sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label Bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bumi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

Jeruk Jeruk di Rak, Mana di Antara Kalian yang Adalah Limau?


Sebetulnya, sampai sekarang saya belum bisa benar-benar yakin, 
mana yang lemon, limau, nipis, dan purut.  
Harus lebih banyak belajar soal jeruk-jerukan.  


Dan, es krim Rasa Bakery & CafĂ© itu istimewa rasanya.  Walau ini foto lama.  Hihihi. :D 

Apa kabar kalian? 

Saya baru menuntaskan ujian piano Gr.5 versi Yamaha.  Ujiannya sudah.  Hasilnya belum.  
Semoga lulus, deh. 

Rabu kemarin, saya baru ganti senar Lai Maheswari.  Sudah karatan soalnya.  
Sekarang suaranya empuk dan mendalam! Jadi semangat berlatih dan main sama Lai, nih.  

Saya bikin post baru di Citraramya.  Silakan dibaca. :D 

Hmm.  Oh ya.  Saya sedang membiakkan apel dan pir.  Semoga saja bisa tumbuh dan suatu hari tidak perlu beli pir impor.  Hehehe.  


Rabu, 22 April 2015

Bumi Berpesta!



Hore, hore!

Merasa Membeli Limbah

Pernah nggak sih, pergi ke pasar swalayan yang besar, kemudian sakit kepala? Eh? Karena banyak yang mau dibeli tapi takut dompet jebol?

Dulu mungkin begitu.  Tapi sekarang bukan. 

Entah sejak kapan, saya mulai pusing dengan banyaknya barang yang saya timbun di rumah, juga deretan produk di toko-toko. Semua begitu berjumlah massal, identik, mending kalau desain kemasannya indah-indah--lah ini sih kurang ya menurut saya, belum lagi ditambah desak-desakan manusia yang rakus ingin membawa pulang semuanya. Ditambah pula, badai keresek dan plastik yang terjadi di kasir, dobel-dobel pula!

Pas kecil, pengalaman pergi ke swalayan memang seru.  Banyak benda yang bisa dibaca dan dilihat.  Saya juga masih suka masuk swalayan tentunya, tapi jadi pilih-pilih, yang mana yang nyaman dan barangnya tertata baik.  




gambar pinjam dari sini

Well, tapi bukan itu sih yang mau saya omongin.  Begini lho, 80% produk di swalayan, biasanya berbahan aneh-aneh.  Aneh? Misalnya durian isi roket Neptunus? Yaa. Semacam itu. :p 

Misalnya, ya, minyak kelapa sawit dicampur BHA, BHT, pewarna, bahan berpotensi bikin sakit aneh-aneh, garam, dan mungkin formula rahasia.  Apa namanya? Margarin! 
Atau...gula ditambahi kakao bubuk, pengental, pengawet sintetis, dan tambahan pemanis buatan.  Apakah itu? Susu coklat! 
Mau lagi? Deterjen ditambah amonia dan pengental, pewangi, pengawet, aroma sintetis, ekstrak minyak nabati atau buah / bunga. Tapi katanya bisa membuat kulit, harum, melembapkan.  Apa itu? Sabun cair dan body lotion
Kemudian fluoride, tambah deterjen, 

Apa omongan saya kelewat aneh? Hmm...saya rasa, semuanya bisa dicek dan dipelajari sambil membaca komposisi yang tertera di banyak produk, kok. Silakan berpetualang di pasar swalayan favorit! :D 

Belakangan, sih, lumayan deh.  Banyak perusahaan dan industri yang mulai memikirkan Sang Bumi.  Bahan diganti, alternatif natural bermunculan, kemasan lebih ramah, dan sebagainya.  

Cuma, harganya belum terlalu mudah dijangkau khalayak ramai! Masalahnya itu.  Mungkin buat beberapa kalangan tidak masalah.  Tapi, dominasi masyarakat kan lebih suka mendapatkan barang yang murah, mudah didapat, dan ketersediaannya terjamin.  Secara naluri, ya saya juga gitu.  Mencari kosmetik berbahan aman, minuman kotak yang organik, air kelapa yang tidak dibubuhi pemanis buatan dan penstabil, susu nabati alami, sampo tanpa busa, dan hal-hal ajaib lainnya lumayan sulit.  Toko yang menyediakan masih sedikit.  Untungnya, lokasinya sampai saat ini cukup mudah terjangkau. Oh, dan swalayan banyak memberi iming-iming diskon, beli satu dapat sepuluh, dan segalanya! Membuat kita jadi membawa terlalu banyak barang daripada yang kita butuhkan!

Oh ya, kalau kita membeli secara grosir dan udahnya kadaluarsa dan kita buang begitu saja? Boros banget! Limbah! Dan, siapa yang senang sih melihat deretan barang teronggok di lemari dan debuan?

Bagaimana dengan bahan segar seperti buah, sayur, dan daging? Nah, ini juga masalah baru.  Buah-buah yang disediakan di supermarket tuh banyak yang impor.  Lihat saja apel, pir, jeruk, banyak yang impor--dan lebih populer.  Memang Indonesia nggak punya produk buah? Ya tentu saja punya! Kita negeri tropis yang kaya! Harga juga pasti lebih terjangkau, kualitas lebih segar berhubung belum diimpor secara lintas benua.  Kita kan tidak bisa menjamin buah-buah impor disiram pengawet karena di rak masih cantik begitu. Lagipula, kasihan petani-petani lokal, mereka berjuang tapi nggak kita hargai. 

:D  

Daging dan sayuran sih masih lumayan banyak yang lokal. Cuma, soal daging, saya tidak merasa daging-daging supermarket atau pasar organik terlokal pun sumbernya ramah hewan.  Ya, secara memang industri mematikan hewan judulnya. :P 

Zaman modern ini, manusia memang percaya, harusnya kita semakin modern dan canggih.  Tapi, apa kecanggihan harus bermuara pada hal-hal serba tamak? Bukan! Justru, kita harus mencapai titik balik menyadari kembali baiknya kearifan lokal.  Membeli buah dan sayur di pasar lokal (lebih bagus lagi kalau organik), membuat bahan-bahan pembersih sendiri dari bahan-bahan sederhana (karena, percaya saya deh, ini bisa banget, cuma butuh rajin dikit!), juga mendidik diri supaya membaca komposisi produk dan telaten mencari alternatif jika perlu.  Misal, minyak goreng kelapa sawit diganti minyak kedelai.  Karena, ehm, industri kelapa sawit cukup kejam sama perhutanan. :'( 

Oh iya, di pasar-pasar kecil, kita juga lebih mudah mengatur diri.  Bisa bawa tas sendiri dan menolak kreseknya sambil bilang, "Jangan Bang, nanti sampah...nanti penyu keselek." -> kalau diucapkan tiap hari, lama-lama Abang Sayur pasti berhenti bawa keresek. 

Nah, kalau di pasar kecil atau pedagang keliling, biasanya jarang disediakan sayur bungkus berlapis styrofoam dodol itu. Soalnya, mana kita tahu, berapa jumlah racun yang sudah terlepas ke dalam buah / sayur /daging yang dikemas berlama-lama di situ? :p

Juga, kita dapat berbicara langsung dengan penjual dan tahu persis kondisi produk yang kita beli.  Sebetulnya itu hak pembeli.  Belakangan kita memang dicuci otak untuk percaya iklan-iklan megakece yang mengutamakan keren, massal, murah, isi dan resiko ditanggung sendiri. Lalu kita beli sepenuh kepercayaan. Ditanya-tanya, jawabannya membual.  XD 

  
gambar pinjam dari sini 


 


Kalau belanja lokal, kita juga membesarkan negara, lho.  Bukan cuma pariwisata atau pendapatan industri dagang yang bisa memperkaya negara.  Tapi rasa bangga warganya, juga ikatan kuat antarmasyarakat.  Berjalan bersama toh, lebih mengasyikkan daripada sendirian mengarungi hebohnya perputaran ekonomi dan politik dunia, kan? 

Oh ya, asyik juga kalau bisa menanam banyak bahan pangan di rumah sendiri. :D Dijamin kita toh tidak akan tega menyemprot pestisida beracun ke tanaman yang sudah tahu akan kita makan, kan? 

Niscaya, Indonesia kembali sejuk dan bahagia seperti ini, walau ini contoh ekstrimnya. :D 

gambar asli buatan saya

Gimana, masih pengen ke swalayan dan rusuh belanja selagi diskon? Dipikir-pikir lagi, deh! Tuh, dipanggil Abang Tukang Sayur di depan! :D 

 
 


 




 











Selasa, 06 Januari 2015

Baru Juga Awal Pekan Januari, Semua Sudah Terjadi!

Apa yang terjadi? Oh, cuma beberapa benda kecil yang bermunculan di sekitar saya! Dan senangnya, ini barang-barang alternatif plastik.  Ramah lingkungan, terjangkau, dan lebih bahagia lagi, ada yang jual di Indonesia.  Paling penting kan itu. :p 

Yuk kita tengok, apa sih yang saya maksud: 

Apa tuh? Kotak bekal? Yap.  Tapi bukan dari plastik yang seperti biasanya.  Bahannya besi antikarat. Alias stainless steel. Stainless.  Bebas noda.  Bebas karat.  Oke, bahan gunting, sendok, garpu... 
Tadinya saya pikir bakal harus mencari yang jual ECOlunchbox ini mati-matian.  Ada sih, yang jual, di lapak barang-barang bayi.  Tetapi...udah nggak suplai lagi! Krak. Alhasil saya nyerah sementara.  Eh, tiba-tiba, di hari pertama Januari 2015, saya menemukan kotak seperti ini di Borma! TOSERBA BORMA KITA TERCINTA! Bukan merek ECOlunchbox, bahkan stikernya pake tulisan Mandarin yang nggak saya pahami.  Tapi intinya, modelnya, bentuknya, bahannya, sama persis! Senang sekali! <3 font="" nbsp="">


Nah, intinya, lebih baik si besi tipis ini daripada plastik! Kenapa? Pertama, lebih kece.  Kedua, gak sebandel plastik kalau udah sampe tanah. Ya, memang pasti makin oke kalau bahan kotak bekal kita bambu, tapi belum ada yang buat. Dan belum tentu nampung cairan dengan sempurna.  Yah, caranya akan kita pikirkan, oke? 

Bicara soal bambu, benda berikutnya yang mau saya bahas adalah...JENG JENG. 



Sikat gigi, Ning? Benar.  Sikat gigi dari bambu! Tanpa sadar, kita udah nyampah berapa kilo plastik ya seumur hidup? Dari sikat gigi doang! Sedih nggak sih, ngebayangin ada penyu keselek sikat gigi kita, misalnya? Nah, kebanyakan sikat gigi bambu ini bisa terurai di tanah dengan senangnya, bahkan bulunya walau sintetis, dia disesuaikan dengan susunan molekul tanah sehingga...sungguhan biodegradable

Nyari barang-barang 'antik' gini di Indonesia susah? Nggak lagi! Momentum pasar mengarah ke peranti-peranti yang lebih ramah lingkungan nih. Semoga karena kesadaran, bukan akibat tren doang.  

Kemarin, dengan kagetnya saya nemu tagar #sikatgigibambu di Instagram.  Rupanya ada penjualnya di situ.  Alamatnya @flumboecolifestyle.  Biar sekalian, saya kasih tautan ke toko Facebook mereka.  KLIK DI SINI!  Markasnya di Jakarta, dan adminnya sangat baik hati.  Sikat gigi bambunya bakal stok dua minggu lagi.  Mereka sedia 3 merek: Enviromental Toothbrush, Go Bamboo, dan Brush with Bamboo


Selain sikat gigi, siapa lagi sih buronan sumber-sedak-burung-camar kita? Ah.  Sedotan.  Sedotan plastik, kurus, mungil, lucu, bening, tapi sayang limbah dan jumlahnya kolosal.  Sebagai alternatif, ada beberapa spesies sedotan yang sudah diproduksi di dunia.  Sedotan dari kertas (yang biasanya bermotif manis-manis), dari besi antikarat (biasanya udah bentuk bengkok. Lucu banget lho dan enteng plus enak dipakai!), kaca (oke banget, sayangnya ribet dan takut pecah di jalan), dan terakhir...bambu.  



BAMBU.  Dan saya bisa beli di Toko Organic Bandung.  Senangnya! Kalau butuh jumlah banyak, yah, saya bakal beli yang kertas.  Ada di toko dekat situ juga, Widely Project. Saya seperti dikelilingi peluang-peluang hebat!

Jadi, 2015 Pekan Awal, terima kasih untuk kebahagiaannya! Aneh memang, tapi patut disyukuri, berhubung saya tak kuasa memproduksi semua alternatif plastik sendiri, kecuali...tas belanja atau bungkus makanan kain? Hihihi. 










Selasa, 20 Mei 2014

Saya Di Sini!

Ups, karena keasyikan bikin ini dan itu, saya lupa ngasuh blog-blog! Tapi, saya sempat mengapikkan blog fiksi saya.  Ayo main ya ke sini, bagi tukang baca sekalian: CETAKCETIK. 


Nah, kabar hijau dan senang apa yang saya punya, ya? :D
Oke, perkembangan terakhir sih cuma sampai saya meresmikan peluncuran gelar Rumtarian sejati saya! Eh, mungkin maksudnya...pescaterian-ovotarian! Karena saya mengenyahkan menu unggas dari makanan yang saya lahap, terhitung sejak Hari Bumi kemarin! 
Memang sih, godaannya lebih besar dari sekedar nggak makan hewan berkaki empat.  Kenapa? Karena bagaimana pun, olahan ayam enak-enak... *nangis*  Bayangin aja ayam rebus hainan, ayam goreng krispi, ayam woku, ayam hijau kantin A (teringat Yahya) ! Tapi demi kesejahteraan ayam-ayam di dunia, saya akan berusaha berbuat baik sama mereka dan nggak mendukung pembunuhan ayam secara kejam! :D 

Oh iya, selamat Hari Bumi! ;) 

Roar! Salam hijau!

Saya juga buka lapak garage sale, saudara-saudara.  Silakan meng-klik ikon di bawah ini: 

http://facebook.com/hurayagaragesale

Segitu saja obrolan hari ini! Tetap hijau dan gembira, teman-teman. :)


Sabtu, 29 Maret 2014

Mencari Tambatan Hati


Tambatan hati? 
Wah, kenapa, Ningrum? Apakah ini pos edisi Malam Minggu? :p
Memang, sih, lagi Malam Minggu.  Dan saya galau.  Bukan mikirin pacar, tapi suami! Nah lho, kedengerannya serius ya? Bener kok, saya serius. 
Saya sedang mencari...telepon seluler.  
Tumben, saya ngomongin gadget! Iya, karena Blackberry saya soak nih, belakangan.  Ditambah lagi, kebutuhan mobile online saya makin membengkak, karena aktif di berbagai jejaring sosial.  Isi kepala juga saya juga nambah terus, berhubung aspirasi dan inspirasi ngededet-dedet. 

Termasuk sekarang, saya sedang penuh pikiran! Saya pingin sekali-kali memiliki telepon genggam yang betul-betul saya idam-idamkan.  
Kalau zaman dulu, pas SD-SMP, ketika anak-anak baru mengenal (dan punya) hape, saya tergila-gila sama dua macam handphone berikut:

Sony Ericsson T100 yang mini


Nokia 7210 si cantik <3 i="">



Nah, tapi itu, sepuluh tahun yang lalu! (Kok saya menua ya?) HP pertama saya muncul dari langit kelas sembilan kemarin.  Nokia flip yang (pada masa itu) kece.  Saya sayang sama dia, sampe setia selama nyaris delapan tahun! 

Nokia 3115
Selama masa pakai Nokia Buka-Tutup ini, saya sempat juga dihibahin seonggok handphone dari si Abang alias kakak saya.  Lumayan, punya satu nomor GSM, berhubung CDMA agak ribet. Plus, ada kameranya! :D 

Nokia 6300


Sayang, hape imut yang saya kasih silikon merah jambu itu lenyap di kendaraan umum.  Entah jatuh atau dicolong.  Yah, saya pasrahkan saja dia dan kembali bercengkrama dengan Nokia Buka Tutup.  Tapi, beruntungnya, di tahun 2012 tepat sebelum nonton Keane di Jakarta kemarin itu, seorang teman papa memberikan saya hape anyar trendi yang sedang hip, yaitu: 

Blackberry Curve 9220 :)
Seperti kata orang-orang, memang praktis sekali hidup dengan ponsel-pintar alias Vidoran Smart, eh, smartphone.  Namun, Blackberry agak lemah baterainya.  Tapi, seriuslah, menggunakan Blackberry Messenger, Whatsapp, Line, dan lainnya, sungguh membantu jalur komunikasi, terutama kalau butuh cepat dan praktisnya. :D

Apalagi, kameranya itu! Bukan kamera sempurna, tapi sangat sukses menemani hari-hari saya...sampai suatu waktu saya pingin punya Instagram karena saya pebisnis visual (halah) yang obsesinya besar untuk menyelamatkan Bumi dan jerapah dari kekacauan kosmik. 

Saya punya iPod (turunan dari sang kakak) buat kegiatan Instagram-an, tetapi, kameranya, bagi saya, kurang sempurna untuk selera saya, dan kalau motret malam-malam gelap, nggak keruan. :')  Saya suka sekali peranti pemutar lagu dan perekam produksi Pak Steve Jobs ini.  Saya selalu cinta sama AppleBerhubung saya nggak ilmiah, jangan pernah tanya kenapa, ya.  Saya kan kalau kesengsem sesuatu, agak suka-suka.  
Tapi, kalau harus merunut argumen saya, hm, mungkin karena :

Logo apel pada produk Apple sangat ganteng.  Produknya didesain dengan hati.  Steve Jobs menuntut desain yang bagus.  Pembawaan iOS tampilannya sedap dipandang. Praktis.  Cepat.  Compact.  Dan otentik.  Mahal? Iya, emang, tapi siapa yang bisa bilang itu mahal sih, kalau kualitas yang didapat sebanding? 

