Sabtu, 11 Juni 2011

Eric Legnini Trio

Saya baru nonton jazz dari Eric Legnini trio!  Teman-teman yang pergi bersama adalah Esther, Inez, dan Arthur.  Dari sore kami sudah nongkrong bikin kerusuhan di warung Lezat, depannya Gramedia Merdeka.  Tempat bernuansa kayu-kayu yang menyediakan hidangan-hidangan sedap seperti: pisang bakar, roti panggang, mi hijau, kentang goreng, dan jus alpukat.  

Dan jangan lupa, lampionnya setinggi kepala Inez! Hahaha. :P  

Sesudah cukup jenuh berada di sana selama sejam lebih, main Tanya Pak Polisi, foto-foto sama lampion, dan berpikir-pikir mau ngapain sampai jam setengah tujuh entar malam (pertunjukan mulai jam 7.30, tapi karena gratis, harus buru-buru), kami pun melangkah keluar dan jalan ke Ranggamalela.  Maksudnya mau menemui teman kami Kendi yang hari ini pembukaan toko di Rangga Point, sekalian nyari DVD.  

Nah, habis bertemu dan menambah penuh Rangga Point, kami pun keluar lagi.  Kali ini ke Wira Angun-Angun bermaksud menyambangi Movie Room.  Begitu sampai, TUTUP! *kecewa  

Diiringi kesedihan *lebay, kami pun memutuskan untuk makan yang dingin-dingin.  Kami berputar-putar mencari batangan untuk memilih mau ke Riau Junction atau Pisetta (saat itu kami ada di tengah-tengah Jalan Bahureksa).   Kami memakai sedotan, tapi malah bingung, yang dipakai ujungnya atau tekukannya.  Akhirnya kami menemukan sumpit bambu yang ujungnya runcing.  Dan akhirnya sang sumpit memilih: Pisetta! 

Kami makan es krim di Pisetta.  :9 Saya dan Esther, sama seperti waktu di Lezat, lagi-lagi memilih menu yang sama dan bahan yang sama (PISANG! Lezat: Pisang Panggang Susu Coklat Keju, Pisetta: Banana Cherry).  

Setelah menjilat-jilat es krim, kami pun berhenti mengudap dan pergi ke CCF.  Parah! Mentang-mentang gratis, penuh banget deh... sampai waktu pintu dibuka, masuknya berjejal-jejalan.  Untung kebagian tempat duduk di sayap kiri tepat di undakan sehingga panggung terlihat jelas.  

Pertunjukan dimulai sedikit telat (biasalah) tetapi cukup singkat untuk sebuah pertunjukan jazz.  Kira-kira pukul setengah sepuluh udah beres! Biasanya kalau jazz kan molor-molor... 
Tetapi musik singkat yang hebat itu telah membuat saya terobsesi untuk latihan piano

Kalau dipikir-pikir, piano memang teman saya dari kecil.  Memang dulu saya malas latihan *ngaku, tetapi saya selalu suka mendengar suara piano.  Di mana-mana, kalau kedengeran suara piano, pasti langsung semangat.  Apalagi dulu waktu zaman tinggal di Jalan Gempol Wetan 30, piano sewaan ada di dalam kamar tidur saya! Bayangin.  
Pagi-pagi, entar Papa saya masuk terus mencet-mencetin tuts piano supaya saya bangun.  Sore, saya latihan piano sampai eneg-eneg kelamaan.  Malam, sebelum tidur bisa main piano dulu.  Kalau lagi libur atau pulang pagi (jam 9 misalnya, waktu itu saya masih SD), saya suka main-mainin piano.  Pokoknya menggila sekali!

Tanpa disadari, keadaan itu membuat saya seakan kecanduan piano.  Waktu SMA saya baru sadar: kalau saya sakit, entah itu masuk angin atau demam akibat influenza, begitu saya sembuhan sedikit, hasrat saya cuma satu: MAIN PIANO! Dan anehnya, kalau diturutin dan saya mulai dentang-dentingin piano, pasti saya sembuh dengan cepatnya! 

Sampai sekarang saya masih les piano.  Walau kadang frustasi kalau ada yang nggak kunjung saya kuasai (misalnya Capricio-nya Bach dan aural), atau sedih karena diomelin guru (dan bikin saya main dengan mata berkaca-kaca, kalau diajak ngobrol suaranya gemetaran, air matanya keluar, terus akhirnya guru saya bilang, "Aduh, maaf..."-terjadi 2 kali), atau kadang capek latihan dan malas-malasan...apa pun hambatannya...SAYA CINTA PIANO! :D 

xoxo, Piano! :) 

n.b: Semarah apa pun gurumu, beliau marah karena ingin kau maju, bukan supaya kau menyerah. Semuanya tergantung sikapmu menghadapi kritikan darinya. :)


2 komentar:

Inez mengatakan...

..Dua kali, Jeck?

Yg kedua sama Ka Alya???

Ningrum mengatakan...

...Dua kali, dua-duanya sama Kak Enji. Hahahaha! Kalo sama Kak Alya gak pernah sampe brojol kok... :P