sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label Devika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Devika. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2013

Kekasih Baru :)

Selamat Malam Minggu, teman! 

Kalian pasti sudah familiar dengan nama Devika di blog ini, kan? Pernah nggak sih kalian kepo, siapa sebenarnya Devika? Beberapa orang sudah tahu siapa dia. Dia itu partner saya. ;)

Nah, belakangan, Devika sudah resmi punya adik! Iya, adik.  Tapi, asal muasal dan ayah mereka lain (ibunya sih, alam semesta kali ye).  Namanya Lai. Sudah pernah saya tulis di blog juga rupanya. Lebih mungil, suara lebih imut-imut, tapi mereka sama-sama keren.  Sebentar lagi, Devika akan dipinang oleh orang lain yang masih sekeluarga sama saya. 

Maka, saya sekalian mau kecup Devika dan bilang terima kasih untuk penyertaannya selama nyaris 5 tahunan ini.  Kamu sesuatu banget, Devika! Telah kau bawa saya ke mana-mana keliling kota.  Kamu sudah rela kehujanan, kepanasan, ketendang orang di angkot, kejeduk, dianggurin seminggu tapi nggak lagi pundung, kamu sudah dewasa, Nak.  :) 

Devika, selalu berbahagialah dan bawalah cinta saya ke mana-mana, oke? :D 

Oke.  Sekarang,  Lai, mari kita bersenang-senang! <3 nbsp="" span="">

Eh, kalian penasaran nggak sih, sebenarnya seperti apa tampang Devika dan Lai? Mari kita biarkan mereka tampil yuk. 

Jeng jeng, ini dia, perkenalkan, Devika dan Lai! 

 

Nah, sekarang, sekilas info saja.  Minggu ini saya lagi batuk.  Entah efek kebanyakan hujan atau overdosis gorengan, atau mungkin tersedak rosin.  Tapi saya batuk, malah pekan kemarin mah ditambah pilek segala.  

Terus saya minum Nin Jiom Pei Pa Koa alias Obat Batuk Ibu dan Anak.  Terbuat dari bahan-bahan pilihan, madu, herbal Cina, dan mestinya sih nggak pakai bahan kimia macem-macem.  Rasanya juga enak, kayak ceri dicampur madu kasih mentha piperita agar berefek semriwing dikit.  Baru tiga hari minum sehari dua-tiga sendok, eh, batuk saya udah mendingan aja lho! Jadi, teman-teman, ramuan Nin Jiom Pei Pa Koa sangat dianjurkan lho untuk disimpan di musim Langit-Nangis-Melulu ini. 

Oh, lalu, jangan lupa, kita cegah banjir yuk! Jangan buang sampah sembarangan ya. Makin kita nambah sampah dan menaruhnya seenak jidat, makin besar resiko banjir.  Oke? Ingat ya!

n.b.  Barusan saya sempat sakit kepala.  Lalu saya setel lagu Keane.  Eh, langsung sembuh! Apa ini sugesti atau karena lagu Keane cocok sama detak jantung saya ya? *iklan* 

 
 

Jumat, 31 Mei 2013

Saya Merasa Dicintai

Petang, langit lembayung, dan jalan raya menghimpit menyesakkan hati.  
Perut berkruyuk, tanda saya lapar.  

Dan, ya, momen itu dilanda pula oleh perasaan sebal.  Oleh karena dunia asmara sedang menunjukkan labirin ajaib lagi.  

Setelah saya pikir semuanya akan berjalan lancar di penghujung tahun, sesudah saya rasa tahun ini akan meluruskan lagi apa yang sudah berbelok, tiba-tiba alur dibengkokkan.

Benar sekali apa kata Ayah.  Juga Ibu.  

Ayah bilang, "Kamu terlalu bingung karena mendapat kiriman pilihan yang begitu banyak."

Sedang Ibu malah berkata, "Kamu itu perempuan, tunjukkan kalau kamu perlu dilindungi."

Tepat sekali apa yang mereka tuturkan.  Sesuai apa yang saya pikirkan tentang pilihan-pilihan saya.  Dan saat ini saya sedang benar-benar tak tahu mesti bertingkah macam apa.  

Bulan-bulan  belakangan mengalun tanpa kejelasan.  Seakan semua sengaja digantung di langit dan saya harus berpikir keras.  

Namun senja ini menghadiahkan saya cinta.  Cinta yang universal dan tak terjelaskan.   Ya, di jalan yang sepi dan mulai temaram, seorang tak dikenal menyapa saya.  Saya kira dia salah satu juru ojeg depan komplek.  

