Tampilkan postingan dengan label Indonesia unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia unik. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Maret 2013
Buat Anak-Anak Sekolah ;)
Senin, 07 Januari 2013
Berbicaralah, Wahai, Foto-Foto
Rabu, 29 Februari 2012
Teman Baru: Si Pengamen
Memang saya punya ketertarikan tertentu terhadap pengamen. Ada kalanya pengamen membuat saya takut, karena kadang mereka tampak jahil dan serampangan, tapi sebetulnya kadang saya ingin berteman dengan mereka--toh mereka sama-sama anak Indonesia juga, kayak saya, kayak kamu, kayak kita.
Nah, di Jalan Pasirkaliki, tepatnya di samping bangunan bergaya Bali bertajuk Bali Heaven yang isinya toko baju dan restoran serta spa, suka ada pengamen-pengamen nongkrong di situ. Ada yang main gitar, biola, jimbe kecil...macem-macem dan nggak tentu. Setiap minggu, saya pasti turun dari Sukajadi setelah les viola dan tentu saja, bersama Devika yang saya sayangi, saya harus turun di Pasirkaliki dan menyeberang menghadapi para pengamen tersebut.
Reaksi mereka melihat saya menggendong Devika, lumayan heboh. Pernah mereka teriak,
"Wah! Téh! Itu biola ya?"
Atau...
"Téh! Duet yuk!"
"Téh! Keren euy!"
"Téh, punya rosin* nggak?"
Semakin banyak pengamen yang kebetulan sedang nangkring, ya semakin ramai...
Dan saya selalu diam saja pura-pura nggak dengar, walau sebetulnya saya pingin tersenyum gembira dan menyapa mereka, kalau perlu ngamen bareng sampai sore...asyik! :))
Sayang saya terlalu malu untuk berbuat demikian. *tangisan memarahi diri sendiri
Sampai akhirnya, kemarin, tekad saya bulat. Sejak berangkat dalam keadaan hujan hingga pulang tanpa diiringi tetes air langit, saya berjanji tidak akan pura-pura budeg lagi kalau disambut oleh para pengamen penasaran itu. Dan ternyata, oh, ternyata, (Tuhan mengetahui tekad saya?) ketika saya menyeberang ke Bali Heaven, ada dua orang dari mereka yang langsung menatap saya. Di belakang mereka terlihat gitar-gitar yang juga seakan ingin berteman dengan Devika. Saya nggak menunduk malu atau lewat begitu saja.
Lalu salah satu dari mereka yang berdiri (satu berdiri, satu lagi jongkok merokok) tersenyum lebar dan berkata, "Téh, hayu duet!"
Nada bicaranya terdengar baik dan tulus. Saya ingin lompat, buka kotak Devika, dan main bersama mereka...yah, satu dua lagu keroncong atau pop bolehlah! Tetapi keberanian saya baru menginjak level satu: berani bersuara.
Saya pun menyahut sambil tersenyum cerah, "Kapan-kapan ya, A!"
Si Aa pengamen tertawa renyah dan mengangguk, "Oke!"
WAAAAAH! Saya sangat gembira! Entah kenapa gembiranya luar biasa sampai pas masuk angkot St.Hall-Sarijadi masih juga happy. Saya udah berani menjawab ajakan duet anak-anak pengamen itu! Aih! Ningrum memang anak Indonesia! <3
Demikianlah cerita singkat saya tentang satu cercahan tawa dalam kehidupan. :) Semoga si pengamen berbahagia dan tetap sejahtera dan bermusik (dengan caranya sendiri). Amin. Amplop. Ambokwe.
label
Devika,
hari demi hari,
Indonesia unik
Rabu, 01 Februari 2012
Yahu, Indonesia!
3 Pertanyaan Tentang Indonesiaku Tercinta:
1. Mengapa kita tidak memberlakukan dumping? Harga produk buatan lokal dimurahkan untuk rakyat, dimahalkan untuk luar negeri. Mungkin maksudnya mau membuat orang sini lebih menghargai karya anak bangsa? Tapi kalau daya belinya belum cukup, ya, percuma juga. Lagipula, sikap mencinta produk 100% dalam negeri sebetulnya terjadi secara alami kok. Bahkan bisa tumbuh lebih subur jika harganya terjangkau!
2. Kenapa sebagian besar orang yang berada di kursi pemerintahan langsung lupa daratan dan bukannya mengayomi rakyat, malah mempermewah gedungnya? Konyol banget deh.
3. Untuk apa orang-orang itu berdemonstrasi membuat kerusuhan hanya supaya dapat berteriak-teriak minta agar pengemudi mobil Xenia dihukum mati? Oke, dia memang salah sih, mabuk dan menyetir, tapi kenapa pula judul beritanya 'kasus penabrakan'? Dia nggak sengaja! Itu namanya tabrakan, ketabrak, tertabrak. Lagipula, mengeksekusi dirinya tidak akan menyelesaikan apa-apa. Dia nggak akan belajar apa-apa, hidupnya selesai, dan dia tak punya kesempatan memperbaiki dirinya atau menebus bebannya. :'(
Sabtu, 08 Oktober 2011
Cintai Produk Lokal!
Bukan, saya bukan mau ngomongin keripik singkong atau beras improt. Saya kemarin baru nonton Djava String Quartet asal Yogyakarta, di CCF Bandung, dan saya sukaaaa banget! Kebangetan sukanya.
Terdiri dari 4 pemain alat gesek yang berkemampuan hebat, Djava menampilkan karya Beethoven, Mozart, dan bersama piano--Schumann. Semuanya bikin saya merinding (physically merinding, maksud saya!).
Tahun 2009, saya juga nonton Djava. Cuma karena saya masih amatir, ya, saya merasa biasa saja, walaupun memang penampilan mereka memukau.
Tapi di tahun 2011, mereka jadi sepuluh kali lebih mengerikan sampai saya senyum-senyum sendiri pas mereka memainkan lagu! Mana pianisnya pun jago gila. Amit dah. *pada makan apa sih?*makan senar*
Oh iya, saya nontonnya bareng Esther dan Manda. Udah gitu saya akhirnya beli juga CD Yes, I Listen to Djava String Quartet seharga 25ribu Rupiah.
Ah, pokoknya mereka KEREN!
Kemarin saya nonton Mr.Popper's Penguin, yang dimainkan oleh Jim Carrey si muka elastis. Ya ampun, jadi pingin pelihara pinguin! Lucu banget! :3
Ada pos baru di citraramya! :)
label
apresiasi,
belanja,
CCF,
hari demi hari,
Indonesia unik
Rabu, 27 Juli 2011
Kampung Naga
Kampung Naga? Tentu kita semua pernah mendengar nama tersebut. Barangkali ada yang iseng-iseng menerjemahkannya ke Bahasa Inggris menjadi Dragon Village. Setelah saya berkunjung ke Kampung Naga pada pertengahan Januari lalu, saya menertawakan plesetan Bahasa Inggris tersebut. Tidak nyambung!
Ya, karena kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini tidak ada kaitannya dengan naga —makhluk fantasi yang mulutnya mengeluarkan api— sama sekali. Ketika saya bertanya pada sang kuncen, ia menjawab, ”Naga itu artinya nagasari, makanan tradisional Sunda.”
Dalam penuturan sejarah Kampung Naga pun, tidak ditemukan sedikitpun kisah tentang hewan naga. Lucu. Ada pendapat lain yang berkata bahwa nama ”Naga” berasal dari bentuk atap nagawir rumah-rumah di Kampung Naga. Jadi yang mana yang benar?
Yang jelas, mereka memiliki leluhur bernama Singaparana—raja terakhir Kerajaan Galunggung—yang dahulu kala mendapat misi menyembunyikan benda keramat dari incaran pemberontak. Tibalah ia di lokasi dekat Sungai Ciwulan yang nampak tersembunyi. Setelah beberapa waktu, lokasi tersebut dikembangkannya hingga menjadi Kampung Naga.
Warga yang berada di sana disebut masyarakat Naga, sedangkan ada pula istilah sanaga yang diberikan untuk keturunan Naga yang terikat dengan adat karuhun. Tapi, dari mana nama ”Naga” berasal?
Ah, lupakan tentang nama Kampung Naga.
Seperti apakah Kampung Naga sebenarnya?
Jika kita ingin melihat Kampung Naga dari dekat, kita mesti menuruni 354 buah anak tangga yang cukup curam ke bawah. Karena saat kunjungan saya hujan turun, tangga tersebut menjadi licin sehingga membuat banyak orang terpeleset. Setelah tangga, kita harus sedikit berjalan kaki di tepi Sungai Ciwulan yang ditemani bukit dan hutan. Di pinggiran sungai pun nampak endapan tanah yang motifnya mirip kue marmer. Coklat-dengan hiasan coklat tua. Batu-batu besar juga nampak kokoh menghalangi arus sungai.
Hiasan khas yang pertama menyambut kami di depan Kampung Naga adalah toilet umum dari bilik berbentuk balok yang ukurannya hanya setengah badan serta diiringi kucuran air berada di atas sungai kecil. Sedikit jalan kaki lagi, tibalah kita di Kampung Naga. Pemukiman adat yang nampak sangat teratur. Mulai dari arah rumahnya (semuanya menghadap ke kiblat atau barat, sesuai aturan budaya Sunda), bentuk rumahnya—rumah panggung, atap rumah dari ijuk dan beberapa bahan lainnya sebagai lapisan bawah, juga warna putih kapur dinding rumah penduduk.
Hal langka dari Kampung Naga adalah budaya material masyarakatnya. Berbeda dengan orang kota, mereka tidak berlomba-lomba memiliki barang mewah, melainkan menyamaratakan kepemilikan! Masyarakat Kampung Naga menentang kesenjangan sosial. Alasan itulah yang membuat mereka menolak listrik masuk (di samping ketakutan mereka akan kebakaran) ke tempat tinggal mereka.
Tapi jangan salah sangka dulu. Saya masuk ke satu rumah warga di Kampung Naga, dan ternyata ada sebuah televisi di sana. Awalnya saya ingin tertawa. Bukannya mereka menolak listrik, ya? Menjawab kegelian saya, sang kuncen menjelaskan kembali, ”Kami pakai accu buat menjalankan televisi.”
Oh. Ternyata begitu. Pantas saja di bawah televisi terletak sebuah kotak accu.
Perkakas-perkakas penunjang hidup sehari-hari mereka pun semuanya bebas-listrik. Setrikaan masih kuno, yang dipanaskan dengan batu bara. Untuk memasak, mereka memanfaatkan kompor minyak tanah.
Bangunan rumah setiap keluarga pun sama. Dindingnya bilik, penyangga bentuk ’panggung’nya batu yang cukup besar, dan karena ada peraturan bahwa rumah tidak boleh dicat, maka masyarakat hanya mengapur dinding rumah saja.
Di dalam rumah, ada sebuah pintu kecil. Pintu kecil itu membuka lumbung mini milik keluarga yang tinggal. Tetapi, hanya istri dari kepala keluarga itu saja yang boleh membukanya. Alasannya: daerah dapur adalah wilayah perempuan.
Satu lagi. Tidak ada kursi di dalam semua rumah warga Kampung Naga. Alasannya sederhana: kalau ada seorang yang duduk di atas kursi dan seorang lagi di lantai, itu merupakan simbol kesenjangan sosial!
Kebudayaan di Kampung Naga
Soal kepercayaan, masyarakat Kampung Naga memang sangat ketat. Mereka memilki benda mirip bungkus ketupat berhiaskan dedaunan dan tumbuhan kering yang digantungkan pada daun pintu. Benda itu, kata mereka, adalah penolak bala yang harus diganti setiap perayaan Tahun Baru Islam. Mereka namakan itu: Tanda Angin.
Masyarakat memiliki ketentuan hari-hari baik juga buruk. Ada hari-hari di mana mereka tidak boleh ini dan itu. Tempat-tempat keramat dan terlarang pun masih ada untuk mereka. Hutan terlarang di sebelah Sungai Ciwulan, misalnya. Ada pula sebuah rumah terlarang.
Mereka juga secara rutin mengadakan upacara adat. Ada bermacam-macam upacara adat khas Kampung Naga. Serangkaian upacara yang dinamakan Hajat Sasih salah satunya. Upacara ini dilakukan untuk menghormati dan meminta berkah kepada leluhur juga sebagai kesempatan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan yang diberikan. Pada Selasa, Rabu, dan Sabtu mereka melakukan Upacara Menyepi.
Penentuan hari-hari keramat disesuaikan dengan hari-hari besar agama Islam. Kesimpulannya, mereka menjalankan agama Islam sambil tetap memegang adat asli mereka, sehingga kedua budaya tersebut selaras.
Gotong Royong dan Bersahaja
Masyarakat Kampung Naga jelas hidup secara bergotong-royong, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Dalam hal membangun rumah misalnya, mereka lakukan bersama-sama. Budaya ini mereka sebut ngadeugkeun imah, pendirian rumah. Pada saat memulai masa ini mereka mengadakan salametan. Acara pertama adalah para wanita memasak tumpeng bersama. Kemudian, tetangga diundang untuk makan bersama agar acara nantinya selamat. Acara kedua adalah acara tulak bala, dengan mengurbankan seekor ayam sebelum rangka rumah didirikan. Nantinya kepala, sayap dan kaki ayam dikuburkan di tengah tapak rumah dengan kepala menghadap ke timur. Darah ayam dioleskan pada bagian luar batu pondasi rumah, dan di setiap sudut rumah ditanam uang logam. Setelah rumah dibangun, acara salametan diadakan lagi sebagai tanda syukur.
Kebersamaan dan kesahajaan merupakan warisan leluhur yang tak bisa dipisahkan dari keseharian suku ini. Kita sebagai orang kota, orang modern bisa banyak belajar dari mereka.
n.b. Sebenarnya tulisan ini ditulis tahun lalu, dalam konteks mau saya masukkin ke buletin SMA saya dulu. Tapi setelah dikirim, eh, si buletin ganti format segala macem dan ini nggak jadi dimuat. Selagi beres-beresin isi PC yang sudah berantakan, saya menemukan laporan berikut dan akhirnya saya muat saja di blog! :D
Langganan:
Postingan (Atom)