang universal dan tak terjelaskan.   Ya, di jalan yang sepi dan mulai temaram, seorang tak dikenal menyapa saya.  Saya kira dia salah satu juru ojeg depan komplek.  

"Pulang, Teh?"

"Iya," jawab saya tersenyum bingung.  

"Dari mana? Kok nggak bawa gitar?"

Setelah merenung sedetik, saya langsung tahu maksud dia Devika.  Dia pasti salah satu pengamat saya saat menunggu angkot, dan kadang saya bawa Devika.  Devika bukan gitar, tetapi biola alto.   Namun perhatiannya membuat saya trenyuh.  

Saya pun pulang dengan senyuman.  Setelah bertegur sapa dengan pak satpam, bapak-bapak lain di sekitar rumah saya, orang-orang baik itu, baik yang berkumis atau tidak.  

Perhatian kecil dari orang yang tak disangka, membuat saya lupa bahwa barusan saya lapar dan putus asa.  Harapan pun memanjat di hati.  Saya rasa, dunia asmara tidak akan menyodorkan labirin yang terlalu rumit.  Asal saya sabar, tenang, dan tetap menghujani dunia dengan cinta yang saya miliki, saya akan sampai padamu, wahai Entah yang Mana yang Akan Kupanggil dengan Panggilan Sayang Berupa Nama Sayur.  

:) 

 Je t'aime, le monde! 

et

pour toi,

je te manques 

xoxo  





Kamis, 21 Maret 2013

Dalam Proses Menjadi Seorang Vegetarian :)


Bukan, saya bukan ingin melangsingkan perut, atau melangsungkan diet ketat dengan memilih sayur, buah, dan lainnya.  Saya hanya menyayangi binatang dan Bumi.  Tidak mau menjadi bagian dari rasa terancam mereka.  Itu saja. :) 

Untuk tahap pertama, saya rasa saya sudah lumayan sukses.  Yaitu, tidak makan hewan berkaki empat.  Sampai saat ini masih minta bantuan energi dari unggas dan hewan laut/sungai/tambak.  

Suatu hari, saya akan membebaskan mereka semua. :) 



Rabu, 27 Februari 2013

Kembali Ke Inti

Berkat berbagai media yang bercerita, setelah orang-orang memberi saya rangkaian kisah, kini saya berhasil kembali ke jejak awal, setelah terdistraksi sesaat.  

Dan percaya rupanya masih ada.  Harapan tetap memanggil. 

Keadaan bisa menjadi lebih menyenangkan kalau hati kita sudah senang.  

Mari bergandengan tangan dan bersama melangkah! 

Jangan takut dengan waktu, karena waktu sedang mengumpulkan palet warnanya.  

Waktu ingin memperlihatkan selengkung pelangi untuk kita. :)


Selasa, 18 Desember 2012

Hey, Society!

Saya memang tipe orang yang suka berpikir.  Ya, saya pemikir tulen! Tak pernah ada hari tanpa berpikir.  Detik-detik di mana saya tidak berbuat apa-apa, pasti saya gunakan sebagai momen melamun.  Bahkan saat sedang melakukan hal lain, pikiran saya bercabang!

Dan setelah mengobrol tentang masa depan, yeah, sejauh resolusi tahun baru 2013, saya mendadak berpikir tentang...kenapa resolusi saya terdengar dangkal. 

Ya!  Dangkal!

Kenapa?

Saya hanya terkejut karena resolusi tahun baru teman-teman saya terdengar...keren.  Karier. Skill.  Jadi orang, jadi pemimpin. Dan lain-lain.  Banyak! 

Sementara waktu saya ditanya, entah kenapa dengan spontan saya menjawab, "Mau punya pacar!"

Bayangkan seorang penulis cerita romantis yang dengan polosnya hanya mematri satu resolusi untuk tahun depan, dan resolusinya tentang asmara. 

Mula-mula saya merasa cukup dodol. Dodol sekali.  Rasanya sungguh serasi kalau saya bilang, "Mau jadi pemain viola yang hebat, menjadi guru yang baik, mengambar lebih bagus, mencapai banyak gol finansial, dengan catatan gol finansial saya hanya sekedar punya tabungan masa depan dan bisa belanja produk Indonesia."

Untuk urusan tertentu saya memang sangat absurd. Serius.  Bahkan bagi saya uang itu ilusi dan teman yang melayang-layang untuk saya ambil setiap saya butuh.  Fantastis sekali pemikiran saya.  Orang rasional pasti bingung sekali. 

Ketika kemarin sudah ditanya ulang dan tetap memberi jawaban 'punya pacar' sebagai gol 2013, saya pun tiba-tiba menyadari alasannya.  Itu sesudah dibumbui banyak cerita orang dan mulai memahami konsep sebab akibatnya. 

Simpel saja.  Sejak SMP, saya sudah mulai membuat komik untuk majalah rohani. Iya, komik satu halaman yang gambarnya pun masih acak-acakan.  Tetapi saya berkembang, gambar saya jadi lebih baik, berkonsep, dan saya sudah menemukan karakter sendiri.  Lalu ditambahi kewajiban menulis resensi film.  Juga nyambi menulis beberapa artikel untuk majalah sekolah dulu.  Dan akhirnya saya meluncurkan novel.  Dunia karier saya di media mulai menampakkan diri, dan rasanya saya siap terjun.  Saya terjun.  Nyebur. Basah kuyup tanpa penyesalan. 

Waktu SMA, saya serius dengan piano, dan bahkan tambah belajar biola alto.  Dengan baiknya, saya mulai mendapat beberapa pekerjaan, dibayar atau tidak, saya tidak terlalu memusingkannya.  Saya hanya ingin menemukan kegiatan yang bisa menutupi status 'nganggur' saya karena tidak memilih universitas apapun sebagai tempat melanjutkan hidup. 

Tapi semakin ke sini, saya paham bahwa kegiatan itu bukan untuk mengisi kekosongan saya.  Saya memang memilih tempat belajar yang berbeda.  Itu saja! Saya hanya membuat saya tidak perlu menulis skripsi.  

Dan terus terang saya malah geli kalau dibilang 'kerja'.  Kebayang? Dialognya begini, biasanya:

"Hai, Ningrum! Apa kabar? Kamu kuliah di mana?"

"Nggak kuliah. Hehehe."

"Terus ngapain? Kerja?"

"Er...(menghilangkan getek dulu sebentar), bukan kerja juga sih, main..."

"Hah? Main?" (wajah skeptis) 


"Yaaa, main musik, main sama anak kecil, main kertas, main alat warna..."

"Oh, ya, ya..." (bingung)

*adegan ini akan lebih membingungkan si penanya kalau dia adalah teman sekolah, karena sepanjang sekolah saya anak ranking yang kesannya bakal kuliah hukum atau apa deh, sekeren-kerennya kuliah seni rupa, tapi ternyata...

Nah, saya orangnya sangat tidak mau serius.  :p  Makanya males kalau dibilang kerja.  Kesannya kok pakai baju rapi, pergi tepat waktu, serius, ah entahlah, kok warnanya tidak menyenangkan ya, untuk saya? 
Dengan konsep hidup seperti ini, hidup saya memang jadi seperti komedi.  Mungkin apa yang kita percayai, biasanya jadi kenyataan, ya? ;) 

Oooh, dan kembali ke perihal kenapa saya tiba-tiba merasa resolusi 2013 saya wajar, adalah... karena pada kenyataannya kehidupan karier saya sudah saya ceburin semua.  Saya nyemplung tanpa rasa takut.  Tanpa ketakutan apa-apa saya ikut audisi guru dan kebetulan sekali lolos.  Tanpa bingung saya mau main viola untuk acara-acara tertentu selama tidak mengusik hati nurani dan sesuai jadwal. Tanpa galau saya menulis fiksi terus menerus.  Blog saya hidup dengan ilustrasi saya, dan saya menerima permintaan ilustrasi dari orang lain. Saya berani sepenuh hati, seakan resikonya seperti apapun saya siap.  Istilahnya, semua keberanian kan memang datang bersama efek sampingnya, kan? Misalnya saya kecapekan atau jadi kurus.  Tapi ya sudahlah. Toh senang. 

Dan, bagi saya, karier dan hal-hal hobi ini adalah realita hidup saya.  Beginilah. Saya memang berkecimpung di dunia saya dan yaaa, begini! Saya berenang-renang tenang, tidak bingung mencari daratan karena airnya bersih dan sejuk. *perumpamaan apa ini?! 

Kemudian saya menengok kisah fiksi saya.  Kebanyakan fiksi saya, tentunya, bercerita tentang romantis-romantisan.  Orang pacaran. Naksir cowok. Naksir cewek. Ngejar gebetan.  Tentu dengan bumbu lainnya, seperti persahabatan, situasi dunia, dan sebagainya. 

Oke, meluncur ke intinya saja, ya! Dunia asmara saya, sampai saat ini, seakan hanya ditulis saja di pikiran saya.  Saya menulisnya.  Saya membuat kolamnya, warna merah jambu dengan gula-gula kapas siap memberi keceriaan baru.  Saya bisa membayangkan siapa yang akan menemani dunia asmara itu.  Segalanya tampak siap sedia.  

Tapi saya terlalu risau untuk benar-benar nyemplung.  

Akhirnya dibikin fiksi saja.  Dan karena cerita terbesar saya, Cappuccino Paradise juga, urusan romantisnya masih belum tuntas, saya curiga ini berpengaruh ke kehidupan saya sendiri.  Itu sikap hati saya. Saya masih berdiri di tepi kolam, memandang ke bawah penuh harap tapi tak kunjung melompat. 

Saya terlalu takut dan banyak tuntutan! Apakah di bawah sana warnanya masih merah jambu? Apa gula kapasnya masih manis nanti? Apa 'teman' saya nanti masih tersenyum? Saya tahu semua resikonya, tapi resikonya tidak berani saya ambil.  

Kesannya saya ingin memisahkan paket berani + resiko.  Ingin beraninya saja tanpa resiko.  Kenapa saya begitu takut!? :'(  

Namun beginilah hidup.  Untung saya sadar juga kenapa saya tak pernah punya pacar.  Sekarang saya tahu, keberanian adalah kata kuncinya.  Keberanian dan menyemplung.  Selama ini spontanitas saya di dunia yang lain toh heboh tapi seru.  Kadang lelah, sedih, kecewa, tapi tentu berlalu! Badai selalu berlalu! Mentari selalu terbit lagi! PVJ sudah harus dikunjungi lagi!

Baiklah, saya sekarang berani bilang, saya mau nyemplung dulu ye ke kolam gula kapas.  Paling-paling ada dark chocolate di sana, pahit tapi ujungnya sulit dilupakan dan tetap mengandung zat phenylhetylamine.  Jalan rimba yang gelap pasti ujungnya danau cantik. :)  Saya percaya cinta, kok.  100% percaya.  100% tidak mau cinta diganggu uang. 

Oke, salam super! Selamat tanggal 18 Desember! Selamat hari Selasa! Selamat memercayai cinta terus! :*



Sabtu, 06 Oktober 2012

Simfoni Setengah Sonata

Ini bukan galau. 

Galau hanya tren yang bisa menjadi alibi seluruh perasaan manusia muda, atau tua. 

Jadi lupakan kata galau.  

Yang saya rasa ini, adalah kerinduan. 

Elegi Malam Minggu, setelah nonton Perahu Kertas dan tersadar betapa rapuhnya hati saya kalau sudah teringat akan belum terselaraskannya alat musik saya.  Bukan, bukan Si Devika atau Si Casio Privia.  Alat musik di dalam hati saya.  Dia butuh teman. 

Teman untuk bersenang-senang dan menerima semua ide aneh saya. 

Sebagai orang yang diajak bengong pun tetap membuat saya tersenyum. 

Dan sepasang mata untuk ditatap tanpa bosan.  Kalau perlu sambil berdebar sendiri.

Saya sudah makan takoyaki yang sangat lezat. 

Tetap saja, tiba-tiba alat musik ini fals kembali karena terkenang. 

Saya tidak berharap ditanya siapa yang dibicarakan kok.

Saya juga tahu untung-rugi punya teman penyelaras ini. 

Saya pun mengerti untung-rugi selama saya belum berpapasan dengannya.

Tapi itu teori.  Dan alat musik ini lebih butuh perwujudan daripada sekedar kata-kata.  