"Pulang, Teh?"

"Iya," jawab saya tersenyum bingung.  

"Dari mana? Kok nggak bawa gitar?"

Setelah merenung sedetik, saya langsung tahu maksud dia Devika.  Dia pasti salah satu pengamat saya saat menunggu angkot, dan kadang saya bawa Devika.  Devika bukan gitar, tetapi biola alto.   Namun perhatiannya membuat saya trenyuh.  

Saya pun pulang dengan senyuman.  Setelah bertegur sapa dengan pak satpam, bapak-bapak lain di sekitar rumah saya, orang-orang baik itu, baik yang berkumis atau tidak.  

Perhatian kecil dari orang yang tak disangka, membuat saya lupa bahwa barusan saya lapar dan putus asa.  Harapan pun memanjat di hati.  Saya rasa, dunia asmara tidak akan menyodorkan labirin yang terlalu rumit.  Asal saya sabar, tenang, dan tetap menghujani dunia dengan cinta yang saya miliki, saya akan sampai padamu, wahai Entah yang Mana yang Akan Kupanggil dengan Panggilan Sayang Berupa Nama Sayur.  

:) 

 Je t'aime, le monde! 

et

pour toi,

je te manques 

xoxo  





Selasa, 14 Mei 2013

Seperti Biasa, Dokumentasi Kecil ♥

Minggu-minggu kemarin saya berani mengaku bahwa saya sibuk.  Ya, sibuk! Sebenarnya sibuk biasa mengacu kepada kepadatan jadwal yang kadang membuat orang-orang stres.  Tetapi, apalah arti stres? Karena saya penganut Ningrumisme, saya bilang, stres itu fana.  Gembira itu nyata.  :)  Jadi, walau sibuk, saya tetap gembira.  Yey! *abaikan racauan ini

Tetapi, kesibukan berlalu dengan cepat.  Asal dijalani dengan tulus, hal yang konotasinya tak menyenangkan pun akan selalu terlalui.  :D 

11 Mei kemarin, Sabtu, saya nongkrong bersama teman-teman Sasta untuk melangsungkan penampilan perdana kami sebagai pengiring musik di pernikahan orang.  Kami mulai di GKI Cibunut, gerejanya anak Yahya.  :p Karena itu di sana saya malah nostalgia.  Kangen sekolah.  

Selepas dari sana, kami nongkrong sebentar di markas (lokasi dirahasiakan demi keamanan laboratorium), kemudian melengang ke Hotel Jayakarta.  Urusan kami di sana agak-agak dikerjain sama Hujan.  Panggung kami terbuka setengahnya.  Dan yang namanya alat musik dan partitur, ya mana maulah kehujanan.  :( Tapi, area di mana para pemain alat gesek duduk, justru lokasi yang paling terguyur hujan. Bahkan pelaminan pengantin juga kehujanan.  

Kami sempat ngotot main dengan sound system tanda tanya dalam kondisi absurd di belakang panggung di atas bangku-bangku kayu panjang yang gonjang-ganjing.  Ya senep, ya seneng.  :)) 

Sesudah hujan reda, kami muncul di depan.  Yep, akhirnya kami tampil dengan layak. :p 

Berikut sedikit foto untuk menguatkan cerita: 

Yep, ini Martha sepupu saya yang tangannya superterampil lagi menata hutan rimba rambut saya! :D 

Dengan gaun dari Onlyi dan sepatu Inside & Side (yop, serba pink!).

Keesokan harinya, saya ke Jakarta! :D Main ke mal dan berkunjung ke seorang Opoh Yun tersayang yang cinta hewan dan musik Keroncong.  ♥ 

Om nom nom...





Sekian berita dari saya.  :) Selamat Hari Selasa! Jangan lupa mampir juga ke Citraramya dan CetakCetik.  xoxo!

Kamis, 19 April 2012

Diwawancara Pengamen

Seperti yang sudah-sudah, dan masih akan berlanjut, sepulang les bersama Devika, saya pasti lewat Jalan Pasirkaliki yang ditongkrongin para musisi jalanan bertato.  :) 

Beberapa hal sudah saya alami selama lewat di sana dengan Devika dalam gendongan.  Misalnya ini. Tetapi, pengamen memang bukan sosok yang buruk bagi saya.  Mereka pintar-pintar.  Mereka kocak.  Dan saya dan mereka ya sama-sama musisi! Jadi saya pikir, sama saja.  Hanya saja mereka mencari uang di jalan, saya di ruangan.  Tapi di samping cari uang, tentu kami pun sama-sama punya semangat bermusik! *optimis*

Nah.  Selasa kemarin, saya baru masuk ke dalam angkot St.Hall-Sarijadi ditemani Devika.  Duduknya dekat Pak Supir, tapi di bangku belakangnya.  Pojok, biar Devika bisa bersandar.  

