Senin, 14 November 2016

Mengurus Rumah Harusnya Menyenangkan!

Mungkin kalau kita bernafas sedikit dan menurunkan standar,
mestinya mengurus rumah tidak terasa seperti tugas dan kewajiban yang menyebalkan. 

Seperti kalau 'bekerja' kita ganti namanya jadi 'bermain',
pasti tak ada orang mengeluh tentang kerja!


Senin, 19 September 2016

Rencana


Setelah bertahun-tahun ini, belajar tentang pengelolaan diri, hawa nafsu (belanja), kebiasaan menumpuk, dan lain-lain.  

Saya sadar, memang proses seru menulis diary waktu remaja itu penting. Ada kemampuan menulis dan kebiasaan bercerita yang jadi bekal untuk kini. Saya juga suka punya banyak macam catatan untuk tiap kategori kerjaan yang saya lakukan. Atas nama seni. Atas nama keperluan. Tapi ada kalanya, label diri sebagai 'anak rapi terorganisasi dan seniman' juga bisa menjebak dalam pemborosan. 

Entah atas dasar apa, saya jadi beli terlalu banyak buku kosong, alat tulis, klip kertas, stiker, dan barang enggak-enggak lainnya.  Ya, tentu saja saya mengapresiasi mereka! Banyak yang desainnya menarik, bahannya bagus, fungsinya lumayan.  Sayangnya, saya terlalu ingin memiliki semuanya. 

Tangan cuma dua, neng. Mana cukup semua mau diraup! 

Dulu memang menarik.  Tapi sekarang, ternyata saya membutuhkan lebih banyak fokus dan ketenangan. Secara fisik dan mental.  Empat macam buku catatan menumpuk semua di meja, sungguh terasa tidak keruan.  Punya jurnal khusus fashion, buku tentang Guyu, buku lagu, agenda, buku harian, buku sketsa, dan lainnya. Memang terorganisasi dan cantik. Namun percayalah, untuk setelan Ningrum versi sekarang, rasanya...rusuh. Bahkan, dengan menanggalkan gengsi sebagai seniman dan tukang gambar, saya menjual beberapa marker yang benar-benar tidak tersentuh berbulan-bulan.  Dulu pun beli atas dasar doyan, sok perlu, sok banyak ide. Hihi.  

Setahun ini, saya ngabisin pensil lho.  Banyaaak sekali pensil. Ada yang kado, ada yang mungut, ada yang beli.  Mentang-mentang tetangga sebelah Braga Music adalah Gramedia (eh, seberang sih, bukan sebelah), saya jadi kebiasaan apa-apa ke Gramed aja beli pensil atau bolpen.  Acuannya satu: biar nggak bosen sama pensil yang itu-itu aja, dan biar ada cadangan di ruang ngajar.  Entah kenapa cadangannya lalu jadi banyak banget. Lalu saya pun belajar berfokus pada satu pensil saja sampai habis.  Mau sepuluh bulan baru habis, kek. Pokoknya satu dulu! Saya bawa ke mana-mana. Pakai di mana-mana. Coret partitur pakai itu. Sketsa pakai itu. Makan...err, nggak bisa pakai pensil sih, harus sendok! 

Nggak cuma pensil, juga bolpen. Saya suka ikut-ikutan ambil gimmick di Braga Music, dan akhirnya ketimbun bolpen yang overlapping penggunaannya. Kalau ingat lagi keserakahan itu, saya jadi malu. Haha! 

Oya. Sebenarnya, pembicaraan ini kejauhan. Saya tadi cuma bahas buku yang kebanyakan itu ya? Oke, jadi, untuk menyederhanakan pemandangan meja dan membuat segalanya praktis, saya mau kembali ke masa anak sekolah...dikurangi buku-buku pelajaran yang seabreg sampe gak tumbuh gara-gara ransel berat itu ya. Apa sih itu? 

Pakai binder! Tapi saya nggak bermaksud jadi planner addict yang malah makin hoarder itu sih. Sori. Tapi...emang jadi beli lebih banyak, kan? Memang selalu ada alasan untuk belanja ya, sist, bun, say, mbak...apapun latar belakangnya, yang penting belanja! XD 

Saya cuma berniat menyimpulkan semua urusan saya di satu lipatan, di satu ringkasan.  Yang saya nggak perlu ambil tiga buku lalu jejerin depan saya dan malah nggak fokus! Lagipula, bisa sekalian agenda, daftar yang harus dilakukan, dan lain-lain. Ah, senang, kan? 

Saya baru mau pakai tahun 2017, sih. Karena masih punya agenda Makire dan buku-buku yang lain ini. 
Saya sudah 3 bulan hidup hanya dengan 1 sepatu bepergian dan 1 sepatu acara formal. Ternyata bisa, saudara-saudara! Terharu! Kenapa centil sih kemarin-kemarin? 

Sekarang, tantangannya akan lebih unik: hidup dengan 1 binder dan 1 buku sketsa dari kertas bekas (bahkan dari makalah bekas zaman SMA saya balik...). Dan juga buku sketsa lain yang masih kosong. Akan saya jadikan buku sketsa betulan. Karena selama ini kecampur nggak jelas. 

Tantangan lain masih ada, sih. Misalnya...dalam ranah kecantikan dan aksesoris, juga hal renik lainnya. Termasuk pangan. Tapi nanti saja ya ceritanya. Nanti ngelanturnya ngawur... 

Buku-buku lain yang masih bisa saya beli cuma buku musik. Yang isinya toge...karena itu akan dibaca terus sampai...sampai gila? He, jangan dong. Sampai mahir! Walau batas 'mahir' nya itu memang nggak jelas, bicara musik sih.

Baiklah. Segitu saja! Di atas itu ada foto Paleo dan agenda Kikki.K baru untuk tahun depan. (habis difoto, masuk kotak lagi, dibungkus lagi, pura-pura lupa, biar berasa hadiah ultah entar di penghujung tahun)

Tidak terlupa, ngiklan dulu: 
Adopsi baju-baju lucu di Huraya Garage Sale, ya! ;) 

Selamat Hari Senin Besok Sudah Selasa Kok Tenang Saja ! 




Jumat, 02 September 2016

Makan Tanpa Rasa Bersalah



Sedikit oleh-oleh dari restoran vegan favorit : Fortunate Coffee, Jalan Kebon Sirih, Bandung :) 


Selasa, 26 Juli 2016

Kebenda-Bendaan


Hal-hal kecil seperti, 
memegang langit kerlap-kerlip di tangan. 
Juga karena dia cukup memuat segala keperluan dasar bepergian, 
rasa sayang tumbuh. 



Adapun sepiring buah-buahan di Minggu siang yang tenang. 
Lihat mainan angguk-angguk yang sudah berhenti bergoyang, 
walau dia diam saja, 
tampaknya dia sedang mendoakan buah-buahan ini agar bernutrisi dan memberkati. 


Selasa, 12 Juli 2016

Tolong Ingetin Saya Untuk:

1. Tidak makan sambel rawit banyak-banyak lalu minum air langsung karena pasti keterusan nyegrak berdahak gak jelas.

2. Tidak tergoda dengan sepatu-sepatu jenis ini di toko-toko hits:


...karena ujung-ujungnya kelupas menyedihkan dan perlu kesakitan sampai akrab dengan kaki.  Jadi, untuk apa?

3. Menghindari susu sapi, karena ternyata memang tidak akrab. Sejak kecil selalu tidak suka tapi karena sugesti bahwa minuman ini sehat, saya jadi maksain diri.  Padahal jadi kembung dan pusing.  Keju tidak terlalu reaktif untuk saya, tapi saya hindari juga.  Pun yogurt dan es krim.  Jadi, saya akan terus mencari penggantinya, untuk manjain lidah dan selera saja, tanpa mengorbankan perut dan nasib anak sapi.

es krim PT Rasa ini enak tapi yah...bahannya...makanan utama anak sapi.

4. Tak perlu tergoda dengan tas-tas bentuk ajaib, karena tidak terlalu fungsional walau lucunya bukan main.  Oh ya ampun, ada tupai di kebun belakang. Sebentar!

tas unicorn ini lucunya nggak ketulungan, tapi memang kecilnya juga gak tertolong. nggak bisa bawa apa-apa dan udahnya malah ribet sendiri. 

5. Celana jins motif hati kecil-kecil atau polkadot masih lebih berguna, kawan. Karena, seriusan, saya nggak punya jelas jins satu pun sekarang.  Padahal suka nongkrong sembarangan di atas rumput dan paving blok.  Celana dan rok kain bisa sobek kalau diperlakukan seperti itu. Baju harus sesuai gaya hidup, ya.

gambarnya nyolong dari Pinterest


6. Dan sepatu olahraga yang pasti juga baik hati kalau diajak berjalan di trotoar penuh kejutan ala Bandung ini. Gitu. Hihi.

foto minjem dari Pinterest
7. Hidup ini indah dan mengingat betapa 'compact' nya hidup saya diatur oleh Sang Pencipta, saya harus terus bersyukur, dan bersyukur! :)

Terima kasih untuk selalu mengingatkan saya, ya! :)) 

Jumat, 08 Juli 2016

Daun.



Hanya ingin berbagi foto indah dari kebun belakang. 

Rabu, 06 Juli 2016

Senin, 13 Juni 2016

Track 16


I've been reading this whole blog for a while and found this fun-fun game I always...re-do! And now, it's 2016, 4 years after my last experiment.  I still had a GREAT EPIC LAUGHTER doing this. XD 

Okay, anyway. Here's the fun game: 

RULES:

1. Put your iTunes, Windows Media Player, mp3 player, etc. on shuffle.
2. For each question, press the next button to get your answer.
3. YOU MUST WRITE THAT SONG NAME DOWN NO MATTER HOW SILLY IT SOUNDS.
4. Tag 15 friends
5. Everyone tagged has to do the same thing.
6. Have fun!



IF SOMEONE SAYS "IS THIS OKAY" YOU SAY?

Air from Orchestral Suite no 3 in D Major - Bach

(I’m still airy and happy, don’t worry!)


WHAT DO YOU LIKE IN A GUY/GIRL?

Kiss Me Goodbye

(WHAT? No I don’t like the farewell!)
  

HOW DO YOU FEEL TODAY?

Senja Menggila - WSATCC

(yeah, this evening feels like...belum mandi kerjaan numpuk?)


WHAT IS YOUR LIFE'S PURPOSE?

Cayman Islands – Kings of Convenience

(perhaps it would be fun to be there...?)


WHAT IS YOUR MOTTO?

It’s Not For Me To Say – She & Him

(HAHAHA, seriously!)


WHAT DO YOUR FRIENDS THINK OF YOU?

Magic – Colbie Caillat

(they think I have magic inside my fingertips? is it about playing...piano? )


WHAT DO YOU THINK OF YOUR PARENTS?

Rue Damremont – Wouter Hamel

(they are always waiting for me to...take a shower, duh!)


WHAT DO YOU THINK ABOUT VERY OFTEN?

Lalala Love Song – Toshinobu Kubota

(leak information. no comment.)


WHAT DO YOU THINK OF YOUR BEST FRIEND?

How to Save a Life – The Fray

(and they saved my life, somehow)


WHAT DO YOU THINK OF THE PERSON YOU LIKE?

Finally Found Someone – Funny Little Dream

(OMG, who? Where? When? Then I probably have met him!)


WHAT IS YOUR LIFE STORY?

Noor E Khuda – ost. I am Khan

(okesip, hidup saya = joged India)


WHAT DO YOU WANT TO BE WHEN YOU GROW UP?

Sacred Dance for Arjuna - Norazia

(...literally want to dance. Me.) 


WHAT DO YOU THINK WHEN YOU SEE THE PERSON YOU LIKE?

Maybe I Can Change - Keane

(maybe I can change into your girlfriend. LOL.)


WHAT DO YOUR PARENTS THINK OF YOU?

Track 22 from V.O Activites en Ligne

(they think I speak French like an audio lesson?)


WHAT WILL YOU DANCE TO AT YOUR WEDDING?

Beautiful Sunday – Daniel Boone

(noted! this is super proper!)


WHAT WILL THEY PLAY AT YOUR FUNERAL?

Childhood – The Quartet

(...?)


WHAT IS YOUR HOBBY/INTEREST?

Largo from ‘Winter’ - Vivaldi

( i have a hobby of collecting...snowdrops.)


WHAT DO YOU THINK OF YOUR FRIENDS?

Sunset in The Rainforest - Balinese

( they’re enlightening! )


WHAT'S THE WORST THING THAT COULD HAPPEN?

Prairie Village - Eldar

( eh, why? )


HOW WILL YOU DIE?

Sintren

( jogednya jangan berlebihan ya, Ning.)


WHAT IS THE ONE THING YOU REGRET?

 La Mer

 ( to...not diving in the sea? )


WHAT MAKES YOU LAUGH?

Indonesia Pusaka

( Meh, agak betul karena belakangan saya banyak ngetawain peristiwa-peristiwa di negara, karena marah terlalu capek dan ketawa itu menyenangkan.)


WHAT MAKES YOU CRY?

Sans Titre - WSATCC

( Too tearful that I couldn’t even add a title. )


WILL YOU EVER GET MARRIED?

Aksi Kucing - WSATCC

(‘Apa guna, Bung, malu-malu kucing?’ – if I’m still this shy, maybe marriage will be further...even further, lol. )


WHAT SCARES YOU THE MOST?

Nothing in My Way - Keane

( Deep. )


DOES ANYONE LIKE YOU?

P.S. I Love You

( aww, I have a secret admirer sending me letters!)

IF YOU COULD GO BACK IN TIME, WHAT WOULD YOU CHANGE?

Lose It – Ben L’Oncle Soul

(perhaps! to not realizing his existence at that time, duh!)


WHAT HURTS RIGHT NOW?

Midnight Lover - Kisses

(eh.)


WHAT WILL YOU POST THIS AS?

Track 16 from V.O. Activites en Ligne

( quite title-y, it’s okay, it's 2016! XD )



Minggu, 12 Juni 2016

Kesukaan Kita Semua


Entah kenapa, lagi doyan motret makanan dengan posisi rada miring gini. 
Dan di atas sana, ada oplosan pisang dan alpukat yang diblender lembut, dimakan dengan taburan meses. 
Sementara itu jambu batu segar dari Mang Sayur menunggu. 

Di bawah ini restoran kesukaan.  Bukan restoran, lebih seperti kedai--dia sih menyebut diri kafé.  
Namanya Kafé Kembang Jepun.  
Makanannya klasik, unik, dan enak! 
Saya sih selalu makan bubur kacang ijo / ketan item / jali-jali / campur.  
Hari ini, diiringi secangkir bajigur hangat di cangkir kuning yang semriwing manis. 


Dan pulang dari acara musik-musikan, 
nemu tanda kocak ini di depan BTC : 



Rabu, 08 Juni 2016

It's A Hak-Cot Day

Sahabat saya Esther selalu menyebut 'hakcot' ketika apa yang diucapkan orang padanya atau sesuatu yang kita dengar terasa menohok ke hati alias menyinggung.  Atau setidaknya, sangat berkolerasi.
Sebetulnya saya lagi punya program untuk mengatasi ke-kambing-an saya.

Apakah itu ke-kambing-an? 
Sebuah kasus di mana perempuan umur sekitar 20an ini baru sadar bahwa ternyata dia keras kepala dan egois.  Ngamuk internal jika dikritik.  Nggak mau dengerin orang. Merasa caranya sendiri paling benar.

Tuh, ngucapin kayak gini pun bikin saya HAKCOT banget. 
Padahal toh, ketika saya menghadapi manusia yang juga keras keukeuh tanpa bobot, saya pun kesal.

Lalu kenapa tiba-tiba saya menyadari ke-kambing-an sendiri? 
Sebetulnya sudah mulai ada orang-orang yang dengan halus menyadarkan saya.  Sengaja tak sengaja ya.  Sampai akhirnya, salah satu Pembimbing Musik saya yang terang-terangan bilang, "Kamu ini keras kepala sekali, sih!"

Rupanya, keras kepala bukan muncul lewat keinginan memberontak atau sikap cuek saja. 
"Ingat, ketika kamu main musik, kamu menyampaikan sesuatu.  Jangan main untuk diri sendiri doang. Jangan diam di dalam tempurung, karena musik itu milik bersama."
Ketika saya tidak peduli orang lain mendengar apa dari saya, dan saya memutuskan untuk menyamarkan semua ekspresi emosional saya, itu pun bentuk dari ke-kambing-an.

Memang aneh, karena titik masalah ini adalah kesulitan saya bermain dengan volume fortissimo
"Forte-mu masih kayak mezzopiano."
Entah kenapa ini berlaku di antara saya, Narya / piano lain, juga Lai / Devika.  Saya beralibi macam-macam: teknik belum paham, takut terlalu keras, jarinya salah bentuk...ah entahlah, walau saya ingin bisa main fortissimo dengan mencengangkan, tapi keluarnya ya lembek-lembek menye lagi.

Bukan karena karaktermu ? 
Memang saya bukan tipe yang suka menjerit (?) dan mengutarakan isi hati dengan gamblang.  Saya lebih suka hidup hepi-hepi ketawa dan kalau sebal disimpan saja sendiri. Yang ini teman saya yang lain mengingatkan: sebaiknya jangan begitu-begitu amat ketika kesal, karena takutnya jatuh jadi penyakit dalem.  Iyaa, itu juga ada benarnya.  Tapi kebiasaan memendam ini harus dipancing.  Saya terbiasa marah-marah lewat tulisan, lewat musik yang kesannya 'marah-marah', atau gambar.  Namun, apakah emosi itu benar-benar tersembuhkan? Ya, terlupakan sesaat namun tidak benar-benar hilang...nampaknya.

Dan di pelajaran musiklah saya menemukan banyak, banyak pencerahan. 
Selain karena dunia saya memang 60% musik dan guru saya mulai tidak tahan (kayaknya), ya, selagi bermain musiklah saya mulai belajar.  Salah satu pertanyaan dari Pembimbing Musik yang paling mencurigakan adalah: "Kamu punya temen curhat nggak, sih?"
Saya lalu berpikir keras sembari kesel sendiri, apa hubungan temen curhat dengan ekspresi? Kalau saya memang tidak terbiasa curhat, gimana? Saya kan mau memiliki imej tough dan nggak rewel. 
Tapi setelah direnungkan, kebiasaan curhat para cewek tidak membuat mereka lemah sama sekali! Bahkan cowok pun tidak! Berisik, ya, beberapa bisa terdengar berisik. Tapi bukan masalah berisiknya...melainkan kemampuan merefleksi diri yang lebih baik.

Tapi aku Capricorn.
Dan itulah alasan kenapa kamu harus tahu kapan jadi Capricorn, kapan mesti berlagak Pisces (misalnya).
"Kamu harus coba membuka diri," kata Pembimbing, yang sudah kenal saya sejak SMP. 
Benar juga.  Masalah saya dengan dinamik dalam kalimat-kalimat musik bukanlah masalah teknik semata.  Itu kemauan.  Saya mungkin agak pemalu untuk menunjukkan betapa begimana-begimananya sebuah karya.  Karena sadar ada yang nonton, atau cuma...ya, malu saja! Ogah! Gengsi! Katanya Capricorn memang gengsian, padahal saya sentimental.  Bahkan dalam hal-hal kecil sehari-hari pun saya jarang sekali nampak ekspresif.  Alasannya ya: gengsi.

Gengsi adalah sifat yang destruktif.
Juga menggagalkan banyak hal yang mungkin bisa saya capai kemarin-kemarin. Ah tapi itu nanti bikin menyesal.  Tetap maju jalan saja.  :p
Belakangan saya jadi banyak membahas karya zaman romantik.  Di mana-mana.  Termasuk bersama Pembimbing yang Sadar Banget itu. Dan tentu saja kami sama-sama kewalahan...berkat gengsi saya.  Selama bertahun-tahun ini *ceileh.  Sampai akhirnya saya pun sadar, ekspresi itu harus coba dikemukakan dengan lebih bagus. Lebih matang. Lebih berani. Saya berani memegang rahang anjing--hewan yang dulu siluetnya saja sudah bikin saya ngacir.  Saya telah melewati banyak fase keberanian : berenang, naik sepeda di jalan raya, naik gunung, menyeberang sungai kecil, rawat ke dokter gigi sendirian, naik angkot ke Taman Kopo (yang jauh...jauuhh sekali), dll. 

Target saya berikutnya mungkin berani snorkeling, dan pada dasarnya, saya harus berani ekspresif! Harus! Atau saya akan...entahlah, hanyut dalam kegaringan?

Sebagai hiburan, ini saya kasih foto passionfruit yang tumbuh di kebun.
Keberanian untuk apa yang masih kalian ragukan sekarang ini? Yuk kita gali keberanian pelan-pelan. :)




 


Sabtu, 04 Juni 2016

Habis Gelap Terbitlah Sesame Street


Lampu antik klasik kepunyaan Mama, lupa dikasih sama siapa. Memendarkan cahaya yang begitu elegan seperti zaman Barok. Dari dulu saya takut sekaligus kagum sama lampu ini.  Takut, karena auranya mistik-mistik aneh.  Kagum, karena cantik bentuknya.  Hmm.


Dan alas tetikus Sesama Street yang ditemukan tak sengaja di laci perabotan.  Mungkin sudah dari zaman SD atau kapan.  Tapi di saat yang bersamaan, tetikus saya rusak dan diganti dengan yang baru--warnanya jadi serba ceria! :D