Oke, ini agak menyimpang dari topik Mencari Tambatan Hati kita. :D Jadi, berhubung Blackberry mulai agak tua, dan saya juga ingin bisa Instagram-an di mana-mana, nggak mengandalkan jaringan nirkabel, saya pun menetapkan bahwa saya ngidam ini sekarang: 

iPhone 5 putih 32 GB :D
Sekian dan terima kasih.  Saya pingin banget! Hahaha.  Karena dengan satu hape indah ini, saya bisa mengaktifkan jejaring sosial saya tanpa kepentok kamera sedih, ketidaktersediaan wi-fi, dan tampilan yang lebih nyaman ditonton, dan akses yang mudah, serta...anyway, itu si Apel.  Saya naksir si Apel habis-habisan.  Bahkan gebetan utama saya, julukannya Si Apel.  Bukannya asyik, seandainya saya punya Apel dan mendapatkan si Apel? *lalala

Sudahlah.  Saya mulai ngantuk tampaknya.  :") 

Barusan, saya menulis ini di tengah lampu gelap, karena sedang merayakan Jam Bumi! :D Yap, siapa yang matiin peralatan elektronik tadi pas Earth Hour? Selamat menunaikan Earth Hour tadi! Semoga kita makin sadar untuk hemat energi.  Karena kita sayang Bumi, kan? 

:*

Rabu, 19 Maret 2014

Gandengan Tangan, Yuk !




































Oke, mari kita bergandengan tangan, dan saling menguatkan dulu sebelum baca cuap-cuap yang satu ini.  Kenapa?  Karena, kalau kalian merasakan hal serupa, pasti rasanya pingin dikasih dukungan.  :) 
Belum ngerti? Baiklah, saya sih cuma pingin sedikit ngomong berbusa-busa yang masih ada hubungannya sama pos berikut.  
Tapi, versi sekarang lebih mendalam, dan mungkin, segelintir manusia lain mengalami hal yang sama!

Memang topiknya apa, sih? 

Begini, kenapa gaya hidup hijau masih saja belum jadi tren sengetren punya iPad, misalnya? Menurut saya, berhubung banyak sandungan-sandungan sosialnya.  Saya beberin di sini, ya, curahan hati para alien Bumi pecinta lingkungan yang niat baiknya belum direstui

"Saya pingin klasifikasi sampah, tapi diomelin Ibu, karena katanya repot."
 Tenang, Kawan, ini masalah global.  Apalagi kalau kita memulainya di rumah yang banyak penduduknya, karena akan selalu ada pro dan kontra di mana-mana! Pokoknya, mari tabah dan bujuk Ibu dan ajari orang serumah untuk membedakan tempat sampah kamu.  Terus, yang paling penting, kalau di rumah memang cuma ada satu tempat sampah, ya, cari satu wadah lagi dong. Tunjukkan kalau tekadmu kuat. :D

"Nggak bisa bikin biopori, nih! Tiada lahan."
Saya juga belum punya biopori sampai sekarang. :'( Rumah saya di lantai dua, nggak bisa membuat lubang semeter.  Tapi, alternatif untuk mengembalikan sampah alami ke alam, masih banyak kok.  Coba saja Gugel 'cara membuat kompos tanpa lubang biopori'.  Udah banyak gurunya di sana.  Kalau saya, dengan sepenuh niat, saya manfaatkan saja tanah dan pot seadanya untuk menampung kulit pisang, bawang, cabai, biji tomat, dan semua yang nggak saya telan. Eh, beberapa bumbu dapur dan sayur malah tumbuh lho. :D 

"Ceritanya mau matiin listrik untuk Earth Hour.  Eh, si adik keukeuh pingin lihat kartun di tivi!"
Biarkanlah adikmu menonton dalam gelap, biar kayak bioskop.  Kasian, anak kecil sekarang kan butuh hiburan.  Kita semua pasti pingin menunaikan Earth Hour sempurna.  Tapi, hemat energi kan mestinya udah jadi hobi kita sehari-hari.  Kalau di hari-hari lain kamu boros listrik, lalu cuma inget buat nyimpen energi pas Jam Bumi, ya nggak ngaruh-ngaruh amat, sih. ;) 

"Hari ini nyodorin tas belanja kain ke juru kasir di toko.  Dia menatap dengan sangat aneh.  Kesel deh!"
Iya, saya pun keki digituin.  Tapi apa boleh buat.  Kan belum semua orang mengerti.  Setelah bertahun-tahun ngebiasain bertampang percaya diri dan menjinjing eco bag, saya mulai lebih cuek sama ekspresi-ekspresi mengejutkan mereka, kok.  Semangat!

"Tas belanjanya ketinggalan di rumah..."
Karena itu mari siapkan selalu tas belanja (kalau perlu tiga ukuran) di tas, biar kalau ada yang dibeli tiba-tiba, nggak merasa berdosa lagi.

"Tapi, kata Bapak, kita butuh kantong keresek buat buang sampah."
Memang kenyataannya begitu.  Apalagi, pengangkut sampah yang keliling biasanya nggak mau ngambil sampah kalau nggak dikantongin.  Rumit, ya? Padahal kita pingin mengurangi plastik, tapi butuh plastik.  Begini, deh.  Coba cari alternatifnya yuk. Buat sampah, pakailah karung beras kosong, atau kantung lain yang sudah dipastikan tunakarya.  Terus, kalau sampah organik sudah kita kelola di kebun dan tanah, kita kan nggak perlu tampung itu pakai plastik dulu.  Langsung saja bawa ke kebun.  Kantung plastiknya dihemat, buat sampah-sampah nonorganik. Setidaknya, dikurangi dulu sebelum bisa dihapus.  :)

"Pengelolaan sampah di Indonesia kan amburadul."
Betul, karena masyarakatnya belum sama rata, sama rasa.  Walau ngakunya gitu. :p Kalau semua orang kerjasama baik-baik, saya yakin pasti Indonesia berubah kok gaya ngurusin sampahnya.  Makanya, ayo gandengan tangan, kita koordinasi!

"Masalahnya, pemerintah kita nggak care!"
Tapi kita bakal keburu lenyap ditelan asap, plastik, dan kemarahan, kalau kita nungguin pemerintah doang.  Pemerintah kan cuma satu.  Kita banyakan.  Sepasukan.  Ayo, gerak duluan saja, nggak usah nunggu pemerintah.  Syukur-syukur, kita bakal merasakan pemerintahan yang lebih ramah lingkungan segera.  Semoga presiden baru kita sayang sama Bumi. :) 

"Ane bawa tumbler nih, gan.  Tapi bocor.  Buku-buku di tas pada basah."
Oh, itu masalah biasa.  Makanya pilih botol minum yang lebih terpercaya tidak bocor walaupun jungkir balik dan salto, ya.  Cuma, saya nggak mau memotivasi orang buat beli terlalu banyak botol minum, hihi, karena ujung-ujungnya pemborosan.  Untuk sementara, pakai saja tumbler bocor kita, tapi, digiwing di luar tas.  Oke? :D 

"Kak, aku baru belajar jadi vegetarian.  Tapi, ada yang ngomong: Vegetarian itu sayang binatang, kok makan makanannya binatang?"
Memang kami sayang binatang.  Dan kami makan makanan yang sama dengan para herbivora.  Apakah itu berarti kami merebut makanan mereka? Nggak.  Kami sih pingin mereka nggak dibantai dengan sadis aja.  Gitu.  Ngerti? :) *senyum miris* 

"Ngurangin polusi dengan sepeda memang asoy geboy.  Tapi, mana jalur sepedanya? Terus, kalau naik kendaraan umum, banyak copet!"
Sebagai anak angkot sejawat, saya juga sedih sih, karena transportasi di sini belum diberi sentuhan maestro sehingga bikin orang-orang ogah.  Dan, jalur sepeda susah dibikin karena jalannya udah penuh! Tapi, ingat hukum ekonomi nggak? Semakin banyak permintaan, penawaran akan menyesuaikan.  Jadi, perbanyak saja makhluk penghuni bus kota dan angkot, pasti tuh transportasi publik bakal makin hip dan dipermak biar trendi.  Ya nggak? ;) 

"Udah, hemat listrik, jangan kelamaan komputerannya!"
Oke, oke, sebentar, mau beresin pos buat blog dulu, supaya kita bisa menggalang rasa silih asih silih asuh.  Yuk, ajak teman-teman jadi alien Bumi yang setia! :D 

 

     

           

Rabu, 19 Februari 2014

Kampanye Kedua :)

Setelah cukup sukses hidup tanpa tisu beringus atau ingus yang butuh tisu, saya memutuskan untuk mulai menaruhnya di slot 'Kampanye Aman Berjalan', dan menambah target berikutnya.  

Kampanye yang satu ini lebih fokus ke kejiwaan.  Euleuh, kejiwaan? Terdengar epik, ye? 

Yap.  Sadar nggak sih, kita punya satu kebiasaan yang bentuk kata berimbuhannya: ngomel.  Kata dasar: omel.  Arti kata: mengeluh. Protes.  Menggerutu.  Konotasinya negatif.  
Apa yang kita sering omeli? Apa saja yang bikin kita kurang senang. Tapi, kita punya aksi ngomel yang cukup parah belakangan.  Namanya...


Ngomel tentang cuaca dan iklim.



Salahnya apa? Nggak salah.  Kita kalau kepanasan pasti komplain.  Kedinginan pusing.  Pancaroba, bikin pilek.  Hujan melulu, kena flu. Hujan abu, kelabu.  Hujan uang, bau! 
Wajar kalau kita ngomel, kan? Semua berdampak aneh buat badan dan mood.  
Apalagi sekarang kita sedang mengalami kenyataan bernama Perubahan Iklim alias Climate Change.  Cuaca harian semakin gonta-ganti, warna-warni.  Sehari bisa mengalami empat musim sekaligus.  Malah lima, ditambah pancaroba atau paceklik

Oke, ini lucu sih.  Konon katanya, perubahan iklim terjadi karena efek rumah kaca.  Nah, dari mana datangnya efek rumah kaca? Berbagai kegiatan manusia di Bumi (saya nggak perlu merinci apa saja, kan? Semua orang udah tau, kan diajarin di sekolah [diajarin lalu dihafalin doang].)! 
Udah ngerti maknanya? Kalau labilnya cuaca belakangan memang berawal dari keserakahan manusia, kenapa kita harus ngomel? Itu udah resiko alami, Nak, resiko alami!

Saya juga suka protes kalau terlalu terik, terlalu dingin, terlalu bersalju (walau belum pernah), terlalu ganteng, terlalu labil.  Tapi, saya baru sadar, harusnya saya nggak ngomel karena itu sudah resiko dari kelakuan kaum saya, manusia.  Iya, memang, pup sapi juga mengeluarkan gas metana.  Tapi siapa coba yang memutuskan bikin peternakan sapi massal di mana jumlah pupnya pun menjadi kolosal? Manusia, kan? 

Jadi, mulai sekarang, kurangi ngomel-cuaca, yuk? Mending kita pikirkan cara memperbaiki yang sudah kita rusak bareng-bareng ini.  :D 

Selamat Hari Rabu! :)

Jumat, 07 Februari 2014

Jus Alpukat dalam Botol

Karena biasanya beli jus alpukat sama dengan menambah satu limbah plastik berupa gelas dan tutup ditambah sedotannya, saya pun memutuskan membawa jus tersebut di dalam botol minum pribadi. 

Mengurangi satu sampah, apa artinya? Ya, suatu saat akan ada maknanya, kok. 

:) 

Selamat Hari Jumat, semua!


Selasa, 04 Februari 2014

Daftar Keinginan



Iya, bahasa gaulnya: wishlist. Saya juga bakal punya wishlist versi kosmetik, tapi itu buat citraramya.   Kalau di sini, saya mau ngedaftar hal-hal apa saja yang saya ingin coba di tahun ini.  Kalau kebiasaannya baik, semoga bisa dilanjutkan sampai tua, dan menurun ke anak cucu. 

Sekarang mari mulai merunut. 

1.  Bola Pencuci
Saya pingin banget cobain si EcoBall ini.  Sejenis bola pencuci yang isinya partikel keramik, ah, saya nggak pinter menjelaskan.  Intinya, pemakaian benda inovatif ini akan mengurangi pencemaran air, lingkungan, dan hemat! Bisa dipakai 3 tahun, katanya.  Tinggal celup di cucian, putar mesin, tadaa!

2.  Biopori
Saya memang tinggal di rumah yang mesti berbagi tanah sama beberapa pihak luar tak dikenal.  Tipenya mirip apartemen rumahan gitu.  Jadi saya nggak bisa pakai tanah di bawah seenaknya.  Tapi saya benar-benar mau menggali lubang dan bikin biopori! Pokoknya harus! Nanti biopori itu malah bisa dipakai bersama-sama tetangga lainnya.  Lebih banyak yang mengerti, lebih baik, kan? :)
3. Bikin pengharum ruangan dari bahan-bahan alami.
Misalnya minyak esensial.  Campur air distilasi, taruh di botol semprot.  Ah, pasti udara jadi segar! :D

4.  Kombinasi Gizi Seimbang
Saya mau memperbaiki pola hidup, tapi nggak diet. Memperbanyak buah dan sayur.  Dan saya akan memakan apa yang saya suka, selama saya tahu batasan dan mempertimbangkan apa yang masuk ke pencernaan.  Oh, dan saya kan nggak makan daging merah lagi. 
 5. Belanja lebih sedikit. 
Ketamakan sebenarnya cuma ilusi.  Kita bisa kok hidup terus-terusan membeli sampai keluar dari daftar kebutuhan.  Boleh saja menghibur diri dengan cemilan-cemilan lucu atau baju-baju menarik.  Tapi jangan kebablasan sampai jadi rakus! 

6. Membuat Lai Maheswari makin yahud.
Semoga biola alto ini semakin cantik saja svaranya.  Semua tergantung saya!


7. Menguasai Toccata karya Om Debussy
Lagi ini sangat, sangat, sangat, dan 100(sangat) keren.  Dan saya sudah mulai menghafal sembari memperbaiki tekniknya.  Saya ingin menguliknya sampai asyik! 


8. Merampungkan Naskah-Naskah Novel yang Tertunda
Ceritanya masih rahasia.  Tapi asal kalian tau, tahun ini saya mau luncurkan 3 naskah.  Satu yang pertama sudah pasti lanjutan novel saya sebelumnya, Cappuccino Paradise.  Tapi, 2 yang lain, ada deh! 


9. Mencintai.
Kita nggak boleh egois.  Jangan terus menuntut dicintai doang.  Belajarlah mencintai.  Saya akan mencintai semua yang ada di depan mata.  Semua orang.  Semua keadaan.  Segala barang yang saya punya! Iya, kalau kita mencintai, kita akan dicintai. 


10. Makin Kocak.
Terdengar nggak penting? Bagi saya, humor itu sesuatu.  Selama humornya nggak mengandung kekejaman atau penghinaan.  Saya sih suka humor kata-kata, atau humor kritis.  Saya ingin melatih kemampuan saya ngeguyon, supaya orang gembira ria kalau ada saya.  Kecuali saya ketemu orang yang lagi mau curhat sedih, ya, nggak mungkin saya ngebodor banyak-banyak.  Bisa-bisa dia ngacir karena tersindir! :D


Itulah daftar kepingin-kepingin saya.  Ada yang kembaran? ;)



Senin, 20 Januari 2014

Tenang, Semua Ada Solusinya :)





Hai, Para Alien Bumi yang Baik! Selamat siang! Tadinya saya mau pergi agak lama hari ini, tapi ternyata nggak jadi lama-lama, jadi saya balik ke depan komputer.  Sembari ngerjain pesanan-pesanan pernak-pernik, saya mau cerita-cerita sedikit. 

Yah, sebenarnya sih bukan cerita, seperti biasa ini pikiran saya yang kebanyakan dan harus ditumpahkan demi pencapaian misi-misi! 

Tapi mari kita mulai satu persatu, sekarang topik yang paling umum dulu, yaitu: 

Seperti yang sudah kita tahu, sekarang sudah waktunya selalu pakai reusable bag kalau belanja.  Memang repot.  Tapi tanpa sadar, kalau dibiasakan, nggak kerasa apa-apa kok.  Malah jadi budaya tersendiri, dan menambah rasa tanggung jawab.  Kalau dari kecil anak kita diajarkan bawa tas sendiri (atau, botol minum pribadi, kotak bekal, saputangan, dan semua benda yang menunda limbah), pasti dia sikap tanggung jawabnya besar, ayo dicoba, para orang tua muda! :D 

Nah, sekarang, budaya ini kadang bikin masalah tersendiri bagi kita para alien.  Ya nggak? Kadang, tas kita kurang, jadi, masih butuh keresek.  Atau, kadang ibu di rumah bilang, kereseknya ambil saja buat buang sampah.  Atau karena beli telur, kita butuh satu kantung buat melindunginya secara terpisah, yang ukurannya kecil.  Terus kita kan misahin belanjaan: sayur/buah yang basah, belum ada daging, lalu barang-barang berkemasan, dan sebagainya.   Kalau kita nggak telaten dan masih suka lupa...tenang, namanya jugaproses belajar.  Kalau omongan orang yang malah mendukung untuk nambah kantung plastik, atasi dengan senyum kece di wajah dan ketenangan.  Bilang aja kamu alergi plastik!

Lalu, gimana dengan kantung darurat yang ukurannya lebih kecil? Bikin saja, atau sesekali beli barang di toko yang memberi kita tas tisu ukuran mini.  Kalau saya biasanya ngumpulin tas kalau belanja dari toko Happy-Go-Lucky, karena bisa dipakai lagi.  :D

Tapi, saya baru kepikiran untuk membuat tas kecil sendiri yang bahannya lebih tebal supaya aman untuk telur.  Tas dari bahan tisu aman untuk benda-benda lunak macam baju atau perintilan, tapi kurang melindungi barang pecah belah.  Kalau sudah berhasil buat, saya kasih tutorialnya! :D

Oh iya, ini ada inspirasi dari keluarga yang...ah, pokoknya keren.  Ayo tengok ke sini dan semoga ketularan 4R mereka: refuse, reduce, reuse, recycle.  :D

Saya bercuap segitu dulu saja deh.  Selamat Hari Senin, ya! :)
 
 
 

Senin, 16 Desember 2013

Kampanye!

Saya lagi kampanye lho! :) 

Kampanye apa? Ya jelas bukan kampanye mau jadi pemimpin daerah atau pun negara. Tak pula kampanye ketua OSIS atau HIMA, secara saya nggak terlibat dalam kongsi pendidikan mana pun kecuali les-lesan saja.  

Kampanye saya bukan untuk jadi pemimpin, tapi justru sebagai pembelajaran leadership diri sendiri.  Supaya tetap kuat dan semangat mewujudkan cita-cita saya!

Cita-cita apa? 
Itu, merasakan tinggal di Planet Bumi yang lebih asri, bersih, dan bersahaja! :D 
Selama masih jadi penduduk Bumi, harus bertanggung jawab dong.  

Nah, ini ceritanya saya mau bagikan program kampanye saya sebagai penghuni planet yang baik.  Walau belum sempurna dan sedikit demi sedikit perlu revisi, saya akan coba ajak kalian semua wahai pemudi pemuda maupun lansia untuk ikut serta dalam program saya yang lucu! 

Oke, Program Planet #1 yang sedang saya usahakan habis-habisan adalah: 
MENGURANGI PEMAKAIAN KERTAS TISU 

Saya prihatin dengan pemborosan diri sendiri dan orang lain dalam penggunaan si tisu unyu ini.  Sepupu saya pakai tisu biasanya cuma seujungnya dikit, lalu dibuang.  Saya emang kalau buang ingus di tisu, sampai tisunya nyaris jadi bubur kertas.  Namun jika ingus banyak keluar, ya, sama aja kan banyaknya? Sampah sudah terlalu banyak di atas Bumi, yuk, kurangi dikit-dikit sembari ditunda produksi limbahnya.  ;) 

Kertas tisu kan kertas? Apa salahnya? Dia nanti hilang di tanah nggak kayak plastik, kan? Nggak juga.  Kertas tisu bagaimana pun sudah mengandung zat-zat pemutih, ya seperti kertas tulis/gambar kita. Kasihan tanah.  Lagipula, semakin banyak kita pakai dan dukung, makin banyak produksi, tambah bejibun pohon yang ditebang! Lagipula kenapa juga ya kita harus pakai tisu banyak-banyak? Masih ada lap dan saputangan di muka Bumi ini, yang tidak harus dibuang kecuali sudah berubah jadi kebun jamur dan lumut.  

Ngelap ingus pakai saputangan kayak orang-orang tua? Masih zaman? 
Ibarat tren, zaman pun berputar.  Tisu memang hebat, dia bikin semuanya jadi praktis, bersihin apapun, ngelap ingus, keringat, jadi gampang dan tinggal buang.  Tapi, dia dikemas dalam plastik, jadi semakin sering beli tisu sama dengan apa? Jawab sendiri ya. ;) 
Nah, kalau kasusnya ingus dan keringat, sesungguhnya sederhana buanget lho! Dua cairan tersebut bisa kering.  Nanti kalau sudah nggak keruan, baru kita cuci saputangannya. 
Malu kalau bawa-bawa ingus di tas? Kan ingusnya di bagian dalam, lipat saja supaya yang tampak luar saputangan cantiknya.  Dalemnya ingus, siapa yang peduli...

Serius?
Iya, serius! Yuk, kita bawa saputangan aja mulai sekarang. :) 

Untuk kasus-kasus heboh macam minyak tumpah di meja atau lainnya, gimana?
Nah, kalau benar-benar tidak ada alat pengelap lain selain tisu di depan mata, boleh, sedikit aja tapi. Hanya untuk menyerap minyak, seandainya perkaranya tumpah minyak. 

Saputangan juga bisa jadi limbah kalau sudah rusak...
Tapi nggak secepat tisu kan usia pakainya! :D  

Ingat, tidak ada program yang langsung sempurna dan berdampak besar, karena ini urusan satu planet! Tapi kita akan mainkan sama-sama. Jadi, yuk, tetap optimis! :) 

Siapa siap ganti sepaket tisu isi sepuluh lembar/lebihnya dengan sehelai saputangan cantik/ganteng? :D 

 

       


Rabu, 16 Oktober 2013

10 Gejala Hijau





Sejauh apa saya mengusahakan hal-hal yang lebih baik bagi lingkungan hidup, juga kesehatan saya dan orang lain?  Istilahnya sih: green effort saya sudah sampai mana ya? Penasaran, saya pun iseng ngedaftar apa saja yang sudah saya terapkan dalam aktivitas sehari-hari yang sejalan dengan prinsip pelestarian alam dan kegembiraan para hewan.  Saya  akan tulis dengan Bahasa Campur Campur.  Karena usaha saya memang belum parfait.  Biar cocok.  Hehe. 

Oke, yuk kita daftar!

une Saya tidak pernah lagi memilih daging hewan berkaki empat sebagai pangan pagi/siang/malam/tengah malam.  Pokoknya nggak akan saya pilih.  Memang, ini langkah yang lumayan masih jauh dari keinginan saya untuk going vegan.  Tapi lumayanlah, karena tak hanya saya berhasil hidup tanpa daging hasil penjagalan menyakitkan para herbivora bermuka lucu itu, orang-orang di sekitar saya juga mulai ngerti untuk tidak memaksa saya makan mereka.  Semoga saya bisa lanjut ke tahap berikutnya, berhenti melahap hasil penyembelihan unggas (walaupun khusus bebek sih saya udah berhenti total!) sampai benar-benar tidak makan makhluk hidup dinamis alias satwa.  :) 

deux Tiap belanja, saya sudah benar-benar jarang bawa pulang barang + kreseknya.  Apapun yang bisa diusahakan supaya bebas plastik atau sampah pembungkus lainnya, saya benar-benar perhatikan.  Kalau ngasih-ngasih barang pun, saya suka ogah kasih pakai kresek.  Nanti kebiasaan! Mending nggak dibungkus sama sekali tapi dikasih pita, biar lebih unyu.  Atau alternatif lain, bungkus kain cantik yang terus bisa dijadikan, yah, minimal, lap!

trois Saya sudah nggak cuci muka pakai pembusa! Lho? Penting? Penting! Bahan dasar penghasil busa di produk pencuci muka, pada dasarnya sama: Sodium Laureth/Lauryl Sulphate.  Kalau kalian jeli, benda ini bisa ditemukan pula di sabun cuci piring, deterjen baju, sampo, odol.  Bayangin deh.  Lagipula, zat ini kurang ramah buat tanah dan air.  Lalu, gimana cara saya membersihkan muka? Saya bahas beberapa kali di sini.  Cari sendiri artikelnya di Archive ya! :)

quatre Laci saya penuh sampah.  Maksudnya? Ya itulah maksud saya.  Literally.  Laci saya penuh botol, kemasan, plastik bungkus, kertas...semuanya bekas ini dan itu.  Saya simpan karena sebetulnya masih bisa dipakai ulang.  Suatu saat, kalau butuh, saya nggak perlu beli bungkus atau botol kosong.  Stoknya banyak! :D 

cinq Bicara soal perawatan kulit di poin tiga tadi, saya juga beralih sebisa mungkin ke produk kepedulian-tubuh (alias body care) yang seluruh isinya alami dan nggak mengandung binatang atau berasal dari binatang (kecuali madu atau lilin lebah), kalau memungkinkan.  Kadang bahan sintetis masih baik, asal tahu yang mana dan sebanyak apa, serta fungsinya sesuai.  Saya juga nyari produk yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan sekaligus.  Sabun nyatu sama sampo.  Odol nyatu sama pelembap (tapi nggak mungkin sih, atau mungkin?).  Losion badan sama muka bisa satu doang.  Kenapa tidak? Dan kenapa mesti takut? Asal baca komposisi dan memahami, kita bisa lho hidup superduper irit tapi tetap kece dan wangi! :D Perlu ide? Cobalah dua merek yang sejauh ini saya bisa pakai dobel-dobel: Nicole's Natural dan Utama Spice.  Bingung males belanja? Buatlah sendiri! :)

six Saya hemat listrik! Belum terlalu gimana, cuma, setidaknya kalau ninggalin kamar, saya matikan lampu.  Kalau komputer dianggurin, saya matiin.  Jika charger nggak lagi isi daya, ya dicabut dan digulung kabelnya.  Energi listrik bisa kok kita hemat sebisa mungkin. :D 

sept Banyak bikin sendiri.  Kado.  Masker wajah.  Wadah ini itu. Gunakan barang bekas.  Saya sudah mulai kebiasaan.  Kalau ditanya: apakah sopan kamu pakai karton bekas buat bikin kartu ucapan? Atau kertas bekas jadi amplop? Kertas koran buat bungkus kado? Saya bilang sih, ah, selama kita sopan ke Bumi, semua jadi sah dan sopan! *ups, terdengar fanatik

huit Belanja sayur di tukang sayur.  Lebih sedikit bungkusan busa alias styrofoam yang dipakai, plastiknya juga lebih dikit.  TAPI, nah lho, ada tapinya ya! Kalau saya, saya selalu siapin kantong kain khusus buat belanja ke tukang sayur.  Sama aja bohong kalau tuh sayur mayur masuk keresek juga.  Udah mah dipakenya cuma dari gerobak ke dalam rumah yang nggak sampai sepuluh meter jaraknya atau satu menit waktunya, alias kebuang percuma, zat-zat di plastik bisa membuat sayur kita jadi beracun.  Jadi, jangan malu lagi buat nolak kantong plastiknya Mang Sayur ya! 

neuf Saya doyan naik angkot.  Sebetulnya memang pingin belajar nyetir mobil juga, soalnya, by reality, pergi malem-malem sendirian bawa Devika naik angkot juga bukan ide yang bagus.  Tapi, seenggaknya kalau siang, saya usahain bisa ikut kendaraan umum supaya nggak kebanyakan nyumbang polusi.  Semoga nanti pas saya bisa nyetir, bisa bermobil-ramah-lingkungan juga. :D 

dix Saya membagikan pesan.  Kalian yang pernah pesan novel saya, logi-logi Cappuccino Paradise, mungkin dapat bonus stiker, batas buku, dan sebagainya.  Itu asli nggak bikin saya belanja tambahan lho! Semuanya dari benda yang ada di rumah, malah barangkali bekas (no offense  ya!).  Stiker yang saya kasih, bermuatan pesan lingkungan hidup dari buku Acme Climate Action.  Saya nggak tahu dampaknya bakal sebagus apa nanti, semoga berdampak! Hehe.  

Sudah sepuluh nih! Sesuai tradisi.  Selain sepuluh di atas, saya juga membiasakan diri bawa botol minum sendiri.  Yap, saya punya tumbler KEANE soalnya.  Hihi.  Sekalian pamer *lho* 
Lalu apa lagi? Macam-macam, cuma, belum cukup konsisten, jadi saya rasa belum layak didaftar di sini. :))  Kalian juga semangat ya! 

Hal lainnya? Hm.  Saya pingin ngurangin delivery makanan, karena sampahnya buanyak.  Dari keresek luar, kadang dobel karena takut jebol, kemasan tiap makanan, every little acar dan sambel yang dipisah diplastikin satu persatu... Namun apa daya, kadang baik saya maupun Mama sama rempongnya nggak keburu siapin makan.  Sementara itu, para pria di rumah bukan pria dapur semua. :(  
Semoga saya makin jago masak dan punya waktu luang deh. 
Dan semoga suami saya nanti pinter masak. :p 

Ada lagi? Sementara itu dulu.  Yuk, kita hijaukan dunia yuk! Kasihan kan Bumi kalau sesak nafas melulu! :) 
Ngomong-ngomong, kalian sendiri, sejauh apa kalian membantu membuat lingkungan jadi lebih baik dan asyik (kita tahu kan, ini hal yang biasa banget dan wajib, sewajib bernafas)?