sepintas kecerewetan

Rabu, 11 Juli 2012

Hai!

Haha, rasanya aneh ya, udah lama nggak nulis di sini, selama sebulan penuh plus sepekan.  
Kumaha damang, sadayana? *suara cempreng*

Saya bukannya beranjak pindah dari pramudita, sih.  Cuma sekedar tidak fokus saja.  Saya 'kan ngelola blog satu lagi yang isinya centil-centil, sekaligus membuat cerita-cerita pendek untuk blog satunya lagi.  Yah, pokoknya sok sibuk punya bloglah. 

Sebetulnya, tak cuma karena punya anak banyak, saya juga pergi-pergi.  Nggak selalu ke luar kota, cuma saya lumayan ngider di luar rumah.  Murid saya nambah, sehingga jadwal ngajar tiba-tiba lumayan penuh dan hectic karena mau liburan.  Belum lagi ada yang lokasi ngajarnya jauh, sehingga mau saya lepas dan saya habisin hutang-hutang lesnya supaya tuntas sebelum saya coplok dari sekolah musik yang di sana itu.  Hari Selasa, saya pasti les biola alto ditambah latihan orkestra Armonici Polifonia.  Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu, saya ngajar, untungnya bulan kemarin hanya tiga kali sebulan karena liburan.  Sabtu, sepulang ngajar saya les + latihan orkestra Appasionata yang sedang menyiapkan pertunjukan pula.  Sampai rumah, saya sudah capek, ujung-ujungnya seru nonton Stand Up Comedy Indonesia Season 2.  Alhasil, Selasa sampai Minggu saya sedikit tidak cukup tenang untuk duduk diam menulis di pramudita, berhubung saya mau setiap pos 'ngilikitik nendang' dan 'membuat orang ngakak melakukan sesuatu yang bodor bijak'. 

Menjelang akhir bulan lalu, saya jadi pager ayu untuk pernikahan kakaknya Esther, sobat saya yang unyu itu.   Seharian pakai kain batik dan baju klewer-klewer warna kuning dengan rambut tercepol rapi hasil karya penata kumpulan keratin di kepala tersebut, juga wajah dilapisi dandanan sebisanya (dandan sendiri ditolong Esther di wastafel WC dekat kolam renang). 

Setelah acara tersebut, Selasa dan Rabunya saya menghabiskan waktu seharian untuk kongkow sama Inez di rumah, kemudian besoknya Inez + Esther di Tokyo Connection.  



Nah itu sedikit liputan visualnya.  ;) 


Keesokan harinya, tepatnya hari Kamis, saya berangkat ke Malang menumpang maskapai penerbangan Udara Singa, sesuai janji kepada Emak.  
Saya pergi bareng Papa dan Mama.  Si Abang asyik di Jakarta, banyak kerjaan.  
Seminggu di Malang, saya makan es krim Eskimo dan Wilis, soto Lombok, pecel lele, rujak cingur, rawon, soto Janur Kuning, daaaaan berbagai masakan Emak yang ciamik.  Tidak terlalu banyak keliling-keliling, melainkan banyak mengudap.  Untung saya nggak punya timbangan di rumah...entar galau kalau timbangan naik. 


Dan setelah ber-Malang-Ria, saya kembali di bulan Juli.  :D 


Maka saya ucapkan kepada Anda sekalian...SELAMAT BULAN JULI! SELAMAT! :) 


n.b.
Cobalah kalian belok antrian dari The Amazing Spiderman ke Di Timur Matahari.  Pasti kalian lebih terharu kalau nonton Di Timur Matahari.  Film tersebut sungguh inspiratif! Saya aja nangis sampai 200 ml (sesuai takaran saji jus Tipco)! Ayo, ayo, ditonton, lupakan Peter Parker! *loh, maaf Andrew Garfield...


n.b. lagi
Rosti, restoran favorit saya sepanjang masa, baru pindah ke Jalan Lombok bersama Toko Merdeka yang jual kue sus enak.  Tempatnya lebih nyaman dan homey, dan menunya tetap nikmat disantap, walau ada sedikit perubahan kecil, ya, wajar dong.  :D
Ngomong-ngomong, sampai akhir Juli nanti, mereka mengadakan diskon 25% untuk semua orang, semua transaksi, dan saya sudah membuktikannya! Yiha! :3 
Nanti cerita lebih lanjut tentang Rosti ya, ada yang lucu soalnya.  



Senin, 04 Juni 2012

Sebuah Ironi

Kalau baca judul di atas, mungkin Anda-Anda yang biasa baca blog ini, agak kaget.  Kenapa nih, si Ningrum, mendadak galau? Padahal kemarin masih mendadak es krim... 

Oke, saya memang aslinya orang galau.  Kadang membuat keputusan menakutkan sekali untuk saya.  Katanya sih itu memang sifat makhluk Flegmatis.  Makanya kalau mau ke toilet, saya sering berputar-putar dulu di rumah...cari bacaan yang asyik. Soalnya saya selalu perlu ditemani buku kalau 'bertapa'! 

Tapi, soal kantung keresek, saya nggak galau sama sekali.  Tiap kali terlanjur disodorin kantung keresek di kasir, saya balikin ke mbaknya, dan sambil senyum sumringah saya keluarin tas belanja saya yang bisa dipakai berulang-ulang dan nggak jadi sampah, saya masukkin sendiri belanjaan saya ke tas tadi.  Pokoknya saya nggak galau! Langsung serang! :D 

Oh iya, kalian sadar, nggak? Banyak swalayan bernama besar sekarang memakai kantung plastik yang bisa terurai selama 2 tahun saja! Buat saya, itu kabar yang baik, sekaligus ironis.  

Kenapa? Sebab, di kantung-kantung sejenis itu, biasanya ada tulisan begini: 

Lestarikan lingkungan.  Jagalah Bumi untuk kelangsungan hidup anak-cucu kita.  Cintai Bumi.  Kurangi penggunaan kantung plastik.  

Coba diulang yang terakhir: Kurangi penggunaan kantung plastik.  
Mungkin, tulisan demikian tertera di permukaan sebuah kantung plastik saja, sudah agak lucu ya.  

Mau yang lebih lucu? Tulisan tersebut sama sekali tidak mengubah kebiasaan seluruh penjaga kasir untuk mulai bertanya pada pembeli, "Mau pakai kantung plastik, Bu?" 
Boro-boro! Mereka bahkan masih cuek-cuek saja kalau ada ibu-ibu minta keresek dobel.

Mereka cuma seperti robot saja, asyik mencomot kantung plastik, mencemplungkan barang-barang dan kantung plastik bertulisan 'Kurangi Penggunaan Kantung Plastik' pun keluar mulus dari supermarket tanpa rasa aneh.  Aneh? Ya, buat saya, orang yang masih boros keresek itu aneh...bahkan mungkin alien.  Dia tidak tahu bahwa Planet Bumi terdesak dan tersedak oleh benda plastik satu ini!

Mungkin, dalam kasus ini, saya nggak bisa nyalahin kasirnya.  Soalnya, belum tentu mereka memang memahami bahaya plastik dan sebagainya.  Ini urusannya sudah ke pendidikan dasar.  Jadi, yang perlu dipertanyakan isi kepalanya adalah sang pengusaha swalayan.  Pasti dia 'kan, yang membuat perintah ganti pabrik kantung kereseknya.  Pakai yang bisa diuraikan dalam waktu singkat. Produksi tas belanja! Alasannya sih, saya nggak tahu.  Mungkin karena dia peduli, atau supaya trendi.  Walau kalau dilihat dari efeknya sekarang, saya rasa latar belakangnya cuma sekedar mau diberi label Salah Satu Swalayan Peduli. 

Soalnya, tulisan di kantung plastik itu tetap diabaikan oleh pihak kasir, pembeli, bahkan tas belanja yang mereka produksi, dengan LEBIH BANYAK petuah penghijauan, dipakai untuk tas gaul, oleh orang yang belanjanya tetap berkeresek.  Uh, saya mendingan pakai kostum ksatria baja hitam daripada bawa tas hijau-hijau buat buku tapi beli roti pakai keresek! 

Kenapa munculnya tas dan plastik berfilosofi indah itu tidak dibarengi dengan pendidikan? Pendidikan bagi para kasir, supaya mereka bertanya kepada pembelinya, "Tuan, Nona, mau pakai kantung plastik atau tidak?" 
atau
"Tuan, saya satukan saja odol dan biskuitnya dalam satu kantung, ya.  Odolnya aman kok, di dalam tube."