Kemudian datanglah seorang musisi bertato, rambutnya dicat pirang, dan badannya besar, membawa gitar.  Ia berdiri di ambang pintu angkot, lalu mulai bernyanyi.  Suaranya serak-serak ngebas! Enak sih, dan kalau dilatih pasti jadi sesuatu. 

Tapi...dia memandangi saya terus.  Mungkin tepatnya, memandangi Devika si viola.  Saya agak grogi.  Jadi saya nengok ke depan, samping, belakang, pokoknya ke mana-mana selain kepadanya.

Sekonyong-konyong, ia bertanya, "Mbak, itu biola ya?"

Dan dimulailah obrolan singkat antara saya dan sang musisi: 

dia   : Kursus ya, Mbak? 

saya:Iya

dia   : Di mana? 

saya:  Sukajadi, A

dia   : Kalo biola 'kan, baca not balok ya? 

saya: Betul 

dia   : Gitar juga ada not balok? (loh, saya rasa dia pegan gitar, deh!)

saya: Ada, tapi kebanyakan gitar sih bacaannya kunci-kunci, kecuali gitar klasik

dia   : Suka musik apa?  Klasik, ya, kalo biola? 

saya :Apa aja suka, A, saya mah.  Klasik, rock, jazz, segala rupa. 

dia   :Oh iya, kalo biola mah mainnya pake piling (feeling) ya? 

saya: Ya, perlu pake feeling, tapi sebetulnya si jari-jari tuh ada formasinya.  

dia  : Ooo...ada pormasinya? 

saya: Bukannya biasanya ada yang main biola juga, 'kan? 

dia  : Iya, ada...

Dan angkot bersiap melaju.  Mesin dinyalakan.  Si pengamen bangkit berdiri.  

dia  : Ya udah, Mbak.  I hope you can be a good musician! (ngacungin jempol)

saya: (terharu) Thank you

WOHOW! Sesuatu banget nggak, sih? Biasanya orang-orang yang mewawancara pengamen, lah ini saya yang diwawancara.  Rasanya saya pingin turun dari angkot dan duet dah sama si Aa Gitar! Hahaha.  Kata-kata terakhirnya tadi juga menyentuh saya.  Ada pengamen yang mendoakan saya, rasanya...wah, wah, wah!

Semoga suatu saat nanti saya bisa bikin sekolah musik gratis buat para pengamen.   Supaya mereka lebih okelaah.  Soal mereka mau cari duitnya di jalan atau di gedung, bebas, itu suka-suka mereka.   Saya nggak akan menghakimi bahwa cari duit di jalan itu dodol. 

Ayo, ada yang mau kerjasama bareng saya? :)





Rabu, 29 Februari 2012

Teman Baru: Si Pengamen

Memang saya punya ketertarikan tertentu terhadap pengamen.  Ada kalanya pengamen membuat saya takut, karena kadang mereka tampak jahil dan serampangan, tapi sebetulnya kadang saya ingin berteman dengan mereka--toh mereka sama-sama anak Indonesia juga, kayak saya, kayak kamu, kayak kita. 

Nah, di Jalan Pasirkaliki, tepatnya di samping bangunan bergaya Bali bertajuk Bali Heaven yang isinya toko baju dan restoran serta spa, suka ada pengamen-pengamen nongkrong di situ.  Ada yang main gitar, biola, jimbe kecil...macem-macem dan nggak tentu.  Setiap minggu, saya pasti turun dari Sukajadi setelah les viola dan tentu saja, bersama Devika yang saya sayangi, saya harus turun di Pasirkaliki dan menyeberang menghadapi para pengamen tersebut. 

Reaksi mereka melihat saya menggendong Devika, lumayan heboh.  Pernah mereka teriak, 

"Wah! Téh! Itu biola ya?" 

Atau...

"Téh! Duet yuk!" 

"Téh! Keren euy!" 

"Téh, punya rosin* nggak?" 

Semakin banyak pengamen yang kebetulan sedang nangkring, ya semakin ramai... 
Dan saya selalu diam saja pura-pura nggak dengar, walau sebetulnya saya pingin tersenyum gembira dan menyapa mereka, kalau perlu ngamen bareng sampai sore...asyik! :)) 

Sayang saya terlalu malu untuk berbuat demikian.  *tangisan memarahi diri sendiri 

Sampai akhirnya, kemarin, tekad saya bulat.  Sejak berangkat dalam keadaan hujan hingga pulang tanpa diiringi tetes air langit, saya berjanji tidak akan pura-pura budeg lagi kalau disambut oleh para pengamen penasaran itu.  Dan ternyata, oh, ternyata, (Tuhan mengetahui tekad saya?) ketika saya menyeberang ke Bali Heaven, ada dua orang dari mereka yang langsung menatap saya.  Di belakang mereka terlihat gitar-gitar yang juga seakan ingin berteman dengan Devika.  Saya nggak menunduk malu atau lewat begitu saja.  

Lalu salah satu dari mereka yang berdiri (satu berdiri, satu lagi jongkok merokok) tersenyum lebar dan berkata, "Téh, hayu duet!" 
Nada bicaranya terdengar baik dan tulus.  Saya ingin lompat, buka kotak Devika, dan main bersama mereka...yah, satu dua lagu keroncong atau pop bolehlah! Tetapi keberanian saya baru menginjak level satu: berani bersuara.  
Saya pun menyahut sambil tersenyum cerah, "Kapan-kapan ya, A!" 

Si Aa pengamen tertawa renyah dan mengangguk, "Oke!" 

WAAAAAH! Saya sangat gembira! Entah kenapa gembiranya luar biasa sampai pas masuk angkot St.Hall-Sarijadi masih juga happy.  Saya udah berani menjawab ajakan duet anak-anak pengamen itu! Aih! Ningrum memang anak Indonesia! <3 

Demikianlah cerita singkat saya tentang satu cercahan tawa dalam kehidupan.  :) Semoga si pengamen berbahagia dan tetap sejahtera dan bermusik (dengan caranya sendiri).  Amin. Amplop.  Ambokwe.



Sabtu, 14 Januari 2012

Piano dan Devika, Kawan Perjuangan Saya

do re mi
G A B

Yak, posisi tiga jari tiga hilang, 
ngek ngok, 
C D E (ganti jari) F G, aih, fals! 
Ulang lagi. 
Fals!
(berkonsentrasi penuh dan menutup mata)
C D E F G A Bes...nah, sempurna! 

Sekarang Gavotte. 
Duh, fals! 
Yak, jari tiganya jangan dilepas. 
Itu viola, Non, bukan piano. 

Beres. Lumayan.  

Dadah, Devika, kita ketemu lagi besok.  Masuk rumah dulu ya, pakai selimut kotak-kotakmu. 

Mmuah. 

:* 

Sekarang Chopin. 
Pemanasan dulu, tangga nada empat oktaf searah, balik setengah, berlawanan, pulang searah. 

Nah, ayo buka bukunya. 
As mayor?
Ya, sepertinya.  

Harpa, bayangkan harpa. 
Hafalkan not-notnya.  Banyak euy! 

Jari senang menari-nari, tapi bahu mulai pegal-pegal akibat gerakan berputar.
 
Perjuangan tiada habis. 

Tapi kalau habis, nggak belajar apa-apa dong.  

:) Selamat bermalam Minggu, untuk yang bersama belahan jiwanya, atau yang sendirian, atau yang bersama keluarga, atau komputer, atau binatang peliharaan. 

Rabu, 12 Oktober 2011

Siap untuk Pelajaran Baru!

Yap, jadi sesudah jingkrak-jingkrak, saya duduk lagi.  Tarik nafas, terus nyiapin buku lain buat les piano besok.  Hehehe. 

Dan rencananya sih (baru rencana), saya mau memoles Arabesque No.1  karya Debussy yang pas kelas 3 SMP saya pelajari selama beberapa minggu dan dihafal dalam sehari demi ujian musik sekolah, tapi sampai sekarang belum puas dengan hasilnya. Makanya mau minta dipermak. 

Teruus, katanya sih (baru katanya), Kak Angie mau ngasih saya Chopin lagi (soalnya beliau berkata bahwa saya cocok sekali main Chopin), dan saya bakal diajarin Clair de Lune bikinan Bapak Debussy lagi! Yes! :D

Lalu karena urusan piano yang paling heboh ini akhirnya selesai (hasil gimana nanti. Pokoknya ujian telah berlalu!), saya juga bisa bercengkrama dengan Devika tercinta lebih lamaa. Bisa latihan Haydn (atau Handel, ya?) punya Bourée, bisa latihan Wolfhart no.4, bisa cari-cari rasa vibra yang enak, bisa ngebenerin posisi 3... :'9 *jadi mulai terharu gini

Yah gitulah. Dan berhubung sudah banyak belanja-belanji, saya mau bikin scrapbook juga! Biar foto-foto di rumah tambah kinclong dan penuh kenangan. :D 

Dan saya mau ini mau itu banyak sekali... 



Senin, 05 September 2011

Kirana!

Akhirnya keponakan baru saya sudah tiba dengan selamat di RSIA Limijati Bandung! Selamat buat keluarga eji Kak Kosmas, Kak Fitri, Oris, daaan anggota baru mereka, KIRANA! xoxo

Saya senang bangetlah ini.  Bahagianya menggila.  

Oh iya, tadi pagi, saya ke Nada, latihan piano.  Udah gitu, saya kongkow bareng Kandangolalamasukutukartumpul alias Esther dan Inez di Kopi Progo-sambung-ke-The-Strudels...berhubung Inez mau ke Jogja untuk mengemban ilmu manajemen di sebuah universitas.  Horeee! Akhirnya dia tidak tuna-uni! ...tinggal saya sama Esther.  Baik-baik ya di sana, Nez! :D 70% ngeceng! 30 % belajar! *ngajarin nggak bener

Ngomong-ngomong, saya mau-mau aja lho kuliah, tapi nggak merasa wajib.  :D Hahahaha.  Intinya sih saya cuma pingin cari ajaran baru di mana pun saya mendapat kesempatan.  Setelah ikut music camp, saya jadi tahu rasanya kira-kira kalau sekolah musik.  Yah, setiap hari mesti bertemu musik, dan ternyata saya betah! Hahaha. Damn! Betah bangetlah.  Suka nggak mau pulang.  LOL.  Yah, mungkin kem musik ini nggak benar-benar persis sekolah musik sungguhan, atau sekelas konservatori, tapi setidak-tidaknya saya mencuri 'aura'nya.  Di mana-mana ada kelas bisa bunyi dan saya harus latihan...latihan...latihan...sampai rasanya pingin makan omelet rasa metronom campur toge-toge partitur! Gila! Apalagi ini mah dikejer mau konser.  

Oh, saya jadi kangen Kim Barbier.  D': Waaaa! *apa sih 

Tapi sebetulnya saya memang...well, kangen! KANGEN! Pingin camp lagi! Camp aja tiap hari!

Eh, jangan juga sih.  Kapan saya gambar? Kapan saya nulis? Kapan saya blogging? *gimana sih!? 

YAH, intinya saya pingin aja dikasih kesempatan bermain piano atau viola sebanyak-banyaknya.  Di ruangan yang bagus.  Tanpa diganggu.  Dan ada gurunya pas aku kolaps.  Asyik kan, maen sama piano, maen sama Devika (tapi bukan sama Devika kalau saya di luar kota atau luar negeri! :'(( ).  Hiks.  Bicara soal Devika, saya kayaknya bakal nangis kalau mesti ninggalin Devika dan...SLCO! Yah, misalnya saya tiba-tiba berhasrat kuliah ke luar negeri atau luar kota terus kesampean *nah lho! , kan saya mesti mengembalikan Devika ke pengurus panti asuhan alat musik alias Bapak Fauzie dan Ibu Alia...udah gitu saya bakal nggak latihan tiap Minggu siang atau ikut main sama SLCO yang sudah seperti keluarga kesekian saya!

Bahkan meskipun untuk waktu singkat (4 tahun, misalnya?), pasti kangen! Aaaah! *nggak siap 

Maaf ya saya galau.  Lagi penuh perasaan gara-gara punya ponakan baru.  Nggak nyambung.  Hahaha!

Daaan...sekian pos saya hari ini. :) Terima kasih.  Doakan Kirana supaya jadi anak yang bahagia, ya! :D Ahiii! <3

*untuk Inez: sudah ngeh siapa Devika?


Senin, 08 Agustus 2011

Devika

Kenalkan. 
Devika
Sahabat saya.  

Dia punya suara yang indah. 
Penampilan cantik 
Elegan dan menawan. 

Dia dan saya berteman. 
Kami saling memahami. 
Kami bersemangat saat bekerja sama. 

Devika, aku sayang kamu, dewi kecilku.  :)