sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label ilustrasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilustrasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2015

Dari Oknum Apel beralih ke Michael J.Fox

Baru mengalami yang namanya hati rompal.
Belum patah, cuma agak mruluk dikit.
Rasanya memang nggak enak. Pedih sedikit, tetapi dikasih jus jeruk-leci agak baikan kok.

Di sisi lain, seakan dibebaskan dari beban bertanya-tanya.
Dari penasaran yang tiada habis.
Karena sudah jelas saya bukan pilihan dia.

Ya sudah, apa mau dikata. :)

Daripada sumpek, mending saya gambar Michael J.Fox saja.
Ingin lihat wajah ganteng lainnya? Ada di Instagram saya: ningrumningrum, ya!



Senin, 28 Juli 2014

Selamat merayakan hari kemenangan!
Mari bersalaman dan saling mengingatkan tentang kasih sayang dan rasa hormat :) 



Kamis, 24 Juli 2014

My Playground

Inspired by Pinterest finds and the other thoughts, I made a design for my working-space, a.k.a my playground.  

I need a special zone to create things out from my visual dreams, and to make absurd music.  Oh, haven't mentioed my literature obsession.  

So here's my design: 



Imagine a room with cute tables, completed with an iMac (nice epic monitor, thank you). 
And yes, a little printer and scanner is absolutely important! 
Beside the computer table, there's the manual world.  I'll put a lot of markers, pencil colours, paints, and other tools there.  And I want the drawing table to be 45 degrees like that.  For a better body posture and to make things more balance. 

And why do I put a carpet in the centre? Because I need freedom! I need a room to breathe, to relax, and to straighten my legs.  To read magazines and books, and maybe to sing with a ukulele accompaniment.  And to play with my furry pet (whether it's a cat or dog or rabbit).  

Yes, plus, windows with backyard background is my priority.  Oxygen, please! :D

C'est tout
Alors, je veux introduite mes amis dans la classe IFI maintenant: 

 

Mademoiselle Maya, une belle professeur. 
Et moi, Mia, Tanti, Regi, Sienta, Resti, et Amimah. 

<3 i="" nbsp="">

 Mon Samedi est spéciale avec leur! :D

Minggu, 25 Mei 2014

Rabu, 19 Maret 2014

Gandengan Tangan, Yuk !




































Oke, mari kita bergandengan tangan, dan saling menguatkan dulu sebelum baca cuap-cuap yang satu ini.  Kenapa?  Karena, kalau kalian merasakan hal serupa, pasti rasanya pingin dikasih dukungan.  :) 
Belum ngerti? Baiklah, saya sih cuma pingin sedikit ngomong berbusa-busa yang masih ada hubungannya sama pos berikut.  
Tapi, versi sekarang lebih mendalam, dan mungkin, segelintir manusia lain mengalami hal yang sama!

Memang topiknya apa, sih? 

Begini, kenapa gaya hidup hijau masih saja belum jadi tren sengetren punya iPad, misalnya? Menurut saya, berhubung banyak sandungan-sandungan sosialnya.  Saya beberin di sini, ya, curahan hati para alien Bumi pecinta lingkungan yang niat baiknya belum direstui

"Saya pingin klasifikasi sampah, tapi diomelin Ibu, karena katanya repot."
 Tenang, Kawan, ini masalah global.  Apalagi kalau kita memulainya di rumah yang banyak penduduknya, karena akan selalu ada pro dan kontra di mana-mana! Pokoknya, mari tabah dan bujuk Ibu dan ajari orang serumah untuk membedakan tempat sampah kamu.  Terus, yang paling penting, kalau di rumah memang cuma ada satu tempat sampah, ya, cari satu wadah lagi dong. Tunjukkan kalau tekadmu kuat. :D

"Nggak bisa bikin biopori, nih! Tiada lahan."
Saya juga belum punya biopori sampai sekarang. :'( Rumah saya di lantai dua, nggak bisa membuat lubang semeter.  Tapi, alternatif untuk mengembalikan sampah alami ke alam, masih banyak kok.  Coba saja Gugel 'cara membuat kompos tanpa lubang biopori'.  Udah banyak gurunya di sana.  Kalau saya, dengan sepenuh niat, saya manfaatkan saja tanah dan pot seadanya untuk menampung kulit pisang, bawang, cabai, biji tomat, dan semua yang nggak saya telan. Eh, beberapa bumbu dapur dan sayur malah tumbuh lho. :D 

"Ceritanya mau matiin listrik untuk Earth Hour.  Eh, si adik keukeuh pingin lihat kartun di tivi!"
Biarkanlah adikmu menonton dalam gelap, biar kayak bioskop.  Kasian, anak kecil sekarang kan butuh hiburan.  Kita semua pasti pingin menunaikan Earth Hour sempurna.  Tapi, hemat energi kan mestinya udah jadi hobi kita sehari-hari.  Kalau di hari-hari lain kamu boros listrik, lalu cuma inget buat nyimpen energi pas Jam Bumi, ya nggak ngaruh-ngaruh amat, sih. ;) 

"Hari ini nyodorin tas belanja kain ke juru kasir di toko.  Dia menatap dengan sangat aneh.  Kesel deh!"
Iya, saya pun keki digituin.  Tapi apa boleh buat.  Kan belum semua orang mengerti.  Setelah bertahun-tahun ngebiasain bertampang percaya diri dan menjinjing eco bag, saya mulai lebih cuek sama ekspresi-ekspresi mengejutkan mereka, kok.  Semangat!

"Tas belanjanya ketinggalan di rumah..."
Karena itu mari siapkan selalu tas belanja (kalau perlu tiga ukuran) di tas, biar kalau ada yang dibeli tiba-tiba, nggak merasa berdosa lagi.

"Tapi, kata Bapak, kita butuh kantong keresek buat buang sampah."
Memang kenyataannya begitu.  Apalagi, pengangkut sampah yang keliling biasanya nggak mau ngambil sampah kalau nggak dikantongin.  Rumit, ya? Padahal kita pingin mengurangi plastik, tapi butuh plastik.  Begini, deh.  Coba cari alternatifnya yuk. Buat sampah, pakailah karung beras kosong, atau kantung lain yang sudah dipastikan tunakarya.  Terus, kalau sampah organik sudah kita kelola di kebun dan tanah, kita kan nggak perlu tampung itu pakai plastik dulu.  Langsung saja bawa ke kebun.  Kantung plastiknya dihemat, buat sampah-sampah nonorganik. Setidaknya, dikurangi dulu sebelum bisa dihapus.  :)

"Pengelolaan sampah di Indonesia kan amburadul."
Betul, karena masyarakatnya belum sama rata, sama rasa.  Walau ngakunya gitu. :p Kalau semua orang kerjasama baik-baik, saya yakin pasti Indonesia berubah kok gaya ngurusin sampahnya.  Makanya, ayo gandengan tangan, kita koordinasi!

"Masalahnya, pemerintah kita nggak care!"
Tapi kita bakal keburu lenyap ditelan asap, plastik, dan kemarahan, kalau kita nungguin pemerintah doang.  Pemerintah kan cuma satu.  Kita banyakan.  Sepasukan.  Ayo, gerak duluan saja, nggak usah nunggu pemerintah.  Syukur-syukur, kita bakal merasakan pemerintahan yang lebih ramah lingkungan segera.  Semoga presiden baru kita sayang sama Bumi. :) 

"Ane bawa tumbler nih, gan.  Tapi bocor.  Buku-buku di tas pada basah."
Oh, itu masalah biasa.  Makanya pilih botol minum yang lebih terpercaya tidak bocor walaupun jungkir balik dan salto, ya.  Cuma, saya nggak mau memotivasi orang buat beli terlalu banyak botol minum, hihi, karena ujung-ujungnya pemborosan.  Untuk sementara, pakai saja tumbler bocor kita, tapi, digiwing di luar tas.  Oke? :D 

"Kak, aku baru belajar jadi vegetarian.  Tapi, ada yang ngomong: Vegetarian itu sayang binatang, kok makan makanannya binatang?"
Memang kami sayang binatang.  Dan kami makan makanan yang sama dengan para herbivora.  Apakah itu berarti kami merebut makanan mereka? Nggak.  Kami sih pingin mereka nggak dibantai dengan sadis aja.  Gitu.  Ngerti? :) *senyum miris* 

"Ngurangin polusi dengan sepeda memang asoy geboy.  Tapi, mana jalur sepedanya? Terus, kalau naik kendaraan umum, banyak copet!"
Sebagai anak angkot sejawat, saya juga sedih sih, karena transportasi di sini belum diberi sentuhan maestro sehingga bikin orang-orang ogah.  Dan, jalur sepeda susah dibikin karena jalannya udah penuh! Tapi, ingat hukum ekonomi nggak? Semakin banyak permintaan, penawaran akan menyesuaikan.  Jadi, perbanyak saja makhluk penghuni bus kota dan angkot, pasti tuh transportasi publik bakal makin hip dan dipermak biar trendi.  Ya nggak? ;) 

"Udah, hemat listrik, jangan kelamaan komputerannya!"
Oke, oke, sebentar, mau beresin pos buat blog dulu, supaya kita bisa menggalang rasa silih asih silih asuh.  Yuk, ajak teman-teman jadi alien Bumi yang setia! :D 

 

     

           

Senin, 17 Maret 2014

Keriting!

Karena banyak proyek, akhirnya keriting sendiri.  Tapi tak apa, keriting bisa membawa kegembiraan tersendiri, kok! :D 


Senin, 20 Januari 2014

Tenang, Semua Ada Solusinya :)





Hai, Para Alien Bumi yang Baik! Selamat siang! Tadinya saya mau pergi agak lama hari ini, tapi ternyata nggak jadi lama-lama, jadi saya balik ke depan komputer.  Sembari ngerjain pesanan-pesanan pernak-pernik, saya mau cerita-cerita sedikit. 

Yah, sebenarnya sih bukan cerita, seperti biasa ini pikiran saya yang kebanyakan dan harus ditumpahkan demi pencapaian misi-misi! 

Tapi mari kita mulai satu persatu, sekarang topik yang paling umum dulu, yaitu: 

Seperti yang sudah kita tahu, sekarang sudah waktunya selalu pakai reusable bag kalau belanja.  Memang repot.  Tapi tanpa sadar, kalau dibiasakan, nggak kerasa apa-apa kok.  Malah jadi budaya tersendiri, dan menambah rasa tanggung jawab.  Kalau dari kecil anak kita diajarkan bawa tas sendiri (atau, botol minum pribadi, kotak bekal, saputangan, dan semua benda yang menunda limbah), pasti dia sikap tanggung jawabnya besar, ayo dicoba, para orang tua muda! :D 

Nah, sekarang, budaya ini kadang bikin masalah tersendiri bagi kita para alien.  Ya nggak? Kadang, tas kita kurang, jadi, masih butuh keresek.  Atau, kadang ibu di rumah bilang, kereseknya ambil saja buat buang sampah.  Atau karena beli telur, kita butuh satu kantung buat melindunginya secara terpisah, yang ukurannya kecil.  Terus kita kan misahin belanjaan: sayur/buah yang basah, belum ada daging, lalu barang-barang berkemasan, dan sebagainya.   Kalau kita nggak telaten dan masih suka lupa...tenang, namanya jugaproses belajar.  Kalau omongan orang yang malah mendukung untuk nambah kantung plastik, atasi dengan senyum kece di wajah dan ketenangan.  Bilang aja kamu alergi plastik!

Lalu, gimana dengan kantung darurat yang ukurannya lebih kecil? Bikin saja, atau sesekali beli barang di toko yang memberi kita tas tisu ukuran mini.  Kalau saya biasanya ngumpulin tas kalau belanja dari toko Happy-Go-Lucky, karena bisa dipakai lagi.  :D

Tapi, saya baru kepikiran untuk membuat tas kecil sendiri yang bahannya lebih tebal supaya aman untuk telur.  Tas dari bahan tisu aman untuk benda-benda lunak macam baju atau perintilan, tapi kurang melindungi barang pecah belah.  Kalau sudah berhasil buat, saya kasih tutorialnya! :D

Oh iya, ini ada inspirasi dari keluarga yang...ah, pokoknya keren.  Ayo tengok ke sini dan semoga ketularan 4R mereka: refuse, reduce, reuse, recycle.  :D

Saya bercuap segitu dulu saja deh.  Selamat Hari Senin, ya! :)
 
 
 

Jumat, 29 November 2013

Ini Kerjaan Bersama, Bos!





Menurut kalian, pekerjaan rumah tangga itu kewajiban siapa sih? Perempuan? Ibu? Bapak? Asisten rumah tangga? Kalau buat saya, urusan tetek bengek seperti cuci piring, baju, setrika, sapu rumah, ngepel, nyiram tanaman, belanja sayur, sampai ke pasang lampu, memang merepotkan. Walau begitu, sebetulnya ini kegiatan yang sudah seharusnya dilakukan oleh siapa pun tak terkecuali kaum pria lho!

Tapi, coba pikirkan lagi.  Kita kan menghuni sebuah rumah atau mungkin ruangan apartemen atau rumah susun atau kos.  Otomatis dan alami, kita harus mengurus rumah kita, kan? Bayangkan kalau kita malas dan nggak pernah bersih-bersih.  Alhasil, debuan, kotor, buluk! Kecuali kalian memang suka banget sama yang buluk-buluk, ya nggak apa-apa.  Cuma, dasarnya, kebersihan itu baik.  Apalagi kalau kita di kota, debu jalanan di mana-mana dan kita cenderung menyimpan banyak barang yang berpotensi menampung si debu-debu.  Lain cerita kalau rumah kita gubuk jerami di pedalaman hutan. :)) 

Terus nih, kita pakai baju dan baju tersebut mau nggak mau sedikit terkotori, atau kena noda bahkan.  Kalau dibiarkan terus, dia bakal jadi lapuk, warnanya berubah, dan bau! Makanya ada aktivitas mencuci baju di dunia.  Sejak zaman dulu lho, sebelum deterjen ditemukan (dan ternyata deterjen malah merusak lingkungan air, duh).  
Apa lagi? Makan.  Kita menggunakan peranti makan, toh? Masak juga.  Lalu apa salahnya mencuci benda-benda itu biar bisa dipakai lagi? Kalau tidak dibersihkan, sisa makanan di situ bisa-bisa mengundang bakteri, bahkan, euh, belatung.  
Benda-benda sekali pakai mungkin praktis.  Tapi sama aja.  Selain menuh-menuhin lapisan Bumi, kita sebetulnya cuma memindahkan kewajiban membersihkan ke pengurus limbah doang.  Sama aja dong! :D 

Nyiram tanaman? Ya bayangin aja, kalau nggak dirawat, nanti daun-daun hijau segar nan sehat untuk mata itu, jadi coklat kering dan menyedihkan.  

Masih banyak kok, tugas rumah tangga yang menanti kita.  Sekarang, yang mau saya obrolin adalah pembagiannya.  Di sini, budaya kita agak-agak ngeselin.  Masih banyak laki-laki nggak boleh masuk dapur sama ibunya.  Bahkan kerja rumah tangga juga dilarang.  Alasannya macam-macam, mulai dari kasihan, bukan tugas pria, atau mungkin merasa pekerjaan cowok di bidang ini nggak memuaskan.  

Menurut eke, ini benar-benar salah! Saya juga kalau bersihin ranjang masih suka dikritik Mama kurang rapi.  Apalagi kakak saya yang cowok, dia lebih berantakan lagi, tapi masih ada usaha.  Jadi sebetulnya kami sama-sama tidak profesional (karena biasanya yang sudah profesional memang Mama dan Papa).  Tunggu, Mama dan Papa?  Yep! Papa memang kalau masuk dapur cuma buat makan, ambil cemilan, atau bikin minuman dingin.  Bikin? Iya, Papa saya suka bikin sendiri minuman favoritnya.  Tapi, kadang Papa juga inisiatif beresin ranjangnya kalau Mama lagi nyiapin sarapan, atau, Papa yang belanja sayur ke pedagang lokal yang giring-giring gerobak. 

Oh, kita kembali ke topik.  Saya pernah marah sama anak-anak cowok saudara saya (termasuk kakak dan si adik sepupu) karena mereka nggak mau bantuin di dapur.  Lho, saya kan udah bantu Mama siapin makan.  Mereka ikut makan dan pakai perkakas makan.  Lalu, apa juga alasan mereka nggak mau cuci piring, ogah buang sampah, dan sebagainya? Apa mereka pikir setelah makan tugas mereka selesai dan boleh manja-manjaan lagi nonton televisi sementara mereka pikir perempuan sih harus kerja? OH, MAAF YA.  Itu nggak berlaku.  Itu terlalu kolonial.  Apalagi kalau mereka seharian cuma ngendon depan komputer nggak ngapa-ngapain! 

Marahinnya sih susah, nunggu mereka berubah juga lama.  Soalnya, budaya 'laki-laki adalah raja' sudah terlalu mengakar.  Sedangkan perempuan pun terlalu kemakan isu kalau dapur dan rumah tangga adalah urusan feminin! Mana ada! Rumah kan ditinggali bersama-sama, jadi semua harus mengurus bersama! 

Saya harap, kita mulai tegas sama cowok-cowok yang masih kolonial itu, supaya nggak dengan teganya bermalas-malasan nonton kita cuci piring, setidaknya kalau kita lagi cuci piring, dia lap meja makan, kek...

Apa hanya soal cuci piring? Masih banyak sih.  Pokoknya menurut saya, jangan biarkan laki-laki menjajah perempuan lagi! Laki-laki dan perempuan itu sederajat, jadi ya kerjaannya sama aja. Toh, sekarang perempuan juga bisa nyetir mobil dan antar jemput, bisa pasang Elpiji sendiri, bahkan ada yang jadi pengurus pipa air mungkin.  

Saya cinta Indonesia, tapi kalau tentang kesamaan hak dan kewajiban laki-laki-perempuan, saya mengimpor pemikiran Barat, hehe.  :) 

Segitulah curhat saya hari ini.  Selamat Hari Jumat! :D

Senin, 26 Agustus 2013

Tetap Semangat!

Siapa bilang going green itu bisa diterima masyarakat dengan gampang? Hari ini saya pingin protes ah.  Mumpung cuaca cerah (nggak nyambung). 

Oke, saya nggak ngerti kenapa tindakan menjaga lingkungan masih saja dianggap eksklusif.  Lucu kan.  Tinggal di planet yang lagi terancam sakit keras, tapi nggak mau bantumerawat.  Padahal kalau sampai sakit berlanjut, dokter yang bisa dihubungi cuma Sang Khaliknya.  Atau kita tinggalkan dan pindah planet lain.  Tapi, masa kita tega sih menelantarkan planet baik yang selama ini menghidupi kita dan seluruh makhluk hidup lain

Murni, saya jadi agak tergila-gila pada aksi hijau karena saya merasakan ketidaknyamanan di sana-sini.  Jalanan yang kotor itu nggak bagus.  Sungai yang ditumpahi limbah itu buruk.  Minyak tumpah ke laut berbahaya.  Burung camar atau penyu yang tersedak kantung keresek atau betrak-betruk lainnya pun tidak bahagia.  Pohon yang baru ditebang secara kejam padahal sudah susah-susah tumbuh selalu tampak menyedihkan bagi saya.  Asap kendaraan juga bikin sesak nafas dan kelilipan.  Belum lagi debu rokok bikin atmosfer bau dan rawan kanker paru-paru! Hewan-hewan dalam ruang penjagalan, apakah mereka tenteram bahagia mau dipotong secara massal? Apa sih kerennya?

Ya itu saya.  Setidaknya, sudut pandang saya. Mungkin ada yang punya pendapat lain.  

Tapi, asal sadar saja,  planet Bumi cuma ada satu.  Kita sama-sama tinggal di sini.  Dia bisa hancur sewaktu-waktu karena terus kita keruk dan kita racuni.  Ibaratnya terlalu semangat ngupil sampai hidung terluka dan berdarah.  Ya kan? Awalnya baik, lama-lama buruk.

Untuk kalian yang sudah berusaha semaksimal mungkin memberi Bumi dan isinya kesehatan yang lebih baik dengan mengurangi tumpukan limbah tak terurai, memakan makanan bergizi yang bukan berasal dari kekerasan, mengalah, menolak kantong plastik, menghemat energi, mencintai tanaman, dan sebagainya, mari, kita bergandengan tangan dan tetap kuat! Masih banyak pihak yang menertawakan tindakan macam ini.  Ada pihak-pihak tertentu yang sembunyi-sembunyi ingin jadi pahlawan Bumi tapi terlalu malu.  Kita beri mereka keberanian.  Kita bisa kok.  :) 




Selamat menikmati hari yang cerah ini! Jangan lupa bersyukur, dan tetap cinta Bumi kita dan isinya, termasuk sesama manusia dan hewan-hewan serta tumbuhan. 

:)

Kamis, 08 Agustus 2013

Liputan Libur Sepekan

Ngomong-ngomong, selamat ber-Lebaran ya, Indonesia! :D 

Oke, berhubung dua minggu ini saya lumayan banyak jalan-jalan, jadi, nulis blognya agak slengean, nggak diisi-isi amat.  

Minggu lalu, saya dan kawanan Kandang jalan-jalan ke PVJ. Lucu. Kalau dulu, pas masih SMP-SMA, di mal kami bakal masuk Timezone atau bioskop saja, kemudian pasti mangkal di toko buku, sekarang kami udah bisa lihat-lihat baju barengan! Bahkan kayaknya seluruh toko baju dan sepatu di PVJ kami kunjungi, deh. 

Tentu, kami tidak lupa makan! :D 



Setelah main sama bocah-bocah Kandang alias Esther dan Inez, saya juga sempat main dengan anak-anak orkestra, serta acara-acara keluarga, tentu.  

Lantas, kemarin, saya baru makan-makan di rumah Esther, bersama Inez dan belasan kawan lain.  Kemudian saya pun tidak tidur karena para gadis asyik bermain Cranium.  Board game interaktif yang...sangat seru! 

Ya, demikian cerita kecil belakangan.  Saya lagi (agak) mikirin masalah perjodohan lagi, nih! Wajarlah.  :)) 

Biar Anda tidak ketularan bingung, ini saya berikan gambar pensil warna karya saya, judulnya 'Dua Rusa'! :D 
 
hasil sketsa kemarin

Rabu, 24 Juli 2013

Sayangi Hewan Langka Indonesia (dan hewan lain, tentu saja)!

Sang Ular

Hari ini, di tahun ular hari kesekian, sesosok ular mati dirajam batu oleh seorang bocah yang entah diajari apa oleh orang tuanya sampai bisa membunuh, dengan kejam.  Saya terlambat mencegahnya!

Saya saksi mata yang tidak bisa apa-apa.  Akhirnya, saya ambil tubuh Sang Ular dengan ranting, dan saya letakkan dia di dekat rimbunan semak-semak yang tertutup, lalu saya taburi kelopak bunga ungu.  

Selamat beristirahat, Ular! Sayang kita belum sempat berkenalan, ya. :")


Senin, 22 Juli 2013

Pos Khusus Buat Para Satwa Tersayang

Saya baru saja duduk di kursi angkot, dan karena tahu perjalanan masih panjang, saya pun membuka Twitter lewat telepon genggam saya yang (katanya) pintar. 

Alangkah kagetnya saya ketika melihat beberapa retweet yang menggunakan hashtag #RIPRaju.  Bukan cuma kaget, begitu sadar apa yang terjadi, tahu-tahu mata saya sudah berkaca-kaca.  

Ya, di angkot yang sedang melintasi Jalan Otten di sore hari, di hadapan banyak penumpang lain, saya berusaha menahan tangis.  Saya pun menengok ke luar jendela, takutnya air mata saya tumpah. 

Siapakah Raju? 

Raju adalah seekor gajah kecil, umurnya baru 1 bulan ketika ditemukan warga di daerah Aceh.  Dia yatim piatu.  Sebelumnya, mereka juga pernah kedatangan seekor gajah balita yang diberi nama Raja.  Raja sudah wafat terlebih dahulu.  

Dengan ketidakmengertian, Raju dirawat dengan diberikan susu sapi dan, yah, bukan perawatan yang tepat dan layak, tetapi setidaknya dia bertahan hidup.  Sayangnya, susu sapi jelas tidak cocok bagi anak gajah! Bayi Raju mengalami diare dan sakit-sakitan.  Untungnya, menjelang akhir Juni, sebuah lembaga berhasil mengadopsi Raju dan membawanya ke tempat yang lebih baik, walau itu pun belum sesempurna yang diharapkan.  Namun diare Raju berangsur-angsur pulih dengan diberikannya susu kedelai, dan nutrisi lain.  Dia diberi kandang yang walau kecil dan reyot, lumayan menghangatkan.  

Saat posisi Raju dirasa cukup aman, dan akan diadakan garage sale untuk dana pembuatan kandang Raju dan buat perawatan lainnya, semua orang dikejutkan dan dibuat ngeri oleh kasus pembunuhan kejam Papa Genk, gajah dewasa yang dirampok gadingnya.  Ah, untuk yang satu ini, saya pun terlalu seram untuk memaparkan kondisi jenazahnya saat ditemukan di hutan. 

Selepas kasus Papa Genk yang mesti diusut lebih jauh, ya itu tadi, sore-sore, Raju menghembuskan nafas terakhirnya.  Penyebabnya belum jelas.  Tapi tangis saya akhirnya berhasil dikucurkan beberapa menit yang lalu, di rumah, sambil galau di Twitter. 

Sejujurnya, saya selalu lebih sedih kalau ada binatang kenapa-napa.  Hewan itu seringkali lebih tidak berdaya.  Mereka memang kuat, apalagi gajah, ikan paus, hiu! Tapi, ketamakan manusia dan kerjasama yang hebat di antara mereka untuk menunjukkan kuasa dan menggalang uang demi menyumpal rasa lapar, membuat hewan-hewan kuat pun terancam hidupnya.  

Gajah direbut gadingnya.  Untuk apa? Uang milyaran!

Ikan hiu diambil siripnya. Lalu? Dia dikembalikan ke laut dalam keadaan cacat.  

Orangutan? Korban perburuan, dipenggal demi kelapa sawit dan uang, bahkan diperlakukan tidak pantas, seperti Pony si orangutan yang, aduh, nasibnya bikin merinding! (coba Google saja soal Pony orangutan)

Harimau? Ditembak dan diambil kulitnya, dijadikan dekorasi. 

Rusa? Dipotong dan jadi pajangan dinding. 

Sapi, ayam, babi, bebek, kambing, kelinci, buaya, ular, biawak? Diternakkan secara massal dan suatu hari jika saatnya tiba dibinasakan dengan tidak terhormat untuk memenuhi rasa lapar dan uang.  Kadang kulitnya dimanfaatkan lagi buat berbagai benda. 

Tidak, saya tidak peduli orang mau bilang bahwa itulah kebutuhan dasar manusia.  Hewan karnivora berburu untuk kebutuhannya, memang benar.  Tapi dia berburu tidak setiap hari, kan? Coba kalau manusia.  Binatangnya dikumpulin, sengaja dipaksa berkembang biak, tempatnya juga belum tentu layak, lalu dia dibunuh, kadang tanpa rasa, tanpa lapar kepepet, demi penghasilan saja.  Bisa kita bayangkan, betapa gelisahnya hewan-hewan di ternak ini setiap saat, dalam suasana siap dijagal kapan saja? Saya sih nggak kuat membayangkannya.  

Oke, gini deh.  Rasionalnya, sih, kalau berpikir secara ilmiah, hewan-hewan punya manfaat di alam.  Ya sebagai bagian dari rantai makanan hewan lain, juga untuk melindungi alam sendiri.  Binatang sekecil kupu-kupu saja kan membantu menaburi serbuk sari supaya bunga bisa mekar.  Siapa yang menikmati indahnya bunga-bunga? Kita, manusia, sebagai makhluk pemilik estetika!

Orangutan juga menyebarkan biji-biji sambil akrobatik dari pohon ke pohon, makanya hutan hujan bisa subur marsubur begitu! Lalu hutan ini menjadi penyerapan air, penguat tanah, sumber oksigen.  Siapa yang menikmati hasilnya? Kita, manusia, serta seluruh makhluk hidup lainnya.  

Semua, semua unsur dalam kehidupan, ada fungsi dan tugasnya masing-masing, kayak manusia ada profesinya sendiri-sendiri! :) 

Kalau sudah begini, saya emang mau jadi vegan aja.  Yah, walau suatu hari saya akan pelihara guguk, dan guguk nggak mungkin bisa hidup tanpa makan daging karena sudah wayahnya, tapi setidaknya saya sendiri nggak mau makan atau memakan sesuatu hasil kesakitan, ketakutan, dan teror! 

Saya bukan orang yang pintar bikin alasan.  Soalnya seringkali bikin prinsip berdasarkan dorongan hati saja.  Tapi, ya, saya cinta binatang.  Dan saya mau membela mereka.  Dan ini prinsip, lain lhoo, sama ide impulsif sesaat doang.  

Yuk, kita sayangi binatang-binatang, dan, jangan dibodohi oleh ketamakan ya! 



 


Biarkan gambar bicara :)

Selasa, 16 Juli 2013

Gajah, Saya Cinta Kamu, dan Seisi Dunia Seharusnya Juga Cintai Kamu


Sudah dengar tentang pembantaian gajah bernama Papa Genk di Sumatra? Carilah hashtag #RIPPapaGenk atau #RipPapaGenk di Twitter.  Dan bersiaplah untuk tergerak.  Mungkin diawali dengan tangis atau amarah, atau jijik jika melihat fotonya.  

Tapi sekarang benar-benar sudah saatnya tindakan dimulai.  Manusia-manusia tertentu sudah sangat keterlaluan.  Apa salah mereka? Untuk apa gading gajah diburu? Untuk apa uang banyak tetapi nyawa dihabisi?

Mari mulai cintai mereka, dan lupakan kekerasan.  Hapus kekerasan sejak dini, terutama di usia anak-anak.  Jangan biasakan anak-anak hidup melihat yang sadis.  

Kenapa film keras tidak disensor, sementara sebuah kecupan selalu disensor di televisi sini? Jelas itu membuat anak-anak berpikir bahwa kekerasan itu wajar, kecupan itu haram.  

Dan mereka terbiasa marah, berontak, bukan memeluk atau merangkul. 

Memang sih nggak nyambung dari nasib gajah saya jadi bicara sosial.  Tapi saya rasa ini ada koneksinya lho.  Dan, tidak, bukan cuma tentang gajah.  Bagaimana tentang orangutan dan hewan lain, sampai semut dan kecoa yang sering dipencet tanpa dia berbuat salah? 

Manusia, kenapa kita dibutakan oleh uang? Itu hanya kertas dan logam! Kita butuh uang, tetapi jika uang membuat kita kehilangan rasa, kitalah yang sudah terlalu terikat padanya.

Mari berdoa untuk arwah Papa Genk, keluarga yang ditinggalkan, baik keluarga gajahnya dan keluarga manusia yang dia sayang dan mengasihinya.  

God bless your soul, Papa Genk.  :'( 


Senin, 08 Juli 2013

Laraskan Pikiran dan Imajinasi, Ini Hasilnya

Ketika kau merencanakan sebuah cipratan emosi di karya fiksimu, 

dan merangkainya, 

lalu tanpa sadar kau membuatnya terlalu sepenuh hati,

hingga apa yang kau tulis menjadi searah dengan kenyataan.

Apalah makna kebetulan ajaib ini? 


Jumat, 31 Mei 2013

Saya Merasa Dicintai

Petang, langit lembayung, dan jalan raya menghimpit menyesakkan hati.  
Perut berkruyuk, tanda saya lapar.  

Dan, ya, momen itu dilanda pula oleh perasaan sebal.  Oleh karena dunia asmara sedang menunjukkan labirin ajaib lagi.  

Setelah saya pikir semuanya akan berjalan lancar di penghujung tahun, sesudah saya rasa tahun ini akan meluruskan lagi apa yang sudah berbelok, tiba-tiba alur dibengkokkan.

Benar sekali apa kata Ayah.  Juga Ibu.  

Ayah bilang, "Kamu terlalu bingung karena mendapat kiriman pilihan yang begitu banyak."

Sedang Ibu malah berkata, "Kamu itu perempuan, tunjukkan kalau kamu perlu dilindungi."

Tepat sekali apa yang mereka tuturkan.  Sesuai apa yang saya pikirkan tentang pilihan-pilihan saya.  Dan saat ini saya sedang benar-benar tak tahu mesti bertingkah macam apa.  

Bulan-bulan  belakangan mengalun tanpa kejelasan.  Seakan semua sengaja digantung di langit dan saya harus berpikir keras.  

Namun senja ini menghadiahkan saya cinta.  Cinta yang universal dan tak terjelaskan.   Ya, di jalan yang sepi dan mulai temaram, seorang tak dikenal menyapa saya.  Saya kira dia salah satu juru ojeg depan komplek.  

"Pulang, Teh?"

"Iya," jawab saya tersenyum bingung.  

"Dari mana? Kok nggak bawa gitar?"

Setelah merenung sedetik, saya langsung tahu maksud dia Devika.  Dia pasti salah satu pengamat saya saat menunggu angkot, dan kadang saya bawa Devika.  Devika bukan gitar, tetapi biola alto.   Namun perhatiannya membuat saya trenyuh.  

Saya pun pulang dengan senyuman.  Setelah bertegur sapa dengan pak satpam, bapak-bapak lain di sekitar rumah saya, orang-orang baik itu, baik yang berkumis atau tidak.  

Perhatian kecil dari orang yang tak disangka, membuat saya lupa bahwa barusan saya lapar dan putus asa.  Harapan pun memanjat di hati.  Saya rasa, dunia asmara tidak akan menyodorkan labirin yang terlalu rumit.  Asal saya sabar, tenang, dan tetap menghujani dunia dengan cinta yang saya miliki, saya akan sampai padamu, wahai Entah yang Mana yang Akan Kupanggil dengan Panggilan Sayang Berupa Nama Sayur.  

:) 

 Je t'aime, le monde! 

et

pour toi,

je te manques 

xoxo  





Kamis, 16 Mei 2013

Kesayangan ♫♪♥

Buku anak-anak memang selalu menarik hati.  Walau sejujurnya saya masih lebih respek dengan buku anak-anak buatan Eropa atau Amerika atau Jepang, karena ilustrasinya dikerjakan sepenuh hati, dan ceritanya juga mangkreng.  

Buku anak-anak di Indonesia masih terus menerus membahas moral dan disiplin, yang sebenarnya bukan hal jelek, tapi lama-lama jadi nggak penting karena kebanyakan.  Tetapi cerita anak-anak sini kurang unsur cinta dan senang-senangnya--yang sebenarnya adalah dunia bocah yang sesungguhnya.  
Kalau urusannya cerita daerah, sih, beda lagi.  Malah ada satu seri cerita daerah yang menurut saya gambarnya bagus-bagus.  Eh, ternyata ilustratornya memang sudah 'suhu' semua, alias sudah senior.  Jadi memang matang deh gambarnya.  :)  Tapi untuk kisah-kisah baru, saya belum begitu puas sama produk buku anak-anak Indonesia.  Apalagi ilustrasinya kadang serba digital, instan, sehingga tidak tampak 'menyatu'.  Jadi kurang menyenangkan saja.  :')  

Suatu hari, saya menemukan buku ini di Bandung Book Center, Giant, PHP (Pasteur Hyper Point): 

Emang kelihatan konyol. Tapi itulah kelebihannya. Ini buku emang konyol banget isinya. Sampulnya aja yang alim. Sekedar konyol? Nggak! Ceritanya menyentuh banget, lho! Cenderung absurd, sih. Jadi dua makhluk amfibi ini bersahabat, dan ada beberapa peristiwa lucu yang membuat mereka semakin akrab.  
Misalnya, salah satu sakit, yang satu ingin merawat dan ceritanya sih mau ngedongengin biar seru.  Tapi saking nggak dapet-dapet ide, dia sampe jungkir balik, jeduk-jedukkin kepala ke tembok, banjur muka pake air, sampe akhirnya dia pusing sendiri, temen yang sakit sembuh, dianya malah pusing lalu tertidur pulas.  :)) 

Lainnya? Si Frog/Toad (saya lupa yang mana) sedih karena kotak suratnya selalu kosong, nggak ada yang kirim surat.  Lalu temannya nulisin surat buat dia, dan dia titipin ke siput.  Yah, namanya juga nitip ke siput, ya, kapan sampainya? Dia udah bilang ke temannya untuk menunggu surat datang di depan rumah, tetapi suratnya tak kunjung tiba sampai akhirnya ia mengakui bahwa ia mengirim surat.  Beberapa hari kemudian, setelah penantian yang lucu, suratnya pun tiba.  Hore! :D  

Masih ada beberapa cerita lainnya, tidak terlalu banyak, tetapi semuanya menarik. Mana disertai ilustrasi sederhana yang entah kenapa kocak banget.  :3

Tentu, tidak ada urusan moral-moralan dan didikan macem-macem di sini.  Tanpa unsur demikian pun, cerita ini sesuai buat anak-anak!  Selain lucu, kisahnya sederhana dan ngena banget. Persahabatan!   :) 

Punya buku-buku lucu yang direkomendasikan, Teman-Teman? :D 

Sedikit foto-foto kecil... 





keterangan: 
un Kumpulan oleh-oleh dari seorang teman :) Terima kasih, ya! 
deux Saya pake aksesoris rambutnya Bershka, yang entah kenapa supereklektik dan asyik. 
troit Si aksesoris rambut dalam sorotan.