sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2013

Cerita Bonbin

Saya baru liburan ke luar kota! Tujuan utamanya sih, merusuh di pernikahan kakak sepupu, Kak Nadia.  Tapi, ujung-ujungnya, tentu, saya cari kebon binatang.  Secara saya doyannya sama kebon binatang. 

Maka saya pun berangkat ekstra pagi ke Jawa Timur Park 2: Batu Secret Zoo & Museum Satwa.  Itu sepaket ceritanya.  
Ngomong-ngomong, saya ogah ah ke taman safari Surabaya. Masa mereka nyajiin RAWON RUSA!? Oalah, itu udah keterlaluan. :(( 

Sekalinya ke sana mungkin saya kampanye...

Oke, tapi, mari kita banjiri dulu halaman ini dengan banyak foto pas saya di bonbin: 

'prairie dog' nan unyu

Iguana

Iguana lagi!

Ini, ehm, saya, di hari sebelumnya sebelum pemberkatan nikah sepupu :) Pakai gaun keren dari Onlyi + sepatu jambu Inside & Side + blazer dan tas tanpa merek :D

Saya dan Mak Mi

Saya difoto sama kakak saya, karena katanya mirip Katy Perry (?) akibat riasan mata yang tebal rupawan. Di situ saya pake gaun bunga-bunga kece dari Luna Maya for Hardware.

saya + sepupu + kakak

Sepupu sepupu sepupu!

Kembali ke bonbin.

Iya, kalau nggak salah lihat, ada lemur!

Museum Satwa nan epik!

Ini kandang iya, ruang kelas juga, dan, tentu, lemur ada di dalamnya tapi tidur, malas sekolah!

Llama si lucu! <3 br="">







Llama. Dari sisi manapun, tetap menggemaskan!

Merak! Tuhan pasti lagi rajin pas menciptakan makhluk ini.


Keluarkan monyet itu dari kandang, atau saya takol!




Si Tutul :D


Nah, sesungguhnya, sampai situlah kamera saya bertahan.  Di tengah perjalanan dalam area bonbin, baterenya ngadat dan kamera pun pingsan. :'(  Maka saya pakai peranti lain buat mengabadikan wajah-wajah satwa di sana.  Untuk ngintip sebagian dari hasil jepretan saya yang lain, yuk main ke sini, ke Instagram saya! :D

Demikian dulu ceritanya, ya. Selamat Hari Senin!

Senin, 08 Juli 2013

Citra Ceria

Saya mendapat liburan yang cukup singkat, tapi saya senang karena bisa berkumpul bersama keluarga, jalan-jalan singkat, dan berkarya! :D 

Demikian liputan visualnya sedikit. 

 bersama para sepupu Keluarga Khoe, cucu Engkong Oho yang tidak terlalu mirip satu sama lain (look at those boys!)


Menemukan latar belakang bagus dan iseng minta difoto, mumpung dandan kece karena cuaca cerah dan baru punya kaos baru hasil berburu bersama Inez di BTC <3 i="" nbsp="">
Tas amplop coklat yang saya jinjing itu diperoleh di The Little Things She Needs, dan lagi obral, tinggal dua biji, dan bahannya kulit sintetis! Keren deh. 

 
Boneka-boneka (absurd) di sebuah factory outlet Bandung.  Pernah ditertawakan bersama Kak Sundea dan Kak Fauzie sepulang sebuah konser di IFI.  Tidak cuma domba yang wajahnya melankolis seperti itu.  Masih ada jerapah, pinguin, anjing laut, ikan paus jua...





Kamis, 19 April 2012

Diwawancara Pengamen

Seperti yang sudah-sudah, dan masih akan berlanjut, sepulang les bersama Devika, saya pasti lewat Jalan Pasirkaliki yang ditongkrongin para musisi jalanan bertato.  :) 

Beberapa hal sudah saya alami selama lewat di sana dengan Devika dalam gendongan.  Misalnya ini. Tetapi, pengamen memang bukan sosok yang buruk bagi saya.  Mereka pintar-pintar.  Mereka kocak.  Dan saya dan mereka ya sama-sama musisi! Jadi saya pikir, sama saja.  Hanya saja mereka mencari uang di jalan, saya di ruangan.  Tapi di samping cari uang, tentu kami pun sama-sama punya semangat bermusik! *optimis*

Nah.  Selasa kemarin, saya baru masuk ke dalam angkot St.Hall-Sarijadi ditemani Devika.  Duduknya dekat Pak Supir, tapi di bangku belakangnya.  Pojok, biar Devika bisa bersandar.  

Kemudian datanglah seorang musisi bertato, rambutnya dicat pirang, dan badannya besar, membawa gitar.  Ia berdiri di ambang pintu angkot, lalu mulai bernyanyi.  Suaranya serak-serak ngebas! Enak sih, dan kalau dilatih pasti jadi sesuatu. 

Tapi...dia memandangi saya terus.  Mungkin tepatnya, memandangi Devika si viola.  Saya agak grogi.  Jadi saya nengok ke depan, samping, belakang, pokoknya ke mana-mana selain kepadanya.

Sekonyong-konyong, ia bertanya, "Mbak, itu biola ya?"

Dan dimulailah obrolan singkat antara saya dan sang musisi: 

dia   : Kursus ya, Mbak? 

saya:Iya

dia   : Di mana? 

saya:  Sukajadi, A

dia   : Kalo biola 'kan, baca not balok ya? 

saya: Betul 

dia   : Gitar juga ada not balok? (loh, saya rasa dia pegan gitar, deh!)

saya: Ada, tapi kebanyakan gitar sih bacaannya kunci-kunci, kecuali gitar klasik

dia   : Suka musik apa?  Klasik, ya, kalo biola? 

saya :Apa aja suka, A, saya mah.  Klasik, rock, jazz, segala rupa. 

dia   :Oh iya, kalo biola mah mainnya pake piling (feeling) ya? 

saya: Ya, perlu pake feeling, tapi sebetulnya si jari-jari tuh ada formasinya.  

dia  : Ooo...ada pormasinya? 

saya: Bukannya biasanya ada yang main biola juga, 'kan? 

dia  : Iya, ada...

Dan angkot bersiap melaju.  Mesin dinyalakan.  Si pengamen bangkit berdiri.  

dia  : Ya udah, Mbak.  I hope you can be a good musician! (ngacungin jempol)

saya: (terharu) Thank you

WOHOW! Sesuatu banget nggak, sih? Biasanya orang-orang yang mewawancara pengamen, lah ini saya yang diwawancara.  Rasanya saya pingin turun dari angkot dan duet dah sama si Aa Gitar! Hahaha.  Kata-kata terakhirnya tadi juga menyentuh saya.  Ada pengamen yang mendoakan saya, rasanya...wah, wah, wah!

Semoga suatu saat nanti saya bisa bikin sekolah musik gratis buat para pengamen.   Supaya mereka lebih okelaah.  Soal mereka mau cari duitnya di jalan atau di gedung, bebas, itu suka-suka mereka.   Saya nggak akan menghakimi bahwa cari duit di jalan itu dodol. 

Ayo, ada yang mau kerjasama bareng saya? :)





Selasa, 23 Agustus 2011

Ibu Kota!

Hai, hai! Saya sebetulnya telat sekali kalau baru cerita tentang ke Jakarta ini.  Tapi harap maklum, baru sempat ngedit fotonya barusan... :) 

Tanggal 14 Agustus lalu, saya pergi ke Ibu Kota untuk mengadu nasib! Ya bohonglah jelas! Saya dan Papa-Mama mau ngerusuhin kos-kosan si Abang Seno Tukang Bakso di Jalan Kesehatan, Jakarta Selatan.  Berbekal foto-foto (berkualitas tolol karena pakai kamera HP), ini dia...

"Cerita Jakarta"
(baca: nongol di Pondok Indah Mal bersama Kokol dan Ayah Ibu yang Konyol)


 Daycraft Signature Sketchbook (Kinokuniya, 99ribu, kertasnya polos dan KUNING!
+ Faber Castell Mechanical Pencil 
+ Yogen Früz mix juice

  
Green Paradise Salad bikinan Ichiban Sushi (enak!)

 Salmon Donburi, juga dari Ichiban Sushi (uenak tenan!)

C'est tout! :) Memang yang berhasil saya foto cuma itu.  :(( Nanti ada foto lainnya, tapi ada di iPod si Kokol, jadi saya belum punya.  :D Yah, semoga memberi inspirasi (masa iya?)! 

Nah, hal lain yang mau saya bagikan adalah...saya sudah lulus ujian CCF lagi! :D Nilai saya 86 dari 100.  Maka dengan ini saya dapat melanjutkan ke tingkat selanjutnya.  Cihuy! 
Terus apalagi ya? Saya baru potong rambut! Sekarang rata loh, rapi, nggak shaggy lagi. Tapi saya suka.  Gampang diasuhnya.  :D 

Ngomong-ngomong, waktu itu di Griya Setrasari saya dengar lagu Abang Tukang Bakso! Iya, lagu lawas untuk anak-anak téa! Saya baru ngeh bahwa liriknya seenak perut banget! Coba simak: 

Abang tukang bakso
mari-mari sini
aku mau beli

Abang tukang bakso
cepatlah kemari
sudah tak tahan lagi

Tidak ingat liriknya apa...yang jelas bagian paling fenomenal adalah:

Abang tukang bakso 
tiap kali lewat
bikin perut jadi kosong
Jadi anak jangan suka bohong
Kalau bohong 
digigit kambing ompong

Abang tukang bakso
tiap kali lewat
bikin perut jadi kosong
Jadi anak jangan suka bohong
Kalau bohong
digigit nenek gondrong

Saya ngakak di depan rak produk pencuci muka.  Untung Mbaknya nggak ikutan ngakak (ngakakin saya).  :))
 
Ada yang tahu lirik asli dan lengkapnya kah? Saya mau dong.  

Baiklah, sekian untuk hari ini! Ceriakan hati kalian dari dalam hati sendiri! :) 
Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaan Anda! -Ajahn Brahm, penulis "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya"

Rabu, 27 Juli 2011

Kampung Naga

             


           Kampung Naga? Tentu kita semua pernah mendengar nama tersebut.  Barangkali ada yang iseng-iseng menerjemahkannya ke Bahasa Inggris menjadi Dragon Village.  Setelah saya berkunjung ke Kampung Naga pada pertengahan Januari lalu, saya menertawakan plesetan Bahasa Inggris tersebut.  Tidak nyambung!
Ya, karena kampung adat yang terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini tidak ada kaitannya dengan naga —makhluk fantasi yang mulutnya mengeluarkan api— sama sekali.  Ketika saya bertanya pada sang kuncen, ia menjawab, ”Naga itu artinya nagasari, makanan tradisional Sunda.”
Dalam penuturan sejarah Kampung Naga pun, tidak ditemukan sedikitpun kisah tentang hewan naga.  Lucu. Ada pendapat lain yang berkata bahwa nama ”Naga” berasal dari bentuk atap nagawir rumah-rumah di Kampung Naga.  Jadi yang mana yang benar?
Yang jelas, mereka memiliki leluhur bernama Singaparana—raja terakhir Kerajaan Galunggung—yang dahulu kala mendapat misi menyembunyikan benda keramat dari incaran pemberontak.  Tibalah ia di lokasi dekat Sungai Ciwulan yang nampak tersembunyi.  Setelah beberapa waktu, lokasi tersebut dikembangkannya hingga menjadi Kampung Naga. 
Warga yang berada di sana disebut masyarakat Naga, sedangkan ada pula istilah sanaga yang diberikan untuk keturunan Naga yang terikat dengan adat karuhun. Tapi, dari mana nama ”Naga” berasal?
Ah, lupakan tentang nama Kampung Naga.
Seperti apakah Kampung Naga sebenarnya?
Jika kita ingin melihat Kampung Naga dari dekat, kita mesti menuruni 354 buah anak tangga yang cukup curam ke bawah.  Karena saat kunjungan saya hujan turun, tangga tersebut menjadi licin sehingga membuat banyak orang terpeleset.  Setelah tangga, kita harus sedikit berjalan kaki di tepi Sungai Ciwulan yang ditemani bukit dan hutan.  Di pinggiran sungai pun nampak endapan tanah yang motifnya mirip kue marmer.  Coklat-dengan hiasan coklat tua.  Batu-batu besar juga nampak kokoh menghalangi arus sungai. 
Hiasan khas yang pertama menyambut kami di depan Kampung Naga adalah toilet umum dari bilik berbentuk balok yang ukurannya hanya setengah badan serta diiringi kucuran air berada di atas sungai kecil.  Sedikit jalan kaki lagi, tibalah kita di Kampung Naga. Pemukiman adat yang nampak sangat teratur.  Mulai dari arah rumahnya (semuanya menghadap ke kiblat atau barat, sesuai aturan budaya Sunda), bentuk rumahnya—rumah panggung, atap rumah dari ijuk dan beberapa bahan lainnya sebagai lapisan bawah,  juga warna putih kapur dinding rumah penduduk.              
Hal langka dari Kampung Naga adalah budaya material masyarakatnya.  Berbeda dengan orang kota, mereka tidak berlomba-lomba memiliki barang mewah, melainkan menyamaratakan kepemilikan! Masyarakat Kampung Naga menentang kesenjangan sosial.  Alasan itulah yang membuat mereka menolak listrik masuk (di samping ketakutan mereka akan kebakaran) ke tempat tinggal mereka.
Tapi jangan salah sangka dulu.  Saya masuk ke satu rumah warga di Kampung Naga, dan ternyata ada sebuah televisi di sana.  Awalnya saya ingin tertawa.  Bukannya mereka menolak listrik, ya? Menjawab kegelian saya, sang kuncen menjelaskan kembali, ”Kami pakai accu buat menjalankan televisi.”
Oh. Ternyata begitu. Pantas saja di bawah televisi terletak sebuah kotak accu. 
Perkakas-perkakas penunjang hidup sehari-hari mereka pun semuanya bebas-listrik.  Setrikaan masih kuno, yang dipanaskan dengan batu bara.  Untuk memasak, mereka memanfaatkan kompor minyak tanah.
Bangunan rumah setiap keluarga pun sama.  Dindingnya bilik, penyangga bentuk ’panggung’nya batu yang cukup besar, dan karena ada peraturan bahwa rumah tidak boleh dicat, maka masyarakat hanya mengapur dinding rumah saja. 
Di dalam rumah, ada sebuah pintu kecil.  Pintu kecil itu membuka lumbung mini milik keluarga yang tinggal.  Tetapi, hanya istri dari kepala keluarga itu saja yang boleh membukanya. Alasannya: daerah dapur adalah wilayah perempuan.   
Satu lagi. Tidak ada kursi di dalam semua rumah warga Kampung Naga. Alasannya sederhana: kalau ada seorang yang duduk di atas kursi dan seorang lagi di lantai, itu merupakan simbol kesenjangan sosial!

Kebudayaan di Kampung Naga
Soal kepercayaan, masyarakat Kampung Naga memang sangat ketat.  Mereka memilki benda mirip bungkus ketupat berhiaskan dedaunan dan tumbuhan kering yang digantungkan pada daun pintu.  Benda itu, kata mereka, adalah penolak bala yang harus diganti setiap perayaan Tahun Baru Islam. Mereka namakan itu: Tanda Angin.
Masyarakat memiliki ketentuan hari-hari baik juga buruk.  Ada hari-hari di mana mereka tidak boleh ini dan itu.  Tempat-tempat keramat dan terlarang pun masih ada untuk mereka.  Hutan terlarang di sebelah Sungai Ciwulan, misalnya.  Ada pula sebuah rumah terlarang.
Mereka juga secara rutin mengadakan upacara adat.  Ada bermacam-macam upacara adat khas Kampung Naga.  Serangkaian upacara yang dinamakan Hajat Sasih salah satunya.  Upacara ini dilakukan untuk menghormati dan meminta berkah kepada leluhur juga sebagai kesempatan mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan yang diberikan.  Pada Selasa, Rabu, dan Sabtu mereka melakukan Upacara Menyepi.
Penentuan hari-hari keramat disesuaikan dengan hari-hari besar agama Islam. Kesimpulannya, mereka menjalankan agama Islam sambil tetap memegang adat asli mereka, sehingga kedua budaya tersebut selaras.  

Gotong Royong dan Bersahaja
Masyarakat Kampung Naga jelas hidup secara bergotong-royong, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Dalam hal membangun rumah misalnya, mereka lakukan bersama-sama. Budaya ini mereka sebut ngadeugkeun imah, pendirian rumah. Pada saat memulai masa ini mereka mengadakan salametan. Acara pertama adalah para wanita memasak tumpeng bersama. Kemudian, tetangga diundang untuk makan bersama agar acara nantinya selamat. Acara kedua adalah acara tulak bala, dengan mengurbankan seekor ayam sebelum rangka rumah didirikan. Nantinya kepala, sayap dan kaki ayam dikuburkan di tengah tapak rumah dengan kepala menghadap ke timur. Darah ayam dioleskan pada bagian luar batu pondasi rumah, dan di setiap sudut rumah ditanam uang logam. Setelah rumah dibangun, acara salametan diadakan lagi sebagai tanda syukur.
Kebersamaan dan kesahajaan merupakan warisan leluhur yang tak bisa dipisahkan dari keseharian suku ini. Kita sebagai orang kota, orang modern bisa banyak belajar dari mereka.

n.b. Sebenarnya tulisan ini ditulis tahun lalu, dalam konteks mau saya masukkin ke buletin SMA saya dulu.  Tapi setelah dikirim, eh, si buletin ganti format segala macem dan ini nggak jadi dimuat.  Selagi beres-beresin isi PC yang sudah berantakan, saya menemukan laporan berikut dan akhirnya saya muat saja di blog! :D