Senin, 08 September 2014

Teropong Mengarah pada Sang Tetangga *hup

Saya baru dapet tetangga baru! Iya, rumah kami di lantai dua emang selalu strategis buat mengamati kehidupan di lantai dasar, alias tetangga.

Siapakah mereka? Sepasang suami-istri yang punya anak tiga, laki-laki semua. Tetangga baru ini, ceritanya sih, aktif mengurusi metode pembelajaran dan pendidikan anak gitu. Bahkan meneladani metode pengorangtuaan alias parenting. Dipikir-pikir, harusnya anaknya baik-baik dong. ;)

Eh nggak taunya, yang terjadi malah...kehebohan.  Anak-anaknya memang aktif banget.  Maklumlah anak kecil.  Tapi...kelakuannya khas bocah zaman sekarang: doyan teriak, konsentrasinya pendek, sebel dengan pelajaran, asyik banget kalau udah ketemu gadget, dan anehnya suka tiba-tiba naik ke lantai dua nggak pake basa-basi!

Nah, kalau lihat gelagat-gelakan anak kecil, harusnya mengacu pada orang tuanya, dong? Dan apa yang terjadi? Orang tuanya sih menurut saya baik-baik aja.  Baik mah, baik.  Cuma, rada kurang basa-basi.  Pas pertama dateng aja, mereka nggak pake kenalan-kenalan dulu.  Karena papasan, baru deh, kenalan.  Pasang parabola tivi kabel, nggak izin kemarinnya, tau-tau sudah ada juru instalasi naik ke atas, baru setelah melihat saya lagi bengong, om tetangga dateng dan cuma ngomong, "Ikut pasang ini ya."

Gitu doang.

Lalu, perlakuannya pada anak-anak? Ya gitulah, nasib anak-anak...diomelin orang tua melulu. Kepikiran nggak sih? Anak kecil kan niru orang dewasa.  Lah, kalau tiap hari dipapar teriakan, kritik, dan segalanya, dia pasti niru kan? Tanpa sadar.  :p  Udah paham rumusnya?
Anak-anaknya juga jadi nggak tahu unggah-inggih.  Naik ke atas tanpa izin. Diajak ngomong nggak jelas. 

Seperti banyak kasus murid-murid kecil saya di les piano, sih.  Mereka sering lupa, guru adalah manusia juga, yang perlu dihormati dan didengarkan.  Apalagi, lebih tua.  Tapi guru juga harus menempatkan diri di kacamata bocah--mereka emang jauh lebih labil dan sesukanya--mungkin karena nggak ada yang ngajarin mereka untuk memandang dunia dari sudut pandang orang lain.   

Vice versa.

Idealnya, anak kecil, remaja, dewasa, dan lansia, semua harus bisa belajar bareng-bareng.  Belajar berempati sebesar-besarnya, agar tak perlu lagi ada kekacauan pendidikan.  Dan, tentu, semua harus saling sayang. 

Yuk, kita jadi manusia yang baik dan memahami unggah-inggih atau basa-basi sebagai hal mendasar.  Ini bukan budaya.  Ini bentuk penghormatan pada orang lain. Itu esensi jadi manusia dan hidup sama manusia lain, juga makhluk hidup lain.  Siapa sih, yang nggak seneng diperlakukan dengan penuh sopan? :D




Tidak ada komentar: