sepintas kecerewetan

Senin, 11 Januari 2016

Sejak 2010

Sepanjang hari ini saya beres-beres buku tulis lama.  Yang sudah terisi, tentunya, tapi yang tak terlalu mengandung nilai sejarah penting.  Misal: buku harian.

Oh ya, saya berhenti nulis buku harian per hari, karena tumpukan buku di masa depan nanti akan terlalu banyak. Demikian.

Ngomong-ngomong, iya, saya kalau beres-beres serius banget.  Sampai dibaca lagi satu persatu tuh buku.  Saya menemukan buku tempat menulis cerita-cerita alay masa SD, catatan sekolah cadangan, hingga dokumentasi keuangan sejak saya...hm, matre?

Tapi satu hal yang saya temukan, saya benar-benar orang yang belajar lewat proses.  Nggak mempan dikasih teori, mau berapa ton kertas pun dibuang untuk ngasih saya panduan, bakal membal.  Apalagi tentang kehidupan.

Bahkan soal ngelola uang dan ngurusin kulit aja, saya harus belajar banyak sembari salah-salah kepeleset sedikit!

Di tahun 2008-2009, saya rutin beli majalah CosmoGirl.  Saya mencatatnya sebagai kewajiban. Tahu-tahu, di 2010, saya memutuskan bahwa majalah adalah benda yang tak perlu.

Tahun 2010-2011, saya hobi banget belanja kosmetik dari merek tertentu.  Di 2013, saya mencoret merek itu dari daftar koleksi.

Masih banyak hal-hal bodor lainnya.  Misal target menabung sampai bisa beli rumah di tahun 2015.  Nggak meleset, sih, tahun 2015 saya bisa beli piano dari hasil menyimpan sendiri, nggak repotin orang tua.  Sebuah pencapaian juga, kan? :)

Oh ya, tahun 2010, saya punya target untuk : beli baju 1, keluar dari lemari 5 potong. Ya itu agak ekstrim memang.  Dipikir-pikir, sekarang saya tetap agak seperti itu: membatasi volume lemari--supaya nggak maruk.  Dan yang lebih baik, saya bahkan bikin program garage sale sendiri dan pernah mengalami sold out.  Masih ada benda-benda lain di sini, jika penasaran. ;)

Kemudian, saya mendapatkan banyak yang saya inginkan.  Kebiasaan tidak beli majalah / komik, menghemat biaya perawatan kulit karena sudah lebih banyak wawasan, dan sebagainya.

Ah, walau kayak orang meracau, pokoknya saya sedang bahagia!


Sabtu, 19 Desember 2015

Menepi


Dari tepi kantin sekolah. 
Bermain menelusuri kenangan. 
Yang lucu dan yang sendu.  
Semua terjadi di situ. 

Sambil belajar lebih banyak mengisi jiwa, 
dibanding menyumpal rak-rak kayu di rumah. 
Atau memenuhi lemari yang sebetulnya sudah sesak nafas. 

Tertawa lebih penting daripada belanja. 
Dan memeluk lebih penting daripada sikap kemaruk. 

Menjadi manusia adalah proses yang panjang. 


Minggu, 29 November 2015

Sejak Janjian Sama Ayam...

Jadi, saya berhenti makan ayam sejak berteman dengan Si Mbul ini...



Dan rasanya itu sudah berjalan genap setahun.  Soalnya saya inget, motret Si Mbul pakai iPod. Awal 2014.  Dia ayam kurcaci peliharaan tetangga bawah yang random datang pergi sekejap doang.  Dia bertelur di atas pot dan mengerami dengan setia.  Sayang telur-telurnya nggak berhasil lahir. :(

Oh ya, tapi dia suka saya kasih makan beras-beras kering.  Dan cukup senang--kayaknya. Waktu harus berpisah, rasanya sedih.  Cuma berkawan sesaat.

Tapi kedatangan Si Mbul memang telah mengubah jalur hidup saya.  Sebagai calon vegetarian, tahun 2013 saya masih makan daging ayam.  Udah kepikiran sih, pingin mulai stop, tapi entah kenapa saya masih sering kelaparan pingin ayam goreng krispi, ayam bayam Meeting Point, belum ada menu ayam rica-rica di dapur keluarga, plus berbagai olahan ayam lainnya.  Ah, dan... nasi bento ala KFC yang sausnya uenakk banget itu.

