sepintas kecerewetan

Tampilkan postingan dengan label sayur mayur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sayur mayur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2016

Kesukaan Kita Semua


Entah kenapa, lagi doyan motret makanan dengan posisi rada miring gini. 
Dan di atas sana, ada oplosan pisang dan alpukat yang diblender lembut, dimakan dengan taburan meses. 
Sementara itu jambu batu segar dari Mang Sayur menunggu. 

Di bawah ini restoran kesukaan.  Bukan restoran, lebih seperti kedai--dia sih menyebut diri kafé.  
Namanya Kafé Kembang Jepun.  
Makanannya klasik, unik, dan enak! 
Saya sih selalu makan bubur kacang ijo / ketan item / jali-jali / campur.  
Hari ini, diiringi secangkir bajigur hangat di cangkir kuning yang semriwing manis. 


Dan pulang dari acara musik-musikan, 
nemu tanda kocak ini di depan BTC : 



Rabu, 22 April 2015

Merasa Membeli Limbah

Pernah nggak sih, pergi ke pasar swalayan yang besar, kemudian sakit kepala? Eh? Karena banyak yang mau dibeli tapi takut dompet jebol?

Dulu mungkin begitu.  Tapi sekarang bukan. 

Entah sejak kapan, saya mulai pusing dengan banyaknya barang yang saya timbun di rumah, juga deretan produk di toko-toko. Semua begitu berjumlah massal, identik, mending kalau desain kemasannya indah-indah--lah ini sih kurang ya menurut saya, belum lagi ditambah desak-desakan manusia yang rakus ingin membawa pulang semuanya. Ditambah pula, badai keresek dan plastik yang terjadi di kasir, dobel-dobel pula!

Pas kecil, pengalaman pergi ke swalayan memang seru.  Banyak benda yang bisa dibaca dan dilihat.  Saya juga masih suka masuk swalayan tentunya, tapi jadi pilih-pilih, yang mana yang nyaman dan barangnya tertata baik.  




gambar pinjam dari sini

Well, tapi bukan itu sih yang mau saya omongin.  Begini lho, 80% produk di swalayan, biasanya berbahan aneh-aneh.  Aneh? Misalnya durian isi roket Neptunus? Yaa. Semacam itu. :p 

Misalnya, ya, minyak kelapa sawit dicampur BHA, BHT, pewarna, bahan berpotensi bikin sakit aneh-aneh, garam, dan mungkin formula rahasia.  Apa namanya? Margarin! 
Atau...gula ditambahi kakao bubuk, pengental, pengawet sintetis, dan tambahan pemanis buatan.  Apakah itu? Susu coklat! 
Mau lagi? Deterjen ditambah amonia dan pengental, pewangi, pengawet, aroma sintetis, ekstrak minyak nabati atau buah / bunga. Tapi katanya bisa membuat kulit, harum, melembapkan.  Apa itu? Sabun cair dan body lotion
Kemudian fluoride, tambah deterjen, 

Apa omongan saya kelewat aneh? Hmm...saya rasa, semuanya bisa dicek dan dipelajari sambil membaca komposisi yang tertera di banyak produk, kok. Silakan berpetualang di pasar swalayan favorit! :D 

Belakangan, sih, lumayan deh.  Banyak perusahaan dan industri yang mulai memikirkan Sang Bumi.  Bahan diganti, alternatif natural bermunculan, kemasan lebih ramah, dan sebagainya.  

Cuma, harganya belum terlalu mudah dijangkau khalayak ramai! Masalahnya itu.  Mungkin buat beberapa kalangan tidak masalah.  Tapi, dominasi masyarakat kan lebih suka mendapatkan barang yang murah, mudah didapat, dan ketersediaannya terjamin.  Secara naluri, ya saya juga gitu.  Mencari kosmetik berbahan aman, minuman kotak yang organik, air kelapa yang tidak dibubuhi pemanis buatan dan penstabil, susu nabati alami, sampo tanpa busa, dan hal-hal ajaib lainnya lumayan sulit.  Toko yang menyediakan masih sedikit.  Untungnya, lokasinya sampai saat ini cukup mudah terjangkau. Oh, dan swalayan banyak memberi iming-iming diskon, beli satu dapat sepuluh, dan segalanya! Membuat kita jadi membawa terlalu banyak barang daripada yang kita butuhkan!

Oh ya, kalau kita membeli secara grosir dan udahnya kadaluarsa dan kita buang begitu saja? Boros banget! Limbah! Dan, siapa yang senang sih melihat deretan barang teronggok di lemari dan debuan?

Bagaimana dengan bahan segar seperti buah, sayur, dan daging? Nah, ini juga masalah baru.  Buah-buah yang disediakan di supermarket tuh banyak yang impor.  Lihat saja apel, pir, jeruk, banyak yang impor--dan lebih populer.  Memang Indonesia nggak punya produk buah? Ya tentu saja punya! Kita negeri tropis yang kaya! Harga juga pasti lebih terjangkau, kualitas lebih segar berhubung belum diimpor secara lintas benua.  Kita kan tidak bisa menjamin buah-buah impor disiram pengawet karena di rak masih cantik begitu. Lagipula, kasihan petani-petani lokal, mereka berjuang tapi nggak kita hargai. 

:D  

Daging dan sayuran sih masih lumayan banyak yang lokal. Cuma, soal daging, saya tidak merasa daging-daging supermarket atau pasar organik terlokal pun sumbernya ramah hewan.  Ya, secara memang industri mematikan hewan judulnya. :P 

Zaman modern ini, manusia memang percaya, harusnya kita semakin modern dan canggih.  Tapi, apa kecanggihan harus bermuara pada hal-hal serba tamak? Bukan! Justru, kita harus mencapai titik balik menyadari kembali baiknya kearifan lokal.  Membeli buah dan sayur di pasar lokal (lebih bagus lagi kalau organik), membuat bahan-bahan pembersih sendiri dari bahan-bahan sederhana (karena, percaya saya deh, ini bisa banget, cuma butuh rajin dikit!), juga mendidik diri supaya membaca komposisi produk dan telaten mencari alternatif jika perlu.  Misal, minyak goreng kelapa sawit diganti minyak kedelai.  Karena, ehm, industri kelapa sawit cukup kejam sama perhutanan. :'( 

Oh iya, di pasar-pasar kecil, kita juga lebih mudah mengatur diri.  Bisa bawa tas sendiri dan menolak kreseknya sambil bilang, "Jangan Bang, nanti sampah...nanti penyu keselek." -> kalau diucapkan tiap hari, lama-lama Abang Sayur pasti berhenti bawa keresek. 

Nah, kalau di pasar kecil atau pedagang keliling, biasanya jarang disediakan sayur bungkus berlapis styrofoam dodol itu. Soalnya, mana kita tahu, berapa jumlah racun yang sudah terlepas ke dalam buah / sayur /daging yang dikemas berlama-lama di situ? :p

Juga, kita dapat berbicara langsung dengan penjual dan tahu persis kondisi produk yang kita beli.  Sebetulnya itu hak pembeli.  Belakangan kita memang dicuci otak untuk percaya iklan-iklan megakece yang mengutamakan keren, massal, murah, isi dan resiko ditanggung sendiri. Lalu kita beli sepenuh kepercayaan. Ditanya-tanya, jawabannya membual.  XD 

  
gambar pinjam dari sini 


 


Kalau belanja lokal, kita juga membesarkan negara, lho.  Bukan cuma pariwisata atau pendapatan industri dagang yang bisa memperkaya negara.  Tapi rasa bangga warganya, juga ikatan kuat antarmasyarakat.  Berjalan bersama toh, lebih mengasyikkan daripada sendirian mengarungi hebohnya perputaran ekonomi dan politik dunia, kan? 

Oh ya, asyik juga kalau bisa menanam banyak bahan pangan di rumah sendiri. :D Dijamin kita toh tidak akan tega menyemprot pestisida beracun ke tanaman yang sudah tahu akan kita makan, kan? 

Niscaya, Indonesia kembali sejuk dan bahagia seperti ini, walau ini contoh ekstrimnya. :D 

gambar asli buatan saya

Gimana, masih pengen ke swalayan dan rusuh belanja selagi diskon? Dipikir-pikir lagi, deh! Tuh, dipanggil Abang Tukang Sayur di depan! :D 

 
 


 




 











Kamis, 11 Desember 2014

Hore, Hore!

Salah satu tanggung jawab terbesar sebagai calon vegan adalah: kalau makan suka ngerepotin.  Lah? Kenapa? Ya, bayangin aja, di restoran, daftar pesanannya bisa demikian,

"Halo, Kak, pesan bubur ayam nggak pakai ayam ya!"
"Tapi harganya sama, nggak apa-apa?"
"Oke."

Nah, dialog seperti itu terjadi sering sekali di kehidupan saya--terutama di rumah makan.  Pecel lele nggak pakai lele? Fettuccine carbonara dagingnya ganti sayuran? Pokoknya, koki kafe pasti saya bikin ribet deh! Terus, paling lucu, 'kwetiaw goreng tanpa daging' mereka interpretasikan sebagai 'kwetiaw goreng nggak pakai ayam tapi pakai baso'.  Jadi mereka pikir, baso bukan daging.  Hahaha.  Entah saya harus ketawa atau nangis.

Keadaan begindang bikin saya merasa, salahnya bukan di restoran.  Bukan di saya juga. Bukan salah siapa-siapa memang.  Ini urusan tanggung jawab masing-masing.  Para pramusaji kan mempertanggung jawabkan tugasnya sebagai penyedia pangan bagi manusia yang datang.  Nah, karena makanan saya kriterianya riweuh, alhasil saya memutuskan menjadi pramusaji bagi diri sendiri.

Alias masak tiga kali sehari, gitu?

Ehm, belum segitunya sih.

Di rumah, kami langganan katering.  Jadi, mula-mula, saya harus makan sepenuh konsentrasi.  Karena kadang, di balik sawi-sawi hijau, ada suwiran daging ayam.  Di balik fuyunghai yang jingga, rupanya pakai ayam.  Di tengah sayuran tumis, ada ayam.  Kenapa di mana-mana ada ayam, sih? Kukuruyuk!

Nah, di luar hari-hari katering atau hari-hari ngafé, saya mau nggak mau harus masak.  Masak apa? Apa saja yang bisa dimakan oleh saya atau sekalian seisi rumah.  Sepupu saya doyan daging, tapi kalau dimasakkin sayuran, selama dia suka dan enak, ya dimakan.  Mama dan Papa sih senang-senang saja sama makanan aneh-aneh eksperimen saya.

Lalu di luar masak memasak? Saya juga mencoba bikin susu kacang.  Berhubung mau mengurangi susu sapi (lantaran itu jatahnya anak sapi, hei, bukan anak orang), saya jadi suka susu almond.  Tapi apa daya, 250 ml susu almond saja harganya 25.000-35.000an.   Mahal? Lumayan sih, kalau dijadikan konsumsi harian.

Alhasil, saya beli kacang almond saja, dan saya buat susu sendiri! Kapan-kapan saya buatin deh tutorialnya.  Gampang kok! Segenggam almond dan 1 liter air bisa untuk 900 ml susu.  Citarasanya? Tinggal modifikasi sendiri! ;)

Enak untuk dicampur granola atau muesli, dan dijamin sehat.


Sekian dulu apdetnya.  :D


Senin, 30 Juni 2014

Asal Tahu Saja, Ini Nggak Gampang Lho

Siapa bilang perjalanan jadi vegetarian itu mudah? 
Nggak segampang membalikkan telapak tangan, lho! :D
Mau tahu tantangan saya yang paling berat kala beranjak meninggalkan sumber pangan hewani yang (sejujurnya) lezat-lezat?


Satu. Saya doyan beef cordon bleu. Perpaduan keju dan smoked beef di dalam daging begitu nikmat.  Pas SD-SMP, saya pengagum berat teknik masak cordon bleu ini.  Kalau pun saya sudah beralih dari sapi ke ayam, tetap saja di dalamnya ada smoked beef! Jadi, saya benar-benar harus berpisah dengan cordon bleu manapun, sampai suatu saat bisa bikin cordon bleu jamur atau tahu. 

Dua. Makanan-makanan cepat saji kebanyakan dibuat dari ayam dan sapi.  Lihat saja Hoka-Hoka Bento, KFC, McDonald, A & W, dan teman-temannya.  Memang sih ada alternatif seperti ikan, udang, cumi--yang saya masih bisa lahap sampai batas waktu yang ditentukan. Tapi, kebanyakan menu enaknya, sih, olahan daging ayam-sapi.  Contoh: beef yakiniku, ayam goreng krispi, cheese burger.  Yah, itu kenyataan kok.  

Tiga. Masakan daerah Indonesia dominan daging.  Saya suka kangen sama ayam pop ala Padang, bebek betutu gaya Bali, bebek goreng.  Ah, masakan-masakan berbumbu itu. Dan satu lagi, ayam hainan juga enak!  
Bersyukur sih, penganan Padang masih menyediakan sayur nangka, terong, perkedel jagung, daun singkong--tak ketinggalan kuah kuningnya yang lezat.  Dan masakan Sunda juga banyak sayur serta lalapan.  Masakan Bali? Yang penting ada sambal bawangnya. <3 nbsp="" span="">

Empat. Saya nggak suka terong dan tahu! Bukannya benci, tapi nggak terlalu doyan.  Demikian juga dengan tomat bongkahan. Tapi toh saya melalui tahap perubahan dan sekarang mulai terbiasa dengan makanan-makanan tawar itu. :p Lagipula, tahu tuh enak banget, dan tomat sehat. 

Lima. Restu orang tua butuh waktu. Memang awal-awal suka dikhawatirkan akan kekurangan gizi, sih.  Terutama sama Mama.  Tapi, sekarang malah didukung.  Kalau ada makanan berdaging, Mama nanya, apa aku mau makan atau enggak.  Jika memesan makanan tanpa daging di restoran, Mama ikut menimpali, "Iya, jangan pakai daging, nih anak vegetarian."
Padahal belum sampe jadi vegetarian juga, tapi udah didukung.  Terharu. :') 


Petualangan menuju vegetarian memang berat untuk anak Indonesia--terutama karena ketersediaan makanan nabati yang lezat cukup jarang--apalagi, definisi lezatnya kan macem-macem! :D 

Tapi kalau mengingat wajah para binatang yang polos itu, saya jadi pingin terus berjuang.  Nggak ada poinnya lho, menyembelih hewan secara massal cuma demi menyumpal perut.  Kalau bicara gizi, sesungguhnya banayk sekali gizi tersembunyi di antara asupan-asupan nabati di sekitar kita! Apalagi di Indonesia yang kaya raya ini.  

Selamat Berpuasa bagi yang menunaikan! ;D