Sabtu, 06 Oktober 2012

Simfoni Setengah Sonata

Ini bukan galau. 

Galau hanya tren yang bisa menjadi alibi seluruh perasaan manusia muda, atau tua. 

Jadi lupakan kata galau.  

Yang saya rasa ini, adalah kerinduan. 

Elegi Malam Minggu, setelah nonton Perahu Kertas dan tersadar betapa rapuhnya hati saya kalau sudah teringat akan belum terselaraskannya alat musik saya.  Bukan, bukan Si Devika atau Si Casio Privia.  Alat musik di dalam hati saya.  Dia butuh teman. 

Teman untuk bersenang-senang dan menerima semua ide aneh saya. 

Sebagai orang yang diajak bengong pun tetap membuat saya tersenyum. 

Dan sepasang mata untuk ditatap tanpa bosan.  Kalau perlu sambil berdebar sendiri.

Saya sudah makan takoyaki yang sangat lezat. 

Tetap saja, tiba-tiba alat musik ini fals kembali karena terkenang. 

Saya tidak berharap ditanya siapa yang dibicarakan kok.

Saya juga tahu untung-rugi punya teman penyelaras ini. 

Saya pun mengerti untung-rugi selama saya belum berpapasan dengannya.

Tapi itu teori.  Dan alat musik ini lebih butuh perwujudan daripada sekedar kata-kata.  

Datanglah, penyelarasku.  

:)


Tidak ada komentar: