sepintas kecerewetan

Rabu, 09 Oktober 2013

Kabarnya Baik!

Saya kok lama nggak main ke blog ya? Bagaimana kabarnya, Dunia Maya? Saya harap semuanya senang selalu. :)

Beberapa mimpi terbesar saya baru saja tercapai, lho.  Misalnya, akhirnya punya The Sims 3 sampai sekian expansion dan jika sedang senggang, saya benar-benar bisa main sepuasnya! :D

Kemudian, ya, saya menemukan calon viola baru.  Alias adiknya DevikaKalau memang jadi diadopsi dan pemiliknya merestui saya untuk memilikinya, saya mau namakan dia Lai.  Artinya: yang disayang.

Apa lagi? Oh ya. Saya menemukan seorang tetangga lucu di rumah sebelah.  Namanya Rocky.  

Foto Rocky bisa ditengok di markas saya yang terbaru, yaitu, akun Instagram! Yeah! 



Dia suka pup di depan garasi rumah saya kemarin-kemarin.  Tapi sudah nggak lagi, kok. :) Apapun yang dia lakukan, dia tetap anjing yang manis dan kocak.  Terima kasih sekali, saya dipertemukan dengannya (sungkem sama keluarga kecil di sebelah rumah).  

Selain Rocky, saya juga baru kenalan sama anjing tetangga sebelah kanan (kalau Rocky di kiri).  Namanya Goldi.  Dia Goldi generasi kesekian karena setiap punya guguk, tetangga ini pasti menamakannya Goldi.  Dulu sih, namanya relevan, karena rasnya selalu Golden RetrieverGolden: Goldi.  Tapi sekarang, jenisnya sudah beda.  

Walau berbeda, Goldi yang paling anyar ini manis dan rambutnya halus sekali.  Sepertinya dia sering mandi! :D

Sayang, belum sempatlah dia difoto. 

Oke, karena masih ada setumpuk kegiatan hari ini, saya sudahi dulu ya sesi cuap-cuap ini.  Salam gukguk! :D 
 

Senin, 26 Agustus 2013

Tetap Semangat!

Siapa bilang going green itu bisa diterima masyarakat dengan gampang? Hari ini saya pingin protes ah.  Mumpung cuaca cerah (nggak nyambung). 

Oke, saya nggak ngerti kenapa tindakan menjaga lingkungan masih saja dianggap eksklusif.  Lucu kan.  Tinggal di planet yang lagi terancam sakit keras, tapi nggak mau bantumerawat.  Padahal kalau sampai sakit berlanjut, dokter yang bisa dihubungi cuma Sang Khaliknya.  Atau kita tinggalkan dan pindah planet lain.  Tapi, masa kita tega sih menelantarkan planet baik yang selama ini menghidupi kita dan seluruh makhluk hidup lain

Murni, saya jadi agak tergila-gila pada aksi hijau karena saya merasakan ketidaknyamanan di sana-sini.  Jalanan yang kotor itu nggak bagus.  Sungai yang ditumpahi limbah itu buruk.  Minyak tumpah ke laut berbahaya.  Burung camar atau penyu yang tersedak kantung keresek atau betrak-betruk lainnya pun tidak bahagia.  Pohon yang baru ditebang secara kejam padahal sudah susah-susah tumbuh selalu tampak menyedihkan bagi saya.  Asap kendaraan juga bikin sesak nafas dan kelilipan.  Belum lagi debu rokok bikin atmosfer bau dan rawan kanker paru-paru! Hewan-hewan dalam ruang penjagalan, apakah mereka tenteram bahagia mau dipotong secara massal? Apa sih kerennya?

Ya itu saya.  Setidaknya, sudut pandang saya. Mungkin ada yang punya pendapat lain.  

Tapi, asal sadar saja,  planet Bumi cuma ada satu.  Kita sama-sama tinggal di sini.  Dia bisa hancur sewaktu-waktu karena terus kita keruk dan kita racuni.  Ibaratnya terlalu semangat ngupil sampai hidung terluka dan berdarah.  Ya kan? Awalnya baik, lama-lama buruk.

Untuk kalian yang sudah berusaha semaksimal mungkin memberi Bumi dan isinya kesehatan yang lebih baik dengan mengurangi tumpukan limbah tak terurai, memakan makanan bergizi yang bukan berasal dari kekerasan, mengalah, menolak kantong plastik, menghemat energi, mencintai tanaman, dan sebagainya, mari, kita bergandengan tangan dan tetap kuat! Masih banyak pihak yang menertawakan tindakan macam ini.  Ada pihak-pihak tertentu yang sembunyi-sembunyi ingin jadi pahlawan Bumi tapi terlalu malu.  Kita beri mereka keberanian.  Kita bisa kok.  :) 




Selamat menikmati hari yang cerah ini! Jangan lupa bersyukur, dan tetap cinta Bumi kita dan isinya, termasuk sesama manusia dan hewan-hewan serta tumbuhan. 

:)

Senin, 12 Agustus 2013

Another Day Out!

Minggu ini, emang judulnya saya jalan-jalan aja tiap hari.  Kemarin seru barbekyuan tiga hari berturut-turut di dua tempat yang berlainan, kemarin Jumat sempat main sama temen nonton Keane saya, Thanty.  

Sabtunya, saya pergi bersama ayah-ibu, dan hari Minggu, untuk pertama kalinya saya nyicipin makanan resto Kehidupan! Iya, sebuah restoran vegan yang sampe antri segala, lho. :)  Harganya murah terjangkau (nasi sama empat sayur, 6000 Rupiah saja!), rasa enak, buat yang susah berhenti makan daging, bisa makan sate-sate dan susis yang terbuat bukan dari binatang tapi kacang kedelai, tapi teksturnya dapet lho! Dan pulangnya bisa bawa oleh-oleh kehidupan, alias keripik rumput laut setoples, beli dus-dusan juga bisa.  Enak pula.  Sambil nulis ini sekarang, saya asyik berkriak-kriuk ngemil keripik vegan.

Ini dia liputan kabur sehari saya bersama si Thanty.  Kami emang janjian kembar pake floral kemudian ganti polkadot.  Nampaknya kami berencana pergi lagi sama Uthe, temen satu lagi.  Berhubung kami joged Keane bertiga waktu itu.  

Ngomong-ngomong, saya doyan banget yang namanya Happy-Go-Lucky House. Sebuah concept store bernuansa rumahan, dengan barang-barang lucu sesuai selera, ditambah kebun belakang yang manis dan sekarang ditambah ada gerai kuenya segala.  Kayaknya dua jam deh saya nongkrong di sana lihat-lihat baju, beli satu, sampai makan kue dan foto-foto. Padahal sih, saya udah beberapa kali ke sana.  Yang perdana banget sama kakak saya, karena penasaran doang (dan jadi suka tapi masih kecil, gak berani belanja sendiri).  Yang kedua, sama teman saya Brigit, dan kami sama-sama borong dua potong pakaian.  Dan seterusnya, saya tambah betah aja ke sana.  :p 

Tapi pada dasarnya, saya emang doyan concept store.  Mau itu Widely Project, Pop Shop, Lou-BelleKarena barang-barangnya terpilih dan emang bagus-bagus, sesuai selera! Saya nggak selalu belanja di situ, sih, masih ada kakak sepupu saya yang jual baju-baju sisa ekspor terpilih yang juga keren-keren, contohnya, kemeja bunga-bunga  ini.  Delapan puluh sembilan ribu Rupiah saja, lho! Ayo, kunjungi Instagramnya: tonetotoneshop.  Atau bisa ikutin Twitternya: @tonetotone. :)

Selain itu, rumah saya sebrangnya BTC! Ya, kalau butuh barang modis praktis, ya, tinggal nyebrang! :)) 





foto berlisensi: juru potretnya Thanty, lokasinya di Giggle Box Setiabudhi



Dan, inilah, saya dan Thanty dalam wujud nyata! 






Oke, sekarang saatnyaa pamer gambar! Iya, pamer sih ya intinya.  Tapi, ada pesan terselubung juga yang saya sampaikan lewat goresan di atas kertas ini.  Semoga orang yang bersangkutan mengerti.  Ihiks. :") 




Kamis, 08 Agustus 2013

Liputan Libur Sepekan

Ngomong-ngomong, selamat ber-Lebaran ya, Indonesia! :D 

Oke, berhubung dua minggu ini saya lumayan banyak jalan-jalan, jadi, nulis blognya agak slengean, nggak diisi-isi amat.  

Minggu lalu, saya dan kawanan Kandang jalan-jalan ke PVJ. Lucu. Kalau dulu, pas masih SMP-SMA, di mal kami bakal masuk Timezone atau bioskop saja, kemudian pasti mangkal di toko buku, sekarang kami udah bisa lihat-lihat baju barengan! Bahkan kayaknya seluruh toko baju dan sepatu di PVJ kami kunjungi, deh. 

Tentu, kami tidak lupa makan! :D 



Setelah main sama bocah-bocah Kandang alias Esther dan Inez, saya juga sempat main dengan anak-anak orkestra, serta acara-acara keluarga, tentu.  

Lantas, kemarin, saya baru makan-makan di rumah Esther, bersama Inez dan belasan kawan lain.  Kemudian saya pun tidak tidur karena para gadis asyik bermain Cranium.  Board game interaktif yang...sangat seru! 

Ya, demikian cerita kecil belakangan.  Saya lagi (agak) mikirin masalah perjodohan lagi, nih! Wajarlah.  :)) 

Biar Anda tidak ketularan bingung, ini saya berikan gambar pensil warna karya saya, judulnya 'Dua Rusa'! :D 
 
hasil sketsa kemarin

Rabu, 24 Juli 2013

Sayangi Hewan Langka Indonesia (dan hewan lain, tentu saja)!

Sang Ular

Hari ini, di tahun ular hari kesekian, sesosok ular mati dirajam batu oleh seorang bocah yang entah diajari apa oleh orang tuanya sampai bisa membunuh, dengan kejam.  Saya terlambat mencegahnya!

Saya saksi mata yang tidak bisa apa-apa.  Akhirnya, saya ambil tubuh Sang Ular dengan ranting, dan saya letakkan dia di dekat rimbunan semak-semak yang tertutup, lalu saya taburi kelopak bunga ungu.  

Selamat beristirahat, Ular! Sayang kita belum sempat berkenalan, ya. :")


Senin, 22 Juli 2013

Pos Khusus Buat Para Satwa Tersayang

Saya baru saja duduk di kursi angkot, dan karena tahu perjalanan masih panjang, saya pun membuka Twitter lewat telepon genggam saya yang (katanya) pintar. 

Alangkah kagetnya saya ketika melihat beberapa retweet yang menggunakan hashtag #RIPRaju.  Bukan cuma kaget, begitu sadar apa yang terjadi, tahu-tahu mata saya sudah berkaca-kaca.  

Ya, di angkot yang sedang melintasi Jalan Otten di sore hari, di hadapan banyak penumpang lain, saya berusaha menahan tangis.  Saya pun menengok ke luar jendela, takutnya air mata saya tumpah. 

Siapakah Raju? 

Raju adalah seekor gajah kecil, umurnya baru 1 bulan ketika ditemukan warga di daerah Aceh.  Dia yatim piatu.  Sebelumnya, mereka juga pernah kedatangan seekor gajah balita yang diberi nama Raja.  Raja sudah wafat terlebih dahulu.  

Dengan ketidakmengertian, Raju dirawat dengan diberikan susu sapi dan, yah, bukan perawatan yang tepat dan layak, tetapi setidaknya dia bertahan hidup.  Sayangnya, susu sapi jelas tidak cocok bagi anak gajah! Bayi Raju mengalami diare dan sakit-sakitan.  Untungnya, menjelang akhir Juni, sebuah lembaga berhasil mengadopsi Raju dan membawanya ke tempat yang lebih baik, walau itu pun belum sesempurna yang diharapkan.  Namun diare Raju berangsur-angsur pulih dengan diberikannya susu kedelai, dan nutrisi lain.  Dia diberi kandang yang walau kecil dan reyot, lumayan menghangatkan.  

Saat posisi Raju dirasa cukup aman, dan akan diadakan garage sale untuk dana pembuatan kandang Raju dan buat perawatan lainnya, semua orang dikejutkan dan dibuat ngeri oleh kasus pembunuhan kejam Papa Genk, gajah dewasa yang dirampok gadingnya.  Ah, untuk yang satu ini, saya pun terlalu seram untuk memaparkan kondisi jenazahnya saat ditemukan di hutan. 

Selepas kasus Papa Genk yang mesti diusut lebih jauh, ya itu tadi, sore-sore, Raju menghembuskan nafas terakhirnya.  Penyebabnya belum jelas.  Tapi tangis saya akhirnya berhasil dikucurkan beberapa menit yang lalu, di rumah, sambil galau di Twitter. 

Sejujurnya, saya selalu lebih sedih kalau ada binatang kenapa-napa.  Hewan itu seringkali lebih tidak berdaya.  Mereka memang kuat, apalagi gajah, ikan paus, hiu! Tapi, ketamakan manusia dan kerjasama yang hebat di antara mereka untuk menunjukkan kuasa dan menggalang uang demi menyumpal rasa lapar, membuat hewan-hewan kuat pun terancam hidupnya.  

Gajah direbut gadingnya.  Untuk apa? Uang milyaran!

Ikan hiu diambil siripnya. Lalu? Dia dikembalikan ke laut dalam keadaan cacat.  

Orangutan? Korban perburuan, dipenggal demi kelapa sawit dan uang, bahkan diperlakukan tidak pantas, seperti Pony si orangutan yang, aduh, nasibnya bikin merinding! (coba Google saja soal Pony orangutan)

Harimau? Ditembak dan diambil kulitnya, dijadikan dekorasi. 

Rusa? Dipotong dan jadi pajangan dinding. 

Sapi, ayam, babi, bebek, kambing, kelinci, buaya, ular, biawak? Diternakkan secara massal dan suatu hari jika saatnya tiba dibinasakan dengan tidak terhormat untuk memenuhi rasa lapar dan uang.  Kadang kulitnya dimanfaatkan lagi buat berbagai benda. 

Tidak, saya tidak peduli orang mau bilang bahwa itulah kebutuhan dasar manusia.  Hewan karnivora berburu untuk kebutuhannya, memang benar.  Tapi dia berburu tidak setiap hari, kan? Coba kalau manusia.  Binatangnya dikumpulin, sengaja dipaksa berkembang biak, tempatnya juga belum tentu layak, lalu dia dibunuh, kadang tanpa rasa, tanpa lapar kepepet, demi penghasilan saja.  Bisa kita bayangkan, betapa gelisahnya hewan-hewan di ternak ini setiap saat, dalam suasana siap dijagal kapan saja? Saya sih nggak kuat membayangkannya.  

Oke, gini deh.  Rasionalnya, sih, kalau berpikir secara ilmiah, hewan-hewan punya manfaat di alam.  Ya sebagai bagian dari rantai makanan hewan lain, juga untuk melindungi alam sendiri.  Binatang sekecil kupu-kupu saja kan membantu menaburi serbuk sari supaya bunga bisa mekar.  Siapa yang menikmati indahnya bunga-bunga? Kita, manusia, sebagai makhluk pemilik estetika!

Orangutan juga menyebarkan biji-biji sambil akrobatik dari pohon ke pohon, makanya hutan hujan bisa subur marsubur begitu! Lalu hutan ini menjadi penyerapan air, penguat tanah, sumber oksigen.  Siapa yang menikmati hasilnya? Kita, manusia, serta seluruh makhluk hidup lainnya.  

Semua, semua unsur dalam kehidupan, ada fungsi dan tugasnya masing-masing, kayak manusia ada profesinya sendiri-sendiri! :) 

Kalau sudah begini, saya emang mau jadi vegan aja.  Yah, walau suatu hari saya akan pelihara guguk, dan guguk nggak mungkin bisa hidup tanpa makan daging karena sudah wayahnya, tapi setidaknya saya sendiri nggak mau makan atau memakan sesuatu hasil kesakitan, ketakutan, dan teror! 

Saya bukan orang yang pintar bikin alasan.  Soalnya seringkali bikin prinsip berdasarkan dorongan hati saja.  Tapi, ya, saya cinta binatang.  Dan saya mau membela mereka.  Dan ini prinsip, lain lhoo, sama ide impulsif sesaat doang.  

Yuk, kita sayangi binatang-binatang, dan, jangan dibodohi oleh ketamakan ya! 



 


Biarkan gambar bicara :)