Datanglah, penyelarasku.  

:)


Jumat, 04 November 2011

"Kalau bisa masuk IPA, kenapa harus masuk IPS?"

Itu kata-kata yang saya dengar dari seorang adik kelas pas SMA.  Jujur saya, saya jadi pingin ngomel-ngomel dan menegur dia. Mungkin bukan salah dia sih.  Barangkali orang lain yang mendoktrinasi kepalanya hingga ia percaya kalau IPA adalah pilihan utama dan raja diraja segala jurusan, sedangkan IPS, meh, apa itu IPS?

Dan sedihnya, saya juga pernah dibilang sama kakak kelas saya: "Masuk IPA aja! IPS mah sampah!" (kejam banget nggak sih!?)

Malah, guru saya sendiri bilang, "Kamu sebetulnya bisa masuk IPA.  Tapi ya terserah kalau kamu ingin ke IPS." (Maksudnya, kalau saya mampu dan pintar, masuk IPA saja.  Sayang kalau masuk IPS.  Eh, kenapa sayang? Saya kan doyan makan buku Sosiologi...)

Saya nggak ngerti, saudara-saudari, kenapa masyarakat memuja IPA seakan kita akan mengalami masa depan yang kacau balau dan kehidupan SMA yang sekedar hura-hura kalau kita tidak menyandang gelar anak IPA?  Dan kenapa anak IPS kadang masih berpikir bahwa dirinya hanya makhluk hura-hura yang tidak akan serius belajar kayak anak IPA? Dan tidak semua anak IPA serius belajar.  Dan bukan seluruh anak IPS yang kerjaannya main doang.

Banyak yang berpikir bahwa juara fisika strata sosialnya lebih tinggi daripada juara menggambar.  Atau, pemenang lomba kimia lebih dihargai daripada anak yang kesukaannya memotret gedung bersejarah.  Atau mungkin kebalikannya? Siswa-siswi akuntansi menertawakan anak-anak kelas biologi yang kerjaannya ngebedahin katak, contohnya? 

Pada dasarnya, IPA dan IPS nggak bisa dijadikan patokan penentuan cerdas/tidaknya seorang manusia! Jelas nggak! Perbandingin muncul jika objek dan subjek yang ditentukan sama tetapi punya nilai yang berbeda.  Misalnya, Buyung nilai Fisikanya 50, sedangkan Upik nilai Fisikanya 99.  Nah, kalau dari sini masih dapat terbukti, Upik pasti rajin makan nasi! Sedangkan Buyung buku Fisikanya dimakan kambing peliharaan eyangnya.  Kalau kayak gitu kan adil.  


Lah kalau ini:  kuis Bahasa Indonesia Jamin nilainya 0, sedangkan ulangan Geografi Johan dapat 100 karena dia memang suka Geografi.  Tapi apakah dari situ dapat terperinci, siapa yang lebih pintar? Ya nggak, kan? Pelajarannya juga bedaaa, kali! 


Jadi, kalau ada si Amir dan si Upik, dan Amir masuk IPA dengan nilai Kimia 80, sedangkan si Upik masuk IPS dengan skor akhir Sosiologi 80, apakah ada dari antara mereka yang dapat dibilang lebih pintar? NGGAK! Barangkali Amir sih memang suka ngutak-ngatik tabung reaksi, sedangkan Upik paling doyan nontonin orang-orang dalem angkot terus mikirin latar belakang mereka masing-masing dan pingin bikin tesis tentang itu.  Yah, minatnya aja beda, ngapain dibanding-bandingin? 


Maka sekarang, jika kalian dihadapkan dengan IPA atau IPS, jangan langsung teringat bahwa IPA berarti keren, IPS berarti santai-santai.  Basi ah! Ayo, emansipasi jurusan! Pilih yang kamu suka, bukan yang orang lain suruh kamu pilih.  Ambil jurusan yang dapat kamu nikmati pelajaran-pelajarannya.  Karena kamu akan menjalaninya selama 2 tahun, kawan-kawan! :D 








Sekian ceramah hari Jumat saya.  Selamat menetralkan kepala dari doktrinasi masyarakat yang terkadang nggak masuk hati.  :) 

Muah, muah! <3