Saya berusaha membuat diri lebih nggak tega sama ayam...tapi...ayam kan mukanya galak.

Nah, semua berubah ketika menatap mata Mbul.  Dia begitu...gemuk.  Lucu.  Bisa dipeluk.  Matanya walau judes, sebetulnya dia tak punya salah apa-apa.

Dan...saya pun memutuskan ikatan dengan Kolonel Sanders. Penjual ayam goreng Sabana juga saya jauhi.  Ya kecuali dia terus jual jamur krispi ala bumbu Sabana, saya balik deh entar.  Mulanya memang berat, ngos-ngosan.  Suka rindu.  Masih terkenang-kenang citarasanya...

Tapi, pada akhirnya saya lolos masa ujicoba. Sekarang saya malah nggak lagi kabita meski pun ada orang yang makan ayam goreng bumbu serai di depan saya.  Peduli amat.  Saya makan daun seledri.  Nggak masalah.

Penemuan yang baru-baru ini bikin saya kaget, ternyata, sejak nggak makan daging ayam...

...saya...

...sembuh dari pilek pagi harian.

Entahlah,  Saya nggak terlalu sadar awalnya.  Tapi belakangan memang pilek itu pergi.  Biasanya pagi-pagi saya pasti ingusan dan bete.  Disebut 'hidung Jepang' sama Mama saya. Ngocornya sampai sekitar jam 8-9 setelah jemur matahari.  Tisu habis.  Saputangan benyek.  Kayak alergi udara.  Cuma, sudah berbulan-bulan melintas dan saya memang nggak pernah pilek pagi lagi kecuali emang flu.

Kebiasaan yang beda setahun ini ya cuma nggak makan ayam itu.  Plus rajin mamam buah-buahan.  Nggak perlu buah-buahan yang cantik mejeng di rak swalayan mewah, kok.  Cukup pepaya, pisang, mangga, jambu, air kelapa, kalau rajin ya lemon dan apel.

Semoga saja analisis saya nggak meleset jauh.  Tapi, syukurlah saya terbebas dari rutinitas buang ingus di pagi hari! Terima kasih, Tuhan, terima kasih, Mbul! :)



Rabu, 25 November 2015

Sometimes

Sometimes in your life
You feel bad

For being envy
Or jealous

For saying wrong words
At the wrong moment

For messing around
And blame everyone else

But here it is:
Don't be so hard on yourself.

You can forgive people
Then why can't you forgive yourself? :)


Jumat, 13 November 2015

Sekilas


Percayalah, keadaan yang terbaik akan memelukmu pada saat yang tepat.  
Hal yang memang sudah kamu percayai, akan datang.  

Hanya saja Sang Pencipta belum menjentikkan jari--kadang.  Karena Ia tahu kapan waktu terbaik.  
Tugas kita kini hanya tersenyum dan mengapresiasi yang ada. 

Senin, 09 November 2015

Kompilasi Guguk Kesayangan: Kizka





Ini Kizka.  Waktu datang pertama kali, masih agak kecil.  Badannya hangat dan seneng menempel menggelayut dielus-elus.  Dibilang rotweiller, ya agak terlalu mungil.  Sifatnya juga beda.  Haha! 

Suatu hari dia dan KuprĂ© pergi dan tak kembali.  



Selagi melihat wajah Kizka ini, terdengar lagu The Moment yang dibawakan oleh Kenny G.  
Jadi sedih.  :') 


Di mana pun kamu, Kiz, hati kita akan selalu bertemu ya. :) 


Supaya Kalian Tahu

Keinginan nomer 3 tercapai.  

Saya punya piano manis di rumah.  Akustik.  Warnanya tidak putih, tapi, hei, dia menyenangkan sekali! Bahagia melihatnya menghiasi ruang keluarga.  

Dan, saya tidak menamakannya Pianika.  Namanya Narya Subasita.  Artinya: Raja Hati Gembira.  

Yoi, dia lelaki, dan kehadirannya membawa ria dalam hidup.  

Selamat datang di rumah, Narya Subasita! Dan kita akan bermain sebanyak-banyaknya dengan hati ceria! :)

Bonus: foto yang nggak nyambung.  Lotus kesayangan yang (waktu itu) mekar dengan epik.