Rabu, 10 September 2014

10 Idaman Saya

Udah lama nggak ngedaftar apa-apa di sini, ya? Kemarin-kemarin mainannya perasaan siih. :p

Oke, saya mau nebeng nulis daftar belanjaan di sini.  Tapi, belanjaannya sehat! Ini bahan-bahan pokok yang pingin saya selalu miliki di dapur, biar bisa mamam nabati tiap hari. :D

1 - biji chia yang lagi hip itu, dijadiin puding dan segalanya.  Kayaknya bisa jadi solusi kedoyanan berkraus-kraus saya, deh. Dan bisa dibawa jadi bekel cantik dalem toples kaca. 

2 - madu.  Pokoknya harus punya madu. Buat pemanis.

3 - oatmeal alias gandum giling. Bisa dicampur apa aja, dan enak, dan seratnya baik.

4 - kismis.  Di saat darurat, enak nih buat cemilan.

5 - susu almond.  Sekarang Yummylk produksi yang di botol gede seliter! Kurang bahagia apa coba.

6 - alpukat.  Tambahan lemak nabati, walau nggak boleh kebanyakan karena bisa kolesterol entar.

7 - tomat.  Dijadiin apa juga enak, kecuali dimakan bulat-bulat.  :p

8 - cuka apel.  Bisa buat pembersihan pascasampo, sekaligus buat masak-masak makanan 'semriwing'.

9 - bubuk kakao + maizena.  Pengental, perasa, minuman, sekaligus sampo kering!

10 - minyak wijen.  Asyik buat tumis-tumis dan aromanya...asyik!

OKE! Sekian cuap-cuap hari ini.  Mari mamam sehat!

Oh iya, kemarin saya baru melakukan kedongoan.  Ninggalin kartu ATM di mesin ATM.  (-_-) Rasanya pingin gigit bantal deh.  Tapi, daripada keselek kain, saya gigitin aja jeruk dan anggur.  Sekalian nambah vitamin. :D

Selamat Bertengah Pekan!

Senin, 08 September 2014

Teropong Mengarah pada Sang Tetangga *hup

Saya baru dapet tetangga baru! Iya, rumah kami di lantai dua emang selalu strategis buat mengamati kehidupan di lantai dasar, alias tetangga.

Siapakah mereka? Sepasang suami-istri yang punya anak tiga, laki-laki semua. Tetangga baru ini, ceritanya sih, aktif mengurusi metode pembelajaran dan pendidikan anak gitu. Bahkan meneladani metode pengorangtuaan alias parenting. Dipikir-pikir, harusnya anaknya baik-baik dong. ;)

Eh nggak taunya, yang terjadi malah...kehebohan.  Anak-anaknya memang aktif banget.  Maklumlah anak kecil.  Tapi...kelakuannya khas bocah zaman sekarang: doyan teriak, konsentrasinya pendek, sebel dengan pelajaran, asyik banget kalau udah ketemu gadget, dan anehnya suka tiba-tiba naik ke lantai dua nggak pake basa-basi!

Nah, kalau lihat gelagat-gelakan anak kecil, harusnya mengacu pada orang tuanya, dong? Dan apa yang terjadi? Orang tuanya sih menurut saya baik-baik aja.  Baik mah, baik.  Cuma, rada kurang basa-basi.  Pas pertama dateng aja, mereka nggak pake kenalan-kenalan dulu.  Karena papasan, baru deh, kenalan.  Pasang parabola tivi kabel, nggak izin kemarinnya, tau-tau sudah ada juru instalasi naik ke atas, baru setelah melihat saya lagi bengong, om tetangga dateng dan cuma ngomong, "Ikut pasang ini ya."

Gitu doang.

Lalu, perlakuannya pada anak-anak? Ya gitulah, nasib anak-anak...diomelin orang tua melulu. Kepikiran nggak sih? Anak kecil kan niru orang dewasa.  Lah, kalau tiap hari dipapar teriakan, kritik, dan segalanya, dia pasti niru kan? Tanpa sadar.  :p  Udah paham rumusnya?
Anak-anaknya juga jadi nggak tahu unggah-inggih.  Naik ke atas tanpa izin. Diajak ngomong nggak jelas. 

Seperti banyak kasus murid-murid kecil saya di les piano, sih.  Mereka sering lupa, guru adalah manusia juga, yang perlu dihormati dan didengarkan.  Apalagi, lebih tua.  Tapi guru juga harus menempatkan diri di kacamata bocah--mereka emang jauh lebih labil dan sesukanya--mungkin karena nggak ada yang ngajarin mereka untuk memandang dunia dari sudut pandang orang lain.   

Vice versa.

Idealnya, anak kecil, remaja, dewasa, dan lansia, semua harus bisa belajar bareng-bareng.  Belajar berempati sebesar-besarnya, agar tak perlu lagi ada kekacauan pendidikan.  Dan, tentu, semua harus saling sayang. 

Yuk, kita jadi manusia yang baik dan memahami unggah-inggih atau basa-basi sebagai hal mendasar.  Ini bukan budaya.  Ini bentuk penghormatan pada orang lain. Itu esensi jadi manusia dan hidup sama manusia lain, juga makhluk hidup lain.  Siapa sih, yang nggak seneng diperlakukan dengan penuh sopan? :D




Sabtu, 06 September 2014

Si Ningrum Ngapain Aja Sih?

Ini blog nyaris nggak ada tujuannya, tapi tak apalah.  Saya tetep seneng nulis-nulis unyu di sini. :D

Sementara menunggu berita spektakuler tentang saya ketemu jodoh, misalnya, yuk, kita berbagi tentang kegiatan sehari-hari saja.  Seperti sudah diceritain sebelumnya, saya emang lagi hobi makan buah-buahan.  Kayak orangutan.  Supaya rasa empati saya makin tinggi.

Tapi kemarin ini, meja saya diberesin lagi.  Dan ketika saya melihat pensil warna dalam kantung-kantung plastik, saya...agak frustasi karena:

1. Susah ngambilnya.

2. Kurang praktis.

3. Plastik.

Jadi, saya pungut toples-toples kaca bekas Yummylk, susu almond murni yang lagi hip di Bandung--dan semoga hip selamanya, saya kasih dekorasi kecil sedikit.  Kayak gini:


Temanya: semangka dan pisang! Semangka untuk meletakkan pensil-pensil warna hangat, dan warna-warna dingin adem di pisang. 

Begini:


Syukurlah.  Jadi semangat nggambar lagi! Dan meja kelihatan kayak...toko betrak-betruk.  Asli deh.  XD

Oh iya, saya lagi garage sale, lho! Silakan disimak di akun Instagram: @hurayagaragesale. 

Nah, terus, saya sedang rajin dengerin lagu ini: My Other Half bikinan Indra Lesmana.  Liriknya manis deh. 

Looking for my other half
And I got complete must on you
Astrology sight can be perfect clue
Is it true?

I could make a step behind
But I stupidly can't deny
Sweet tenderly heart
Your smile, I kindly regret

If you would be shining my hours forever more
Then we could be sharing our moments happily in harmony

By the moonlight's magic rhyme
We have caught in the finest time
It's true, love is blind
And I've really found
With you


Saking manisnya, saya jadi pingin makan alpuket.  Hap!