Senin, 23 Desember 2013

Dua Puluh Dua

Terima kasih, untuk semua yang berputar di sekitar saya, untuk kasih sayang yang menghujani saya, dan terima kasih karena menerima cinta yang saya bagikan. :) 

Saya sangat bahagia dengan keberadaan kalian, wahai manusia, satwa, dan alam! Senang berjumpa dan bercengkrama selama 22 tahun ini.  Mari lanjutkan kebersamaan kita. 


<3 br="">

Senin, 16 Desember 2013

Kampanye!

Saya lagi kampanye lho! :) 

Kampanye apa? Ya jelas bukan kampanye mau jadi pemimpin daerah atau pun negara. Tak pula kampanye ketua OSIS atau HIMA, secara saya nggak terlibat dalam kongsi pendidikan mana pun kecuali les-lesan saja.  

Kampanye saya bukan untuk jadi pemimpin, tapi justru sebagai pembelajaran leadership diri sendiri.  Supaya tetap kuat dan semangat mewujudkan cita-cita saya!

Cita-cita apa? 
Itu, merasakan tinggal di Planet Bumi yang lebih asri, bersih, dan bersahaja! :D 
Selama masih jadi penduduk Bumi, harus bertanggung jawab dong.  

Nah, ini ceritanya saya mau bagikan program kampanye saya sebagai penghuni planet yang baik.  Walau belum sempurna dan sedikit demi sedikit perlu revisi, saya akan coba ajak kalian semua wahai pemudi pemuda maupun lansia untuk ikut serta dalam program saya yang lucu! 

Oke, Program Planet #1 yang sedang saya usahakan habis-habisan adalah: 
MENGURANGI PEMAKAIAN KERTAS TISU 

Saya prihatin dengan pemborosan diri sendiri dan orang lain dalam penggunaan si tisu unyu ini.  Sepupu saya pakai tisu biasanya cuma seujungnya dikit, lalu dibuang.  Saya emang kalau buang ingus di tisu, sampai tisunya nyaris jadi bubur kertas.  Namun jika ingus banyak keluar, ya, sama aja kan banyaknya? Sampah sudah terlalu banyak di atas Bumi, yuk, kurangi dikit-dikit sembari ditunda produksi limbahnya.  ;) 

Kertas tisu kan kertas? Apa salahnya? Dia nanti hilang di tanah nggak kayak plastik, kan? Nggak juga.  Kertas tisu bagaimana pun sudah mengandung zat-zat pemutih, ya seperti kertas tulis/gambar kita. Kasihan tanah.  Lagipula, semakin banyak kita pakai dan dukung, makin banyak produksi, tambah bejibun pohon yang ditebang! Lagipula kenapa juga ya kita harus pakai tisu banyak-banyak? Masih ada lap dan saputangan di muka Bumi ini, yang tidak harus dibuang kecuali sudah berubah jadi kebun jamur dan lumut.  

Ngelap ingus pakai saputangan kayak orang-orang tua? Masih zaman? 
Ibarat tren, zaman pun berputar.  Tisu memang hebat, dia bikin semuanya jadi praktis, bersihin apapun, ngelap ingus, keringat, jadi gampang dan tinggal buang.  Tapi, dia dikemas dalam plastik, jadi semakin sering beli tisu sama dengan apa? Jawab sendiri ya. ;) 
Nah, kalau kasusnya ingus dan keringat, sesungguhnya sederhana buanget lho! Dua cairan tersebut bisa kering.  Nanti kalau sudah nggak keruan, baru kita cuci saputangannya. 
Malu kalau bawa-bawa ingus di tas? Kan ingusnya di bagian dalam, lipat saja supaya yang tampak luar saputangan cantiknya.  Dalemnya ingus, siapa yang peduli...

Serius?
Iya, serius! Yuk, kita bawa saputangan aja mulai sekarang. :) 

Untuk kasus-kasus heboh macam minyak tumpah di meja atau lainnya, gimana?
Nah, kalau benar-benar tidak ada alat pengelap lain selain tisu di depan mata, boleh, sedikit aja tapi. Hanya untuk menyerap minyak, seandainya perkaranya tumpah minyak. 

Saputangan juga bisa jadi limbah kalau sudah rusak...
Tapi nggak secepat tisu kan usia pakainya! :D  

Ingat, tidak ada program yang langsung sempurna dan berdampak besar, karena ini urusan satu planet! Tapi kita akan mainkan sama-sama. Jadi, yuk, tetap optimis! :) 

Siapa siap ganti sepaket tisu isi sepuluh lembar/lebihnya dengan sehelai saputangan cantik/ganteng? :D 

 

       


Jumat, 29 November 2013

Ini Kerjaan Bersama, Bos!





Menurut kalian, pekerjaan rumah tangga itu kewajiban siapa sih? Perempuan? Ibu? Bapak? Asisten rumah tangga? Kalau buat saya, urusan tetek bengek seperti cuci piring, baju, setrika, sapu rumah, ngepel, nyiram tanaman, belanja sayur, sampai ke pasang lampu, memang merepotkan. Walau begitu, sebetulnya ini kegiatan yang sudah seharusnya dilakukan oleh siapa pun tak terkecuali kaum pria lho!

Tapi, coba pikirkan lagi.  Kita kan menghuni sebuah rumah atau mungkin ruangan apartemen atau rumah susun atau kos.  Otomatis dan alami, kita harus mengurus rumah kita, kan? Bayangkan kalau kita malas dan nggak pernah bersih-bersih.  Alhasil, debuan, kotor, buluk! Kecuali kalian memang suka banget sama yang buluk-buluk, ya nggak apa-apa.  Cuma, dasarnya, kebersihan itu baik.  Apalagi kalau kita di kota, debu jalanan di mana-mana dan kita cenderung menyimpan banyak barang yang berpotensi menampung si debu-debu.  Lain cerita kalau rumah kita gubuk jerami di pedalaman hutan. :)) 

Terus nih, kita pakai baju dan baju tersebut mau nggak mau sedikit terkotori, atau kena noda bahkan.  Kalau dibiarkan terus, dia bakal jadi lapuk, warnanya berubah, dan bau! Makanya ada aktivitas mencuci baju di dunia.  Sejak zaman dulu lho, sebelum deterjen ditemukan (dan ternyata deterjen malah merusak lingkungan air, duh).  
Apa lagi? Makan.  Kita menggunakan peranti makan, toh? Masak juga.  Lalu apa salahnya mencuci benda-benda itu biar bisa dipakai lagi? Kalau tidak dibersihkan, sisa makanan di situ bisa-bisa mengundang bakteri, bahkan, euh, belatung.  
Benda-benda sekali pakai mungkin praktis.  Tapi sama aja.  Selain menuh-menuhin lapisan Bumi, kita sebetulnya cuma memindahkan kewajiban membersihkan ke pengurus limbah doang.  Sama aja dong! :D 

Nyiram tanaman? Ya bayangin aja, kalau nggak dirawat, nanti daun-daun hijau segar nan sehat untuk mata itu, jadi coklat kering dan menyedihkan.  

Masih banyak kok, tugas rumah tangga yang menanti kita.  Sekarang, yang mau saya obrolin adalah pembagiannya.  Di sini, budaya kita agak-agak ngeselin.  Masih banyak laki-laki nggak boleh masuk dapur sama ibunya.  Bahkan kerja rumah tangga juga dilarang.  Alasannya macam-macam, mulai dari kasihan, bukan tugas pria, atau mungkin merasa pekerjaan cowok di bidang ini nggak memuaskan.  

Menurut eke, ini benar-benar salah! Saya juga kalau bersihin ranjang masih suka dikritik Mama kurang rapi.  Apalagi kakak saya yang cowok, dia lebih berantakan lagi, tapi masih ada usaha.  Jadi sebetulnya kami sama-sama tidak profesional (karena biasanya yang sudah profesional memang Mama dan Papa).  Tunggu, Mama dan Papa?  Yep! Papa memang kalau masuk dapur cuma buat makan, ambil cemilan, atau bikin minuman dingin.  Bikin? Iya, Papa saya suka bikin sendiri minuman favoritnya.  Tapi, kadang Papa juga inisiatif beresin ranjangnya kalau Mama lagi nyiapin sarapan, atau, Papa yang belanja sayur ke pedagang lokal yang giring-giring gerobak. 

Oh, kita kembali ke topik.  Saya pernah marah sama anak-anak cowok saudara saya (termasuk kakak dan si adik sepupu) karena mereka nggak mau bantuin di dapur.  Lho, saya kan udah bantu Mama siapin makan.  Mereka ikut makan dan pakai perkakas makan.  Lalu, apa juga alasan mereka nggak mau cuci piring, ogah buang sampah, dan sebagainya? Apa mereka pikir setelah makan tugas mereka selesai dan boleh manja-manjaan lagi nonton televisi sementara mereka pikir perempuan sih harus kerja? OH, MAAF YA.  Itu nggak berlaku.  Itu terlalu kolonial.  Apalagi kalau mereka seharian cuma ngendon depan komputer nggak ngapa-ngapain! 

Marahinnya sih susah, nunggu mereka berubah juga lama.  Soalnya, budaya 'laki-laki adalah raja' sudah terlalu mengakar.  Sedangkan perempuan pun terlalu kemakan isu kalau dapur dan rumah tangga adalah urusan feminin! Mana ada! Rumah kan ditinggali bersama-sama, jadi semua harus mengurus bersama! 

Saya harap, kita mulai tegas sama cowok-cowok yang masih kolonial itu, supaya nggak dengan teganya bermalas-malasan nonton kita cuci piring, setidaknya kalau kita lagi cuci piring, dia lap meja makan, kek...

Apa hanya soal cuci piring? Masih banyak sih.  Pokoknya menurut saya, jangan biarkan laki-laki menjajah perempuan lagi! Laki-laki dan perempuan itu sederajat, jadi ya kerjaannya sama aja. Toh, sekarang perempuan juga bisa nyetir mobil dan antar jemput, bisa pasang Elpiji sendiri, bahkan ada yang jadi pengurus pipa air mungkin.  

Saya cinta Indonesia, tapi kalau tentang kesamaan hak dan kewajiban laki-laki-perempuan, saya mengimpor pemikiran Barat, hehe.  :) 

Segitulah curhat saya hari ini.  Selamat Hari Jumat! :D

Sabtu, 16 November 2013

Kekasih Baru :)

Selamat Malam Minggu, teman! 

Kalian pasti sudah familiar dengan nama Devika di blog ini, kan? Pernah nggak sih kalian kepo, siapa sebenarnya Devika? Beberapa orang sudah tahu siapa dia. Dia itu partner saya. ;)

Nah, belakangan, Devika sudah resmi punya adik! Iya, adik.  Tapi, asal muasal dan ayah mereka lain (ibunya sih, alam semesta kali ye).  Namanya Lai. Sudah pernah saya tulis di blog juga rupanya. Lebih mungil, suara lebih imut-imut, tapi mereka sama-sama keren.  Sebentar lagi, Devika akan dipinang oleh orang lain yang masih sekeluarga sama saya. 

Maka, saya sekalian mau kecup Devika dan bilang terima kasih untuk penyertaannya selama nyaris 5 tahunan ini.  Kamu sesuatu banget, Devika! Telah kau bawa saya ke mana-mana keliling kota.  Kamu sudah rela kehujanan, kepanasan, ketendang orang di angkot, kejeduk, dianggurin seminggu tapi nggak lagi pundung, kamu sudah dewasa, Nak.  :) 

Devika, selalu berbahagialah dan bawalah cinta saya ke mana-mana, oke? :D 

Oke.  Sekarang,  Lai, mari kita bersenang-senang! <3 nbsp="" span="">

Eh, kalian penasaran nggak sih, sebenarnya seperti apa tampang Devika dan Lai? Mari kita biarkan mereka tampil yuk. 

Jeng jeng, ini dia, perkenalkan, Devika dan Lai! 

 

Nah, sekarang, sekilas info saja.  Minggu ini saya lagi batuk.  Entah efek kebanyakan hujan atau overdosis gorengan, atau mungkin tersedak rosin.  Tapi saya batuk, malah pekan kemarin mah ditambah pilek segala.  

Terus saya minum Nin Jiom Pei Pa Koa alias Obat Batuk Ibu dan Anak.  Terbuat dari bahan-bahan pilihan, madu, herbal Cina, dan mestinya sih nggak pakai bahan kimia macem-macem.  Rasanya juga enak, kayak ceri dicampur madu kasih mentha piperita agar berefek semriwing dikit.  Baru tiga hari minum sehari dua-tiga sendok, eh, batuk saya udah mendingan aja lho! Jadi, teman-teman, ramuan Nin Jiom Pei Pa Koa sangat dianjurkan lho untuk disimpan di musim Langit-Nangis-Melulu ini. 

Oh, lalu, jangan lupa, kita cegah banjir yuk! Jangan buang sampah sembarangan ya. Makin kita nambah sampah dan menaruhnya seenak jidat, makin besar resiko banjir.  Oke? Ingat ya!

n.b.  Barusan saya sempat sakit kepala.  Lalu saya setel lagu Keane.  Eh, langsung sembuh! Apa ini sugesti atau karena lagu Keane cocok sama detak jantung saya ya? *iklan* 

 
 

Sabtu, 02 November 2013

Kamu

Dan aku kembali ke jalur menuju kamu.  

Semoga kali ini dengan kebijaksanaan yang lebih baik 

agar tidak menimbulkan badai. 

Selasa, 22 Oktober 2013

Cerita Bonbin

Saya baru liburan ke luar kota! Tujuan utamanya sih, merusuh di pernikahan kakak sepupu, Kak Nadia.  Tapi, ujung-ujungnya, tentu, saya cari kebon binatang.  Secara saya doyannya sama kebon binatang. 

Maka saya pun berangkat ekstra pagi ke Jawa Timur Park 2: Batu Secret Zoo & Museum Satwa.  Itu sepaket ceritanya.  
Ngomong-ngomong, saya ogah ah ke taman safari Surabaya. Masa mereka nyajiin RAWON RUSA!? Oalah, itu udah keterlaluan. :(( 

Sekalinya ke sana mungkin saya kampanye...

Oke, tapi, mari kita banjiri dulu halaman ini dengan banyak foto pas saya di bonbin: 

'prairie dog' nan unyu

Iguana

Iguana lagi!

Ini, ehm, saya, di hari sebelumnya sebelum pemberkatan nikah sepupu :) Pakai gaun keren dari Onlyi + sepatu jambu Inside & Side + blazer dan tas tanpa merek :D

Saya dan Mak Mi

Saya difoto sama kakak saya, karena katanya mirip Katy Perry (?) akibat riasan mata yang tebal rupawan. Di situ saya pake gaun bunga-bunga kece dari Luna Maya for Hardware.

saya + sepupu + kakak

Sepupu sepupu sepupu!

Kembali ke bonbin.

Iya, kalau nggak salah lihat, ada lemur!

Museum Satwa nan epik!

Ini kandang iya, ruang kelas juga, dan, tentu, lemur ada di dalamnya tapi tidur, malas sekolah!

Llama si lucu! <3 br="">







Llama. Dari sisi manapun, tetap menggemaskan!

Merak! Tuhan pasti lagi rajin pas menciptakan makhluk ini.


Keluarkan monyet itu dari kandang, atau saya takol!




Si Tutul :D


Nah, sesungguhnya, sampai situlah kamera saya bertahan.  Di tengah perjalanan dalam area bonbin, baterenya ngadat dan kamera pun pingsan. :'(  Maka saya pakai peranti lain buat mengabadikan wajah-wajah satwa di sana.  Untuk ngintip sebagian dari hasil jepretan saya yang lain, yuk main ke sini, ke Instagram saya! :D

Demikian dulu ceritanya, ya. Selamat Hari Senin!

Rabu, 16 Oktober 2013

10 Gejala Hijau





Sejauh apa saya mengusahakan hal-hal yang lebih baik bagi lingkungan hidup, juga kesehatan saya dan orang lain?  Istilahnya sih: green effort saya sudah sampai mana ya? Penasaran, saya pun iseng ngedaftar apa saja yang sudah saya terapkan dalam aktivitas sehari-hari yang sejalan dengan prinsip pelestarian alam dan kegembiraan para hewan.  Saya  akan tulis dengan Bahasa Campur Campur.  Karena usaha saya memang belum parfait.  Biar cocok.  Hehe. 

Oke, yuk kita daftar!

une Saya tidak pernah lagi memilih daging hewan berkaki empat sebagai pangan pagi/siang/malam/tengah malam.  Pokoknya nggak akan saya pilih.  Memang, ini langkah yang lumayan masih jauh dari keinginan saya untuk going vegan.  Tapi lumayanlah, karena tak hanya saya berhasil hidup tanpa daging hasil penjagalan menyakitkan para herbivora bermuka lucu itu, orang-orang di sekitar saya juga mulai ngerti untuk tidak memaksa saya makan mereka.  Semoga saya bisa lanjut ke tahap berikutnya, berhenti melahap hasil penyembelihan unggas (walaupun khusus bebek sih saya udah berhenti total!) sampai benar-benar tidak makan makhluk hidup dinamis alias satwa.  :) 

deux Tiap belanja, saya sudah benar-benar jarang bawa pulang barang + kreseknya.  Apapun yang bisa diusahakan supaya bebas plastik atau sampah pembungkus lainnya, saya benar-benar perhatikan.  Kalau ngasih-ngasih barang pun, saya suka ogah kasih pakai kresek.  Nanti kebiasaan! Mending nggak dibungkus sama sekali tapi dikasih pita, biar lebih unyu.  Atau alternatif lain, bungkus kain cantik yang terus bisa dijadikan, yah, minimal, lap!

trois Saya sudah nggak cuci muka pakai pembusa! Lho? Penting? Penting! Bahan dasar penghasil busa di produk pencuci muka, pada dasarnya sama: Sodium Laureth/Lauryl Sulphate.  Kalau kalian jeli, benda ini bisa ditemukan pula di sabun cuci piring, deterjen baju, sampo, odol.  Bayangin deh.  Lagipula, zat ini kurang ramah buat tanah dan air.  Lalu, gimana cara saya membersihkan muka? Saya bahas beberapa kali di sini.  Cari sendiri artikelnya di Archive ya! :)

quatre Laci saya penuh sampah.  Maksudnya? Ya itulah maksud saya.  Literally.  Laci saya penuh botol, kemasan, plastik bungkus, kertas...semuanya bekas ini dan itu.  Saya simpan karena sebetulnya masih bisa dipakai ulang.  Suatu saat, kalau butuh, saya nggak perlu beli bungkus atau botol kosong.  Stoknya banyak! :D 

cinq Bicara soal perawatan kulit di poin tiga tadi, saya juga beralih sebisa mungkin ke produk kepedulian-tubuh (alias body care) yang seluruh isinya alami dan nggak mengandung binatang atau berasal dari binatang (kecuali madu atau lilin lebah), kalau memungkinkan.  Kadang bahan sintetis masih baik, asal tahu yang mana dan sebanyak apa, serta fungsinya sesuai.  Saya juga nyari produk yang bisa dipakai untuk berbagai keperluan sekaligus.  Sabun nyatu sama sampo.  Odol nyatu sama pelembap (tapi nggak mungkin sih, atau mungkin?).  Losion badan sama muka bisa satu doang.  Kenapa tidak? Dan kenapa mesti takut? Asal baca komposisi dan memahami, kita bisa lho hidup superduper irit tapi tetap kece dan wangi! :D Perlu ide? Cobalah dua merek yang sejauh ini saya bisa pakai dobel-dobel: Nicole's Natural dan Utama Spice.  Bingung males belanja? Buatlah sendiri! :)

six Saya hemat listrik! Belum terlalu gimana, cuma, setidaknya kalau ninggalin kamar, saya matikan lampu.  Kalau komputer dianggurin, saya matiin.  Jika charger nggak lagi isi daya, ya dicabut dan digulung kabelnya.  Energi listrik bisa kok kita hemat sebisa mungkin. :D 

sept Banyak bikin sendiri.  Kado.  Masker wajah.  Wadah ini itu. Gunakan barang bekas.  Saya sudah mulai kebiasaan.  Kalau ditanya: apakah sopan kamu pakai karton bekas buat bikin kartu ucapan? Atau kertas bekas jadi amplop? Kertas koran buat bungkus kado? Saya bilang sih, ah, selama kita sopan ke Bumi, semua jadi sah dan sopan! *ups, terdengar fanatik

huit Belanja sayur di tukang sayur.  Lebih sedikit bungkusan busa alias styrofoam yang dipakai, plastiknya juga lebih dikit.  TAPI, nah lho, ada tapinya ya! Kalau saya, saya selalu siapin kantong kain khusus buat belanja ke tukang sayur.  Sama aja bohong kalau tuh sayur mayur masuk keresek juga.  Udah mah dipakenya cuma dari gerobak ke dalam rumah yang nggak sampai sepuluh meter jaraknya atau satu menit waktunya, alias kebuang percuma, zat-zat di plastik bisa membuat sayur kita jadi beracun.  Jadi, jangan malu lagi buat nolak kantong plastiknya Mang Sayur ya! 

neuf Saya doyan naik angkot.  Sebetulnya memang pingin belajar nyetir mobil juga, soalnya, by reality, pergi malem-malem sendirian bawa Devika naik angkot juga bukan ide yang bagus.  Tapi, seenggaknya kalau siang, saya usahain bisa ikut kendaraan umum supaya nggak kebanyakan nyumbang polusi.  Semoga nanti pas saya bisa nyetir, bisa bermobil-ramah-lingkungan juga. :D 

dix Saya membagikan pesan.  Kalian yang pernah pesan novel saya, logi-logi Cappuccino Paradise, mungkin dapat bonus stiker, batas buku, dan sebagainya.  Itu asli nggak bikin saya belanja tambahan lho! Semuanya dari benda yang ada di rumah, malah barangkali bekas (no offense  ya!).  Stiker yang saya kasih, bermuatan pesan lingkungan hidup dari buku Acme Climate Action.  Saya nggak tahu dampaknya bakal sebagus apa nanti, semoga berdampak! Hehe.  

Sudah sepuluh nih! Sesuai tradisi.  Selain sepuluh di atas, saya juga membiasakan diri bawa botol minum sendiri.  Yap, saya punya tumbler KEANE soalnya.  Hihi.  Sekalian pamer *lho* 
Lalu apa lagi? Macam-macam, cuma, belum cukup konsisten, jadi saya rasa belum layak didaftar di sini. :))  Kalian juga semangat ya! 

Hal lainnya? Hm.  Saya pingin ngurangin delivery makanan, karena sampahnya buanyak.  Dari keresek luar, kadang dobel karena takut jebol, kemasan tiap makanan, every little acar dan sambel yang dipisah diplastikin satu persatu... Namun apa daya, kadang baik saya maupun Mama sama rempongnya nggak keburu siapin makan.  Sementara itu, para pria di rumah bukan pria dapur semua. :(  
Semoga saya makin jago masak dan punya waktu luang deh. 
Dan semoga suami saya nanti pinter masak. :p 

Ada lagi? Sementara itu dulu.  Yuk, kita hijaukan dunia yuk! Kasihan kan Bumi kalau sesak nafas melulu! :) 
Ngomong-ngomong, kalian sendiri, sejauh apa kalian membantu membuat lingkungan jadi lebih baik dan asyik (kita tahu kan, ini hal yang biasa banget dan wajib, sewajib bernafas)? 

Rabu, 09 Oktober 2013

Kabarnya Baik!

Saya kok lama nggak main ke blog ya? Bagaimana kabarnya, Dunia Maya? Saya harap semuanya senang selalu. :)

Beberapa mimpi terbesar saya baru saja tercapai, lho.  Misalnya, akhirnya punya The Sims 3 sampai sekian expansion dan jika sedang senggang, saya benar-benar bisa main sepuasnya! :D

Kemudian, ya, saya menemukan calon viola baru.  Alias adiknya DevikaKalau memang jadi diadopsi dan pemiliknya merestui saya untuk memilikinya, saya mau namakan dia Lai.  Artinya: yang disayang.

Apa lagi? Oh ya. Saya menemukan seorang tetangga lucu di rumah sebelah.  Namanya Rocky.  

Foto Rocky bisa ditengok di markas saya yang terbaru, yaitu, akun Instagram! Yeah! 



Dia suka pup di depan garasi rumah saya kemarin-kemarin.  Tapi sudah nggak lagi, kok. :) Apapun yang dia lakukan, dia tetap anjing yang manis dan kocak.  Terima kasih sekali, saya dipertemukan dengannya (sungkem sama keluarga kecil di sebelah rumah).  

Selain Rocky, saya juga baru kenalan sama anjing tetangga sebelah kanan (kalau Rocky di kiri).  Namanya Goldi.  Dia Goldi generasi kesekian karena setiap punya guguk, tetangga ini pasti menamakannya Goldi.  Dulu sih, namanya relevan, karena rasnya selalu Golden RetrieverGolden: Goldi.  Tapi sekarang, jenisnya sudah beda.  

Walau berbeda, Goldi yang paling anyar ini manis dan rambutnya halus sekali.  Sepertinya dia sering mandi! :D

Sayang, belum sempatlah dia difoto. 

Oke, karena masih ada setumpuk kegiatan hari ini, saya sudahi dulu ya sesi cuap-cuap ini.  Salam gukguk! :D 
 

Senin, 26 Agustus 2013

Tetap Semangat!

Siapa bilang going green itu bisa diterima masyarakat dengan gampang? Hari ini saya pingin protes ah.  Mumpung cuaca cerah (nggak nyambung). 

Oke, saya nggak ngerti kenapa tindakan menjaga lingkungan masih saja dianggap eksklusif.  Lucu kan.  Tinggal di planet yang lagi terancam sakit keras, tapi nggak mau bantumerawat.  Padahal kalau sampai sakit berlanjut, dokter yang bisa dihubungi cuma Sang Khaliknya.  Atau kita tinggalkan dan pindah planet lain.  Tapi, masa kita tega sih menelantarkan planet baik yang selama ini menghidupi kita dan seluruh makhluk hidup lain

Murni, saya jadi agak tergila-gila pada aksi hijau karena saya merasakan ketidaknyamanan di sana-sini.  Jalanan yang kotor itu nggak bagus.  Sungai yang ditumpahi limbah itu buruk.  Minyak tumpah ke laut berbahaya.  Burung camar atau penyu yang tersedak kantung keresek atau betrak-betruk lainnya pun tidak bahagia.  Pohon yang baru ditebang secara kejam padahal sudah susah-susah tumbuh selalu tampak menyedihkan bagi saya.  Asap kendaraan juga bikin sesak nafas dan kelilipan.  Belum lagi debu rokok bikin atmosfer bau dan rawan kanker paru-paru! Hewan-hewan dalam ruang penjagalan, apakah mereka tenteram bahagia mau dipotong secara massal? Apa sih kerennya?

Ya itu saya.  Setidaknya, sudut pandang saya. Mungkin ada yang punya pendapat lain.  

Tapi, asal sadar saja,  planet Bumi cuma ada satu.  Kita sama-sama tinggal di sini.  Dia bisa hancur sewaktu-waktu karena terus kita keruk dan kita racuni.  Ibaratnya terlalu semangat ngupil sampai hidung terluka dan berdarah.  Ya kan? Awalnya baik, lama-lama buruk.

Untuk kalian yang sudah berusaha semaksimal mungkin memberi Bumi dan isinya kesehatan yang lebih baik dengan mengurangi tumpukan limbah tak terurai, memakan makanan bergizi yang bukan berasal dari kekerasan, mengalah, menolak kantong plastik, menghemat energi, mencintai tanaman, dan sebagainya, mari, kita bergandengan tangan dan tetap kuat! Masih banyak pihak yang menertawakan tindakan macam ini.  Ada pihak-pihak tertentu yang sembunyi-sembunyi ingin jadi pahlawan Bumi tapi terlalu malu.  Kita beri mereka keberanian.  Kita bisa kok.  :) 




Selamat menikmati hari yang cerah ini! Jangan lupa bersyukur, dan tetap cinta Bumi kita dan isinya, termasuk sesama manusia dan hewan-hewan serta tumbuhan. 

:)

Senin, 12 Agustus 2013

Another Day Out!

Minggu ini, emang judulnya saya jalan-jalan aja tiap hari.  Kemarin seru barbekyuan tiga hari berturut-turut di dua tempat yang berlainan, kemarin Jumat sempat main sama temen nonton Keane saya, Thanty.  

Sabtunya, saya pergi bersama ayah-ibu, dan hari Minggu, untuk pertama kalinya saya nyicipin makanan resto Kehidupan! Iya, sebuah restoran vegan yang sampe antri segala, lho. :)  Harganya murah terjangkau (nasi sama empat sayur, 6000 Rupiah saja!), rasa enak, buat yang susah berhenti makan daging, bisa makan sate-sate dan susis yang terbuat bukan dari binatang tapi kacang kedelai, tapi teksturnya dapet lho! Dan pulangnya bisa bawa oleh-oleh kehidupan, alias keripik rumput laut setoples, beli dus-dusan juga bisa.  Enak pula.  Sambil nulis ini sekarang, saya asyik berkriak-kriuk ngemil keripik vegan.

Ini dia liputan kabur sehari saya bersama si Thanty.  Kami emang janjian kembar pake floral kemudian ganti polkadot.  Nampaknya kami berencana pergi lagi sama Uthe, temen satu lagi.  Berhubung kami joged Keane bertiga waktu itu.  

Ngomong-ngomong, saya doyan banget yang namanya Happy-Go-Lucky House. Sebuah concept store bernuansa rumahan, dengan barang-barang lucu sesuai selera, ditambah kebun belakang yang manis dan sekarang ditambah ada gerai kuenya segala.  Kayaknya dua jam deh saya nongkrong di sana lihat-lihat baju, beli satu, sampai makan kue dan foto-foto. Padahal sih, saya udah beberapa kali ke sana.  Yang perdana banget sama kakak saya, karena penasaran doang (dan jadi suka tapi masih kecil, gak berani belanja sendiri).  Yang kedua, sama teman saya Brigit, dan kami sama-sama borong dua potong pakaian.  Dan seterusnya, saya tambah betah aja ke sana.  :p 

Tapi pada dasarnya, saya emang doyan concept store.  Mau itu Widely Project, Pop Shop, Lou-BelleKarena barang-barangnya terpilih dan emang bagus-bagus, sesuai selera! Saya nggak selalu belanja di situ, sih, masih ada kakak sepupu saya yang jual baju-baju sisa ekspor terpilih yang juga keren-keren, contohnya, kemeja bunga-bunga  ini.  Delapan puluh sembilan ribu Rupiah saja, lho! Ayo, kunjungi Instagramnya: tonetotoneshop.  Atau bisa ikutin Twitternya: @tonetotone. :)

Selain itu, rumah saya sebrangnya BTC! Ya, kalau butuh barang modis praktis, ya, tinggal nyebrang! :)) 





foto berlisensi: juru potretnya Thanty, lokasinya di Giggle Box Setiabudhi



Dan, inilah, saya dan Thanty dalam wujud nyata! 






Oke, sekarang saatnyaa pamer gambar! Iya, pamer sih ya intinya.  Tapi, ada pesan terselubung juga yang saya sampaikan lewat goresan di atas kertas ini.  Semoga orang yang bersangkutan mengerti.  Ihiks. :") 




Kamis, 08 Agustus 2013

Liputan Libur Sepekan

Ngomong-ngomong, selamat ber-Lebaran ya, Indonesia! :D 

Oke, berhubung dua minggu ini saya lumayan banyak jalan-jalan, jadi, nulis blognya agak slengean, nggak diisi-isi amat.  

Minggu lalu, saya dan kawanan Kandang jalan-jalan ke PVJ. Lucu. Kalau dulu, pas masih SMP-SMA, di mal kami bakal masuk Timezone atau bioskop saja, kemudian pasti mangkal di toko buku, sekarang kami udah bisa lihat-lihat baju barengan! Bahkan kayaknya seluruh toko baju dan sepatu di PVJ kami kunjungi, deh. 

Tentu, kami tidak lupa makan! :D 



Setelah main sama bocah-bocah Kandang alias Esther dan Inez, saya juga sempat main dengan anak-anak orkestra, serta acara-acara keluarga, tentu.  

Lantas, kemarin, saya baru makan-makan di rumah Esther, bersama Inez dan belasan kawan lain.  Kemudian saya pun tidak tidur karena para gadis asyik bermain Cranium.  Board game interaktif yang...sangat seru! 

Ya, demikian cerita kecil belakangan.  Saya lagi (agak) mikirin masalah perjodohan lagi, nih! Wajarlah.  :)) 

Biar Anda tidak ketularan bingung, ini saya berikan gambar pensil warna karya saya, judulnya 'Dua Rusa'! :D 
 
hasil sketsa kemarin

Rabu, 24 Juli 2013

Sayangi Hewan Langka Indonesia (dan hewan lain, tentu saja)!

Sang Ular

Hari ini, di tahun ular hari kesekian, sesosok ular mati dirajam batu oleh seorang bocah yang entah diajari apa oleh orang tuanya sampai bisa membunuh, dengan kejam.  Saya terlambat mencegahnya!

Saya saksi mata yang tidak bisa apa-apa.  Akhirnya, saya ambil tubuh Sang Ular dengan ranting, dan saya letakkan dia di dekat rimbunan semak-semak yang tertutup, lalu saya taburi kelopak bunga ungu.  

Selamat beristirahat, Ular! Sayang kita belum sempat berkenalan, ya. :")


Senin, 22 Juli 2013

Pos Khusus Buat Para Satwa Tersayang

Saya baru saja duduk di kursi angkot, dan karena tahu perjalanan masih panjang, saya pun membuka Twitter lewat telepon genggam saya yang (katanya) pintar. 

Alangkah kagetnya saya ketika melihat beberapa retweet yang menggunakan hashtag #RIPRaju.  Bukan cuma kaget, begitu sadar apa yang terjadi, tahu-tahu mata saya sudah berkaca-kaca.  

Ya, di angkot yang sedang melintasi Jalan Otten di sore hari, di hadapan banyak penumpang lain, saya berusaha menahan tangis.  Saya pun menengok ke luar jendela, takutnya air mata saya tumpah. 

Siapakah Raju? 

Raju adalah seekor gajah kecil, umurnya baru 1 bulan ketika ditemukan warga di daerah Aceh.  Dia yatim piatu.  Sebelumnya, mereka juga pernah kedatangan seekor gajah balita yang diberi nama Raja.  Raja sudah wafat terlebih dahulu.  

Dengan ketidakmengertian, Raju dirawat dengan diberikan susu sapi dan, yah, bukan perawatan yang tepat dan layak, tetapi setidaknya dia bertahan hidup.  Sayangnya, susu sapi jelas tidak cocok bagi anak gajah! Bayi Raju mengalami diare dan sakit-sakitan.  Untungnya, menjelang akhir Juni, sebuah lembaga berhasil mengadopsi Raju dan membawanya ke tempat yang lebih baik, walau itu pun belum sesempurna yang diharapkan.  Namun diare Raju berangsur-angsur pulih dengan diberikannya susu kedelai, dan nutrisi lain.  Dia diberi kandang yang walau kecil dan reyot, lumayan menghangatkan.  

Saat posisi Raju dirasa cukup aman, dan akan diadakan garage sale untuk dana pembuatan kandang Raju dan buat perawatan lainnya, semua orang dikejutkan dan dibuat ngeri oleh kasus pembunuhan kejam Papa Genk, gajah dewasa yang dirampok gadingnya.  Ah, untuk yang satu ini, saya pun terlalu seram untuk memaparkan kondisi jenazahnya saat ditemukan di hutan. 

Selepas kasus Papa Genk yang mesti diusut lebih jauh, ya itu tadi, sore-sore, Raju menghembuskan nafas terakhirnya.  Penyebabnya belum jelas.  Tapi tangis saya akhirnya berhasil dikucurkan beberapa menit yang lalu, di rumah, sambil galau di Twitter. 

Sejujurnya, saya selalu lebih sedih kalau ada binatang kenapa-napa.  Hewan itu seringkali lebih tidak berdaya.  Mereka memang kuat, apalagi gajah, ikan paus, hiu! Tapi, ketamakan manusia dan kerjasama yang hebat di antara mereka untuk menunjukkan kuasa dan menggalang uang demi menyumpal rasa lapar, membuat hewan-hewan kuat pun terancam hidupnya.  

Gajah direbut gadingnya.  Untuk apa? Uang milyaran!

Ikan hiu diambil siripnya. Lalu? Dia dikembalikan ke laut dalam keadaan cacat.  

Orangutan? Korban perburuan, dipenggal demi kelapa sawit dan uang, bahkan diperlakukan tidak pantas, seperti Pony si orangutan yang, aduh, nasibnya bikin merinding! (coba Google saja soal Pony orangutan)

Harimau? Ditembak dan diambil kulitnya, dijadikan dekorasi. 

Rusa? Dipotong dan jadi pajangan dinding. 

Sapi, ayam, babi, bebek, kambing, kelinci, buaya, ular, biawak? Diternakkan secara massal dan suatu hari jika saatnya tiba dibinasakan dengan tidak terhormat untuk memenuhi rasa lapar dan uang.  Kadang kulitnya dimanfaatkan lagi buat berbagai benda. 

Tidak, saya tidak peduli orang mau bilang bahwa itulah kebutuhan dasar manusia.  Hewan karnivora berburu untuk kebutuhannya, memang benar.  Tapi dia berburu tidak setiap hari, kan? Coba kalau manusia.  Binatangnya dikumpulin, sengaja dipaksa berkembang biak, tempatnya juga belum tentu layak, lalu dia dibunuh, kadang tanpa rasa, tanpa lapar kepepet, demi penghasilan saja.  Bisa kita bayangkan, betapa gelisahnya hewan-hewan di ternak ini setiap saat, dalam suasana siap dijagal kapan saja? Saya sih nggak kuat membayangkannya.  

Oke, gini deh.  Rasionalnya, sih, kalau berpikir secara ilmiah, hewan-hewan punya manfaat di alam.  Ya sebagai bagian dari rantai makanan hewan lain, juga untuk melindungi alam sendiri.  Binatang sekecil kupu-kupu saja kan membantu menaburi serbuk sari supaya bunga bisa mekar.  Siapa yang menikmati indahnya bunga-bunga? Kita, manusia, sebagai makhluk pemilik estetika!

Orangutan juga menyebarkan biji-biji sambil akrobatik dari pohon ke pohon, makanya hutan hujan bisa subur marsubur begitu! Lalu hutan ini menjadi penyerapan air, penguat tanah, sumber oksigen.  Siapa yang menikmati hasilnya? Kita, manusia, serta seluruh makhluk hidup lainnya.  

Semua, semua unsur dalam kehidupan, ada fungsi dan tugasnya masing-masing, kayak manusia ada profesinya sendiri-sendiri! :) 

Kalau sudah begini, saya emang mau jadi vegan aja.  Yah, walau suatu hari saya akan pelihara guguk, dan guguk nggak mungkin bisa hidup tanpa makan daging karena sudah wayahnya, tapi setidaknya saya sendiri nggak mau makan atau memakan sesuatu hasil kesakitan, ketakutan, dan teror! 

Saya bukan orang yang pintar bikin alasan.  Soalnya seringkali bikin prinsip berdasarkan dorongan hati saja.  Tapi, ya, saya cinta binatang.  Dan saya mau membela mereka.  Dan ini prinsip, lain lhoo, sama ide impulsif sesaat doang.  

Yuk, kita sayangi binatang-binatang, dan, jangan dibodohi oleh ketamakan ya! 



 


Biarkan gambar bicara :)