Rabu, 08 Juni 2016

It's A Hak-Cot Day

Sahabat saya Esther selalu menyebut 'hakcot' ketika apa yang diucapkan orang padanya atau sesuatu yang kita dengar terasa menohok ke hati alias menyinggung.  Atau setidaknya, sangat berkolerasi.
Sebetulnya saya lagi punya program untuk mengatasi ke-kambing-an saya.

Apakah itu ke-kambing-an? 
Sebuah kasus di mana perempuan umur sekitar 20an ini baru sadar bahwa ternyata dia keras kepala dan egois.  Ngamuk internal jika dikritik.  Nggak mau dengerin orang. Merasa caranya sendiri paling benar.

Tuh, ngucapin kayak gini pun bikin saya HAKCOT banget. 
Padahal toh, ketika saya menghadapi manusia yang juga keras keukeuh tanpa bobot, saya pun kesal.

Lalu kenapa tiba-tiba saya menyadari ke-kambing-an sendiri? 
Sebetulnya sudah mulai ada orang-orang yang dengan halus menyadarkan saya.  Sengaja tak sengaja ya.  Sampai akhirnya, salah satu Pembimbing Musik saya yang terang-terangan bilang, "Kamu ini keras kepala sekali, sih!"

Rupanya, keras kepala bukan muncul lewat keinginan memberontak atau sikap cuek saja. 
"Ingat, ketika kamu main musik, kamu menyampaikan sesuatu.  Jangan main untuk diri sendiri doang. Jangan diam di dalam tempurung, karena musik itu milik bersama."
Ketika saya tidak peduli orang lain mendengar apa dari saya, dan saya memutuskan untuk menyamarkan semua ekspresi emosional saya, itu pun bentuk dari ke-kambing-an.

Memang aneh, karena titik masalah ini adalah kesulitan saya bermain dengan volume fortissimo
"Forte-mu masih kayak mezzopiano."
Entah kenapa ini berlaku di antara saya, Narya / piano lain, juga Lai / Devika.  Saya beralibi macam-macam: teknik belum paham, takut terlalu keras, jarinya salah bentuk...ah entahlah, walau saya ingin bisa main fortissimo dengan mencengangkan, tapi keluarnya ya lembek-lembek menye lagi.

Bukan karena karaktermu ? 
Memang saya bukan tipe yang suka menjerit (?) dan mengutarakan isi hati dengan gamblang.  Saya lebih suka hidup hepi-hepi ketawa dan kalau sebal disimpan saja sendiri. Yang ini teman saya yang lain mengingatkan: sebaiknya jangan begitu-begitu amat ketika kesal, karena takutnya jatuh jadi penyakit dalem.  Iyaa, itu juga ada benarnya.  Tapi kebiasaan memendam ini harus dipancing.  Saya terbiasa marah-marah lewat tulisan, lewat musik yang kesannya 'marah-marah', atau gambar.  Namun, apakah emosi itu benar-benar tersembuhkan? Ya, terlupakan sesaat namun tidak benar-benar hilang...nampaknya.

Dan di pelajaran musiklah saya menemukan banyak, banyak pencerahan. 
Selain karena dunia saya memang 60% musik dan guru saya mulai tidak tahan (kayaknya), ya, selagi bermain musiklah saya mulai belajar.  Salah satu pertanyaan dari Pembimbing Musik yang paling mencurigakan adalah: "Kamu punya temen curhat nggak, sih?"
Saya lalu berpikir keras sembari kesel sendiri, apa hubungan temen curhat dengan ekspresi? Kalau saya memang tidak terbiasa curhat, gimana? Saya kan mau memiliki imej tough dan nggak rewel. 
Tapi setelah direnungkan, kebiasaan curhat para cewek tidak membuat mereka lemah sama sekali! Bahkan cowok pun tidak! Berisik, ya, beberapa bisa terdengar berisik. Tapi bukan masalah berisiknya...melainkan kemampuan merefleksi diri yang lebih baik.

Tapi aku Capricorn.
Dan itulah alasan kenapa kamu harus tahu kapan jadi Capricorn, kapan mesti berlagak Pisces (misalnya).
"Kamu harus coba membuka diri," kata Pembimbing, yang sudah kenal saya sejak SMP. 
Benar juga.  Masalah saya dengan dinamik dalam kalimat-kalimat musik bukanlah masalah teknik semata.  Itu kemauan.  Saya mungkin agak pemalu untuk menunjukkan betapa begimana-begimananya sebuah karya.  Karena sadar ada yang nonton, atau cuma...ya, malu saja! Ogah! Gengsi! Katanya Capricorn memang gengsian, padahal saya sentimental.  Bahkan dalam hal-hal kecil sehari-hari pun saya jarang sekali nampak ekspresif.  Alasannya ya: gengsi.

Gengsi adalah sifat yang destruktif.
Juga menggagalkan banyak hal yang mungkin bisa saya capai kemarin-kemarin. Ah tapi itu nanti bikin menyesal.  Tetap maju jalan saja.  :p
Belakangan saya jadi banyak membahas karya zaman romantik.  Di mana-mana.  Termasuk bersama Pembimbing yang Sadar Banget itu. Dan tentu saja kami sama-sama kewalahan...berkat gengsi saya.  Selama bertahun-tahun ini *ceileh.  Sampai akhirnya saya pun sadar, ekspresi itu harus coba dikemukakan dengan lebih bagus. Lebih matang. Lebih berani. Saya berani memegang rahang anjing--hewan yang dulu siluetnya saja sudah bikin saya ngacir.  Saya telah melewati banyak fase keberanian : berenang, naik sepeda di jalan raya, naik gunung, menyeberang sungai kecil, rawat ke dokter gigi sendirian, naik angkot ke Taman Kopo (yang jauh...jauuhh sekali), dll. 

Target saya berikutnya mungkin berani snorkeling, dan pada dasarnya, saya harus berani ekspresif! Harus! Atau saya akan...entahlah, hanyut dalam kegaringan?

Sebagai hiburan, ini saya kasih foto passionfruit yang tumbuh di kebun.
Keberanian untuk apa yang masih kalian ragukan sekarang ini? Yuk kita gali keberanian pelan-pelan. :)




 


Tidak ada komentar: