Sabtu, 29 Maret 2014

Mencari Tambatan Hati


Tambatan hati? 
Wah, kenapa, Ningrum? Apakah ini pos edisi Malam Minggu? :p
Memang, sih, lagi Malam Minggu.  Dan saya galau.  Bukan mikirin pacar, tapi suami! Nah lho, kedengerannya serius ya? Bener kok, saya serius. 
Saya sedang mencari...telepon seluler.  
Tumben, saya ngomongin gadget! Iya, karena Blackberry saya soak nih, belakangan.  Ditambah lagi, kebutuhan mobile online saya makin membengkak, karena aktif di berbagai jejaring sosial.  Isi kepala juga saya juga nambah terus, berhubung aspirasi dan inspirasi ngededet-dedet. 

Termasuk sekarang, saya sedang penuh pikiran! Saya pingin sekali-kali memiliki telepon genggam yang betul-betul saya idam-idamkan.  
Kalau zaman dulu, pas SD-SMP, ketika anak-anak baru mengenal (dan punya) hape, saya tergila-gila sama dua macam handphone berikut:

Sony Ericsson T100 yang mini


Nokia 7210 si cantik <3 i="">



Nah, tapi itu, sepuluh tahun yang lalu! (Kok saya menua ya?) HP pertama saya muncul dari langit kelas sembilan kemarin.  Nokia flip yang (pada masa itu) kece.  Saya sayang sama dia, sampe setia selama nyaris delapan tahun! 

Nokia 3115
Selama masa pakai Nokia Buka-Tutup ini, saya sempat juga dihibahin seonggok handphone dari si Abang alias kakak saya.  Lumayan, punya satu nomor GSM, berhubung CDMA agak ribet. Plus, ada kameranya! :D 

Nokia 6300


Sayang, hape imut yang saya kasih silikon merah jambu itu lenyap di kendaraan umum.  Entah jatuh atau dicolong.  Yah, saya pasrahkan saja dia dan kembali bercengkrama dengan Nokia Buka Tutup.  Tapi, beruntungnya, di tahun 2012 tepat sebelum nonton Keane di Jakarta kemarin itu, seorang teman papa memberikan saya hape anyar trendi yang sedang hip, yaitu: 

Blackberry Curve 9220 :)
Seperti kata orang-orang, memang praktis sekali hidup dengan ponsel-pintar alias Vidoran Smart, eh, smartphone.  Namun, Blackberry agak lemah baterainya.  Tapi, seriuslah, menggunakan Blackberry Messenger, Whatsapp, Line, dan lainnya, sungguh membantu jalur komunikasi, terutama kalau butuh cepat dan praktisnya. :D

Apalagi, kameranya itu! Bukan kamera sempurna, tapi sangat sukses menemani hari-hari saya...sampai suatu waktu saya pingin punya Instagram karena saya pebisnis visual (halah) yang obsesinya besar untuk menyelamatkan Bumi dan jerapah dari kekacauan kosmik. 

Saya punya iPod (turunan dari sang kakak) buat kegiatan Instagram-an, tetapi, kameranya, bagi saya, kurang sempurna untuk selera saya, dan kalau motret malam-malam gelap, nggak keruan. :')  Saya suka sekali peranti pemutar lagu dan perekam produksi Pak Steve Jobs ini.  Saya selalu cinta sama AppleBerhubung saya nggak ilmiah, jangan pernah tanya kenapa, ya.  Saya kan kalau kesengsem sesuatu, agak suka-suka.  
Tapi, kalau harus merunut argumen saya, hm, mungkin karena :

Logo apel pada produk Apple sangat ganteng.  Produknya didesain dengan hati.  Steve Jobs menuntut desain yang bagus.  Pembawaan iOS tampilannya sedap dipandang. Praktis.  Cepat.  Compact.  Dan otentik.  Mahal? Iya, emang, tapi siapa yang bisa bilang itu mahal sih, kalau kualitas yang didapat sebanding? 

Oke, ini agak menyimpang dari topik Mencari Tambatan Hati kita. :D Jadi, berhubung Blackberry mulai agak tua, dan saya juga ingin bisa Instagram-an di mana-mana, nggak mengandalkan jaringan nirkabel, saya pun menetapkan bahwa saya ngidam ini sekarang: 

iPhone 5 putih 32 GB :D
Sekian dan terima kasih.  Saya pingin banget! Hahaha.  Karena dengan satu hape indah ini, saya bisa mengaktifkan jejaring sosial saya tanpa kepentok kamera sedih, ketidaktersediaan wi-fi, dan tampilan yang lebih nyaman ditonton, dan akses yang mudah, serta...anyway, itu si Apel.  Saya naksir si Apel habis-habisan.  Bahkan gebetan utama saya, julukannya Si Apel.  Bukannya asyik, seandainya saya punya Apel dan mendapatkan si Apel? *lalala

Sudahlah.  Saya mulai ngantuk tampaknya.  :") 

Barusan, saya menulis ini di tengah lampu gelap, karena sedang merayakan Jam Bumi! :D Yap, siapa yang matiin peralatan elektronik tadi pas Earth Hour? Selamat menunaikan Earth Hour tadi! Semoga kita makin sadar untuk hemat energi.  Karena kita sayang Bumi, kan? 

:*

Rabu, 19 Maret 2014

Gandengan Tangan, Yuk !




































Oke, mari kita bergandengan tangan, dan saling menguatkan dulu sebelum baca cuap-cuap yang satu ini.  Kenapa?  Karena, kalau kalian merasakan hal serupa, pasti rasanya pingin dikasih dukungan.  :) 
Belum ngerti? Baiklah, saya sih cuma pingin sedikit ngomong berbusa-busa yang masih ada hubungannya sama pos berikut.  
Tapi, versi sekarang lebih mendalam, dan mungkin, segelintir manusia lain mengalami hal yang sama!

Memang topiknya apa, sih? 

Begini, kenapa gaya hidup hijau masih saja belum jadi tren sengetren punya iPad, misalnya? Menurut saya, berhubung banyak sandungan-sandungan sosialnya.  Saya beberin di sini, ya, curahan hati para alien Bumi pecinta lingkungan yang niat baiknya belum direstui

"Saya pingin klasifikasi sampah, tapi diomelin Ibu, karena katanya repot."
 Tenang, Kawan, ini masalah global.  Apalagi kalau kita memulainya di rumah yang banyak penduduknya, karena akan selalu ada pro dan kontra di mana-mana! Pokoknya, mari tabah dan bujuk Ibu dan ajari orang serumah untuk membedakan tempat sampah kamu.  Terus, yang paling penting, kalau di rumah memang cuma ada satu tempat sampah, ya, cari satu wadah lagi dong. Tunjukkan kalau tekadmu kuat. :D

"Nggak bisa bikin biopori, nih! Tiada lahan."
Saya juga belum punya biopori sampai sekarang. :'( Rumah saya di lantai dua, nggak bisa membuat lubang semeter.  Tapi, alternatif untuk mengembalikan sampah alami ke alam, masih banyak kok.  Coba saja Gugel 'cara membuat kompos tanpa lubang biopori'.  Udah banyak gurunya di sana.  Kalau saya, dengan sepenuh niat, saya manfaatkan saja tanah dan pot seadanya untuk menampung kulit pisang, bawang, cabai, biji tomat, dan semua yang nggak saya telan. Eh, beberapa bumbu dapur dan sayur malah tumbuh lho. :D 

"Ceritanya mau matiin listrik untuk Earth Hour.  Eh, si adik keukeuh pingin lihat kartun di tivi!"
Biarkanlah adikmu menonton dalam gelap, biar kayak bioskop.  Kasian, anak kecil sekarang kan butuh hiburan.  Kita semua pasti pingin menunaikan Earth Hour sempurna.  Tapi, hemat energi kan mestinya udah jadi hobi kita sehari-hari.  Kalau di hari-hari lain kamu boros listrik, lalu cuma inget buat nyimpen energi pas Jam Bumi, ya nggak ngaruh-ngaruh amat, sih. ;) 

"Hari ini nyodorin tas belanja kain ke juru kasir di toko.  Dia menatap dengan sangat aneh.  Kesel deh!"
Iya, saya pun keki digituin.  Tapi apa boleh buat.  Kan belum semua orang mengerti.  Setelah bertahun-tahun ngebiasain bertampang percaya diri dan menjinjing eco bag, saya mulai lebih cuek sama ekspresi-ekspresi mengejutkan mereka, kok.  Semangat!

"Tas belanjanya ketinggalan di rumah..."
Karena itu mari siapkan selalu tas belanja (kalau perlu tiga ukuran) di tas, biar kalau ada yang dibeli tiba-tiba, nggak merasa berdosa lagi.

"Tapi, kata Bapak, kita butuh kantong keresek buat buang sampah."
Memang kenyataannya begitu.  Apalagi, pengangkut sampah yang keliling biasanya nggak mau ngambil sampah kalau nggak dikantongin.  Rumit, ya? Padahal kita pingin mengurangi plastik, tapi butuh plastik.  Begini, deh.  Coba cari alternatifnya yuk. Buat sampah, pakailah karung beras kosong, atau kantung lain yang sudah dipastikan tunakarya.  Terus, kalau sampah organik sudah kita kelola di kebun dan tanah, kita kan nggak perlu tampung itu pakai plastik dulu.  Langsung saja bawa ke kebun.  Kantung plastiknya dihemat, buat sampah-sampah nonorganik. Setidaknya, dikurangi dulu sebelum bisa dihapus.  :)

"Pengelolaan sampah di Indonesia kan amburadul."
Betul, karena masyarakatnya belum sama rata, sama rasa.  Walau ngakunya gitu. :p Kalau semua orang kerjasama baik-baik, saya yakin pasti Indonesia berubah kok gaya ngurusin sampahnya.  Makanya, ayo gandengan tangan, kita koordinasi!

"Masalahnya, pemerintah kita nggak care!"
Tapi kita bakal keburu lenyap ditelan asap, plastik, dan kemarahan, kalau kita nungguin pemerintah doang.  Pemerintah kan cuma satu.  Kita banyakan.  Sepasukan.  Ayo, gerak duluan saja, nggak usah nunggu pemerintah.  Syukur-syukur, kita bakal merasakan pemerintahan yang lebih ramah lingkungan segera.  Semoga presiden baru kita sayang sama Bumi. :) 

"Ane bawa tumbler nih, gan.  Tapi bocor.  Buku-buku di tas pada basah."
Oh, itu masalah biasa.  Makanya pilih botol minum yang lebih terpercaya tidak bocor walaupun jungkir balik dan salto, ya.  Cuma, saya nggak mau memotivasi orang buat beli terlalu banyak botol minum, hihi, karena ujung-ujungnya pemborosan.  Untuk sementara, pakai saja tumbler bocor kita, tapi, digiwing di luar tas.  Oke? :D 

"Kak, aku baru belajar jadi vegetarian.  Tapi, ada yang ngomong: Vegetarian itu sayang binatang, kok makan makanannya binatang?"
Memang kami sayang binatang.  Dan kami makan makanan yang sama dengan para herbivora.  Apakah itu berarti kami merebut makanan mereka? Nggak.  Kami sih pingin mereka nggak dibantai dengan sadis aja.  Gitu.  Ngerti? :) *senyum miris* 

"Ngurangin polusi dengan sepeda memang asoy geboy.  Tapi, mana jalur sepedanya? Terus, kalau naik kendaraan umum, banyak copet!"
Sebagai anak angkot sejawat, saya juga sedih sih, karena transportasi di sini belum diberi sentuhan maestro sehingga bikin orang-orang ogah.  Dan, jalur sepeda susah dibikin karena jalannya udah penuh! Tapi, ingat hukum ekonomi nggak? Semakin banyak permintaan, penawaran akan menyesuaikan.  Jadi, perbanyak saja makhluk penghuni bus kota dan angkot, pasti tuh transportasi publik bakal makin hip dan dipermak biar trendi.  Ya nggak? ;) 

"Udah, hemat listrik, jangan kelamaan komputerannya!"
Oke, oke, sebentar, mau beresin pos buat blog dulu, supaya kita bisa menggalang rasa silih asih silih asuh.  Yuk, ajak teman-teman jadi alien Bumi yang setia! :D 

 

     

           

Senin, 17 Maret 2014

Keriting!

Karena banyak proyek, akhirnya keriting sendiri.  Tapi tak apa, keriting bisa membawa kegembiraan tersendiri, kok! :D 


Selasa, 04 Maret 2014

Hari Alam Liar Sedunia! (kemarin)


Semoga kita mau bertanggung jawab kepada kehidupan seluruh penghuni Semesta tercinta ini <3 br="">