Senin, 17 Agustus 2015

Makna Merdeka

Sebelumnya, izinkan saya berteriak dulu, "DIRGAHAYU!"

Yap, akhirnya 70 tahun sudah kita merdeka secara hukum.  Secara hukum? Ya! Kita sudah tidak dijajah secara politik kan? Mungkin kita masih agak terjajah dalam aspek ekonomi, menurut saya.  Tapi suatu saat kita pasti bisa memutarbalik keadaan. :)

Apa kalian cinta Indonesia? Pasti, kan? Cara mencintai itu beda-beda.  Saya mencintai dengan banyak ngomel--bak orang Virgo--padahal Capricorn--dan sering dikira Sagitarius atau Aquarius.  Saya kritik macam-macam.  Ngomelin polusinya, sampah berlebihnya, kemalasannya, matrenya yang mengerikan. Tapi di sisi lain saya juga suka memperlakukan Indonesia penuh kasih sayang, kok.  Inginnya sih selalu bisa bersikap baik-baik sama Indonesia.  Cuma sampai saat ini masih banyak yang harus dibenahi.  Huh-hah!

Ini saya kasih gambar tahu tempe dulu... cemilan lokal kesayangan.






Bicara tentang cinta Indonesia, gimana sih cara kalian menunjukkan cinta? Saya ingin ngoceh santai saja sih soal menyayangi Indonesia.  Dari sudut pandang saya.  Jangan defensif, jangan ofensif.  Kalau ada yang ngagetin, silakan komentar tapi jangan emosi. :p 

Kadang kita norak tentang Indonesia.  Kita tiba-tiba ingat bahwa kita orang Indonesia ketika ada orang Indonesia tampil di luar negeri.  Atau dapat penghargaan.  Atau lulus di luar negeri dan beken.  Kalau sedang tidak ada momen-momen seperti itu, kita tidak peduli.  

Kita baru ngeh dan ngamuk ketika ada negara tetangga mengklaim batik sebagai miliknya.  Atau wayang.  Atau apa.  Di satu sisi, ya, akar budaya kita mirip-miriplah.  Ini cuma masalah sikap nggak sopan doang.  TAPI, masa kita baru sadar bahwa batik itu harus kita hormati, gara-gara direbut? Ya kan telaaat.  Kayak panik soal klorin di pembalut wanita barulah sadar pembalut wanita itu agak-agak berisiko (dan masalah utamanya sih...karena itu limbah epik).  

Terus, kita senang mencari-cari pengakuan dengan kalap.  

Jadi kalau dilihat keseluruhannya...ibaratnya kita ini frustasi butuh harga diri saking mindernya.  Ada yang punya sudut pandang demikian? 

Iklan lagi.  

MAKANLAH PEPAYA. DENGAN VITAMIN A & C SERTA SERAT BUAH, DIJAMIN JAUH DARI KECEWA! 

PEPAYA TUMBUH SUBUR DI NEGERI TROPIS KESAYANGAN KITA.  CINTAILAH SPESIES INI.  JADIKAN SUMBER GIZI, BUKAN MAKAN SAMPINGAN.  JAUHI OBAT-OBAT BERACUN.  MAKAN PEPAYA! 




Berlanjuuut. Oke, jadi, kita tuh harusnya ngapain? 

Saya bukan ahli apa-apa.  Cuma seorang pecinta kelapa yang kebetulan lahir di negeri kaya kelapa.  Daripada sibuk koar-koar membesarkan nama negara, pamer-pamer nggak mau ketinggalan dengan bangsa lain, ketahuilah: 

DULU KITA DIJAJAH KARENA KITA KAYA RAYA.  Kita telah menjadi manfaat hebat bagi sepersekian bagian dunia.  Orang Eropa masuk kemari karena kita punya rempah-rempah.  Orang Portugis, orang Arab.  Mereka membawa ciri khas mereka dan percaya diri menyebarkannya di sini.  India kemari menginfusikan budaya di abad-abad sebelumnya.  Kita juga bukan negara yang 100% otentik tulen kayak Antartika.  Kita sudah bagian dari kombinasi dunia.  Tapi tanah kita yang tropis indah ini tetap otentik. 

Ingatlah, kita ini SESUATU.  Bukan negara loyo yang tidak punya kepribadian.  Kita punya tahu tempe, punya buah-buahan yang luar biasa.  Kita dikaruniai hutan hujan tropis dan penjaga jiwa--hewan-hewan pahlawan alam.  Merekalah yang bertugas melangsungkan kehidupan hutan hujan.  Pantai kita yang cantik.  Gunung-gunung gagah.  Semua.  

Kita boleh sedikit kebarat-baratan.  Keapa-apaan.  Tapi ingat, kalau kita mengutamakan impor di atas segalanya, mengutamakan 'menyamai negara maju' selamanya, itu tidak akan memajukan Indonesia secara mental.  Kita jadi ingin mengejar-ngejar doang.  Harusnya kita tidak mengejar, melainkan merintis.  :D 

Merintis itu artinya: tahu proses, belajar, hati-hati, tulus.  Orang yang mengejar bisa beritikad buruk.  Merintis (biasanya) tidak.  

Syukurilah apa yang kita punya.  Tak perlu muluk-muluk bilang bangga, lah.  Nanti malah sombong jatuhnya.  Cukup kita menjadi diri sendiri.  Menjadi Indonesia.  Nama kita akan bergaung dengan sendirinya. Buatlah dunia mengatakan: 

"Oh, Indonesia yang itu.  Yang percaya diri, ceria, ramah. Yang penduduknya doyan makan pisang lokal dan sehat-sehat.  Yang berasnya enak.  Yang hewan-hewannya ajaib dan lestari."

Mungkin selama ini, Indonesia dikenal dengan, "Oh Indonesia. Yang suka marah-marah, ekstrimis, gampang dihasut duit?"

Amit-amit, sih.  Semoga tidak begitu amat. :)) 

Nah.  Satu iklan lagi...UBI! UBI ITU ENAK DAN BISA TUMBUH DI NEGERI KITA SENDIRI DAN BERGIZI! 

Singkat saja, soalnya saya belum hafal kandungan gizi ubi.  Hihihi.  


Tapi yang terpenting untuk hari ini...

DIRGAHAYU INDONESIA KU! 

Tidak ada komentar: