Rabu, 22 April 2015

Merasa Membeli Limbah

Pernah nggak sih, pergi ke pasar swalayan yang besar, kemudian sakit kepala? Eh? Karena banyak yang mau dibeli tapi takut dompet jebol?

Dulu mungkin begitu.  Tapi sekarang bukan. 

Entah sejak kapan, saya mulai pusing dengan banyaknya barang yang saya timbun di rumah, juga deretan produk di toko-toko. Semua begitu berjumlah massal, identik, mending kalau desain kemasannya indah-indah--lah ini sih kurang ya menurut saya, belum lagi ditambah desak-desakan manusia yang rakus ingin membawa pulang semuanya. Ditambah pula, badai keresek dan plastik yang terjadi di kasir, dobel-dobel pula!

Pas kecil, pengalaman pergi ke swalayan memang seru.  Banyak benda yang bisa dibaca dan dilihat.  Saya juga masih suka masuk swalayan tentunya, tapi jadi pilih-pilih, yang mana yang nyaman dan barangnya tertata baik.  




gambar pinjam dari sini

Well, tapi bukan itu sih yang mau saya omongin.  Begini lho, 80% produk di swalayan, biasanya berbahan aneh-aneh.  Aneh? Misalnya durian isi roket Neptunus? Yaa. Semacam itu. :p 

Misalnya, ya, minyak kelapa sawit dicampur BHA, BHT, pewarna, bahan berpotensi bikin sakit aneh-aneh, garam, dan mungkin formula rahasia.  Apa namanya? Margarin! 
Atau...gula ditambahi kakao bubuk, pengental, pengawet sintetis, dan tambahan pemanis buatan.  Apakah itu? Susu coklat! 
Mau lagi? Deterjen ditambah amonia dan pengental, pewangi, pengawet, aroma sintetis, ekstrak minyak nabati atau buah / bunga. Tapi katanya bisa membuat kulit, harum, melembapkan.  Apa itu? Sabun cair dan body lotion
Kemudian fluoride, tambah deterjen, 

Apa omongan saya kelewat aneh? Hmm...saya rasa, semuanya bisa dicek dan dipelajari sambil membaca komposisi yang tertera di banyak produk, kok. Silakan berpetualang di pasar swalayan favorit! :D 

Belakangan, sih, lumayan deh.  Banyak perusahaan dan industri yang mulai memikirkan Sang Bumi.  Bahan diganti, alternatif natural bermunculan, kemasan lebih ramah, dan sebagainya.  

Cuma, harganya belum terlalu mudah dijangkau khalayak ramai! Masalahnya itu.  Mungkin buat beberapa kalangan tidak masalah.  Tapi, dominasi masyarakat kan lebih suka mendapatkan barang yang murah, mudah didapat, dan ketersediaannya terjamin.  Secara naluri, ya saya juga gitu.  Mencari kosmetik berbahan aman, minuman kotak yang organik, air kelapa yang tidak dibubuhi pemanis buatan dan penstabil, susu nabati alami, sampo tanpa busa, dan hal-hal ajaib lainnya lumayan sulit.  Toko yang menyediakan masih sedikit.  Untungnya, lokasinya sampai saat ini cukup mudah terjangkau. Oh, dan swalayan banyak memberi iming-iming diskon, beli satu dapat sepuluh, dan segalanya! Membuat kita jadi membawa terlalu banyak barang daripada yang kita butuhkan!

Oh ya, kalau kita membeli secara grosir dan udahnya kadaluarsa dan kita buang begitu saja? Boros banget! Limbah! Dan, siapa yang senang sih melihat deretan barang teronggok di lemari dan debuan?

Bagaimana dengan bahan segar seperti buah, sayur, dan daging? Nah, ini juga masalah baru.  Buah-buah yang disediakan di supermarket tuh banyak yang impor.  Lihat saja apel, pir, jeruk, banyak yang impor--dan lebih populer.  Memang Indonesia nggak punya produk buah? Ya tentu saja punya! Kita negeri tropis yang kaya! Harga juga pasti lebih terjangkau, kualitas lebih segar berhubung belum diimpor secara lintas benua.  Kita kan tidak bisa menjamin buah-buah impor disiram pengawet karena di rak masih cantik begitu. Lagipula, kasihan petani-petani lokal, mereka berjuang tapi nggak kita hargai. 

:D  

Daging dan sayuran sih masih lumayan banyak yang lokal. Cuma, soal daging, saya tidak merasa daging-daging supermarket atau pasar organik terlokal pun sumbernya ramah hewan.  Ya, secara memang industri mematikan hewan judulnya. :P 

Zaman modern ini, manusia memang percaya, harusnya kita semakin modern dan canggih.  Tapi, apa kecanggihan harus bermuara pada hal-hal serba tamak? Bukan! Justru, kita harus mencapai titik balik menyadari kembali baiknya kearifan lokal.  Membeli buah dan sayur di pasar lokal (lebih bagus lagi kalau organik), membuat bahan-bahan pembersih sendiri dari bahan-bahan sederhana (karena, percaya saya deh, ini bisa banget, cuma butuh rajin dikit!), juga mendidik diri supaya membaca komposisi produk dan telaten mencari alternatif jika perlu.  Misal, minyak goreng kelapa sawit diganti minyak kedelai.  Karena, ehm, industri kelapa sawit cukup kejam sama perhutanan. :'( 

Oh iya, di pasar-pasar kecil, kita juga lebih mudah mengatur diri.  Bisa bawa tas sendiri dan menolak kreseknya sambil bilang, "Jangan Bang, nanti sampah...nanti penyu keselek." -> kalau diucapkan tiap hari, lama-lama Abang Sayur pasti berhenti bawa keresek. 

Nah, kalau di pasar kecil atau pedagang keliling, biasanya jarang disediakan sayur bungkus berlapis styrofoam dodol itu. Soalnya, mana kita tahu, berapa jumlah racun yang sudah terlepas ke dalam buah / sayur /daging yang dikemas berlama-lama di situ? :p

Juga, kita dapat berbicara langsung dengan penjual dan tahu persis kondisi produk yang kita beli.  Sebetulnya itu hak pembeli.  Belakangan kita memang dicuci otak untuk percaya iklan-iklan megakece yang mengutamakan keren, massal, murah, isi dan resiko ditanggung sendiri. Lalu kita beli sepenuh kepercayaan. Ditanya-tanya, jawabannya membual.  XD 

  
gambar pinjam dari sini 


 


Kalau belanja lokal, kita juga membesarkan negara, lho.  Bukan cuma pariwisata atau pendapatan industri dagang yang bisa memperkaya negara.  Tapi rasa bangga warganya, juga ikatan kuat antarmasyarakat.  Berjalan bersama toh, lebih mengasyikkan daripada sendirian mengarungi hebohnya perputaran ekonomi dan politik dunia, kan? 

Oh ya, asyik juga kalau bisa menanam banyak bahan pangan di rumah sendiri. :D Dijamin kita toh tidak akan tega menyemprot pestisida beracun ke tanaman yang sudah tahu akan kita makan, kan? 

Niscaya, Indonesia kembali sejuk dan bahagia seperti ini, walau ini contoh ekstrimnya. :D 

gambar asli buatan saya

Gimana, masih pengen ke swalayan dan rusuh belanja selagi diskon? Dipikir-pikir lagi, deh! Tuh, dipanggil Abang Tukang Sayur di depan! :D 

 
 


 




 











Tidak ada komentar: