sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label hijo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hijo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2015

Sejak Janjian Sama Ayam...

Jadi, saya berhenti makan ayam sejak berteman dengan Si Mbul ini...



Dan rasanya itu sudah berjalan genap setahun.  Soalnya saya inget, motret Si Mbul pakai iPod. Awal 2014.  Dia ayam kurcaci peliharaan tetangga bawah yang random datang pergi sekejap doang.  Dia bertelur di atas pot dan mengerami dengan setia.  Sayang telur-telurnya nggak berhasil lahir. :(

Oh ya, tapi dia suka saya kasih makan beras-beras kering.  Dan cukup senang--kayaknya. Waktu harus berpisah, rasanya sedih.  Cuma berkawan sesaat.

Tapi kedatangan Si Mbul memang telah mengubah jalur hidup saya.  Sebagai calon vegetarian, tahun 2013 saya masih makan daging ayam.  Udah kepikiran sih, pingin mulai stop, tapi entah kenapa saya masih sering kelaparan pingin ayam goreng krispi, ayam bayam Meeting Point, belum ada menu ayam rica-rica di dapur keluarga, plus berbagai olahan ayam lainnya.  Ah, dan... nasi bento ala KFC yang sausnya uenakk banget itu.

Saya berusaha membuat diri lebih nggak tega sama ayam...tapi...ayam kan mukanya galak.

Nah, semua berubah ketika menatap mata Mbul.  Dia begitu...gemuk.  Lucu.  Bisa dipeluk.  Matanya walau judes, sebetulnya dia tak punya salah apa-apa.

Dan...saya pun memutuskan ikatan dengan Kolonel Sanders. Penjual ayam goreng Sabana juga saya jauhi.  Ya kecuali dia terus jual jamur krispi ala bumbu Sabana, saya balik deh entar.  Mulanya memang berat, ngos-ngosan.  Suka rindu.  Masih terkenang-kenang citarasanya...

Tapi, pada akhirnya saya lolos masa ujicoba. Sekarang saya malah nggak lagi kabita meski pun ada orang yang makan ayam goreng bumbu serai di depan saya.  Peduli amat.  Saya makan daun seledri.  Nggak masalah.

Penemuan yang baru-baru ini bikin saya kaget, ternyata, sejak nggak makan daging ayam...

...saya...

...sembuh dari pilek pagi harian.

Entahlah,  Saya nggak terlalu sadar awalnya.  Tapi belakangan memang pilek itu pergi.  Biasanya pagi-pagi saya pasti ingusan dan bete.  Disebut 'hidung Jepang' sama Mama saya. Ngocornya sampai sekitar jam 8-9 setelah jemur matahari.  Tisu habis.  Saputangan benyek.  Kayak alergi udara.  Cuma, sudah berbulan-bulan melintas dan saya memang nggak pernah pilek pagi lagi kecuali emang flu.

Kebiasaan yang beda setahun ini ya cuma nggak makan ayam itu.  Plus rajin mamam buah-buahan.  Nggak perlu buah-buahan yang cantik mejeng di rak swalayan mewah, kok.  Cukup pepaya, pisang, mangga, jambu, air kelapa, kalau rajin ya lemon dan apel.

Semoga saja analisis saya nggak meleset jauh.  Tapi, syukurlah saya terbebas dari rutinitas buang ingus di pagi hari! Terima kasih, Tuhan, terima kasih, Mbul! :)



Senin, 08 Juni 2015

Sabtu, 06 September 2014

Si Ningrum Ngapain Aja Sih?

Ini blog nyaris nggak ada tujuannya, tapi tak apalah.  Saya tetep seneng nulis-nulis unyu di sini. :D

Sementara menunggu berita spektakuler tentang saya ketemu jodoh, misalnya, yuk, kita berbagi tentang kegiatan sehari-hari saja.  Seperti sudah diceritain sebelumnya, saya emang lagi hobi makan buah-buahan.  Kayak orangutan.  Supaya rasa empati saya makin tinggi.

Tapi kemarin ini, meja saya diberesin lagi.  Dan ketika saya melihat pensil warna dalam kantung-kantung plastik, saya...agak frustasi karena:

1. Susah ngambilnya.

2. Kurang praktis.

3. Plastik.

Jadi, saya pungut toples-toples kaca bekas Yummylk, susu almond murni yang lagi hip di Bandung--dan semoga hip selamanya, saya kasih dekorasi kecil sedikit.  Kayak gini:


Temanya: semangka dan pisang! Semangka untuk meletakkan pensil-pensil warna hangat, dan warna-warna dingin adem di pisang. 

Begini:


Syukurlah.  Jadi semangat nggambar lagi! Dan meja kelihatan kayak...toko betrak-betruk.  Asli deh.  XD

Oh iya, saya lagi garage sale, lho! Silakan disimak di akun Instagram: @hurayagaragesale. 

Nah, terus, saya sedang rajin dengerin lagu ini: My Other Half bikinan Indra Lesmana.  Liriknya manis deh. 

Looking for my other half
And I got complete must on you
Astrology sight can be perfect clue
Is it true?

I could make a step behind
But I stupidly can't deny
Sweet tenderly heart
Your smile, I kindly regret

If you would be shining my hours forever more
Then we could be sharing our moments happily in harmony

By the moonlight's magic rhyme
We have caught in the finest time
It's true, love is blind
And I've really found
With you


Saking manisnya, saya jadi pingin makan alpuket.  Hap!

Selasa, 20 Mei 2014

Saya Di Sini!

Ups, karena keasyikan bikin ini dan itu, saya lupa ngasuh blog-blog! Tapi, saya sempat mengapikkan blog fiksi saya.  Ayo main ya ke sini, bagi tukang baca sekalian: CETAKCETIK. 


Nah, kabar hijau dan senang apa yang saya punya, ya? :D
Oke, perkembangan terakhir sih cuma sampai saya meresmikan peluncuran gelar Rumtarian sejati saya! Eh, mungkin maksudnya...pescaterian-ovotarian! Karena saya mengenyahkan menu unggas dari makanan yang saya lahap, terhitung sejak Hari Bumi kemarin! 
Memang sih, godaannya lebih besar dari sekedar nggak makan hewan berkaki empat.  Kenapa? Karena bagaimana pun, olahan ayam enak-enak... *nangis*  Bayangin aja ayam rebus hainan, ayam goreng krispi, ayam woku, ayam hijau kantin A (teringat Yahya) ! Tapi demi kesejahteraan ayam-ayam di dunia, saya akan berusaha berbuat baik sama mereka dan nggak mendukung pembunuhan ayam secara kejam! :D 

Oh iya, selamat Hari Bumi! ;) 

Roar! Salam hijau!

Saya juga buka lapak garage sale, saudara-saudara.  Silakan meng-klik ikon di bawah ini: 

http://facebook.com/hurayagaragesale

Segitu saja obrolan hari ini! Tetap hijau dan gembira, teman-teman. :)


Rabu, 19 Maret 2014

Gandengan Tangan, Yuk !




































Oke, mari kita bergandengan tangan, dan saling menguatkan dulu sebelum baca cuap-cuap yang satu ini.  Kenapa?  Karena, kalau kalian merasakan hal serupa, pasti rasanya pingin dikasih dukungan.  :) 
Belum ngerti? Baiklah, saya sih cuma pingin sedikit ngomong berbusa-busa yang masih ada hubungannya sama pos berikut.  
Tapi, versi sekarang lebih mendalam, dan mungkin, segelintir manusia lain mengalami hal yang sama!

Memang topiknya apa, sih? 

Begini, kenapa gaya hidup hijau masih saja belum jadi tren sengetren punya iPad, misalnya? Menurut saya, berhubung banyak sandungan-sandungan sosialnya.  Saya beberin di sini, ya, curahan hati para alien Bumi pecinta lingkungan yang niat baiknya belum direstui

"Saya pingin klasifikasi sampah, tapi diomelin Ibu, karena katanya repot."
 Tenang, Kawan, ini masalah global.  Apalagi kalau kita memulainya di rumah yang banyak penduduknya, karena akan selalu ada pro dan kontra di mana-mana! Pokoknya, mari tabah dan bujuk Ibu dan ajari orang serumah untuk membedakan tempat sampah kamu.  Terus, yang paling penting, kalau di rumah memang cuma ada satu tempat sampah, ya, cari satu wadah lagi dong. Tunjukkan kalau tekadmu kuat. :D

"Nggak bisa bikin biopori, nih! Tiada lahan."
Saya juga belum punya biopori sampai sekarang. :'( Rumah saya di lantai dua, nggak bisa membuat lubang semeter.  Tapi, alternatif untuk mengembalikan sampah alami ke alam, masih banyak kok.  Coba saja Gugel 'cara membuat kompos tanpa lubang biopori'.  Udah banyak gurunya di sana.  Kalau saya, dengan sepenuh niat, saya manfaatkan saja tanah dan pot seadanya untuk menampung kulit pisang, bawang, cabai, biji tomat, dan semua yang nggak saya telan. Eh, beberapa bumbu dapur dan sayur malah tumbuh lho. :D 

"Ceritanya mau matiin listrik untuk Earth Hour.  Eh, si adik keukeuh pingin lihat kartun di tivi!"
Biarkanlah adikmu menonton dalam gelap, biar kayak bioskop.  Kasian, anak kecil sekarang kan butuh hiburan.  Kita semua pasti pingin menunaikan Earth Hour sempurna.  Tapi, hemat energi kan mestinya udah jadi hobi kita sehari-hari.  Kalau di hari-hari lain kamu boros listrik, lalu cuma inget buat nyimpen energi pas Jam Bumi, ya nggak ngaruh-ngaruh amat, sih. ;) 

"Hari ini nyodorin tas belanja kain ke juru kasir di toko.  Dia menatap dengan sangat aneh.  Kesel deh!"
Iya, saya pun keki digituin.  Tapi apa boleh buat.  Kan belum semua orang mengerti.  Setelah bertahun-tahun ngebiasain bertampang percaya diri dan menjinjing eco bag, saya mulai lebih cuek sama ekspresi-ekspresi mengejutkan mereka, kok.  Semangat!

"Tas belanjanya ketinggalan di rumah..."
Karena itu mari siapkan selalu tas belanja (kalau perlu tiga ukuran) di tas, biar kalau ada yang dibeli tiba-tiba, nggak merasa berdosa lagi.

"Tapi, kata Bapak, kita butuh kantong keresek buat buang sampah."
Memang kenyataannya begitu.  Apalagi, pengangkut sampah yang keliling biasanya nggak mau ngambil sampah kalau nggak dikantongin.  Rumit, ya? Padahal kita pingin mengurangi plastik, tapi butuh plastik.  Begini, deh.  Coba cari alternatifnya yuk. Buat sampah, pakailah karung beras kosong, atau kantung lain yang sudah dipastikan tunakarya.  Terus, kalau sampah organik sudah kita kelola di kebun dan tanah, kita kan nggak perlu tampung itu pakai plastik dulu.  Langsung saja bawa ke kebun.  Kantung plastiknya dihemat, buat sampah-sampah nonorganik. Setidaknya, dikurangi dulu sebelum bisa dihapus.  :)

"Pengelolaan sampah di Indonesia kan amburadul."
Betul, karena masyarakatnya belum sama rata, sama rasa.  Walau ngakunya gitu. :p Kalau semua orang kerjasama baik-baik, saya yakin pasti Indonesia berubah kok gaya ngurusin sampahnya.  Makanya, ayo gandengan tangan, kita koordinasi!

"Masalahnya, pemerintah kita nggak care!"
Tapi kita bakal keburu lenyap ditelan asap, plastik, dan kemarahan, kalau kita nungguin pemerintah doang.  Pemerintah kan cuma satu.  Kita banyakan.  Sepasukan.  Ayo, gerak duluan saja, nggak usah nunggu pemerintah.  Syukur-syukur, kita bakal merasakan pemerintahan yang lebih ramah lingkungan segera.  Semoga presiden baru kita sayang sama Bumi. :) 

"Ane bawa tumbler nih, gan.  Tapi bocor.  Buku-buku di tas pada basah."
Oh, itu masalah biasa.  Makanya pilih botol minum yang lebih terpercaya tidak bocor walaupun jungkir balik dan salto, ya.  Cuma, saya nggak mau memotivasi orang buat beli terlalu banyak botol minum, hihi, karena ujung-ujungnya pemborosan.  Untuk sementara, pakai saja tumbler bocor kita, tapi, digiwing di luar tas.  Oke? :D 

"Kak, aku baru belajar jadi vegetarian.  Tapi, ada yang ngomong: Vegetarian itu sayang binatang, kok makan makanannya binatang?"
Memang kami sayang binatang.  Dan kami makan makanan yang sama dengan para herbivora.  Apakah itu berarti kami merebut makanan mereka? Nggak.  Kami sih pingin mereka nggak dibantai dengan sadis aja.  Gitu.  Ngerti? :) *senyum miris* 

"Ngurangin polusi dengan sepeda memang asoy geboy.  Tapi, mana jalur sepedanya? Terus, kalau naik kendaraan umum, banyak copet!"
Sebagai anak angkot sejawat, saya juga sedih sih, karena transportasi di sini belum diberi sentuhan maestro sehingga bikin orang-orang ogah.  Dan, jalur sepeda susah dibikin karena jalannya udah penuh! Tapi, ingat hukum ekonomi nggak? Semakin banyak permintaan, penawaran akan menyesuaikan.  Jadi, perbanyak saja makhluk penghuni bus kota dan angkot, pasti tuh transportasi publik bakal makin hip dan dipermak biar trendi.  Ya nggak? ;) 

"Udah, hemat listrik, jangan kelamaan komputerannya!"
Oke, oke, sebentar, mau beresin pos buat blog dulu, supaya kita bisa menggalang rasa silih asih silih asuh.  Yuk, ajak teman-teman jadi alien Bumi yang setia! :D 

 

     

           

Selasa, 04 Maret 2014

Hari Alam Liar Sedunia! (kemarin)


Semoga kita mau bertanggung jawab kepada kehidupan seluruh penghuni Semesta tercinta ini <3 br="">

Rabu, 19 Februari 2014

Kampanye Kedua :)

Setelah cukup sukses hidup tanpa tisu beringus atau ingus yang butuh tisu, saya memutuskan untuk mulai menaruhnya di slot 'Kampanye Aman Berjalan', dan menambah target berikutnya.  

Kampanye yang satu ini lebih fokus ke kejiwaan.  Euleuh, kejiwaan? Terdengar epik, ye? 

Yap.  Sadar nggak sih, kita punya satu kebiasaan yang bentuk kata berimbuhannya: ngomel.  Kata dasar: omel.  Arti kata: mengeluh. Protes.  Menggerutu.  Konotasinya negatif.  
Apa yang kita sering omeli? Apa saja yang bikin kita kurang senang. Tapi, kita punya aksi ngomel yang cukup parah belakangan.  Namanya...


Ngomel tentang cuaca dan iklim.



Salahnya apa? Nggak salah.  Kita kalau kepanasan pasti komplain.  Kedinginan pusing.  Pancaroba, bikin pilek.  Hujan melulu, kena flu. Hujan abu, kelabu.  Hujan uang, bau! 
Wajar kalau kita ngomel, kan? Semua berdampak aneh buat badan dan mood.  
Apalagi sekarang kita sedang mengalami kenyataan bernama Perubahan Iklim alias Climate Change.  Cuaca harian semakin gonta-ganti, warna-warni.  Sehari bisa mengalami empat musim sekaligus.  Malah lima, ditambah pancaroba atau paceklik

Oke, ini lucu sih.  Konon katanya, perubahan iklim terjadi karena efek rumah kaca.  Nah, dari mana datangnya efek rumah kaca? Berbagai kegiatan manusia di Bumi (saya nggak perlu merinci apa saja, kan? Semua orang udah tau, kan diajarin di sekolah [diajarin lalu dihafalin doang].)! 
Udah ngerti maknanya? Kalau labilnya cuaca belakangan memang berawal dari keserakahan manusia, kenapa kita harus ngomel? Itu udah resiko alami, Nak, resiko alami!

Saya juga suka protes kalau terlalu terik, terlalu dingin, terlalu bersalju (walau belum pernah), terlalu ganteng, terlalu labil.  Tapi, saya baru sadar, harusnya saya nggak ngomel karena itu sudah resiko dari kelakuan kaum saya, manusia.  Iya, memang, pup sapi juga mengeluarkan gas metana.  Tapi siapa coba yang memutuskan bikin peternakan sapi massal di mana jumlah pupnya pun menjadi kolosal? Manusia, kan? 

Jadi, mulai sekarang, kurangi ngomel-cuaca, yuk? Mending kita pikirkan cara memperbaiki yang sudah kita rusak bareng-bareng ini.  :D 

Selamat Hari Rabu! :)

Rabu, 12 Februari 2014

Belakangan Ini...

Mencari yang tidak-tidak di dunia yang iya iyalah, termasuk menonton Goban (Manusia Tapi Robot)--cari saya di Youtube. 

Mengerjakan hal-hal lucu dan mencari banyak buah-buahan di berbagai tempat.

Dan ini saya beri beberapa dokumentasi visual:

Sekarang jadi rajin bawa saputangan :)

Membuat kain bermotif.

Ilustrasi di atas tas untuk teman :D

Jangan lupa mampir ke SINI karena ada cerita-cerita spesial Hari Kasih Sayang! ;)

Jumat, 07 Februari 2014

Jus Alpukat dalam Botol

Karena biasanya beli jus alpukat sama dengan menambah satu limbah plastik berupa gelas dan tutup ditambah sedotannya, saya pun memutuskan membawa jus tersebut di dalam botol minum pribadi. 

Mengurangi satu sampah, apa artinya? Ya, suatu saat akan ada maknanya, kok. 

:) 

Selamat Hari Jumat, semua!


Selasa, 04 Februari 2014

Daftar Keinginan



Iya, bahasa gaulnya: wishlist. Saya juga bakal punya wishlist versi kosmetik, tapi itu buat citraramya.   Kalau di sini, saya mau ngedaftar hal-hal apa saja yang saya ingin coba di tahun ini.  Kalau kebiasaannya baik, semoga bisa dilanjutkan sampai tua, dan menurun ke anak cucu. 

Sekarang mari mulai merunut. 

1.  Bola Pencuci
Saya pingin banget cobain si EcoBall ini.  Sejenis bola pencuci yang isinya partikel keramik, ah, saya nggak pinter menjelaskan.  Intinya, pemakaian benda inovatif ini akan mengurangi pencemaran air, lingkungan, dan hemat! Bisa dipakai 3 tahun, katanya.  Tinggal celup di cucian, putar mesin, tadaa!

2.  Biopori
Saya memang tinggal di rumah yang mesti berbagi tanah sama beberapa pihak luar tak dikenal.  Tipenya mirip apartemen rumahan gitu.  Jadi saya nggak bisa pakai tanah di bawah seenaknya.  Tapi saya benar-benar mau menggali lubang dan bikin biopori! Pokoknya harus! Nanti biopori itu malah bisa dipakai bersama-sama tetangga lainnya.  Lebih banyak yang mengerti, lebih baik, kan? :)
3. Bikin pengharum ruangan dari bahan-bahan alami.
Misalnya minyak esensial.  Campur air distilasi, taruh di botol semprot.  Ah, pasti udara jadi segar! :D

4.  Kombinasi Gizi Seimbang
Saya mau memperbaiki pola hidup, tapi nggak diet. Memperbanyak buah dan sayur.  Dan saya akan memakan apa yang saya suka, selama saya tahu batasan dan mempertimbangkan apa yang masuk ke pencernaan.  Oh, dan saya kan nggak makan daging merah lagi. 
 5. Belanja lebih sedikit. 
Ketamakan sebenarnya cuma ilusi.  Kita bisa kok hidup terus-terusan membeli sampai keluar dari daftar kebutuhan.  Boleh saja menghibur diri dengan cemilan-cemilan lucu atau baju-baju menarik.  Tapi jangan kebablasan sampai jadi rakus! 

6. Membuat Lai Maheswari makin yahud.
Semoga biola alto ini semakin cantik saja svaranya.  Semua tergantung saya!


7. Menguasai Toccata karya Om Debussy
Lagi ini sangat, sangat, sangat, dan 100(sangat) keren.  Dan saya sudah mulai menghafal sembari memperbaiki tekniknya.  Saya ingin menguliknya sampai asyik! 


8. Merampungkan Naskah-Naskah Novel yang Tertunda
Ceritanya masih rahasia.  Tapi asal kalian tau, tahun ini saya mau luncurkan 3 naskah.  Satu yang pertama sudah pasti lanjutan novel saya sebelumnya, Cappuccino Paradise.  Tapi, 2 yang lain, ada deh! 


9. Mencintai.
Kita nggak boleh egois.  Jangan terus menuntut dicintai doang.  Belajarlah mencintai.  Saya akan mencintai semua yang ada di depan mata.  Semua orang.  Semua keadaan.  Segala barang yang saya punya! Iya, kalau kita mencintai, kita akan dicintai. 


10. Makin Kocak.
Terdengar nggak penting? Bagi saya, humor itu sesuatu.  Selama humornya nggak mengandung kekejaman atau penghinaan.  Saya sih suka humor kata-kata, atau humor kritis.  Saya ingin melatih kemampuan saya ngeguyon, supaya orang gembira ria kalau ada saya.  Kecuali saya ketemu orang yang lagi mau curhat sedih, ya, nggak mungkin saya ngebodor banyak-banyak.  Bisa-bisa dia ngacir karena tersindir! :D


Itulah daftar kepingin-kepingin saya.  Ada yang kembaran? ;)