Dan mulai mempromosikan hal-hal seru ini:
"Tuan, Nona, bagi yang membawa tas belanja sendiri, ada hadiah coklat lho!" 
lalu
"Tuan, Nona, pakai kantung keresek, bayar seribu Rupiah ya." 

Kalau kebijakannya demikian, saya yakin, banyak orang akan beralih ke tas belanja pribadi yang tentu lebih kuat dari keresek, dan tidak perlu dibuang.  Bahkan jika rusak, kumal, dan menua, bisa dialihfungsikan menjadi kain pel!

Wahai, para pengusaha swalayan, didiklah staf kalian! Manfaatkanlah kekuasaan kalian untuk hal yang esensial dan ultrapositif! :D *ini saya masih kasih senyum nih, belum nimpuk pakai tomat*

Oke, sudah cukup panjang ya? Tapi saya masih mau ngoceh! :D 
Tadi saya bertanding melawan Monosodium Glutamat alias MSG, yang terdapat dalam bumbu penyedap makanan. 
Tema pertandingannya: sayur asem. 
Belakangan, karena sibuk dan segala macam, sayur asem di rumah saya suka ditambahi bumbu racik biar 'lebih cepat jadi lezat'.  Padahal, saya tahu isinya sama seperti bumbu dasar sayur asem, bahkan diberi tambahan cantik bencong bernama MSG.  
Karena nggak doyan sama si MSG dan lagi batuk, jadi males ketemu bubuk-bubukan, saya pun menyimpan bumbu instan di lemari, menantangnya: "Hei, Monos Glutam, saya bisa bikin rasa yang lebih enak dan lebih sehat darimu!"
Maka saya ngutak-atik sayur asem sendiri.  Memang butuh waktu lebih lama, karena saya belum hafal resep Mama, dan tidak tahu proporsi campuran gula merah dan asem Jawanya supaya rasanya setara si bumbu ber-Monos Glutam.  Saya giniin, gituin, tambahin, icip-icip, sampai akhirnya, ketika sampai di tangan Mama, sayur asem saya, yang asli tanpa daging dan tanpa bumbu instan, dibilang, "Enak!"

Hah! Mati kutu kau, Monos Glutam! 

Generasi instan, tak selamanya harus menuruti iklan-iklan yang menjunjung tinggi kecepatan, 'kan? Lama sedikit tapi bangga, apa salahnya? :) 

Bagi kalian yang mengerti apa maksud racauan saya hari ini, yuk, kita mulai bertindak untuk kebaikan bersama! :D Jangan jadikan tulisan di kantung plastik tidak membuahkan apa-apa.  

Tralala, trilili. 

:-* 

cup!






Jumat, 01 Juni 2012

Cappuccino Paradise: Laugh Out Loud Frappé


Cappuccino Paradise 3: Laugh Out Loud Frappé, ready to be served for you! :D
Harga: 60.000 Rupiah, untuk luar kota atau yang malas keluar rumah, akan dikirim langsung dengan ongkos kirim 10.000 Rupiah (P.Jawa) dan 15.000 (luar Jawa). :D
Pembayaran dulu, baru bukunya dicetak paling lama 1 minggu. :)
Masih ada 4 bonus unyu untuk 4 pemesan pertama! :D

Kalau sudah menimbang-nimbang dan ulangan umum/UAS telah selesai, silakan SMS saja ke 0888 382 15 22, dan selamat menunggu CP3 datang ke rak bukumu! ♥

Uhyeh, akhirnya proyek terbesar saya tahun ini selesai juga! :D Walaupun jadi pejuang indie, toh saya berhasil, bersama Ayah, Ibu, Abang, serta dukungan teman-teman tercinta.  :) 

Selamat menikmati sajian ketiga dari dunia Cappuccino Paradise! :* 

Rabu, 23 Mei 2012

Hai, main-main ke blog saya yang satunya yuk! :D 
Tinggal klik ini saja. :D

Isinya, soal produk, ilustrasi, cara membuat masker dari buah-buahan, dan macam-macam! :D Untuk lebih mudah mencari pos yang diinginkan, klik tulisan 'Archive' yang ada di atas sebelah kiri. ;)

Senin, 21 Mei 2012

Biar Campursari, yang Penting Senang



Di atas, adalah hasil doodle saya yang super nggak penting tapi asyik saja bikinnya.  :D 
Di bawah, tampak sebuah 'jus' stroberi segar bebas gula yang mudah sekali dibuat.  Ayo, dicoba di rumah! :) 

 

Selasa, 15 Mei 2012

Saat Saya Semedi, Saya Dapat Ide!

Yah, emang udah lama saya nggak nulis di pramudita.  :D Belakangan saya menuhin blog saya si citraramya karena masih alergi sama format baru si Blogspot, yang bikin keki karena sempat ngaco-ngaco.   Tapi inilah saya, kembali untuk meramaikan perkancahan silat Indonesia! *ciat!*

Nah, hari ini, saya sebetulnya sedang semedi di rumah.  Sejak hari Kamis, saya sakit.  Agak nggak jelas asal muasalnya.  Rabu malam hujan besar, Kamisnya panas terik.  Saat ngajar, mendadak kepala saya pening dan perasaan saya kayak yang demam.  Kepala berat gitu. Huf! Untung saya nggak menyesatkan murid saya.   

Besoknya, saya masih bertahan hidup.  Ngajar lagi sampe sore.  Tapi kepalanya sekarang malah nyut-nyutan.  Dan demam tersebut bukan sekedar perasaan melainkan kenyataan! Saya betulan demam.  Entah berapa derajat, saya males ngambil termometer.  

Sabtu, saya tetep harus ngajar, jadi dalam keadaan muka udah kucel, rambut lepek belum keramas, kepala puyeng, saya beli marker 4 warna di Tidar (hehehe), lalu ngajar + les.  Itu kepala rasanya udah aneh banget deh.  Sepanjang pulang, saya cuma ngebayangin satu benda keramat favorit semua makhluk teler: KASUR! 

Maka esoknya, saya libur! Ke gereja nggak (maaf, Tuhan), latihan orkestra nggak, dan malah sempet-sempetnya pesen KFC dan dapet hadiah mainan Pop-Up Bitzer dari paket Chaki yang saya pesen.  Saya tiduran, makan, tiduran, dan leyeh-leyeh nonton Stand Up Comedy atau apapun yang menghibur.  

Eh, ngomong-ngomong saya doyan bangetlah sama Stand Up Comedy Indonesia.   


Nah, berhubung hari Senin saya kosong, ya akhirnya saya bisa santai sehari lagi! Maka saya...tiduran, leyeh-leyeh, makan, internetan, nonton Shaun The Sheep dan Timmy Time, serta menunaikan tugas sebagai orang pintar: minum Tolak Angin! 

Dan akhirnya sampai juga ke hari Selasa.  Kepala saya masih agak pening sih.  Dan entah kenapa pundak pegel-pegel tak menentu. Huf.  Tapi setidaknya demam sudah pergi! XD Yeey! 

Sebetulnya, saya pingin ceramah soal SERAGAM SEKOLAH.  Saya masih inget pas SMP, guru-guru suka masuk kelas cuma mau nyuruh anak-anak yang pake rok mini berdiri dan dihukum ngededel jahitan.  Biar roknya tampak lebih panjang, sampe bawah lutut.  Padahal oh padahal, berdasarkan nilai estetika, rok ketat batesnya di bawah lutut tuh culun bangetlah! Menurut saya sih...


Saya dulu nggak pernah kebagian hukuman dedel.  Soalnya saya pasrah aja sama peraturan.  Pas SMP/ SMA saya lumayan alim.  Padahal dalam hati, saya suka pingin bikin revolusi.  


Oke, kami anak-anak perempuan, pada dasarnya, tidak dengan sengaja pakai rok mini untuk menarik perhatian atau apa lho! Kami cuma merasa, itu lebih keren daripada kepanjangan dan jadi tanggung.  Kan katanya fesyen bisa menyamarkan bentuk yang kurang pas atau apa.  Lagian, lebih cantik juga sih kelihatannya.  Jadi lebih pas.  Karena di bawahnya kami masih pake kaus kaki yang nggak boleh kurang dari semata kaki dan sepatu hitam!  


Ehm, coba bayangkan kombinasi rok di bawah lutut tapi nggak sampe bawah juga, ketat, kaos kaki setengah betis, sepatu keds item...perpaduan yang super ganjil! TAPI ITU PEMAKAIAN SERAGAM TELADAN di sekolah saya, dan mungkin sekolah lain.  


Jadi, kepada para pembuat peraturan pengenaan seragam...
...tolong buat peraturan yang lebih memenuhi nilai-nilai estetis dan jangan menghakimi cewek-cewek yang suka pake rok mini.  :P 


Terus, soal seragam cowok.  Waktu SMP, mereka nggak boleh bikin celananya kepanjangan.  Harus di atas lutut.  Saat SMA, celana nggak boleh dimodif.  Harus wajar, tak terlalu gombrang, tak terlalu ketat.  Kenapa juga ya mesti diatur-atur sampe segitunya? Tiap cowok 'kan seleranya lain juga yak.  


Ah, sudah dulu deh.  Entar saya diomelin sama dinas pendidikan, lagi. :D


 

Kamis, 19 April 2012

Diwawancara Pengamen

Seperti yang sudah-sudah, dan masih akan berlanjut, sepulang les bersama Devika, saya pasti lewat Jalan Pasirkaliki yang ditongkrongin para musisi jalanan bertato.  :) 

Beberapa hal sudah saya alami selama lewat di sana dengan Devika dalam gendongan.  Misalnya ini. Tetapi, pengamen memang bukan sosok yang buruk bagi saya.  Mereka pintar-pintar.  Mereka kocak.  Dan saya dan mereka ya sama-sama musisi! Jadi saya pikir, sama saja.  Hanya saja mereka mencari uang di jalan, saya di ruangan.  Tapi di samping cari uang, tentu kami pun sama-sama punya semangat bermusik! *optimis*

Nah.  Selasa kemarin, saya baru masuk ke dalam angkot St.Hall-Sarijadi ditemani Devika.  Duduknya dekat Pak Supir, tapi di bangku belakangnya.  Pojok, biar Devika bisa bersandar.  

Kemudian datanglah seorang musisi bertato, rambutnya dicat pirang, dan badannya besar, membawa gitar.  Ia berdiri di ambang pintu angkot, lalu mulai bernyanyi.  Suaranya serak-serak ngebas! Enak sih, dan kalau dilatih pasti jadi sesuatu. 

Tapi...dia memandangi saya terus.  Mungkin tepatnya, memandangi Devika si viola.  Saya agak grogi.  Jadi saya nengok ke depan, samping, belakang, pokoknya ke mana-mana selain kepadanya.

Sekonyong-konyong, ia bertanya, "Mbak, itu biola ya?"

Dan dimulailah obrolan singkat antara saya dan sang musisi: 

dia   : Kursus ya, Mbak? 

saya:Iya

dia   : Di mana? 

saya:  Sukajadi, A

dia   : Kalo biola 'kan, baca not balok ya? 

saya: Betul 

dia   : Gitar juga ada not balok? (loh, saya rasa dia pegan gitar, deh!)

saya: Ada, tapi kebanyakan gitar sih bacaannya kunci-kunci, kecuali gitar klasik

dia   : Suka musik apa?  Klasik, ya, kalo biola? 

saya :Apa aja suka, A, saya mah.  Klasik, rock, jazz, segala rupa. 

dia   :Oh iya, kalo biola mah mainnya pake piling (feeling) ya? 

saya: Ya, perlu pake feeling, tapi sebetulnya si jari-jari tuh ada formasinya.  

dia  : Ooo...ada pormasinya? 

saya: Bukannya biasanya ada yang main biola juga, 'kan? 

dia  : Iya, ada...

Dan angkot bersiap melaju.  Mesin dinyalakan.  Si pengamen bangkit berdiri.  

dia  : Ya udah, Mbak.  I hope you can be a good musician! (ngacungin jempol)

saya: (terharu) Thank you! 

WOHOW! Sesuatu banget nggak, sih? Biasanya orang-orang yang mewawancara pengamen, lah ini saya yang diwawancara.  Rasanya saya pingin turun dari angkot dan duet dah sama si Aa Gitar! Hahaha.  Kata-kata terakhirnya tadi juga menyentuh saya.  Ada pengamen yang mendoakan saya, rasanya...wah, wah, wah!

Semoga suatu saat nanti saya bisa bikin sekolah musik gratis buat para pengamen.   Supaya mereka lebih okelaah.  Soal mereka mau cari duitnya di jalan atau di gedung, bebas, itu suka-suka mereka.   Saya nggak akan menghakimi bahwa cari duit di jalan itu dodol. 

Ayo, ada yang mau kerjasama bareng saya? :)