Selasa, 15 Maret 2011

Dunia Pengamen dan Band

Saya udah memikirkan hal ini dari kapan, baru inget ditulis sekarang! 

Desember lalu, saya menyimak Bu Yofe dari Cordana berpendapat begini tentang anak-anak asuhan Harry Roesli, setelah saya nyeletuk, "Eh, iya, sekarang pengamen main biola ya!" :

Sebetulnya itu salah juga sih.  Mereka memang diajarin musik dan lain-lain, tapi ujung-ujungnya tetep disuruh ngamen.  Sama aja kan? Tetep akhirnya ngamen, mentalnya tetep mental pengamen.

Sebulan kemudian (saya dulu diem aja), saya pun berpikir: sama aja kan kayak band dan penyanyi resmi? Cara kerja mereka sama.  Main musik, orang denger, dibayar. Hanya taraf hidup mereka yang nantinya akan berbeda.  Juga tempat tampilnya. Pula jumlah bayarannya.  Dan siapa fansnya. 

Menurut saya sih, gaya hidup pun pilihan.  Pengamen itu tetap di sana, pinggir jalan. Anak-anak didikan Harry Roesli ada di restoran Bebek Goreng Slamet, membuka kotak biolanya minta uang, dengan musik sepenuh hati yang tidak digiring-giring pasar komersial.  
Jujur, rupanya saya terharu mendengar mereka main.  Mereka menikmatinya! 

Mungkin, rasa nikmat itulah yang bisa tiba-tiba hilang di kalangan band-band pengikut-pasar.  Sepertinya membuat musik sekedar untuk memuaskan label? Ah, mending bikin musik sepenuh hati.  Ngamen-ngamen dah! 


Eh, jangan juga sih.  Hahaha! Mending bikin musik sepenuh hati, ikut label indie, dan laku tapi puguh.  

Tapi bagaimana tentang mental pengamen? Mungkin saya agak bingung.  Mental pengamen dan moral, apakah juga tidak ada di band-band papan atas? Lagipula apa yang salah dengan mental pengamen? Mereka menyanyi dan dapat uang.  Band-band dan penyanyi juga, kok.  Cuma beda kehidupan...  


Rumit pula nih problema. *garuk-garuk kepala

Saya cinta Indonesia, terutama untuk multikulturalismenya.  Asal jangan saling serang, yaa.

Tidak ada komentar: